Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.

Tak hanya girang, bisa dibilang saya tersanjung dengan ajakan itu. Abdullah Harahap! Bertahun-tahun saya bergaul dengan para penulis, hampir bisa dikatakan tak pernah bertemu orang yang bisa memperbincangkan penulis ini dengan antusias. Atau barangkali hampir tak ada penulis yang pernah membacanya? Atau membacanya, namun tak menganggapnya ada?

Jika saya tak salah ingat, saya membaca novel-novel Abdullah Harahap pertama kali di masa SMP. Itu berarti di akhir tahun 80an. Sejujurnya, saya membaca novel-novel itu awalnya karena memang tak ada lagi yang bisa saya baca. Sekadar mengingatkan, sebelum 1993 ketika saya berangkat ke Yogyakarta, saya tinggal di Pangandaran. Itu sebuah kota kecamatan di pantai selatan Jawa Barat, berbatasan dengan Jawa Tengah. Beberapa orang mungkin akan mengingatnya sebagai tempat turis berjemur di pantai, beberapa yang lain mungkin mengingatnya karena dua tahun lalu sempat diterjang tsunami.

Bahkan sampai hari ini (orang tua saya masih tinggal di sana), tak ada perpustakaan umum di kota itu. Juga tak ada toko buku. Mungkin ada toko buku bekas tempat turis menukar novel John Grisham dengan Nora Roberts, tapi tak pernah lebih dari itu. Intinya, itu bukan kota yang layak untuk seorang kutu buku, dan tempat yang pasti menyedihkan untuk seorang calon penulis.

Bagaimanapun, kadang-kadang ayah membawa buku (entah dari mana) untuk saya baca. Kadang-kadang saya bisa sangat bergembira menemukan buku asyik dari perpustakaan sekolah. Selebihnya, satu-satunya surga saya adalah sebuah taman bacaan tak jauh dari terminal bis. Taman bacaan tersebut kecil saja: sekitar dua kali dua meter, mirip kios rokok pinggir jalan.

Dari kios taman bacaan kecil itulah saya mengenal “sastra”: Abdullah Harahap; master cerita horor yang bisa memadukan horor dan sensualisme, ada kesan eksotisme ketika ia menceritakan lanskap daerah-daerah pedalaman; Kho Ping Hoo, saya tak bisa membayangkan bagaimana ceirta silat kita tanpanya, dan saya pernah menulis tentang karyanya di Bentara Kompas; Bastian Tito, penulis petualangan pendekar gendeng Wiro Sableng, merupakan anti-tesis atas heroisme, drama dan bahkan tragedi yang biasanya merupakan karakter kuat cerita silat; juga Anny Arrow, penulis porno yang nyaris tak pernah membutuhkan motif cerita, atau cerita semata-mata sebuah fragmen peristiwa (seks)? Oh ya, selain novel, saya juga membaca komik dari taman bacaan itu.

Baiklah, itu komentar-komentar saya hari-hari ini. Ketika saya pertama kali membaca mereka, tentu saya tak memikirkan itu semua — bahkan tak ada niat memikirkannya sejauh itu. Tapi dari merekalah saya mengenal “sastra”, dan ketika saya kemudian mulai merasa ingin jadi penulis, novel-novel seperti itulah yang pertama-tama saya bayangkan. Ketika di masa SMA saya mencoba menulis dua novel pertama saya, itu novel silat dan horor. Novel-novel awal itu sudah tak ada jejaknya (barangkali ibu saya memberikan naskahnya ke penjual gorengan untuk bungkus), tapi saya masih ingat judul keduanya: Tujuh Pendekar Turun Gunung dan … Dan Setan pun Tertawa (what’s a title!).

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk kuliah Filsafat di UGM, dua tahun pertama benar-benar merupakan tahun-tahun yang sangat menyiksa. Bagaimana tidak: referensi bacaan saya benar-benar tidak nyambung dengan iklim bacaan di universitas. Jangankan Albert Camus, Jean Paul Sartre, Hegel atau Derrida, saat itu saya bahkan belum pernah membaca satu pun karya Pujangga Baru, belum lihat buku Mochtar Loebis, dan sama sekali tidak kenal, siapa Pramoedya Ananta Toer.

Tak hanya minder, saya bahkan mulai merasa menjadi penulis tampaknya bukan cita-cita yang tepat. Setelah dua tahun berlalu dan menimbang-nimbang (saya sempat sekolah grafis saat itu), akhirnya saya memutuskan dua hal: menyelesaikan kuliah filsafat saya tak peduli berapa lama, dan membaca buku apa pun yang sekiranya bisa saya peroleh. Saya juga tak ingin menyia-nyiakan keberadaan saya di Yogyakarta: saya mulai mendatangi perpustakaan-perpustakaan yang bisa saya kunjungi, dan menghabiskan waktu dengan membaca.

Bahkan ketika tahun 1999 akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan cerita pendek ke koran Bernas, dan setahun kemudian saya menerbitkan kumpulan cerpen pertama saya, Corat-coret di Toilet, dan dua tahun setelahnya lagi saya menerbitkan novel pertama, Cantik itu Luka, saya masih juga dihantui selera “murahan” saya. Memang benar, saat itu saya sudah membaca lebih banyak penulis. Saya sudah menerbitkan satu ulasan (berasal dari skripsi) mengenai Pramoedya Ananta Toer. Saya telah membaca sebagian besar karya-karya Knut Hamsun, Yasunari Kawabata, Gabriel Garcia Marquez dan William Faulkner — nama-nama yang membuat saya bergairah kembali dengan sastra. Akan tetapi, harus saya akui, apa yang saya bayangkan tentang sebuah karya tak banyak beranjak dari apa yang saya bayangkan di masa kios taman bacaan dulu.

Barangkali karena saya merasa tak berada di lingkaran kesusastraan yang semestinya, saya juga mulai menciptakan benteng saya sendiri. Maksudnya, jika saya tak bisa masuk ke sebuah dunia (kesusastraan), paling tidak saya memiliki dunia saya sendiri. Dengan cara itulah saya terus melanjutkan selera saya, termasuk belakangan dengan mengunyah komik manga Jepang (karena tak ada lagi karya Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap, kan?).

Tapi bersama bertambahnya waktu, saya mulai menyadari dua hal. Pertama, ternyata saya tak sendirian; kedua, tak ada alasan untuk menganggap bacaan-bacaan saya sebagai bacaan kelas dua. Email dari Intan dan Ugo membuktikan bahwa saya tak sendirian. Perhatian mereka terhadap Abdullah Harahap juga membuktikan, sejarah kesusastraan merupakan sesuatu yang personal. Bagi seseorang, Abdullah Harahap bisa jauh lebih berarti daripada penulis mana pun, bukan begitu? Para filsuf posmodern yang sempat saya lirik di akhir-akhir kuliah sebenarnya sudah menyuratkan hal ini, tapi pengalamanlah yang memberi saya kesadaran lebih.

Kesadaran inilah yang akhir-akhir ini membuat saya merasa layak menghidupi kesusastraan personal saya. Kesadaran ini pula yang tetap membuat saya nyaman mengakui, tak mengenal musik klasik (tak seperti Milan Kundera, misalnya), karena saya tak punya latar belakang mengenali mereka; dan nyaman dengan selera pribadi saya atas musik ngak-ngik-ngok, yang dengan mudah saya pelajari dari geng teman-teman main saya. Juga nyaman dengan beragam selera pribadi saya yang lain. Sebab tak ada alasan menjadi orang lain, sebab tak ada alasan harus menerima standar orang lain meskipun atas nama mayoritas, sebab dunia adalah apa yang saya hadapi sendiri.

Termasuk nyaman menulis di blog. Penemuan dunia yang hebat, yang tak sempat dinikmati James Joyce, apalagi Miguel de Cervantes! Yang barangkali untuk sebagian penulis saat ini pun masih dilihat sebagai sampah peradaban. Tak apalah. Saya tak bermaksud membangun menara Babel, apalagi bersinggasana di atasnya. Saya hanya seorang penulis yang berbahagia dengan hidup saya sendiri, dengan pilihan-pilihan sendiri ….

10 comments on “Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

  1. erizaldi says:

    “….Sebab tak ada alasan menjadi orang lain, sebab tak ada alasan harus menerima standar orang lain meskipun atas nama mayoritas, sebab dunia adalah apa yang saya hadapi sendiri”

    Kutipan diatas adalah sebuah pernyataan yang selama ini saya cari hampir dari 2/3 kehidupan saya, sampai saat inipun masih demikian. Selalu ada ketakutan untuk menjadi marginal dan tidak menjadi bagian dari mayoritas. Membaca tulisan ini setidaknya menambah bobot keyakinan saya bahwa menjadi diri sendiri adalah lebih baik dari menjadi orang lain bagaimanapun hebatnya orang lain tersebut.

    Salam dari Cibinong.

  2. ekakurniawan says:

    erizaldi:
    terima kasih. mengetahui orang lain memiliki problem yang sama, menambah keyakinan saya untuk mempercayai pilihan2 sendiri. Pilihan2 ini mungkin bukan pilihan bebas. Pilihan2 ini hanyalah pilihan terbatas dari sejarah hidup seseorang, yang personal dan beda satu sama lain, tapi itu pun tetap layak dihargai.

  3. mufti says:

    Kemarin saya nemu buku-bukunya Abdullah Harahap di soping dijual 7ribuan, sempat tertarik tapi nggak jadi beli karena ilustrasi depannya “menggoda”, bisa bahaya kalau ditemu simbok. Kalau bicara selera, saya sering merasa tidak berselera dengan karya-karya yang lagi populer, tapi malah tertarik sama yang agak “murahan” atau ndeso.

  4. sarastia says:

    halooo kakkkkkk…gimana kabarnya ugoran prasad???.saya pingin tahu email dia, tapi tanyain dia dulu berkenan gak ngasih ke saya. kan budaya tulis, tahu beda privat dan publik.he3.bilang ma dia, passwordnya : Cowok Keren dan goris keraf. kalau tetep gak boleh ya gak papa.kalau boleh, tolong diemailin ke email saya ya emailnya ugoran prasad. saya gak tahan nahan kangen kak..kan dia lama gak nulis di koran.

    sarastia:
    ini email ugo: souperugo[at]gmail.com, kata dia, ini email publik, jadi oke2 aja kamu kontak dia.
    (ekakurniawan)

  5. sejak sebulan lalu saya getol melongok situs ini. menarik….tulisan-tulisannya selalu menginspirasi. salam kenal, saya aris. nama belakang kita sama. nama yang sangat pasaran memang.
    tentang “tak ada alasan menjadi orang lain,” benarkah? aku selalu merasa menjadi orang lain. setiap bertemu dengan orang berbeda aku menjadi orang lain…..aku tidak tahu apakah bahagia atau menderita dengan menjadi orang lain…..apa benaar ada alasan menjadi tidak seperti orang lain?

    aris:
    sebenarnya menjadi diri sendiri atau orang lain mungkin sama kaburnya definisi itu. paling tidak yang terpenting buat saya: saya menghargai ukuran-ukuran sendiri, bahkan seandainya itu berbeda dengan ukuran umum.
    salam kenal,
    (ekakurniawan)

  6. sarastia says:

    ok, makasih ya kak…

  7. clara says:

    Wah wah wah.
    Baru hari ini saya ngubek2 blog ini. Pertama2 saya udah senang dengan ilustrasi Alice in Wonderlandnya. Sesuatu yang klasik. Tak lekang oleh jaman. Abadi.

    Kedua, tentang cerita soal selera baca di halaman ini. Kisahnya mirip aku. Kehausan baca di masa kecil, menjadikan bacaan karya abdullah harahap, motinggo busye, mira w, marga t, s mara gd, terjemahan stephen king (masih stensilan) sudah jadi ‘makanan’ sejak SD. Dan itu hasil merelakan uang jajan demi menyewa novel2 itu dari kios sewa buku dekat sekolah.

    Sepertinya Mas Eka ini seumuranku, deh. Lahir thn 75? 76?

    salam

    clara:
    saya lahir akhir 1975. salam kenal.
    (ekakurniawan)

  8. Tomy says:

    Mas Eka suka baca komik dan suka baca dan nulis novel, kenapa gak bikin novel grafis aja?

    Tomy:
    saya membuat buku komik waktu kuliah, bareng dua teman saya. tapi hanya diterbitkan terbatas. Kapan2 kalo saya sempat men-scan, saya hendak menampilkannya di blog ini. Novel grafisnya ditunggu, kali :)

  9. topan says:

    jadi penulis adalah panggilan jiwa………..

  10. Eviwidi says:

    Halo Eka,

    Aku pernah ketemu dirimu di Goethe Haus waktu temenku si Mumu jadi Moderator launching salah satu buku barunya GPU.

    Sungguh menarik tulisanmu ini, aku setuju bahwa tiap individu harusnya memiliki ukuran-ukuran tersendiri dalam hidupnya, tidak harus mengikuti standar hidup orang lain, karena memang dunia adalah apa yang kita hadapi sendiri.

    Nice post.

Comments are closed.