Menunggu Jandamu

Setiap benda senantiasa memiliki cerita. Bahkan di novel The Stones Cry Out karya Hikaru Okuizumi, diperlihatkan bagaimana bebatuan, yang berharga maupun yang biasa-biasa saja, pun mewakili sebuah cerita. Baik mengenai dirinya sendiri, maupun hubungannya dengan orang atau benda-benda lain. Premis semacam itulah yang rupanya dipergunakan juga oleh Orhan Pamuk dalam novel
The Museum of Innocence.

Jika cerita merupakan rangkaian kejadian, yang ditandai oleh deretan Waktu, maka kumpulan benda-benda itu bisa kita sebut sebagai “Waktu yang menjelma Ruang”. Bukankah demikian hakikat sebuah museum? Di salah satu halaman novel ini, kalimat tersebut eksplisit disebutkan. Bahkan melalui karakter utama Kemal, novel ini menyajikan sejenis esai (sebenarnya novel ini secara keseluruhan bisa dibilang merupakan sejenis esai) mengenai Waktu.


Ini novel Orhan Pamuk kedua yang saya baca, setelah Snow. Jika Snow berkisah mengenai seorang penyair yang mengejar cintanya hingga terlibat intrik politik dan agama, The Museum of Innocence berkisah mengenai seorang pengusaha yang mencoba merebut kembali cinta sejatinya, dan menghibur diri dengan mengumpulkan benda-benda yang berhubungan dengan Fusun, si gadis sepupu yang dicintainya itu.

Inilah saya pikir kelebihan Pamuk: sementara ia mengisahkan penantian panjang seorang lelaki, melalui benda-benda yang dikumpulkannya, ia tak hanya mengingatkan kembali Kemal kepada Fusun, tetapi juga menjelajahi Istambul, Turki di satu waktu dan sebagai sebuah tempat. Saya pikir yang masih tetap bertahan di kedua novelnya (saya sekilas juga melirik ke novelnya yang lain My Name is Red) adalah ketegangan (atau perbauran elok) antara Barat dan Timur.

Melalui benda-benda itulah kita melihat ketegangan mengenai “keperawanan”, misalnya. Sementara Sibel, mantan tunangan Kemal, merasa cuek kehilangan keperawanan karena ia sudah “ter-Paris-kan”, di sisi lain ia juga merasa malu karena pertunangan mereka berantakan (padahal orang sudah tahu ia pernah tidur dan tinggal serumah sebelum menikah dengan Kemal). Demikian juga melalui sehelai bikini: bagaimana Fusun, si mantan kontestan putri-putrian, masih merasa canggung harus berjemur di pantai.

Yang paling membuat saya geli, tentu saja ketika di salah satu halaman saya menemukan frasa “the first Islamic porn films”. Seperti apa film porno Islami ini? Adegan-adegan cintanya merupakan gabungan antara seks dan slapstick, dengan segala adegan percintaan yang ditiru dari film-film porno Eropa, tapi dengan aktor yang tak pernah menanggalkan celana dalam. Tentu saja orang akan bertanya-tanya, dimana pornonya, dan lebih lanjut: dimana Islami-nya?

Saya pikir kita tak perlu bersusah-payah untuk mencari film semacam itu di Turki. Mengetahui bahwa seseorang pernah menuliskan hal ini sudah cukup untuk merasakan ketegangan Barat-Timur ini. Banyak orang ingin mengadopsi hal-hal hebat dari Barat, tapi ingin membalutnya dengan Timur atau dengan Islam. Apakah hal itu malah tidak menjadi Barat atau tidak menjadi Islam/Timur sama sekali, itu urusan nanti, barangkali. (Contoh sederhana: setelah menjamurnya bank syariah, belakangan bukankah kita juga mendengar “handphone islami”, “matematika islami”, dan sekali waktu mungkin saya tak akan heran jika mendengar istilah “tata surya islami”. Siapa tahu?)

Baiklah, novel ini bukan tentang itu, tentu saja. Soal itu hanya muncul dalam satu paragraf saja. Selebihnya merupakan kisah panjang mengenai waktu, tempat, kenangan, serta obsesi. Novel ini, dengan caranya sendiri menjadi sejenis katalog untuk museum benda-benda yang dikumpulkan oleh Kemal, yang kelak dinamakannya sebagai “The Museum of Innocence”. Hingga bisa juga disebut, novel ini merupakan penjelmaan apa yang dikatakan Aristoteles mengenai waktu.

Dalam Physic, Aristoteles membedakan antara Waktu dan Momen (yang diterangkannya sebagai “saat ini”). Momen, seperti atom, bersifat mandiri dan tak terbagi-bagi. Sementara Waktu merupakan alur yang mengaitkan momen satu dengan lainnya. (Ya, Pamuk menulis soal ini di salah satu bab). Jika “The Museum of Innocence” merupakan “waktu yang menjelma dalam ruang”, maka benda-benda di dalamnya merupakan “momen-momen”.

Tapi bukankah momen-momen itu, terlepas dari kemandiriannya, juga mengundang tafsir dan sudut pandang yang berbeda-beda? Demikianlah. Meksipun bagi Kemal, sebatang puntung rokok Samson akan mengingatkannya kepada momen ketika Fusun menempelkan rokok tersebut ke bibirnya, benda itu juga bisa berarti catatan penting tentang penyelundupan rokok, tentang usaha Marlboro berpenetrasi ke pasar Istambul, dan akhirnya bisa juga menjadi sejenis kisah antropologis yang lebih kaya dari itu. Sebagaimana novel ini, tentu saja lebih dari sekadar kisah seorang lelaki yang bertekad untuk “menunggu jandamu”.

3 comments on “Menunggu Jandamu

  1. haris says:

    saya selalu menyukai novel2 pamuk. kisah cinta dalam novel2nya selalu diselipi ketegangan timur-barat, tanpa pernah kehilangan romantisme. pamuk juga piawai melukiskan keadaan, yg kadang tak berhubungan dg cerita.

  2. akbar says:

    makasih gan atas infonya!, neh yang aku cari2 hehe

  3. Auki says:

    Trimakasi atas resensi yang menarik ini.
    salam kunjungan.

Comments are closed.