Menulis Novel Itu Seperti Seks

Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah “Bad Day” yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan “bridge”. Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu “outro”, saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel …


Baiklah, mari kita bayangkan penulis novel yang buruk. Penulis novel yang buruk pasti sama dengan pecinta yang buruk. Jika klimaks adalah orgasme, barangkali kita tak pernah memperoleh orgasme. Barangkali orgasme keceplosan di tempat yang salah. Demikian pula penulis novel amatir akan sama dengan pecinta amatir. Pola-nya barangkali sesederhana A-B-C. Buka celana-orgasme-ngorok.

Saya bayangkan, novel yang baik minimal seperti percintaan dengan pola A-A-B-A-B-C-A-B-D semacam lagu di atas. Sekali lagi, dalam musik pola bait ini rasa-rasanya sangat umum di musik pop. Bahkan bisa dibilang “default”. Hampir semua lagu serupa itu. Tentu saja pencipta lagu-lagu yang jenius, bisa mengacak-acak pola ini lebih gila. Lebih panjang, barangkali. Lebih tak terduga. Tapi mari bayangkan musik yang umum saja. Sebagaimana para pecinta, saya pikir lebih banyak yang memakai pola umum juga. Yang “standar”. Jadi, itulah kenapa saya bilang “minimal”.

Baiklah, saya akan coba membayangkan novel dengan pola seperti itu. Kita akan membuka dengan pola A: ada masalah yang menggemaskan di antara tokoh-tokoh novel, demikian novel dibuka. Hingga tiba-tiba ada tokoh lain yang akan membuka kedok-kedok permasalahan itu. Di sini kita tahan dulu. Pola A diulang kembali: kedatangan tokoh baru itu malah menambah permasalahan semakin menggemaskan. Kita semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya salah satu tokoh merasa harus membuka kedok. Ledakkan. Kita masuk pola B: ketika satu kedok dibuka, kedok-kedok tokoh lain mulai terbuka. Motivasi-motivasi mereka terbuka. Mereka saling gasak, saling sikut. Tapi tentu saja cerita belum selesai.

Karena kedok-kedok itu sudah kebuka, muncul masalah baru. Pola A kembali. Konflik mereka semakin menggemaskan. Tapi jangan ditahan terlalu lama. Nanti membosankan. Satu tokoh tak tahan menghadapi masalah di antara mereka. Ia mengambil pistol dan menembak kepalanya. Meledak. Pola B. Tokoh yang lain mulai saling menyalahkan. Saling membuka borok. Saling cabik. Mereka semua terkapar berdarah-darah.

Di sini kita perlu “bridge”. Pola C. Kita perlu menurunkan tempo. Kita barangkali flashback untuk mencari tahu latar belakang masalah mereka sebenarnya. Mencari latar belakang tokoh-tokohnya. Biarkan pembaca mengambil napas. Biarkan pecinta saling bercanda, saling meraba untuk membangkitkan gairah kembali. Ketika badan sudah mulai hangat, ciuman mulai kembali bergelora. Masuk kembali ke pola A:

Dalam keadaan berdarah-darah, babak belur, mereka mulai mencari cara menyelesaikan persoalan di antara mereka. Tapi karena mereka punya cara pandang yang berbeda terhadap masalah, pencarian mereka malah menimbulkan perdebatan baru. Yang satu mengusulkan ini, yang lain mengusulkan itu. Tak ada jalan. Buntu. Hingga salah satu tokoh, sentral konflik, tahu bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Masuk klimaks terakhir. Pola B. Si tokoh berjalan ke tengah rel. Lokomotif menabraknya. Masalah dengan sendirinya selesai.

Tinggal tokoh-tokoh yang tersisa menangisi kepergiannya, atau menertawakannya. Outro. Pola D.

Tentu saja adakalanya kita tak perlu bercinta dengan pola “default” semacam itu. Adakalanya kita memang perlu bercinta dengan cepat. A-A-B. A-B-C-B. Banyak alasan untuk bercinta cepat. Mungkin kamu membayar pasanganmu di tempat pelacuran dan harus selesai dalam satu jam. Mungkin kamu ngebet ingin bercinta di bandara, dan melakukannya buru-buru di dalam toilet. Atau di dalm lift. Waktu hanyalah urusan kuantitas. Percintaan yang pendek bisa tetap berkualitas, tergantung bagaimana kamu memainkannya. Demikianlah banyak novel-novel pendek juga mampu menghadirkan kualitas adidaya: “The Old Man and the Sea” Hemingway. “As I Lay Dying” Faulkner. “Metamorphosis” Kafka.

Tapi bisa juga kita bercinta panjang. Multi-orgasme. Tujuh hari tujuh malam. Untuk yang ini, kita bisa melirik ke karya-karya “grandeur” macam “Anna Karenina” Tolstoy. “Don Quixote” Cervantes. “One Hundred Years of Solitude” Marquez. Atau bahkan “In Search of Lost Time” Proust.

Akhirnya, menulis novel kurang lebih seperti seks. Itu seni. Seni mengelola waktu, seni mengelola emosi, seni mengelola impuls. Seni untuk mengetahui kapan partner kita mulai hangat. Seni yang tidak hanya asal orgasme, kecuali ingin menjadi penulis novel yang memang asal orgasme.

Terakhir, maaf buat yang belum pernah melakukan seks, buat anak-anak di bawah umur, yang barangkali tak akan mengerti metafora ini. Juga maaf jika saya salah tentang musik di atas. Saya bukan ahli musik. Saya hanya penyuka musik dan lagu “Bad Day” salah satu lagu favorit saya. Bagaimanapun saya yakin akan lebih asyik jika tulisan ini dibaca sambil mendengarkan lagu itu. Dan semoga metafora ini tidak berlebihan.

5 comments on “Menulis Novel Itu Seperti Seks

  1. Vic says:

    Koreksi judul ya…

    “Menulis Novel itu Seperti Seks” menurut saya salah. Seharusnya “Menulis Novel itu Seperti Berhubungan Seks”, karena seks itu berarti alat kelamin. Lucu kan kalau dipahami: “Menulis Novel itu Seperti Alat Kelamin” :D

    Pada dasarnya saya setuju dengan perspektif Anda. Menulis buku/novel memang seperti “berhubungan alat kelamin” karenanya harus dengan penuh cinta. Mungkin itu ya sebabnya beberapa penulis menyebut bukunya sebagai seorang anak?

    1. ekakurniawan says:

      @vic
      Hehehe.. Benar! Trims koreksinya. Tapi, sex (dlm bhs inggris) = alat kelamin, seks (dlm bhs indonesia, mengacu ke “Kamus Umum” Badudu-Zaim), artinya (1) alat kelamin, (2) yg berhubungan dg alat kelamin/persetubuhan/sanggama.

  2. Shamyaza says:

    Hmm, soal menulis novel memang senikmat bersenggama! :)

  3. Salam

    Numpang berguru ya, Mas Eka. ^,^

  4. toeti Suwiryo says:

    Aiih…saya setuju banget !. Komentar saya tentang tulisan anda..positif !, pas kebetulan saya juga penikmat music sekaligus pembikin novel yang nggak bosen-bosennya saya baca sendiri berulang kali, soalnya di novel aku ada sesuatu yang menurutku sedahsyat fantasi seks dalam kehidupanku.

Comments are closed.