Mengelola Draft dan Memanfaatkan Teknologi

Saya bukan seorang gadget freak, meskipun saya suka dengan teknologi dan perangkat yang bisa membantu pekerjaan saya. Sebagai seorang penulis, pada dasarnya saya bisa bekerja nyaris dengan apa saja. Saya biasa mencatat dengan tangan jika diperlukan, tapi jika ada teknologi yang mempermudah, tentu saja saya akan mempergunakannya.

Sudah hampir lima tahun saya mempergunakan laptop. Sudah dua kali ganti dengan merk yang berbeda. Saya memilih sebuah laptop daripada seperangkat desktop. Alasannya sederhana: saya sering bepergian. Selain menulis, kadang-kadang saya membuat desain dengan komputer itu. Meskipun begitu, pekerjaan utama laptop saya tetaplah sebuah mesin ketik. Sebab pekerjaan utama pemiliknya adalah penulis.

Pada dasarnya, untuk keperluan menulis, laptop itu sangat cukup. Tapi belakangan saya menyadari, sebagai penulis, pekerjaan yang paling banyak saya lakukan justru bukanlah menulis karya, melainkan menulis draft-draft pendek. Laptop merupakan perangkat yang sangat memadai untuk menulis karya serupa cerpen, esai bahkan novel. Tapi menjadi berlebihan untuk menulis draft-draft pendek.

Padahal dalam kasus saya, tak ada cerita pendek, esai apalagi novel yang tidak diawali dengan draft pendek. Saya baru menulis dua novel, tapi untuk menulis dua novel itu, barangkali saya sudah menulis belasan atau puluhan draft novel. Draft itu bisa berupa catatan beberapa baris menyangkut ide, bisa juga novel utuh yang minta diperbaiki atau ditulis ulang.

Merasa penting menangani draft-draft ini, saya memiliki folder khusus di laptop untuk draft semacam ini. Masalahnya, kebutuhan untuk menulis draft-draft semacam ini adakalanya muncul ketika saya sedang tidak menghadapi komputer. Sedang duduk di ruang tunggu bandara, dalam perjalanan malam di bis, sedang jalan-jalan di mal, misalnya. Bukankah ide bisa datang kapan saja?

Mengatasi hal itu, saya sering membawa laptop saya kemana pun pergi. Kebiasaan itu berguna jika saya ingin menulis panjang di luar rumah. Saya sering menulis (cerpen, esai, novel atau script tv) di kedai kopi. Dengan free wifi di kedai kopi, saya bisa menulis sambil browsing mencari bahan dan membalas surat-surat elektronik. Tapi bagaimana jika yang ingin saya tulis hanya beberapa baris ide yang berkelebat ketika saya berjalan atau sedang makan? Rasanya tidak mungkin kan, masuk kedai kopi lalu membuka laptop untuk sekadar menulis catatan pendek?

Mengatasi hal itu, saya sering membawa bloknot dan mencatat hal-hal pendek dari sana, misalnya bagian-bagian kecil dari novel yang sedang saya garap. Tapi lama-kelamaan, catatan-catatan di bloknot mulai penuh dan saya ganti bloknot lagi. Lalu saya harus nyari bloknot lama jika ingin mencari catatan lama. Akhirnya saya berpikir: sebuah perangkat cerdas bernama telepon genggam mestinya bisa menyelesaikan masalah saya.

Tentu saja saya harus meng-upgrade telepon genggam saya. Sebelum ini saya cuma memakai telepon genggam biasa yang hanya dipergunakan untuk menelepon dan mengirim pesan pendek. Ketika ada tawaran perangkat telepon genggam cerdas dengan harga cukup terjangkau dari operator langganan saya, saya beralih ke perangkat ini. Saya tak ingin mempromosikan perangkat ini berlebihan, kemampuannya barangkali bisa diperoleh di perangkat telepon genggam cerdas lainnya. Saya memilihnya karena kebutuhan sebagai penulis: papan kunci QWERTY dan pushmail (harus terhubung terus dengan email untuk mengirim dan mengedit naskah tv yang tayang setiap hari), serta chatting dengan tim penulis dan seorang narasumber buku saya yang sulit ditemui karena berada di dalam tahanan).

Kini, saya merasa lebih “mobile”. Saya nyaris tak pernah membawa laptop bepergian lagi, kecuali niatnya memang hendak menulis di luar rumah. Saya pun tak ragu untuk keluar rumah tanpa kuatir tiba-tiba punya gagasan menarik untuk ditulis tapi tak ada komputer. Secara ekstrim, dengan telepon cerdas, saya bisa menulis catatan pendek untuk sebuah cerpen sambil berdiri di elevator.

Ada trik-trik yang tentu saja harus saya akali. Saya mempergunakan aplikasi Word to Go Standard Edition karena gratis. Versi ini tak bisa membuat file Word baru, tapi bisa mengedit. Saya mengakalinya dengan memasukan file Word kosong ke perangkat telepon dan menyimpannya dengan nama baru. Saya juga harus membiasakan diri menyimpan file dalam bentuk .doc karena hanya itu yang bisa dibaca (padahal saya suka .rtf alias Rich Text Format).

Sebagai penulis saya juga menulis blog. Karena blog saya mempergunakan platform WordPress, saya pun menginstal aplikasi WordPress di telepon genggam saya (saya tak tahu apakah untuk sistem dan perangkat lain sudah tersedia atau belum). Intinya, selain saya bisa menulis draft-draft tulisan saya di mana pun, saya juga bisa memoderasi komentar konten blog saya dari telepon genggam. Tidak cuma itu, saya juga bisa menulis blog langsung dari perangkat tersebut. Tulisan ini saya buat dan saya posting melalui telepon genggam, sebagai contoh.

Memang, untuk kreatif kita tak bisa menggantungkan diri kepada teknologi dan perangkat. Tapi jika ada teknologi dan perangkat yang mempermudah, apa salahnya dipergunakan?

5 comments on “Mengelola Draft dan Memanfaatkan Teknologi

  1. Cepka says:

    sepakat, mas. oya, saya seneng tulisan-tulisan mas eka. apik dan jernih.

  2. Tata says:

    Wow..

    Sampai saat ini ku baru di tahap “memakai telepon genggam biasa yang hanya dipergunakan untuk menelepon dan mengirim pesan pendek”… Emang butuhnya baru itu… ^o^

    Habis baca ini berencana untuk naik ke kelas “nulis ide di bloknot”.

    Thanks for sharing yah…

  3. Azeez says:

    Penulis emang nggak ada matinya….
    Semakin maju teknologi maka semakin terbantu kerja penulis….
    Secanggih apa pun dunia, penulis tetep… eksis!!!

  4. haris says:

    masing2 orang berbeda dlm menyikapi teknologi. saya dan sejumlah kawan saya yg penulis tak bs lagi menulis pake tangan. tulisan tangan jelek dan gak tahan lama. itu gara2 kecanduan komputer. tapi ada satu kawan yg tiap kali nulis cerpen harus pake tangan. jadi, dia nulis pake bolpoin di lembaran folio, baru kemudian direntalin. ini bukan krn dia gaptek, tapi karena kebiasaan yg gak bs diubah aja. :D

  5. kikie says:

    salam kenal. mudah-mudahan ndak apa-apa aku komentar di post lama…

    teknologi memang sangat memudahkan. tapi aku masih lebih suka menulis di kertas buram bekas pamflet acara kampus. aliran idenya lebih terasa. tapi lalu diketik dengan kecepatan tinggi. sekalian disunting. nikmat. biasanya baru menyerah untuk memakai teknologi canggih ketika ingin menulis di jalan, teknologi telepon cerdas itu :D

Comments are closed.