Bagaimana Penulis Mendaur-Ulang Cerita Penulis Lainnya Menjadi Kisah Baru yang Memikat

Yang saya maksud dengan “mendaur-ulang” bukanlah menuliskan kisah lama dalam bentuk yang lebih baru. Misalnya, saya menuliskan kembali kisah mengenai legenda Ajisaka dalam format cerpen untuk dimuat di koran (saya pernah melakukannya dalam cerpen “Ajal Sang Bayangan”). Atau Pramoedya Ananta Toer menuliskan kembali kisah Mangir (ya, dalam karya berjudul “Mangir”). Bukan, bukan itu maksud saya. Juga bukan dalam arti kita menulis cerita baru dengan meminjam karakter dari cerita yang sudah ada. Misalnya, saya pernah menulis cerpen berjudul “Assurancetaurix” (ya, karakter tersebut dan karakter-karakter lainnya saya pinjam dari seri komik “Asterix” karya Goscinny dan Uderzo). Yang seperti itu lebih tepat disebut “fanfiction”.

Mendaur-ulang di sini lebih saya maksudkan sebagai, meminjam (atau mencuri) plot cerita yang sudah ada, untuk karya yang baru. Ceritanya boleh jadi hampir sama, tapi nama karakter, setting (waktu dna tempat), dan gaya boleh jadi sudah berubah (biasanya lebih modern). “Pencurian” ini buat orang kebanyakan, nyaris tak terlihat. Bisa jadi karena kebanyakan orang tak tahu sumber yang dicuri. Bisa juga karena yang dicuri adalah plot (anggaplah itu tulang punggung), jadi tak tampak dipermukaan. Apakah hal ini sah saja, dan tidak dianggap “plagiat”? Ini isu yang rumit dan butuh diskusi para ahli. Tapi beberapa penulis besar melakukannya, dan mereka baik-baik saja dalam arti tidak dianggap plagiat, bahkan diapresiasi kemampuan mereka “mendaur-ulang” cerita-cerita tersebut.

Saya ingin menengok dua karya saja. Pertama, “The Alchemist” karya Paulo Coelho. Kedua, “Bad Girl” karya Mario Vargas Llosa. Terkejut? Kedua nama itu bukan nama penulis “biasa-biasa”. Paula Coelho penulis banyak novel best-seller, “The Alchemist” hanya salah satunya. Mario Vargas Llosa? Ia peraih Nobel Kesusastraan 2010.

Baiklah, apa sih kisah sesungguhnya dari “The Alchemist”? Bisa diringkas sebagai berikut: seorang bocah gembala bernama Santiago, suatu hari tidur di gereja tua di pedesaan Andalusia. Di sana ia memimpikan satu harta karun, yang sayangnya berada jauh di bawah piramida di Mesir. Sepanjang novel, dikisahkan perjalanan Santigao menyeberangi benua (Eropa ke Afrika) dengan berbagai kesulitan, hingga akhirnya ia tiba di Mesir. Di sana ia tak menemukan harta karunnya, malah bertemu seseoang yang menertawakannya. Orang ini menertawakan kekonyolannya karena mau-maunya melakukan perjalanan jauh mengikuti mimpi. Orang ini bilang, ia memimpikan hal yang kurang lebih hal yang sama, bahwa ia memimpikan harta karun tapi tempatnya jauh. Di sebuah gereja tua di pedesaan Andalusia. Orang tersebut tak mau melakukan perjalanan konyol dari Mesir ke Andalusia. Saat itulah Santiago sadar, harta karunnya berada di tempat ia memulai perjalanan.

Bagi penggemar atau yang pernah membaca “Hikayat Seribu Satu Malam” atau orang Barat lebih mengenalnya sebagai “Arabian Nights”, pasti mengenal satu cerita berjudul “A Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Kisahnya? Tentang lelaki kaya yang bangkrut. Dalam kesusahan, ia memimpikan harta karun di satu tempat. Ia pergi ke tempat yang disebut di mimpinya, dan tidak menemukan harta karun. Ia malah bertemu seseorang yang juga memimpikan hal yang sama tapi tak mau pergi. Bedanya, orang ini melihat harta karunnya di satu tempat, yang segera diketahui tokoh kita sebagai rumahnya. Ia kembali ke rumahnya, menggali di halaman, dan menemukan harta karun tersebut.

Sama? Ya, sama persis. Bedanya, kisah dalam “Hikayat Seribu Satu Malam” diceritakan dengan sangat ringkas, hanya sekitar 2-3 halaman. Lebih serupa cerpen. Paulo Coelho mengembangkannya menjadi novel sekitar 200 halaman. Plot dasarnya persis sama, tapi tentu saja dalam bentuk novel, Coelho mengembangkannya lebih kaya. Ada kisah cinta (pertama antara Santiago dengan anak pedagang wol, kemudian dengan gadis gurun bernama Fatimah).

Kisah ini sebenarnya bisa dibilang fabel. Barangkali yang muncul di “Hikayat Seribu Satu Malam” juga tidak orisinal. Bisa ditemukan di berbagai tradisi dongeng di tempat lainnya. Yang sangat terlihat dari kisah semacam ini tentu saja “pelajaran-pelajaran” yang bisa dipetik pembaca. Istilah normatifnya: “pelajaran moral”. Cerita dalam “Hikayat Seribu Satu Malam” tak menyampaikan “pesan moral” ini secara eksplisit. Ia lebih membiarkan pembaca untuk menafsirkannya, atau bahkan menerimanya sebagai kisah lelucon sederhana. Dalam “The Alchemist”, Coelho justru santer memperlihatkan bahwa kisah ini, antara fabel dan alegori, penuh “pelajaran moral”. Ia tak segan-segan berceramah di sepanjang novel. Bagian ini, di satu pihak, membuat “The Alchemist” malah jadi inferior dibandingkan versi yang lebih tua. Jadi novel moralis atau “how to”. Tapi di sisi lain, barangkali malah lebih disukai jutaan orang (well, banyak di antara kita memang senang dinasihati, diberi pelajaran, diberi “pesan moral” secara eksplisit).

Di antara “Hikayat Seribu Satu Malam” dan “The Alchemist”, Jorge Luis Borges juga pernah mendaur ulang kisah ini dalam salah satu bukunya, dengan judul “The Story of the Two Dreamers”. Ah, sebenarnya versi Borges bisa dibilang “terjemahan” versi “Hikayat Seribu Satu Malam”. Ia hanya menambahkan satu baris kalimat di muka, yang membuatnya jadi terasa “Borgesian” (semoga tahu maksud saya). Bagaimana pun, “The Alchemist” boleh lah dianggap kisah sukses mendaur-ulang kisah tua menjadi fabel modern. Ngomong-ngomong, karena mempelajari alur perjalanan cerita dari “A Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream” ke “The Alchemist”, saya akhirnya menulis cerpen dengan kerangka yang sama. Sebuah percobaan yang saya pikir mengasyikan. Cerpen itu berjudul “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”. Beberapa waktu lalu, cerpen ini dimuat di Koran Tempo.

Novel lain yang ingin saya bicarakan adalah “Bad Girl” karya Mario Vargas Llosa. Ceritanya bisa diringkas seperti ini: ada seorang bocah yang jatuh cinta sama seorang gadis (nakal). Si bocah selalu cinta dan sayang kepada gadis ini, tapi si gadis malah membalasnya dengan segala hal yang menyakitkan. Pertama mereka bertemu di sekolah menengah. Si gadis mau saja dibawa nonton bioskop atau jalan-jalan. Tapi setiap si bocah mengajaknya untuk jadi pacar, si gadis menolaknya. Mereka bertemu lagi di Paris. Si bocah (kini bujangan) masih mencintainya. Si gadis mau kencan dengannya, tidur dengannya, tapi ketika diajak serius, si gadis malah pergi dengan diplomat Prancis. Seumur hidup si bocah mencintai gadis ini, tapi si gadis selalu menolaknya, dan lebih memilih gonta-ganti pacar (dan suami), mengejar orang-orang kaya, kemasyhuran dan petualangan. Berkali-kali si gadis mengkhianati si bocah, tapi si bocah selalu menerimanya kembali, sebab ia selalu sayang dan cinta kepadanya.

Yang pernah membaca “Madam Bovary” Gustave Flaubert, pasti mengingat kisah tersebut. Si gadis meruakan karakter modern dari Emma Bovary. tentu saja Vargas Llosa memang kenal betul dengan Bovary, ia bahkan menulis satu buku khusus mengenai itu, “The Perpetual Orgy”. Vargas Llosa memindahkan setting novel ke Peru (lalu melintasi benua ke Paris, London, Tokyo, Barcelona). Seperti “The Alchemist”, versi baru “Madam Bovary” ini tentu menjadi lebih kaya. Sudut pandang narasi memang dari si bocah (bernama Ricardo). Kisah “Bad Girl”, selain melintasi tempat-tempat yang lebih luas, juga ditandai dengan pergeseran politik dan budaya bersama berjalannya waktu. Novel ini sekaligus menjadi komentator untuk kemenangan Revolusi Kuba, kemunculan generasi bunga di London, dan banyak hal lagi.

Selebihnya silakan baca karya-karya itu untuk melihat perbandingan-perbandingan lebih detail. Satu hal yang jelas, kasus ini barangkali bisa menjadi ajang para penulis untuk belajar: bagaimana menjadi pencuri yang baik (dan keren).