Mencuri dari Penulis Lain

“Mediocre Writers Borrow; Great Writers Steal” – T.S. Eliot

Mengacu pada kutipan T.S. Eliot di atas, saya pikir, saya masih jauh dari “great writer”, dan mungkin lebih tepat sebagai “mediocre writer”. Meskipun begitu, saya suka mencoba mencuri sesuatu dari penulis lain, untuk tulisan saya sendiri. Saya tidak tahu apakah usaha pencurian saya berhasil atau tidak, atau hanya sekadar “meminjam” sebagaimana penulis-penulis medioker: saya ingin berbagi bagaimana saya mencuri.

Pertama-tama, saya percaya sebagian besar penulis belajar dari penulis lain. Mereka membaca, dan mereka memuntahkannya kembali dalam bentuk tulisan lain. Apa dan bagaimana mereka mencurinya dari bacaan, mungkin itulah yang berbeda dari satu penulis dengan penulis lain.

Saya ingin memulainya dari cerpen saya yang berjudul “Pengakuan Seorang Pemadat Indis.” Siapa pun pasti bisa melacak asal-usul cerpen tersebut berasal dari buku Confessions of an English Opium-Eater” (1821) karya Thomas de Quincey. Baiklah, sebelum membaca buku tersebut, saya pernah membaca satu tulisan di majalah Granta (edisi 74, 2001) berjudul “Confessions of a Middle-Aged Ecstasy Eater”.

Artikel di Granta, ditulis dengan gaya memoar seorang pemadat ekstasi. Gayanya modern, tapi tentu terpengaruh gaya Quincey satu abad sebelumnya. Gara-gara baca artikel itu, saya akhirnya membaca buku Quincey tersebut, yang menceritakan tentang seorang pemadat Inggris abad 19. Sampai sejauh itu, saya belum terpikir untuk menulis cerpen, sampai saya membaca buku “Opium to Java”, sebuah buku sejarah mengenai perdagangan dan penggunaan opium di Jawa abad 19 karya James R. Rush.

Begitulah, tiba-tiba saya terpikir untuk menulis tentang pemadat Indis, abad 19, dengan gaya memoar serupa yang dilakukan Quincey. Tapi di sinilah kemudian saya mencoba membuat eksplorasi: meskipun sama-sama bersetting abad 19, Jawa tentu berbeda dengan Inggris. Saya mencoba membayangkan gaya bahasa seperti apa yang akan dilakukan pemadat Indis, juga ejaannya. Tentu saja untuk hal itu saya harus “mencuri”nya dari roman-roman yang terbit juga di abad 19.

Saya tidak tahu apakah memoar pemadat Indis saya berhasil atau tidak. Gaya bahasa dan ejaannya, benar-benar pekerjaan nekat. Begitu juga mungkin referensi seejarahnya. Tapi sebagai penulis, kadang-kadang saya merasa memang perlu untuk nekat. Begitulah latar “Pengakuan Seorang Pemadat Indis” (bisa dibaca di buku Cinta Tak Ada Mati, Gramedia, 2005).

Baiklah, cerpen kedua yang akan saya bocorkan adalah “Cinta Tak Ada Mati”. Jika ada yang pernah membaca novel “Love in the Time of Cholera”, pasti akan melihat kesamaan tema cerpen saya dengan novel tersebut. Saya tak akan menyangkalnya: memang saya ambil dari novel itu. Jika novel Marquez tersebut menekankan mengenai “cinta yang abadi menunggu”, saya mencoba memodifikasinya sedikit: “cinta yang abadi menunggu, dan penolakan yang tak ada henti”.

Di novel “Love in the Time of Cholera”, Florentino Ariza harus menunggu sampai tua untuk memperoleh cinta Fermina Daza. Di akhir cerita, mereka akhirnya dipersatukan oleh cinta. Di cerpen saya, Mardio menunggu cinta Melatie, dan terus ditolak. Bahkan tetap ditolak sampai Melatie meninggal. “Kekuatan cinta” di novel Marquez diperlihatkan melalui penantian Florentino Ariza. Saya mencoba mengubahnya, dengan memperlihatkan “kekuatan cinta” itu justru terlihat ketika Mardio masih mencintai Melatie, meskipun Melatie sudah meninggal.

Tentu saja, cerita yang terentang dari masa mereka kecil hingga masa tua ini membutuhkan kerja keras. Saya harus memberikan setting yang berubah-ubah, dari masa pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, hingga masa 50 tahun kemudian, lengkap dengan film apa yang mereka tonton dan sebagainya. Dari sini saya memperoleh pelajaran ringan: menjadi pencuri pun tetap harus kerja keras, karena setting dan motif cerita pasti berbeda. Dan dengan cara itulah, kita menghasilkan karya yang berbeda dari karya yang awalnya kita coba mencurinya.

Bisa disimpulkan bahwa saya mencuri bagian tertentu dari karya-karya penulis lain, mencampurnya dengan hasil curian dari karya lain, memodifikasinya, serta menambah ornamen, elemen di bagian lainnya.

Saya ingin membuat perbandingan dengan karya yang (mudah-mudahan) dikenal banyak orang: Romeo dan Juliet. Jika saya hendak mencuri dari karya tersebut, saya akan memodifikasi bagian intinya, karena itu yang paling dikenal orang, sehingga kalau tidak dimodifikasi, maka akan menjadi tiruan yang tak mengasyikan. Apa inti dari kisah Romeo dan Juliet? Saya menyebutnya: “cinta yang terlarang”? Kenapa cinta mereka terlarang? Karena mereka berasal dari dua keluarga yang bermusuhan.

Saya membayangkan jika saya mencuri struktur Romeo dan Juliet, hal utama yang akan saya modifikasi adalah: “cinta terlarang”. Dengan apa? Bagaimana dengan “bisnis terlarang”? “perjalanan terlarang”? “mimpi terlarang”? Begitulah, menjadi pencuri pun, dalam kesusastraan, diperlukan untuk tetap bersikap kreatif. Menjadi pencuri, pada dasarnya melakukan pekerjaan kritik terhadap karya yang kita curi.

Sebagian besar cerpen saya di dua kumpulan (Gelak Sedih dan Cinta Tak Ada Mati) merupakan proyek pencurian saya atas karya-karya lain. Saya tak akan menceritakan semua proses cerita tersebut satu per satu (sila baca, dan sila coba cari jejak-jejaknya ke karya-karya lain), tapi saya akan menutup tulisan pendek ini dengan satu kasus lain: “Dongeng Sebelum Bercinta”.

Cerpen itu berkisah mengenai seorang perempuan yang mengulur-ulur waktu percintaan pertama dengan suaminya di malam pertama, dengan cara mendongeng. Ya, Anda dengan mudah bisa menebak dari mana asal-usul cerita tersebut: Syahrazad dan Hikayat Seribu Satu Malam. Bagaimana saya mencoba menjadikannya sebagai karya yang berbeda? Ah, itu juga gampang untuk menemukannya, bukan?

Tapi tentu saja penulis yang keren adalah penulis yang berhasil mencuri sesuatu dari karya lain, tanpa seorang pun mengetahuinya bahwa itu curian! Dalam hal ini tampaknya saya belum mencapai hal seperti itu: pencurian saya terlalu gamblang, dan bahkan sangat gamblang saya perlihatkan. Ya, seperti Zorro, kadang-kadang ada penulis seperti saya yang ingin meninggalkan jejak “Z”, seolah ingin mengatakan keras-keras: saya mencuri, lho!

Dan seperti Zorro, semoga hasil mencuri kita tidak sia-sia.

One comment on “Mencuri dari Penulis Lain

  1. Irwan Bajang says:

    sepakat…sepakat…
    bagi saya juga nggak ada masalah bagi seorang penulis untuk meniru atau mencuri beberapa gaya, plot dsbnya dari penulis lain…:))

Comments are closed.