Menciptakan Karakter

Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga Lone Wolf and Cub mengenai keberhasilannya menulis komik: “Character that stands out.” Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), Mishkin dalam The Idiot (Dostoyevski), Kakek dalam “Robohnya Surau Kami” (A.A. Navis), atau Gregor Samsa dalam “The Metaporphosis” (Franz Kafka), seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali.

Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya “memorable”, tapi juga terasa nyata?

Mari kita membayangkan hamparan rumput yang luas berwarna hijau merata. Tiba-tiba di tengah hamparan itu, tumbuh bunga lantana berwarna kuning cemerlang. Siapa pun, pasti akan segera melihat bunga itu. Demikian pula di keluasan langit yang biru cerah, tiba-tiba seekor elang terbang sendirian, perlahan-lahan. Hitam kelam. Dengan mudah elang tersebut menjadi fokus perhatian.

Itu merupakan teknik paling mudah untuk membuat sesuatu menjadi fokus perhatian. Kita bisa melakukan teknik yang sama untuk karakter rekaan kita dalam sebuah cerita: buat karakter yang demikian berbeda di tengah karakter-karakter lain yang relatif sama. Bahkan meskipun kita memiliki bunga lantana kuning, bunga mawar merah, bunga melati putih, jika mereka semua diletakkan dengan jarak tertentu di hamparan hijau, lantana, mawar dan melati akan tampak secara bersama-sama.

Demikianlah, di tengah masyarakat yang takut pada kekuasaan kolonial dan berpasrah diri pada tradisi adat, Pramoedya memunculkan tokoh Minke dan Ontosoroh. Di tengah keluarga yang menjalani hidup biasa-biasa, cenderung parasit, Kafka menciptakan tokoh Samsa yang bekerja keras, depresi, hingga berubah menjadi kecoa. Di tengah masyarakat yang hipokrit dan para penjilat, tokoh Mishkin ciptaan Dostoyevski yang lurus, lugu, apa adanya, menjadi begitu menonjol.

Sekarang bayangkan jika Mishkin dalam The Idiot itu hidup di antara tokoh-tokoh yang juga lurus, apa adanya, jujur, tanpa pamrih? Percayalah, tokoh Mishkin itu tak hanya tak akan nampak, tetapi juga di tengah tokoh-tokoh yang seragam semacam itu, kemungkinan akan muncul konflik sangatlah kecil. Dan jika tak ada konflik, maka tak akan ada cerita, bukan?

Tapi bukankah pada dasarnya setiap karakter itu unik? Berbeda antara satu dan yang lainnya? Di kehidupan nyata itu benar. Tapi benar juga bahwa kadang-kadang perbedaan pribadi satu dan yang lainnya, begitu tipis jika dilihat sepintas lalu. Bukankah dalam novel atau cerita pendek, tak mungkin kita menyelam dalam ke pribadi semua tokoh. Sebagian besar tokoh barangkali hanya figuran, yang dilihat sepintas lalu. Coba perhatikan di dalam kehidupan sehari-hari. Siang hari, sepulang sekolah, perhatikan anak-anak sekolah keluar dari kelas. Dengan seragam yang sama, tingkah yang sama, tertawa yang sama, mereka tampak memiliki kepribadian yang sama satu sama lain. Hanya jika kita mengenal mereka satu per satu, akan tampak perbedaannya. Dan semakin kita mengenal, semakin nyata perbedaan-perbedaan itu.

Di sinilah sebagai penulis, kita harus memilih siapa-siapa di antara karakter kita yang harus menonjol dan siapa-siapa yang hanya akan berlalu sepintas saja.

Tapi menonjol saja tentu saja tidak cukup. Menonjol, jika tak menimbulkan kesan yang mendalam, barangkali akan segera dilupakan juga. Tugas selanjutnya, tentu saja menciptakan tokoh yang masuk akal bagi pembaca, sebab tanpa itu, semenonjol apa pun, hanya akan lewat sepintas saja di mata pembaca. Seperti apakah tokoh yang masuk akal? Bagi saya jawabannya sederhana: yakni tokoh yang memang layak berada di setting cerita yang tengah dibuat. Ibaratnya, jangan pergi ke pesta dengan salah kostum. Orang dengan salah kostum, barangkali akan menonjol di pesta. Tapi jikapun ia dikenang, pasti dikenang karena kekonyolannya. Jangan sampai karaktermu terasa salah berada di ceritamu.

Hal paling mudah bagi pembaca untuk mengenali karakter rekaanmu, adalah melalui namanya. Dan melalui nama ini pula, sebenarnya kamu mulai menciptakan karakter dari tokohmu. Meskipun novel dan cerpen pada dasarnya cerita rekaan, tapi pembaca selalu memiliki referensi ke kehidupan nyata. Maka mau tidak mau, memberikan nama-nama kepada tokohmu, seringkali harus mengikuti konvensi di kehidupan yang sesungguhnya, jika tak ingin terlihat aneh.

Apakah ada nama yang akan terasa aneh diletakkan begitu saja? Banyak. Misalnya, jika kamu menciptakan tokoh pendeta Kristen atau rabi Yahudi, tapi bernama Muhammad. Itu pasti aneh, jika kamu tak membangun logika yang benar di ceritamu. Orang Batak bernama Sutejo, bagi orang asing mungkin tidak aneh, tapi bagi orang Jawa dan Batak, pasti butuh penjelasan. Pada nama, pada dasarnya sering terdapat latar-belakang banyak hal. Melalui nama kita sering bisa menebak latar belakangnya, baik agama maupun kultur. Sebab nama seringkali memang bersifat sosial.

Dengan teknik penamaan yang benar, kita seringkali tak perlu memberi penjelasan yang bertele-tele. Kita tak perlu mengatakan bahwa salah sati karakter kita adalah seorang dari suku Tonghoa. Cukup beri saja ia nama “Tan Liong”, dengan sendirinya pembaca membuat asumsi, tokoh itu orang Tionghoa. Selain untuk identitas sosial, penamaan juga bisa membangun dan memperkuat karakter pribadi. Ingat sejarah penamaan nama “Minke” di novel Bumi Manusia? Dari nama itu saja, pada dasarnya kita sudah menangkap tema besar dari novel tersebut.

Penulis seringkali mencopot nama begitu saja dari buku telepon, atau meminjam dari nama teman, atau bahkan mencari dari buku “Nama-nama untuk Bayi Anda”. Itu hal yang lumrah. Saya sendiri sering melakukannya, dan saya yakin penulis-penulis mapan juga sering melakukannya. Tapi di luar praktek lumrah itu, sering-seringlah bertanya, “kenapa saya pilih nama ini untuk karakter ini”? Apakah pemberian nama ini efektif untuk memperkuat karakternya? Jangan sampai pemilihan nama hanya sekadar enak didengar dan bagus untuk ditulis, tapi tak memberi nilai tambah bagi pembangunan karakter tokohmu.

Gabriel Garcia Marquez pernah mengatakan, pemilihan nama tokoh baginya merupakan salah satu cara menyalurkan “obsesi puitis”. Puitis bukan semata-mata enak didengar, bukan? Tapi juga mestinya mengandung makna yang dalam. Coba baca novel Beloved Toni Morrison, dan bertanya kenapa dan apa makna nama “Beloved” di novel itu? Tentu saja tak semua nama harus berurat-akar mendalam, tapi setidaknya ia harus tepat dilekatkan ke satu karakter.

Tugas terakhir, dan tampaknya inilah yang paling sulit: mengawal perkembangan karakter hingga ia tetap masuk akal dalam bangunan logika cerita.

Kita tahu cerita dibangun oleh konflik/permasalahan. Konflik atau permasalahan inilah yang menjalankan satu peristiwa digiring ke peristiwa lainnya, sehingga membentuk satu alur cerita. Tanpa permasalahan, tulisan kita hanya akan menjadi laporan peristiwa demi peristiwa saja.

Bagaimana permasalahan ini bisa mendorong satu peristiwa ke peristiwa lainnya? Jawabannya sederhana: karena ada reaksi dari tokoh-tokoh yang terlibat (langsung maupun tidak langsung) atas permasalahan tersebut. Reaksi tokoh-tokoh inilah yang pada akhirnya menghasilkan tindakan-tindakan dari mereka, dan tindakan-tindakan ini kemudian membangun peristiwa baru.

Nah, bagaimana setiap tokoh bereaksi terhadap permasalahan, ini akan sangat tergantung kepada karekter yang kita ciptakan kepada setiap tokoh. Jika permasalahan di ceritamu adalah perceraian rumah tangga, tentu reaksi sederhana saja akan terlihat berbeda antara: ayah, ibu, anak pertama, anak kedua, pembantu rumah tangga, kakek, nenek. Itu baru kategori-kategori sederhana. Reaksi tentu akan lebih beragam jika ayah yang bercerai itu antara lelaki saleh dan lelaki jahat, misalnya. Ibu yang berkarir dan ibu rumah tangga, tentu juga akan menghasilkan reaksi yang berbeda. Anak dengan keterbelakangan mental dengan anak pecandu narkoba, pasti reaksi atas perceraian orang tua juga beda.

Di tingkat semacam inilah, banyak novel menjadi terasa kering dan tak berkesan, karena kegagalan penulis menciptakan karakter yang masuk akal ketika memberikan respon kepada permasalahan. Padahal ini merupakan reaksi pertama.

Seperti dalam kehidupan, jika ada aksi maka akan ada reaksi. Setiap reaksi tokoh, akan memperoleh balasan reaksi tokoh lain. Sikap aksi-reaksi ini di satu sisi bisa menciptakan konflik baru (yang akan membaca cerita ke tingkat permasalahan lebih tinggi), tapi bisa juga menghasilkan resolusi-resolusi, dan negosiasi-negosiasi. Di titik ini, sangat mungkin satu atau beberapa atau semua karakter berubah. Bolehkah karakter tidak berubah? Tentu saja boleh dengan risiko: jika semua tak berubah, kemungkinan besar konflik tak terselesaikan. Itu mirip di kebanyakan film kartun. Tom dan Jerry selamanya bermusuhan dan karakter mereka nyaris tak berubah. Maka perkelahian mereka memang tak pernah menghasilkan resolusi apa pun. Tapi karakter mereka memang jelas bukan: keras kepala.

Tapi tak semua karakter keras kepala seperti itu bukan?

Nah untuk karakter-karakter yang berubah, di sini juga harus hati-hati. Apa yang membuat karakter berubah? Bagaimana caranya ia berubah? Ke arah mana ia berubah dan kenapa begitu? Kenapa orang pelit dan rakus itu tiba-tiba baik? Harus jelas, apakah ia baik karena memang insyaf atau tak lebih sedang melakukan tipuan baru? Dan bagaimana reaksinya ketika menghadapi masalah baru?

Tampaknya memang tugas yang sulit. Tapi dengan sering belajar kepada novel-novel yang berhasil, dan bagi saya terutama belajar dari kehidupan yang nyata, ini tahapan yang akhirnya akan terjadi tanpa hambatan. Keterampilan menulis pada akhirnya sama saja dengan keterampilan yang lain: semakin sering melakukannya, kemungkinan bekerja lebih baik juga semakin tinggi.

3 comments on “Menciptakan Karakter

  1. sameji says:

    aaah, tulisan yang bernas sekali. sangat bagus untuk dibuat panduan. saya selalu terbayang bayang macamana nak buat watak utama yang betul betul memorable.

    terima kasih :)

  2. shofi says:

    enak dibaca, sangat mencerahkan.
    jadi termotivasi untuk menulis yang lebih baik lagi dengan karakter yang lebih kuat.
    terima kasih :)

  3. izky says:

    makasih atas infonya. sangat membantu dalam penyusunan cerita saya

Comments are closed.