Membaca Pose

Di pembukaan film Tropical Maladies Apichatpong Weerasethakul, ada adegan beberapa prajurit membunuh seseorang di padang rumput. Sambil mengerumuni mayat tersebut, para prajurit itu kemudian berpose, dan seseorang mengambil gambar mereka dengan kamera. Yang menarik dari pose mereka adalah, para prajurit itu tak memperlihatkan ekspresi teror apa pun setelah membunuh dan menghadapi mayat. Mereka bahkan terkesan sedang memamerkan suvenir yang diperoleh dari satu perjalanan. Dan itu terekam melalui pose mereka. Dengan kata lain, kita membaca apa yang ingin dikatakan orang di selembar foto, terutama melalui posenya di foto tersebut.

Satu hari, di linimasa twitter, saya melihat foto seorang gadis remaja dengan posisi lidah sedikit terjulur dan mulut sengaja dibikin cemberut, dan wajah mendongak ke atas. Segera saja saya sadar, pose semacam itu banyak bertebaran dimana-mana: di album foto facebook, di blog, bahkan di halaman majalah remaja. Kita tak tahu siapa yang memulai gaya seperti itu, barangkali hanya dalam waktu singkat, semua remaja melakukannya.

“Masa depan milik kerumunan,” kata Don DeLillo dalam novel Mao II. Saya pikir ini ada benarnya. Bahkan dalam kesendirian seseorang berpose di selembar foto, ia barangkali telah menjadi bagian dari sebuah kerumunan yang besar. Kerumunan orang-orang yang berpose sama.

Perubahan perangkat fotografi barangkali juga berperan penting dalam trend pose berfoto. Dengan kemajuan yang luar biasa dalam perangkat fotografi, tertutama foto digital yang terdapat pada telepon genggam, semakin banyak kita melihat foto-foto yang kita tahu diambil sendiri oleh orang, atau oleh salah satu dari orang, yang ada di foto. Kecenderungan ini menimbulkan beberapa hal umum tentu saja: foto diambil close-up (karena diambil dari jarak paling jauh serentangan tangan), pose wajah sedikit mendongak (karena kamera telepon genggam kebanyakan tak memiliki lampu, mereka akan mengambilnya sedikit ke atas agar memperoleh sudut dimana cahaya matahari jatuh lebih melimpah). Problem yang awalnya tampak teknis, pada perkembangannya kemudian menjadi trend. Mereka menirunya, dan yang meniru ditiru kembali oleh orang lain, bahkan ketika problem-problem teknis di atas mungkin sudah teratasi.

Tentu saja pose memang tak melulu dipengaruhi oleh perangkat fotografi. Lebih dari itu, saya melihat bahwa pose di dalam foto lebih sering justru merupakan tiruan dari pose yang sama di foto lain. Artinya, foto merupakan alat luar biasa untuk mengembangbiakkan trend gaya: tak hanya fashion, tapi juga sikap tubuh.

Saya ingat di tahun 90an, barangkali sudah menjamur sebelumnya pula, saya pernah melihat foto penyanyi Richard Marx dengan jaket kulit disampirkan di pundak, dengan satu tangan memegang ujung jaket tersebut. Barangkali ia menirunya dari orang lain. Mungkin dari James Dean. Mungkin dari Elvis Presley. Dan saya yakin, ada banyak orang pernah difoto juga dengan pose semacam itu. Jaketnya bisa berbeda-beda, tapi ketika orang menganggap pose itu bagus, orang akan menirunya. Kebanyakan dari mereka barangkali tak tahu, untuk memperoleh foto semacam itu, barangkali Richard Marx diambil fotonya dalam beberapa rol film yang berkesinambungan, dengan beragam adegan, dan diambil foto terbaik untuk dicetak. Kebanyakan masyarakat umum tak memiliki kemewahan untuk difoto dengan cara berkesinambungan, dengan bergulung-gulung rol film, bahkan di zaman digital sekalipun seperti sekarang. Mereka difoto dalam satu adegan, sekali jepret, dan karena itu mereka harus berpose sesuai dengan yang mereka inginkan. Pose ini tentu tidak senatural artis idola mereka, tapi tak apa, mereka tetap suka.

Roland Barthes menulis dalam Camera Lucida mengenai pose ini. “Saya merasa diri saya diamati oleh lensa, segalanya berubah: saya menjadikan diri saya dalam proses ‘berpose’, maka dengan sendirinya saya menciptakan tubuh saya yang lain, saya mengubah diri saya selebihnya menjadi citraan.”

Tentu saja di dalam foto, citraan ini tak hanya dibentuk oleh pose. Orang bisa memoles mukanya dengan make-up. Demikian pula menambahi dirinya dengan kostum, dengan aksesoris. Tapi barangkali ada suatu kesadaran bahwa riasan, kostum, aksesoris, bukanlah sesuatu yang keluar dari “diri”. Subyek yang difoto masih memerlukan lebih dari sekadar perangkat eksternal itu, ia ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam dirinya. Sesuatu yang bahkan bisa muncul tanpa riasan, tanpa kostum, tanpa aksesoris.

Dan di sanalah, pose berperan. Dengan pose, kita mencoba mengeluarkan apa yang kita pikir, atau barangkali apa yang kita ingin orang lain pikir, sebagai citra diri yang sebenarnya. Seorang penulis duduk di kursi dengan sikap santai seolah sedang membicarakan sesuatu dengan lensa, pasti ia ingin diingat orang sebagai kutubuku, bahkan meskipun tak ada buku di tangannya. Dan seorang gadis remaja yang menjulurkan lidah dengan mulut sedikit cemberut, barangkali ingin menunjukkan kesan sensual yang kecil, yang faktanya karena dilakukan banyak orang, telah menjadi citra umum dan bukan citra personal dirinya. Tapi bukankah semua penulis yang difoto dengan gaya seolah sedang berbicara atau mendengarkan sesuatu pada dasarnya juga merupakan bagian dari gaya kebanyakan penulis?

Demikian pula apa yang dilakukan para perempuan muda yang memakai foto dirinya, dengan anak atau bayi di pangkuannya, sebagai foto profil di berbagai layanan situs jejaring sosial. Mereka barangkali ingin mencitrakan diri sebagai perempuan yang sayang keluarga, sudah bersuami dan beranak, dan karena itu harap tidak mengganggu. Terutama pacar lama, atau teman lama yang pernah menaruh hati.

Di sinilah ironinya. Orang mengambil kecenderungan umum, karena ia merasa itulah citra dirinya yang personal, yang ia inginkan. Ia merasa menjadi diri sendiri, karena ia berada dalam kerumunan yang besar. Atau sebaliknya, ia hanya bisa melihat dirinya, jika ia merupakan bagian kerumunan. Justru pose yang benar-benar personal, yang unik, barangkali malah dilihat sebagai anomali, keganjilan. Hanya dilakukan oleh orang-orang sinting. Dan karena kita tak ingin dianggap sinting, akhirnya kita memiliki pas foto untuk kartu tanda penduduk, untuk paspor, untuk ijazah, yang kurang-lebih sama dengan foto kebanyakan orang.

Sekali lagi, kesamaan pas foto dimana-mana tentu awalnya problem teknis dan formalitas. Tapi bahkan dalam situasi dimana kita sedang di luar situasi itu, kecenderungan untuk meniru pose yang umum dikenal tetap seringkali berlaku. Sekali waktu saya pernah merekam seorang kakek dengan kamera video. Bahkan meskipun ia tahu itu video, bahwa rekamannya akan bergerak, si kakek ini hanya tahu pose pas foto: ia duduk tegap memandang kamera video selama beberapa detik, tak bergerak. Dalam benaknya, tentu pose terbaik adalah pose seperti di pas foto. Di luar kekikukannya, saya hanya merasa ia sedang mencoba (mungkin tanpa sadar) menjadi bagian dari pose kebanyakan orang. Ia ingin mirip kebanyakan orang.

Sebab, mungkin kita bisa kembali mengutip Camera Lucida, “Kemiripan merupakan suatu konformitas, tetapi terhadap apa? Yakni terhadap suatu identitas.”

Tulisan ini kemudian diterbitkan di Kompas, 4 Desember 2011.



2 thoughts on “Membaca Pose”

  1. setuju, mas eka. memang pose apa saja pasti dimulai oleh seseorang. pertanyaannya adalah: apakah kita bisa melacak orang pertama yang mempopulerkan pose2 tersebut? dan yang paling penting lagi, apakah itu penting?

    sedang soal pose penulis yang duduk di meja sambil memegang buku atau berdiri atau duduk dengan latar belakang lemari buku, menurut saya sah2 saja. kenapa? karena ia bangga. ia bangga sebagai penulis, ia bangga dengan buku2 miliknya, ia bangga orang lain tau ia sedang membanggakan kebanggaannya. ini suatu jenis kebanggaan diri yang positif. apakah salah orang merasa bangga? tidak, tidak salah. apakah salah seorang pelukis misalnya difoto di depan lukisannya? tidak, tidak salah. kenapa? karena orang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri dan hal2 lain yang berkaitan dengan dirinya, misalnya keluarga atau anak-istrinya, adalah orang2 yang berpikiran positif, penuh semangat dan rasa percaya diri.

    dan benar pendapat mas eka, alasan lainnya, salah satunya, adalah karena mereka yang berpose bersama anak atau suaminya, ingin menunjukkan kepada bekas pacar mereka, bahwa mereka sudah bahagia dengan pasangannya yang sekarang. jadi jangan ganggu saya. begitulah kurang lebih alasannya.

    memang soal berbangga diri ini sangat menarik untuk dikupas.

    hemingway bangga difoto sedang mengetik. faulkner bangga difoto sedang mengetik. tennessee williams bangga difoto sedang mengetik. tapi tahukah mas eka, francis bacon, tidak suka difoto bersama lukisan karya2nya. foto2nya kebanyakan menampilkan dirinya yang sedang duduk di studionya yang berantakan dengan kaleng cat dan kuas bekas pakai. knapa ya? hm…. coba, apakah ada alasan tertentu atas sikapnya itu?

    semuanya mengarah pada kalimat yang ditulis dengan bagus oleh mas eka sendiri: “kita mencoba mengeluarkan apa yang kita pikir, atau barangkali apa yang kita ingin orang lain pikir”.

    btw, kalo mas eka baca komen ini saat ini juga, langsung bales ke emailku ya. ada suatu hal penting yang pengen aku omongin. ditunggu!

    pis!

Comments are closed.