Membaca Buku di Toko Buku

Tempo hari saya pergi ke toko buku Gramedia di Matraman. Itu yang kedua setelah renovasi besar-besaran tahun lalu. Dulu merupakan toko Gramedia yang paling besar, sekarang jauh lebih besar lagi. Konon toko buku paling besar di Asia. Entahlah, saya belum berkesempatan mengelilingi Asia untuk membandingkan toko bukunya satu per satu.

Tokonya terdiri dari empat lantai, lima lantai kalau harus menghitung underground tempat parkir, Holland Bakery dan restoran Es Teler 77 itu. Lantai dasar, seperti Gramedia di mana-mana, berisi peralatan tulis-menulis. Tiga lantai sisanya, buku dan buku. Dengan eskalator di tengah-tengah, toko yang ini memang agak menyerupai mall yang hanya menjual buku. Konon pula, ini toko buku paling lengkap di Indonesia — agak menyedihkan memang, karena saya bisa mendaftar banyak buku yang out of stock di toko ini.

Sebenarnya saya datang ke sini untuk janjian bertemu seseorang. Selebihnya saya ingin melanjutkan beberapa bagian novel saya. Maka saya sengaja membawa laptop dan mendamparkan diri di Dunkin’ Donuts yang ada di lantai dasar. Sejujurnya, kedai ini sama sekali tidak ideal untuk melakukan itu. Terutama karena hari-hari itu kedai tersebut sedang direnovasi. Sangat berisik dengan para tukang yang menggedor-gedor dinding. Bagaimanapun, mereka sudah memasang pengumuman permohonan maaf … bagaimana lagi, tak ada pilihan lain?

Inilah sebenarnya kekurangan terbesar dari toko buku ini. Saya selalu kebingungan setiap kali selesai membeli buku dari sini dan ingin langsung membacanya: tak ada tempat yang benar-benar asyik untuk duduk dan membaca buku yang baru dibeli. Itu berarti, tak ada tempat pula untuk bertemu teman dan ngomongin buku di sana, sebagaimana tak ada tempat untuk menulis. Kalau tokonya berada di mall tak ada masalah: kita bisa pindah ke Starbucks atau foodcourt. Masalahnya, Gramedia Matraman jauh dari mana-mana, di depan toko yang ada hanyalah warung makan Padang (yang juga mahal untuk ukuran kebanyakan warung Padang langganan saya).

Kalau sudah begini, saya jadi agak merindukan toko buku QB. Sayang juga toko itu harus tutup, ya? (Halo, Richard, apa kamu tak kepikiran membuka lagi toko itu? Satu saja, enggak usah terlalu banyak, hehehe).

Saya jadi teringat mengunjungi beberapa toko buku di Den Haag. Kota itu sebenarnya kecil saja, jauh lebih kecil daripada Jakarta. Tapi toko bukunya nyaris ada di setiap blok. Karena kotanya kecil, bangunan disana juga relatif kecil-kecil, berimpitan, dengan gang-gang kecil. Dan harap maklum, toko bukunya juga kecil-kecil. Meskipun kecil-kecil, karena setiap blok hampir selalu ada toko buku, menjelajah dari satu toko ke toko lain menjadi hal yang mengasyikkan. Dan karena tokonya kecil-kecil, tak ada banyak tempat juga untuk sekadar duduk-duduk membaca buku. Untunglah, keluar dari toko, biasanya banyak kedai untuk mengaso dan membaca. Cuaca di Den Haag, juga lalu-lintasnya, bukan merupakan gangguan yang serius bagi orang yang tergila-gila membaca di luar ruangan.

Agak berbeda dengan di San Francisco. Di sini tidak setiap blok ada toko buku. Toko buku relatif harus dicari-cari, karena biasanya harus berbagi dengan gedung-gedung dan toko-toko lain yang sama besar dan sama mencuri perhatian. Kalau mau membaca buku di luar, juga harus pintar-pintar mengetahui dimana ada taman. Lagian seperti kebanyakan kota besar, kota ini sama bisingnya dengan Jakarta. Jadi enggak nyamanlah untuk membaca buku di luar ruangan. Tapi untungnya, beberapa toko buku di sana menyediakan kedai kopi di dalam toko buku. Selain itu, di tokonya juga banyak sofa-sofa untuk duduk. Selepas membeli buku, bisalah mengaso sambil membaca buku dan menyesap segelas kopi.

Di Jakarta? Membaca buku di luar ruangan jelas membutuhkan ketabahan tertentu. Membaca buku di dalam toko? Bahkan toko buku sebesar Gramedia Matraman pun tak menyediakan sofa, apalagi kedai kopi di dalam toko yang bisa menjadi tempat rehat. Aduh, jangankan sofa untuk membaca buku di dalam toko, sebagian besar toko buku Gramedia selalu memberi peringatan: dilarang membuka pembungkus plastik, yang artinya, dilarang membaca buku!

Membeli buku di Indonesia jadi serasa membeli kucing dalam karung. Bahkan jika kita sudah membelinya pun, bagaikan tak ada hak untuk membacanya saat itu juga. Tak perlulah sofa, barangkali cukup kursi kayu. Berapa sih harga kursi kayu? Ayolah, sedikit memanjakan konsumen buku tak akan membuat Perang Dunia meletus, malahan bisa bikin semua orang pintar. Coba saja!

Benar, tidak?

16 comments on “Membaca Buku di Toko Buku

  1. mufti says:

    Sepertinya baca buku di gramedia memang tidak diharapkan, yang penting beli. Sering kalo lagi baca-baca buku sambil bersandar, jongkok, atau lesehan didatangi satpam, disuruh berdiri.

  2. Aris Susanto says:

    Ahahaha, lha masyarakat kita ‘kan tidak semuanya menjadikan (membaca) buku sebagai kebutuhan primer, Mas. Mungkin sebab itulah pihak Gramedia ‘ogah’ capek-capek nyediain kursi (apalagi sofa). Bukannya kalau diberi fasilitas begitu, orang-orang Indonesia malah makin demen nongkrong di toko buku ketimbang membelinya. ‘Kan itu tabiatnya manusia Indonesia; maunya enaknya doang. Ya tho… ^_^

  3. merahitam says:

    Bener tuh Mas. Berasa beli kucing dalam karung. Mana bisa tahu isi buku cuma dari baca ringkasan atau komen ‘seseorang’ di sampul belakang. Toh buktinya beberapa kali beli buku yang katanya wah, isinya biasa saja. Hehehe…

    Semoga ada petinggi gramedia dan toko buku lain yang baca ini dan kemudian ‘memperlunak’ aturan di toko bukunya.

  4. Armiza Nila says:

    Salam kunjungan,

    Saudara Eka Kurniawan, alangkah beruntungnya anda di Indonesia ada toko buku sebesar Gramedia itu.

    Meski tidak menyediakan kerusi/sofa – ia tetap menghidangkan pelbagai jenis bacaan bermutu dr kalangan penulis anda di sana.

    Di Kuching, alhamdulillah MPH Bookstore di The Spring Mall ada menyediakan bangku beralaskan leader kusyen untuk orang2 membaca sebelum membeli buku2 pilhan mereka. Ditambah dengan sportingnya pengunjung tidak buat bising2…..terasa aman pula nak membaca sebelum membelinya.

    Mudah2an entri saudara ini membuka mata pihak Gramedia yang begitu popular namanya di kalangan penulis Malaysia agar menyediakan barangkali sekadar kerusi kayu pun memadai sebagai mesra pelanggan – untuk lebih menarik lagi perhatian para pembeli…

    Izinkan saya menggulati karya anda dan mohon saya cetak kandungan yang perlu bagi saya.

    Terima kasih juga atas perkongsian idea di alam maya.

    Salam hormat.

    Armiza Nila
    Kuching, Sarawak

  5. ekakurniawan says:

    sekarang saya lihat di Gramedia Matraman ada kursi kayu berlapis kulit. Mudah2an itu juga ada di toko Gramedia lainnya.

    Armiza:
    Sila membaca dan mencetak yang saudari perlu.

  6. sa says:

    halo mas eka.
    jadi, ndak semua gramedia memperbolehkan baca2 toh. hehe.. soalnya waktu pulang, beberapa gramedia yg ta kunjungi, ko rame sekali dg anak2 yg baca buku di pojokan (duduk di lantai klo perlu). sampe2 ta buka topik di forum para blogger: Baca Buku di Toko Buku. Boleh Nggak Sih?

    salam
    sa, dari belanda

    sa:
    forumnya boleh juga, tuh. Ya, di beberapa Gramedia kalo buat anak kecil malah dikasih tempat. Tapi untuk orang dewasa, apalagi kalo sampai duduk, bisa didatangi satpam — ini bener, saya beberapa kali mengalaminya, hehe!
    (ekakurniawan)

  7. halo eka,

    sayang memang QB harus tutup (di kemang masih ada, tapi lebih mirip bangkai QB yang dulu kita kenal).

    dulu aksara (kemang) masih punya sofa nyaman, sekarang tinggal kursi2 tegak. bisa selonjoran di depan rak buku, tapi sampai berapa lama? untung ada kafe di bagian belakangnya.

    buat saya, sampai saat ini tempat baca, bersantai dan beli buku (walau koleksinya sangat tak lengkap) yang paling nyaman adalah buku kafe, jalan margonda depok, seberang apartemen margonda residence. terakhir saya ke sana, harga masih murah dan suasana tetap nyaman.

    mungkin anda berniat bikin toko buku yang nyaman dan lengkap? kecil pun tak apa-apa, seperti ‘shop around the corner’ di film you’ve got mail.

    salam,

    ney

    ney:
    kalau ada kesempatan, saya mungkin lebih tertarik bikin perpustakaan. perpustakaan dengan sofa, dimana kita bisa pesan kopi atau teh botol. semua orang bisa datang dan membaca … gratis :)
    (ekakurniawan)

  8. ide brilian. ajak-ajak ya!

  9. Ahan S.A says:

    Salam

    Namanya toko buku, yang tempat untuk menjual buku. bukan untuk tempat membaca. Bagi saya ada sedikit keslahan bila kita berlogika bahwa setelah kita membeli buku di toko buku setelah itu ingin membacanya, yang jangan di toko buku. bukan tepat yang tepat.

    bahkan di toko buku tempat saya kuliah sekarang ini, berlaku sebuah larangan. dilarang menuliskan isi buku dalam HP. dan bila ketahuan akau belum tahu hukumannya.

    Ahan:
    tentu saja maksud saya “membeli buku terus membacanya” tidak di toko buku itu: kalo ada di cafe yang enggak jauh dari toko buku. saya bayangkan seperti QB tempo hari, habis membeli kita bisa duduk di cafe sambil memesan kopi, trus membaca. sayangnya enggak ada cafe seperti itu di gramedia. jangankan di dalam toko bukunya, di sekitarnya pun (terutama Matraman) tak ada (hanya dunkin yang sesak itu). Sekali lagi (enggak perlu toko buku yg jauh), bandingkan dengan QB yang punya cafe bahkan di dalam toko buku itu sendiri. tentu toko buku adalah toko yang menjual buku: tapi alangkah nyamannya konsumen kalo sekali jalan bisa melakukan lebih banyak hal: membeli buku sambil menulis, membaca, minum kopi atau ngobrol?

  10. Anas diarobi says:

    wahh…. pernah coba baca berkunjung ke toko buku Togamas di Jogja atau surabaya ? suatu perjalanan yang punya kesan tersendiri. aku beberapa kali ke Togamas jogja, suasananya familiar banget dan tidak ada kesan kaku yang di kuntit satpam lagi. bebas merdekaaaaaa……… ketika ke suarabaya aku juga sempatkan mampir di Togamas jalan Diponegoro…wahhh…. bangunan tahun 1937 eksotik banget ada taman di dalam toko buku….??? menurut aku ini baru new concept toko buku Indonesia. yang menarik ternyata beli buku di Togamas bergaransi…. ini aneh… baru pertama kali kujumpai beli buku di garansi 2 hari, kalau tidak cocok boleh di tukarkan buku yang lain….? apa ga bangkrut ya… Togamas ? trus…. trus…. tapi sangat menarik. di Depok jakarta aku beli komik 65 jilid. aku kembaliin lagi… walahhh…. gileee… tanpa ditanya diterima dan dipersilahkan untuk di tukar buku yang lain. he…he… aku bisa baca komiknya sepuas puasnya dirumah. tapi ga sampai hati juga mau ku tukarkan semuanya. akhirnya yang ku tukar hanya 5 judul aja, yang lainnya aku beliiii.. semua. puas sihhh…. dan agak gileee… menurut aku.

    Anas:
    waktu masih di yogya, aku suka nongkrong di Togamas. Ada angkringannya.

  11. kiki says:

    setau saya disetiap toko buku gramedia yg telah di renovasi rata2 telah menyediakan sofa untuk para pemgunjung untuk bisa membaca buku. dan setiap judul buku selalu ada contoh buku yg bisa untuk dibaca(plastik nya telah di buka). sangat tidak mungkin toko buku gramedia matraman yang d claim paling besar tidak memiliki sofa untuk para pengunjung. toko buku gramedia bintaro saja menyediakan sofa untuk para pengunjung nya. oya, gramedia jg menyediakan garansi loh. asalkan buku yg telah dibeli msh dlm kondisi yg baik. kalo tdk salah max pengembalian buat komik 3hr, dan buku bacaan lain 1mgg dgn catatan struk pembelian harus ada.

  12. Sovia Hannany 'Ula says:

    Sangat asyik sekali kalau kita bisa membaca buku dengan gratis, di Banjarmasin sudah ada dua toko gramedia, tapi alangah lebih asyikmya kalau di tempat seperti itu ada trmpat duduk yang nyaman.

    Saya sebagai mahasiswi jurusan perpustakaan sangat ingin srkali membuka usaha toko buku sejenis gramedia, tetapi di kota amuntai, salah satu kabupaten yang ada di banjarmasi

  13. efix says:

    setauku, blm ada deh di ind toko buku yg lebih nyaman dr gramed…. skedar urun rembug aja mas, di gramed matraman sofa tuh ada di setia lantai deh,……… cm mang posisinya di dkt2 dinding kaca. apakah skrg sdh coba bkunjung lg?

  14. amanzz says:

    itulah kebiasaaan yg sgt baik yg harus dlanjutkn!!! lanjutkn!! ah ky npresiden skarang az ..!!?? salamkenal barataan..!!!

  15. nova says:

    Setuju sekali mas,saya sangat suka buku,dan seringkali membelinya bagaikan membeli kucing dlm karung..Enak skali mmg ada toko buku yg jg skaligus cafe.Bahkan saya bercita2 suatu hari pengen buka sendiri toko buku plus cafe tsb hehe..bolehlah bermimpi :-)

  16. Clara says:

    mungkin maunya pihak toko kita langsung pulang ke rumah dan baca di rumah hehehehe

Comments are closed.