Melihat Gadis Manga di Shibuya

Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.

Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.

Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies – TUFS – untuk membicarakan novel ketiga saya Malam Seribu Bulan, baru akan terbit awal tahun depan.

Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang bekerja di NHK, mengepalai pusat studi mengenai sastra, Islam, dan Asia Tenggara. Seminar kami pun ada hubungannya dengan pusat studi tersebut.

Saya belum bisa membicarakan seminar tersebut, karena baru hari ini. Selama tiga hari kami di Tokyo, akhirnya saya dan istri mempergunakannya dengan berjalan-jalan saja. Dari Indonesia, kami menumpang peswat Garuda yang dipenuhi oleh remaja-remaja Jepang, yang tampaknya baru berlibur dari Bali. Beberapa di antaranya menenteng papan surf. Di Narita, seorang gadis yang masih terbata-bata berbahasa Indonesia bernama Miho datang menjemput. Saya tertidur di dalam bis yang membawa kami ke hotel di Kishijoji. Capek, hehe.

Orang-orang Jepang, sebagaimana yang kami tahu, sangat ramah. Bahkan saya terkesan dengan urusan imigrasi yang cepat, setelah mengalami tujuh jam tertahan di imigrasi bandara LAX, Los Angeles tahun lalu. Satu-satunya masalah, kebanyakan tidak berbahasa Inggris. Lebih parahnya, barangkali karena dandanan kami hehe, mereka dengan cueknya sering mengajak kami berbahasa Jepang, membuat saya dan Ratih buru-buru bilang, “Sorry, we can’t speak Japanese“. Kebetulan Ratih bisa mengatakan kalimat itu dalam bahasa Jepang.

Di Tokyo, kami tinggal di Kichijoji. Sekitar seperempat jam dengan kereta ke pusat Tokyo. Kami baru tahu, dulunya distrik ini merupakan permukiman seniman. Banyak toko suvenir yang membuat kami kegirangan. Benar, saya dan Ratih suka sekali melihat toko-toko kecil yang menjajakan suvenir, termasuk t-shirt dan pakaian lucu-lucu. Kami juga dua kali pergi ke Taman Inokashira. kebetulan musim gugur belum berakhir, jadi kami bisa melihat dedaunan berwarna merah dan kuning. Jika musim semi, orang datang ke taman itu untuk melihat bunga-bunga bermekaran, termasuk bunga Sakura.

Diantar teman kami, Lily Yulianti Farid yang tinggal dan bekerja di Tokyo, kami akhirnya pergi ke Harajuku. Hehe, itu memang salah satu rencana kami. Entah kenapa, sebagai penulis, kami lebih suka pergi ke tempat seperti itu daripada ke museum seni atau teater. Lily sempat bilang, kaum intelek biasanya risih pergi ke Harajuku. Ia bahkan bilang, teman-teman Jepangnya, yang terpelajar dan aktivis, akan merasa malu kalau kepergok berada di sana. Tapi kami cuek saja. Saya bukan pengamat budaya masa. Kami pergi ke sana karena memang senang melihat toko-toko pakaian, mode-mode yang asyik di lihat, dan tentu saja juga senang melihat penyanyi hiphop beratraksi di teras stasiun. Malam itu, kami melihat segerombolan penggemar rock and roll berjoget dan berdandan ala Elvis Presley di depan pintu masuk Kuil Meiji.

Yang membuat kami agak tergelak adalah kenyataan bahwa kebanyakan remaja Tokyo, berjalan dengan menekan telapak kaki bagian luar. Itu membuat kaki mereka sedikit membentuk huruf O atau huruf Y terbalik. Tentu saja itu bukan kelainan, melainkan trend agar terlihat seksi. Gaya itu mereka tiru dari gaya gadis-gadis di manga. Perhatikan cara tokoh-tokoh komik Sailor Moon atau sejenisnya berdiri, kakinya selalu dengan sikap seperti itu: kedua paha agak dirapatkan, tapi kedua betis agak direnggangkan. Konon hal seperti itu seksi. Tentu saja kalau mempraktekannya, pasti merepotkan. Tapi mereka tetap melakukannya, hehe.

Ledakan gadis-gadis seperti itu terdapat di Shibuya, terutama di sekitar patung Hachiko. Kami sampai berpendapat, sol sepatu mereka harus benar-benar kuat atau akan cepat rusak.

Ngomong-ngomong soal Hachiko, kami sempat berfoto di depan patung anjing bernama Hachiko itu. Konon itu nama anjing sungguhan. Ia lahir tahun 1923 dan dimiliki oleh seorang profesor dari Universitas Tokyo bernama Eisaburo Ueno. Tiap hari, sang profesor berangkat ke kampus dengan membawa Hachiko hingga stasiun Shibuya, lalu Hachiko ditinggal di sana untuk pulang sendirian. Nanti ia akan datang lagi untuk menjemput pak profesor pulang kerja. Semua pelanggan stasiun mengenal baik profesor dan anjingnya ini.

Tapi suatu hari, sang profesor meninggal di kampusnya. Meskipun begitu, Hachiko tetap datang ke stasiun Shibuya untuk menjemputnya. Ia terus melakukannya hingga 10 atau 11 tahun, tak tahu jika majikannya sudah meninggal. Untuk mengenang kesetiaan Hachiko, sebuah patung anjing didirikan di muka stasiun Shibuya itu, setahun sebelum Hachiko sendiri meninggal.

Terakhir, setelah mengunjungi Harajuku, kami berencana mengunjungi Museum Ghibli, sepuluh menit dari hotel kami. Saya menyukai karya-karya animasi Hayao Miyazaki, dan ketika tahu kami akan tinggal di Kichijoji, mengunjungi museum itu jadi salah satu yang terbayang. Tapi ternyata enggak bisa asal datang terus beli tiket, hehe … harus pesan dulu. Mudah-mudahan sih kesampaian.

Sekarang, saya harus bersiap-siap pergi ke TUFS, dengan print-out Malam Seribu Bulan yang saya bungkus dari Jakarta. Itu bungkusan kesayangan saya akhir-akhir ini, hehe … Salam.

4 comments on “Melihat Gadis Manga di Shibuya

  1. ratih kumala says:

    Ternyata,
    setelah kuamat-amati, emang bener kamu, Ka… cewek2 jepang itu enggak sakit polio! melainkan emang kakinya sengaja dimiringin biar mirip Sailor Moon. Seharusnya Maia, Mulan Kwok, Mei-Chan dan Pingkan Mambo gitu juga tuh jalannya, hwakakakaka…. Tapi enggak semua, yang kayak gitu itu cuma yang hobi dandan, terutama yang dandannya heboh kayak di Harajuku. Teman kami 2 orang Jepang, Shiho dan Miho, itu biasa-biasa aja ya, makanya begitu sampe Tokyo kami sempat heran.

  2. lies says:

    jd pengeeeeeeeeeeeen pergi ke jepang juga…..hehehe

  3. Eyeshield_e says:

    Sugoiiiii…..
    Pengen liaaatttt….
    Upz, gomen…
    Hajimemashite, Ann desu.
    USU no nihongo bungaku gakka no gakusei…m(u.u)m
    Watashi wa nihon ga suki,,
    Nihon e benkyou ni ikitai yo,,
    Pasti seru banget yah..

    Tokorode, artikel ini saya jadikan bahan/referensi untuk tugas makalah saya,,
    Sangat membantu sekali….
    Doumo arigatou gozaimashita!!!!
    Douzo yoroshiku!

  4. hocita says:

    hajimemashite…………..kya’y asyik bgt tuch,,, jdi pngen ke Jepang……..
    msa sich jlan’y pada kaya gitu ??
    unik bgt,, cerita Hachiko juga menyentuh bgt…..keren deh,
    bukan cuma negara industri dan pendidikan tpi jga pusat trend….
    manga-manga’y jga keren….keren abizzzzzzzzzzzzz….

Comments are closed.