Melankoli Marquez

Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta cara pandang atas tubuh perempuan, saya juga mulai merasa ia terobsesi kepada gaya neosensualisme penulis besar Jepang tersebut. Puncak obsesinya, saya pikir bisa dilihat di novel terbarunya, Memories of My Melancholy Whores.

Obsesi itu mungkin sudah terasa sejak Love in the Time of Cholera, meski di sana ia masih memperlihatkan kecenderungan dari masa sebelumnya.

Di novel-novel awalnya, kita tahu absurditas, magisme, perayaan kebanalan, labirin alurnya, ungkapan-ungkapan hiperboliknya, merupakan obsesinya terhadap dua raksasa lain: William Faulkner dan Franz Kafka. Memang ada pelacur kecil dan perayaan atas tubuh perempuan dalam Innocent Erendira, tapi lebih mudah membayangkan Erendira sebagai salah satu tokoh Faulkner daripada sebagai geisha dalam novel Kawabata.

Beralih dari bayang-bayang Faulkner ke ranah Kawabata, pastilah bukan sesuatu yang gampang, bahkan bagi penulis sekaliber Marquez sekalipun. Bagi para pembaca Faulkner, kita segera akan tahu Marquez merupakan salah satu pengikutnya yang paling berhasil. Saya akan menyebut nama lain: Toni Morrison.

Membaca novel-novel awal Marquez, serasa membayangkan Faulkner lahir dan tinggal di Kolombia serta menulis mengenai Amerika Latin. Membawa tradisi Faulkner ke wilayah Marquez, saya pikir kurang lebih akan menjadi serupa ini: ganti Negro dengan Indian, ganti veteran perang saudara dengan veteran perang seribu hari, ganti Amerika Selatan (Amerika Utara bagian Selatan) dengan Amerika Latin, ganti para Yankee dengan orang-orang Spanyol, ganti kebun kapas dengan kebun pisang, maka jadilah Faulkner rasa Marquez. Tapi membawa dunia Jepang Kawabata ke Latin Marquez?

Ketika Marquez mulai menjauh dari tradisi Faulkner dengan stilisasi yang cenderung berputar dan mulai mengadopasi kelugasan cara bertutur Ernest Hemingway, ia pun tak mengalami banyak kesulitan. Bahasa Faulkner, seperti dalam kata-kata Marquez sendiri, serupa gajah yang dilepaskan ke dalam toko kristal. Kita tak tahu apa yang bakal terjadi, dan kita mustahil mengatur ulang kekacauan yang ditimbulkannya. Cara bertutur Hemingway bisa dikatakan sebaliknya: ia seperti mesin dengan baut-baut yang terpasang rapi. Kapanpun dipreteli, dengan mudah dipasang kembali.

The Autumn of Patriach, boleh jadi merupakan penghujung pengaruh besar Faulkner dan Kafka dalam Marquez, berikutnya hal itu menjadi lebih tersamar dan Marquez menjadi lebih lugas serta cenderung menghindari hiperbola maupun kalimat majemuk dengan rentetan peristiwa. Bahasa yang dipergunakan relatif lebih pendek. Latar belakang sebagai jurnalis barangkali membantunya mengadopsi pendekatan serupa itu. Tengok misalnya novel pendek Chronicle of a Death Foretold. Ditulis dengan alur berombak serupa Faulkner, namun dengan kalimat-kalimat sugestif yang merupakan tipikal Hemingway. Demikian pula dalam novel pendek lainnya, Of Love and Other Demons serta kumpulan cerita pendek Strange Pilgrims. Hiperbola yang berlebihan berganti dengan imaji-imaji yang sederhana.

Tapi Kawabata, bagi saya, tetap merupakan soal lain. Sangat sulit sekali menemukan penulis mana pun yang berhasil menjadi pengikutnya yang baik, apalagi berhasil membangun karakter tersendiri. Dan Marquez, bagi saya, pun bukan perkecualian.

Memories of My Melancholy Whores, berkisah mengenai seorang tokoh “aku” yang ingin merayakan ulang tahun kesembilan puluhnya dengan bercinta bersama seorang gadis perawan. “I wanted to give myself of a night of wild love with adolescent virgin,” demikian katanya dalam paragraf pembuka. Maka ia menelepon Rosa Cabracas, germo yang sudah lama dikenalnya, untuk menagih janji menyediakan perawan di hari ulang tahunnya. “Sebab malam ini adalah waktunya,” si aku berkata. Seperti dalam novel Snow Country Kawabata, si tokoh memperoleh pelacur yang dipesannya. Tapi bukannya menidurinya, ia malah melihatnya telanjang sepanjang malam. Atau seperti yang dikutip Marquez sendiri dari House of Sleeping Beauties Kawabata: “He was not to do anything in bad taste, the woman of the inn warned old Eguchi. He was not to put his finger into the mouth of the sleeping girl, or try anything else of that sort.” Ia pelanggan baik yang tak hanya memperlakukan pelacurnya dengan baik, namun segera kita tahu, ia malah jatuh cinta kepada si perawan kecil itu.

Lihat, bahkan Marquez mempergunakan gaya “akuan”, tokoh “aku”, sesuatu yang bukan kebiasaan di novel-novelnya, jika bisa dikatakan tak pernah. Memang di novel pertamanya, Leaf Storm, Marquez mempergunakan pencerita orang pertama, tapi di sana ada tiga narator yang semuanya mempergunakan pencerita orang pertama. Si kakek, si ibu, si anak, semua bercerita sebagai narator. Kurang lebih serupa yang dipergunakan Faulkner dalam As I Lay Dying. Beberapa kali Marquez juga mempergunakannya di beberapa cerpen, kebanyakan di cerita-cerita pendek yang semi autobiografis. Saya merasa, perubahan orientasi ini untuk membawa novel tersebut lebih menukik ke dalam. Lebih personal dan liris (dari lyrical, sesuatu yang bersifat “aku” atau “ego”), sesuatu yang bersifat psikologis, ketimbang novel-novelnya yang lain.

Memang benar, di novel-novelnya yang lain, kita berhadapan dengan novel mengenai “relasi-relasi”. Dalam One Hundred Years of Solitude, kita menghadapi persoalan hubungan-hubungan antar anggota keluarga Buendia. Dalam Love in the Time of Cholera, kita menghadapi persoalan hubungan-hubungan antara Juvenal Urbino, Fermina Daza, dan Florentino Ariza. Tapi dalam Memories of My Melancholy Whores, ketimbang persoalan hubungan antara si lelaki tua dan si pelacur yang kemudian diberinya nama sebagai Delgadina, novel ini sebenarnya lebih banyak merupakan hal-ihwal si tokoh mengenai dua hal penting: usia tua dan cinta.

Di sinilah soalnya. Obsesi terhadap cinta dan tubuh perempuan, sekali lagi itu tampaknya diperoleh dari Kawabata sejak awal tahun 90an ketika ia menulis “Sleeping Beauty and the Airplane”, membawanya pula untuk mengadopsi sifat lirisisme ini. Sifat ingin menguak sesuatu di dalam si tokoh melalui tubuh perempuan sebagai perantara. Kawabata menjadi berhasil ketika ia mengadopsi sifat kependekan dan imaji-imaji alam dari haiku sebagai perbandingan paralel atas tubuh perempuan. Kawabata merupakan penulis yang sabar membawa pembacanya untuk mengamati salju yang turun dari ujung atap, embun yang membasahi jendela kereta, bunga sakura yang mekar di satu ujung dahan yang melengkung sendirian. Tubuh perempuan dalam Kawabata, pada akhirnya, menjadi sejenis citraan. Sebuah bayangan samar. Sebuah melankoli yang sesungguhnya.

Dalam kebanyakan novel Marquez, tubuh perempuan sebaliknya, selalu bersifat fisik, nyata, dan sosial. Tidak personal dan tak ada melankoli di sana. Yang paling jelas bisa kita tengok misalnya di Of Love and Other Demons. Benar, novel itu pun berkisah mengenai lelaki dan obsesinya terhadap tubuh perempuan, melalui kisah pastor Cayetano Delaura dan perawan kecil Sierva Maria. Tubuh perempuan di sana adalah tubuh yang digigit anjing gila, kena rabies, tubuh yang dirajam dalam sebuah upacara exorcism, juga tubuh yang disentuh penuh hasrat, sekaligus tubuh yang juga bisa mati. Dalam Innocent Erendira, itu berarti tubuh perempuan yang bisa dibeli dan diperas. Tapi dalam “Sleeping Beauty and the Airplane”, Marquez berhasil membebaskan diri dari tubuh perempuan yang fisik serupa itu.

Dalam cerpen tersebut, perempuan yang tidur di kursi pesawat dalam penerbangan jauh di samping si narator itu, sungguh-sungguh menjelma menjadi sejenis itraan. Kisah mengenai nenek tua yang membawa kopor besar, kacamata yang jatuh di lorong, badai yang membuat keberangkatan tertunda, makanan yang habis di bandara, seolah membangun citra utuh mengenai si perempuan tidur. Dan yang paling utama, meski tidur berdampingan “serasa pengantin”, perempuan itu sungguh-sungguh tak tersentuh, dalam makna harfiah maupun kiasan. Demikianlah bagaimana tubuh perempuan itu menjadi pengungkapan jati diri si tokoh.

Memories of My Melancholy Whores merupakan kisah sejenis itu, kisah mengenai tubuh perempuan yang tak tersentuh, harfiah maupun kiasan. Tapi masalahnya, tubuh perempuan, dalam hal ini Delgadina, tidak menjelma citraan yang dihasilkan oleh si tokoh aku, melainkan oleh banyak tokoh. Dengan kata lain, novel ini sebenarnya tak akan jauh berbeda mempergunakan penceritaan orang pertama maupun orang ketiga. Ia tidak menjelma menjadi sesuatu yang personal, tetapi sesuatu yang impersonal. Perhatikan kalimat ini: “Don’t let yourself die without knowing the wonder of fucking with love.” Komentar itu bukan kalimat si tokoh aku, apalagi hasil pencariannya, melainkan kata seorang teman kepada si aku ini. Walhasil, sesungguhnya si aku merupakan tokoh yang pasif. Yang membangun citraan adalah lingkungan sosial dan peristiwa di sekitarnya: teman-teman kerja yang berkomentar tentang usia tua, pembantu yang mengomentari soal tempat tidur si tokoh, dan si tokohnya sendiri lebih banyak berkisah tentang karir hebatnya sebagai penulis kolom, tentang keluarga, rumahnya, dan tak banyak mengenai “pelacur-pelacurnya” yang mestinya menjadi indikasi judul novelnya.

Mungkin ini pembacaan yang salah, tapi Memories of My Melancholy Whores menjelma menjadi novel yang serba tanggung. Sangat jauh dari pencapaian Marquez yang mana pun. Obsesi yang tak kesampaian. Orientasi yang tak selesai. Sebuah soliloqui yang menjadi ramai, sebuah monolog yang menjadi perbincangan. Kenangan yang tak mengenang apa pun, dan melankoli yang tak menawarkan kesedihan apa pun. Tapi untuk mengatakan bahwa novel ini tidak memberi orientasi baru apa pun, dengan kata lain masih dalam tradisi lamanya, juga sulit diterima. Dan satu hal lagi, novel ini bertaburan metafora-metafora klise yang bahkan pernah dipergunakan Marquez di karya-karya sebelumnya. Saya juga tak mengerti mengapa novel ini tak diterjemahkan sebagai Memories of My Melancholy Bitches, ungkapan yang terasa lebih ‘Marquez’ daripada Whores.

Apakah ini anti-klimaks dari pencapaian penerima Nobel tahun 1982 ini? Silakan membandingkannya.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia, 23 November 2006


2 thoughts on “Melankoli Marquez”

  1. seorang teman merekomendasikan marquez, demi perempuan2 tangguh, katanya. dan emang ampuh. aku masih baca A Hundred Years of Solitude. dan akan jadi tatoku berikutnya

Comments are closed.