“Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.

Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel Bi wa Kizu (Cantik itu Luka). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.

Saya kebagian membicarakan mengenai novel saya Malam Seribu Bulan, dan sesekali menanggapi komentar mengenai novel pertama saya, Cantik itu Luka. Karena novel tersebut belum terbit, saya memberi semacam ringkasan cerita bagi novel itu. Hal ini sebenarnya agak menyulitkan saya, soalnya novel itu tak cuma sekadar merupakan gagasan cerita, tapi juga mengandung gagasan bentuk yang berhubungan dengan cerita. Tanpa melihat novelnya secara utuh, rasanya sulit mengenali gagasan bentuknya. Tapi tak apa, kami kemudian lebih banyak membicarakan ide cerita novel tersebut.

Karena pusat studi yang mengadakan seminar ini merupakan pusat studi Asia Tenggara, sastra, dan Islam, mereka sangat tertarik dengan representasi Islam dalam novel Malam Seribu Bulan. Tentu saya tak berpretensi untuk mewakili gambaran umum Islam di masyarakat Indonesia, tentu tidak juga di dunia kesusastraan kita. Sebagai pembanding, maka Shiho bicara mengenai komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang banyak mengklaim sastra mereka sebagai “sastra Islami”. Saya sendiri tak akan mengatakan novel saya sebagai novel Islami, tapi bahwa Malam Seribu Bulan mengangkat isu mengenai agama Islam, bisa dikatakan benar. Tampaknya itulah yang membuat mereka kemudian mengundang saya untuk mempresentasikan novel ini.

Pada dasarnya saya tak biasa membicarakan isi cerita novel saya dengan ringkas, maka saya tak akan mengulangnya di sini. Tapi pada intinya, novel ini berkisah mengenai Syekh Ruhayat Jamil bersama empat muridnya. Saya menceritakan Syekh Ruhayat Jamil sejak masa nenek moyangnya mendirikan padepokan mereka, melintasi berbagai timbul-tenggelamnya perkembangan Islam di Indonesia: sejak kedatangan orang-orang Turki di Kerajaan Aceh; Perang Padri; Wali Songo di Jawa; pendirian organisasi Islam modern semacam Sarekat Islam, Nu, Muhammadiyah, peristiwa Darul Islam; para pemuda yang berbondong-bondong sekolah militer ke Pakistan. Ya, kira-kira itulah yang ada di novel ini. Semua kisah keluarga Ruhayat Jamil ini diceritakan dalam empat versi (yang kadang sama kadang berbeda jauh) serta empat gaya (ada yang mengkopi gaya prosaik Quran hingga alusi-alusi Nizami, gaya bercerita Kisah 1001 Malam hingga lelucon-lelucon sufistik Nasrudin). Keempat versi kisah ini merupakan usaha “kanonisasi”, sebagaimana sering terjadi dalam berbagai kelahiran kitab suci.

Saya tak akan membicarakannya lebih jauh. Jika tertarik, segera membeli bukunya ketika waktunya terbit (hehehe).

Bagaimanapun, itu kali pertama saya membicarakan novel ini di depan publik. Malam Seribu Bulan sebenarnya saya rencanakan terbit November ini, tapi beberapa kesulitan dalam pengeditan membuat saya terpaksa mengundurnya kembali. Mungkin Januari atau Februari, mudah-mudahan target ini bisa tercapai. Sekembali ke Jakarta, saya tampaknya akan liburan selama satu atau dua minggu untuk menyelesaikan pengeditan novel ini.

Mengenai Cantik itu Luka, ada respon pembaca Jepang yang unik dan di luar dugaan saya. Ada adegan di novel itu ketika Kliwon menculik Alamanda ke tengah laut, dan di sana mereka terpaksa makan ikan mentah. Nah, dalam versi Indonesia, itu berarti sebuah “keterpaksaan” yang menderitakan. Tapi di Jepang, karena mereka doyan ikan mentah, efek itu enggak berhasil. Hehehe …

Begitulah. Selepas seminar, waktu saya dan Ratih lebih longgar lagi. Kami memutuskan pergi ke Tokyo Tower (norak ya, tapi di Jakarta pun, saya baru pergi ke Monas tahun lalu, itupun karena nganter keponakan, hehe), serta ini yang paling kami suka: Ghibli Museum. Tapi cerita mengenai itu besok aja, ya … Salam.

14 comments on ““Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies

  1. remi says:

    Jangan lupa bunga sakura, ama kaos jepang

  2. asepso says:

    Selamat Mas Eka. Semoga makin jaya.

  3. ekakurniawan says:

    bunga sakura lagi enggak ada, soalnya ini kan musim dingin. bunga sakura baru muncul pas musim semi. dan kaos … hmm … rata-rata, kalo enggak made in china, ya made in indonesia …

  4. ari says:

    senpai, yoroshiku ne, ijin link blognya, arigatou

  5. sarastia says:

    wahhhh..keren donk….lok cerpennya kayam yang setingnya di jepang tu pa ya kak?. duhh, yang istrinya nitip daster warna biru bergambar bangau terbang tu lho. tu di kota apa ya?. dulu ada lelaki yang menjanjikan aku dasterseperti itu, tapi entahlah, sudah setaun malah gak ada kabarnya.
    sukses selalu buat kak eka.
    jadi makin gak tahan buat nungguin ne novel kak. palagi sedikit bocoran tentang struktur naratifnya tu!!!! bikin mangkel taukkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!…jago amir sihhhhhh….hhhhhhhhhh…..makan apa ya tiap ari??????.

  6. Makki says:

    Mas, gimana rasanya membicarakan novel kita sendiri di negeri orang?

  7. sarastia says:

    judulnya kimono biru buat istriku, tuh baru ingat setelah maem sate kambing kurban.hehe..selamat idul adha buat kak eka dan keluarga..

  8. aan mansyur says:

    waktu baca soal makan ikan mentah itu dulu saya juga berpikir itu kesalahan juga sebab di beberapa daerah di indonesia sebenarnya penduduknya doyan makan ikan mentah, termasuk saya. ibuku dulu suka bikin makanan bernama ‘lawa’ dan itu dari ikan mentah—dan, ah, enak sekali…

    aan:
    hehehe … iya di tempatku, meskipun ikan laut dan ikan air tawar melimpah, orang-rang tak memakan ikan mentah. tapi orang sunda dikenal sebagai pemakan dedaunan mentah, yang anehnya, saya juga enggak bisa, hehe …
    (eka)

  9. ikho says:

    waaahhh enak sekali bisa ke jepang. Saya sudah bercita cita sejak kelas 4 sd untuk sekolah SMA di sana.

  10. Malam Seribu Bulan … terus ada Shiho Sawai. Wah ini benar-benar sangat klob. Sebab Shiho sipeneliti itu telah menimang-nimang Malam Seribu Bulan dan Cantik itu Luka ketika di Indonesia. Tentu dua novel ini bukan saja kebanggaan Eko sendiri tetapi juga kesastraan Indonesia. Tabik. Salam Sastra.

  11. Monica Petra says:

    wah hebat sekali penulis novel bisa ke Jepang….seminar novelnya…. :o gimana caranya….

  12. ekakurniawan says:

    makhi, ikho, arsyad dan monica:
    terima kasih komentarnya. soal seminar novel saya di Jepang, tentu saja menyenangkan :)
    soal bagaimana itu bisa terjadi, saya ceritakan ringkas saja ya:
    novel pertama saya, Cantik itu Luka, kebetulan sudah diterjemahkan ke bahasa Jepang dan terbit di sana tahun 2006. Mungkin karena novel itu, beberapa pemerhati sastra Indonesia di Jepang mulai mengenal saya.
    Ketika saya sedang mengerjakan novel ketiga saya (Malam Seribu Bulan), rupanya mereka juga mendengarnya. Dan karena tema novel itu cocok dengan tema seminar mereka, maka saya diundang untuk membicarakannya. Selain membicarakan novel baru itu, memang juga kami membicarakan novel Cantik itu Luka yang sudah mereka baca lebih dahulu.
    Ya, sesederhana itu. Soal membicarakan novel di negeri orang, saya pikir beberapa penulis lain juga sudah melakukannya. Apalagi saya pikir, saat ini menurut saya bukan lagi saatnya penulis hanya bertarung di wilayahnya sendiri. Sudah waktunya kan kita berbicara dengan berbagai pencapaian kebudayaan dimana-mana? Hehe …

  13. haris says:

    mas eka, saya menunggu novel “amakm seribu bulan”-nya. kapan jadinya terbit? tahun ini kah?

  14. haris says:

    he2. salah tulis. novel “malam seribu bulan” maksudnya.

Comments are closed.