Majalah Tempo: “Indonesia yang Kuimpikan”

Telah beredar majalah Tempo edisi khusus dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Judul sampulnya: “Indonesia yang Kuimpikan”. Di dalamnya ada ulasan mengenai 100 buku/teks dalam seabad Indonesia (1908-2008) yang dianggap membawa pengaruh pada kehidupan bangsa Indonesia, serta mampu menjelaskan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.

Saya promosikan edisi ini karena saya menulis salah satu artikel di dalamnya (he2). Saya menulis mengenai Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer dalam tulisan berjudul “Tetralogi Buru dalam Indonesia ‘Modern'”. Selamat membaca dan berjanji, mari menulis buku yang jauh lebih baik lagi, juga lebih banyak lagi, untuk Indonesia satu abad mendatang!

Sebagai bocoran, beberapa buku yang dibahas antara lain: Demokrasi Kita, karya Wakil Presiden Pertama Indonesia, Mohammad Hatta (1966). Hmm, wakil presiden kita sekarang, juga barangkali presiden yang sekarang, nulis buku tidak, ya? Ah, jangan maksa! Tak semua orang dilahirkan sama (cerdas), kan? Dan buku Hatta yang diulas bukan cuma itu. Masih ada yang lain: Dasar Politik Luar Negeri Indonesia (1946) serta Beberapa Fasal Ekonomi (1954).

Dan Soekarno sendiri? Ya, tentu saja. Selain dikenal sebagai orator yang luar biasa, presiden kita ini juga penulis yang produktif. Tidak hanya propaganda politik, tapi juga puisi dan cerita pendek. Majalah Tempo mengulas mengenai karya puncaknya, Di Bawah Bendera Revolusi (1959) yang terdiri dari 5 jilid.

Juga jangan dilupakan karya tokoh yang menurut saya paling layak disebut sebagai Bapak Bangsa Indonesia: Tan Malaka. Ia salah satu pendiri Partai Komunis Indonesia, pejuang dan pemikir yang tangguh, bisa dikatakan orang pertama di negeri ini yang berpikir dan menulis tentang kata “merdeka” (alas, dengan cara yang jahat, kita melupakannya!). Ia menulis banyak buku, salah satunya buku pedoman pergerakan: Massa Actie in Indonesia (1926). Tak hanya itu, Tempo juga mengulas bukunya yang lain: Dari Penjara ke Penjara (1948), serta mahakarya filsafatnya: Madilog (1943).

Di deretan karya sastra, selain buku Tetralogi Buru yang saya ulas, juga ada karya Pramoedya yang lain: Di Tepi Kali Bekasi (1951); Siti Nurbaya (1920) karya Marah Rusli; Belenggu (1940), karya Armijn Pane; serta salah satu favorit saya karya Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948).

Selain mengulas buku, Tempo juga mengulas teks-teks penting yang mengiringi perjalanan bangsa Indonesia. Tentu saja teks pertama yang terpenting adalah Naskah Proklamasi. Naskah yang hanya beberapa baris kalimat itu, tak perlu diragukan arti pentingnya, merupakan pondasi negara ini. Secara literer saya mengagumi teks ini, pendek tapi efektif: Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pendek dan efektif, kan? Saya membayangkan penulis teks ini dan orang-orang sezamannya memang terlatih dalam bahasa.

Tak hanya politik. Ada juga ulasan teks Nurcholish Majid, “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” (orasi, 1970). Dan masih banyak buku serta teks lagi: tentang puisi, komik, dekrit presiden, kamus, buku sejarah, bahkan buku mengenai tata bahasa (karangan Sutan Takdir Alisjahbana). Rasanya saya tak mungkin mendaftar semua buku dan artikel Tempo itu di sini. Silakan membaca sendiri, menurut saya ini sangat penting.

Jujur saja, setelah mengetahui deretan penulis dan naskah-naskah tersebut, ada juga rasa bangga saya di tengah harga gorengan tempe yang terus naik (Presiden dan Wakil Presiden yang terhormat, nggak usahlah menulis buku, cukup turunkan saja harga-harga, saya sudah senang!). Cheers dan selamat membaca! Terima kasih Tempo, terima kasih para penulis hebat!

12 comments on “Majalah Tempo: “Indonesia yang Kuimpikan”

  1. Cake says:

    Thanks infonya ya..mau langsung cari ah!

  2. sarastia says:

    kak sori, gak ngrespon tentang tempo, sebab tak betah untuk mnulis ‘blurb’, he3 : setelah membaca cantik itu luka dan lelaki harimau dengan lebih seksama, DEMI TUHAN, telah lahir masa depan sastra indonesia!!!

  3. sarastia says:

    begini kak ceritanya: saya mengenal kakak lebih dulu melalui cerpen, dan sejak itu terasa ada janji di sana, kemudian belum lama ini membaca lelaki harimau, sampai bab tiga langsung kutinggalkan. setelah itu beli ben okri dan cantik itu luka. keduanya saya baca berselingan. membca cantik itu luka, segera merasakan kehadiran SANG JURU DONGENG. membaca okri, langsung saya mengambil lagi lelaki harimau, ada sensasi yang mirip dengan lelaki harimau, yaitu pada ketidaknyamanan pada susunan kalimat.
    saya jadi sadar, bahwa kemaren ada yang salah dalam cara baca saya atas lelaki harimau. bebrapa kecurigaan atas diri saya meluap, berujung pada ketidakketersediaan ensklopedia yang dibutuhkan untuk menjadi pembaca model lelaki harimau. saya mungkin bisa melacaknya, pertama melalui beberapa ulasan tentang itu oleh para kritikus. tapi tidak akan saya lakukan sebelum saya merumuskan sendiri ensiklopedia yang diperlukan utk menjd pembaca model lelaki harimau.
    dosa pertama, mungkin, mesti ditimpakan pada semacam ringkasan cerita di belakang buku itu.he3. tapi saya juga gak bisa membayangkan apa yang musti tertulis di sana.
    makimakian yang saya rencakan adalah : jika ada kritikus yang membicarakan ayu dan kemudian tidak membicarakan eka kurniawan, camkanlah, merekalah LAKNAT dalam sastra indonesia. he3. saya jadi makin yakin padamu kak. tubuh menggigil oleh demam.
    saya belum membaca cala ibi, tapi sudah membaca nukilannya di kalam tu, yang kemudian meyakinkan saya bahwa dialah penulis muda favorit afrizal malna.
    saya tidak tahu kemana saya musti belajar jika ternyata nanti saya tidak bisa menemukan bahan belajar yang diperlukan dari bacaan saya sendiri atas lelaki harimau dan dari para pengulas kedua novel kakak. semoga hari-hari berikutnya, seiring bacaan acak yang melelahkan dari beberpa penulis belahan lain, bisa mendekatkan saya. kalau tidak saya akan menuntut kakak memberikan sedikit terang.he3.

  4. sarastia says:

    cantik itu luka SUPER KEREN !!!!!!!lelaki harimau : MENCURIGAKAN!!!!he3.

  5. sarastia says:

    Bualan Keheningan

    Tulisan cahaya menyerang kegelapan, lebih melimpah

    Ketimbang meteor

    Kota asing nan tinggi itu mengambil alih pedesaan.

    Yakin akan kehidupan dan kematianku, aku mengamati

    Mereka yang penuh ambisi dan ingin memahami

    Mereka.

    Siang mereka tamak seperti seutas tapi penjerat di udara.

    Malam mereka adalah istirihat dari gelora di dalam baja,

    Siaga untuk menyerang.

    Mereka bicara tentang kemanusiaan.

    Kemanusiaanku ada pada perasaan bahwa kita semua

    Adalah suara dari kemiskinan yang sama.

    Mereka bicara tentang Tanah Air.

    Tanah Airku adalah irama sebuah gitar, beberapa lembar

    Foto, sebilah pedang tua, doa rumpun willow yang

    Dapat dilihat saat malam turun.

    Waktu berjalan di dalam diriku.

    Lebih hening daripada bayanganku, aku berjalan melewati

    Gerombolan tamak yang sombong itu.

    Mereka tak tergantikan, unik, layak untuk masa depan.

    Namaku adalah seseorang dan siapa saja.

    Aku berjalan perlahan, seperti seseorang yang datang dari

    Tempat sedemikia jauh sehingga tak berharap

    Akan sampai.

    –Jorge Luis Borges, seperti dikutip Kiran Desai.

  6. antok says:

    mas eka, ada yang kurang, berapa harganya?
    biasanya, edisi khusus juga pake harga khusus?

    salam

    antok:
    sama, kok.
    (ekakurniawan)

  7. selamat ya….aku mau nyarik majalahnya nanti…

    wayan:
    trims, jengki!
    (ekakurniawan)

  8. Adi Baskoro says:

    wah, kebetulan lama tak baca tempo..nanti cari ah..
    oya bung Eka, mohon ijin nempel link situs Anda di blog saya.

    tengkyu

    adi:
    silakan.
    (ekakurniawan)

  9. refanidea says:

    Aku udah baca mas. bagus!
    Aku juga sering baca artikel mas di Kompas Minggu. Yang terakhir kalo ga salah, “Sebab Kode adalah Puisi..” Bener ya..?

    Kebetulan dari seratus artikel di Tempo edisi itu saya baru baca beberapa buku saja. “Di bawah bendera revolusi” Soekarno, dan “Pergolakan Pemikiran Islam” Ahmad Wahib, milik Ayah saya. Buku2nya lawas banget untuk ukuran saya yg lahir ’82.

    Mau tanya mas, kenapa buku “Percikan Filsafat” karya Drijarkara tidak masuk di sana..? Padahal dia termasuk tokoh filsafat Indonesia yg gagasannya cukup berpengaruh pada dinamika masy. kita bukan? Dan lagi, bukankah gagasan2 Ahmad Wahib juga terinpsirasi dari Drijarkara? Apalagi dia sempat sekolah di STF Drijarkara.

    Dari ulasan buku2 di Tempo, saya paling suka dengan gaya penuturan anda dan mas Ulil Abshar.

    Keep writing bro!

    *saya tahu blog mas eka dari http://jokopinurbo.com/

    refanidea:
    soal “percikan filsafat”, para redaktur tempo lebih berhak menjawabnya. tapi saya pikir, setiap orang bisa menyusun 100 buku/teks penting sendiri, kok, yang nggak mesti sama dengan tempo.
    (ekakurniawan)

  10. sarastia says:

    kak, aduhhhhh. bener kan kak, david cook menang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!…aduhhhhhh, dah 2 tahun ne saya nebak dari 12 besar, bener.hhhhhhhh…seneng kak.tu artinya, sapa bilang penonton(pembaca) tu bodoh!!!!!!!!!!!!!!!!huhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!…cook keren di mata kritikus, di pooling juga tetep aja menang.he3.pena kencana tu, maju terus!!!!!!tapi PROMOSINYA DIPERBANYAK!!!!!

  11. Nuntung says:

    Belum punya, majalahnya…

  12. WEIL SAMAT says:

    Bila dicongak, dapatlah diputuskan bahawa majalah Tempo ini sudah wujud kurang lebih 37 tahun sebelum negara Indonesia merdeka. Banyak disebutkan buku-buku yang ditulis oleh pengarang Indonesia bersemangat waja dan jatidiri, mengalami sendiri perjuangan menentang penjajah Belanda secara persenjataan warisan dan akhirnya mengistiharkan kemerdekaan negaranya.

    Selepas merdeka ada pula bencananya seperti kemelesetan ekonomi, kekurangan tenaga kerja spesialis, kemerebakkan anasir-anasir komunis dan fahaman kiri serta ketandusan prasarana pembangunan.

    Kesemua ini ada diceritakan dalam buku-buku yang disebutkan dalam majalah Tempo 100 tahun. Saya amat mengagungi buku-buku tersebut, tapi bagi saya warganegara negara jiran amat sukar untuk mendapatkan terutamanya karya-karya tulisan Bung Karno (lima jilid) dan lain-lain karya pejuang kemerdekaan.

    Diharap sidang majalah Tempo dapat membantunya kalau berkesudian supaya saya tidak ketandusan dengan semangat waja dan jatidiri Melayu Raya?

Comments are closed.