Lone Wolf and Cub: “Character that Stands Out”

Lone Wolf and Cub pertama-tama barangkali karena karakter gambarnya yang tak jauh berbeda dengan komik silat Indonesia tahun 70an. Dengan kata lain, berbeda dengan manga kebanyakan yang cenderung meng-karikaturkan (dengan penekanan kuat terhadap bentuk kanak-kanak di satu sisi, namun mengandung unsur sensual di sisi lain). Lebih jelasnya, saya menyukai komik ini (atau apalah namanya: novel grafis boleh, manga boleh, cergam tentu juga boleh — buat saya tidak ada bedanya), karena karakter gambarnya yang realis di satu sisi, dan metaforis di sisi lain.

Kedua, di luar kecenderungan saya untuk menyukai segala cersil (cerita silat), saya menyukai gaya naratif komik ini. Berbeda dengan kebanyakan cersil Cina yang cenderung kompleks (dengan puluhan, bahkan kadang ratusan tokoh dihubungkan dengan alur cerita yang silang-menyilang — ciri yang menurut saya juga dipakai oleh penulis kita Asmaraman S. Kho Ping Hoo), Lone Wolf and Cub justru hanya mengisahkan perjalanan Ogami Itto dan anaknya, Daigoro sebagai seorang pembunuh bayaran. Sebagaimana para samurai memiliki “kode samurai” atau ronin juga memiliki “kode ronin” sebagai patokan etika mereka, Ogami Itto memutuskan untuk menempuh jalan pembunuh bayaran, tentu juga dengan moralnya sendiri. Kode etik utama yang ia pegang adalah: ia harus tahu kenapa harus membunuh seseorang.

Begitulah komik ini sesungguhnya dibangun oleh episode-episode singkat (antara 30-50 halaman), di mana di setiap epidose Ogami Itto harus menyelesaikan misinya membunuh seseorang. Episode-episode ini jadinya serupa cerita pendek, karena di setiap misi pembunuhan, terdapat sebuah kisah mengenai latar-belakang dan motif pembunuhan tersebut. Meksipun setiap episode temanya selalu sama, yakni: hubungan antara pembunuh bayaran, pemesan dan korban, penulis Kazuo Koike bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang selalu berbeda dan unik di setiap episode. Kadang-kadang kita bersimpati kepada si klien, kadang kepada korban, kadang malah berpikir: yup, memang brutal sekali!

Di balik kisah brutal semacam itu, tak jarang secara ironik keluar sejenis filsafat hidup yang aneh tapi agak make sense. Sebagai contoh, Ogami Itto sering memakai kepolosan anaknya yang masih kecil untuk memancing korbannya. Banyak orang (termasuk kliennya), menganggap tindakan melibatkan anak kecil dalam pekerjaan kotor semacam itu sebagai sangat tidak bermoral. Tapi dengan enteng Ogami Itto menjawab: “Seorang ayah mengetahui hati anaknya, sebagaimana hanya seorang anak bisa mengerti hati ayahnya.” Saya yakin filosofi macam begini tak mungkin dipelajari di padepokan manapun: ini hanya bisa keluar dari seorang ayah yang hidup-mati bersama anaknya!

Tentu saja, di atas segalanya, daya tarik utama komik ini sebenarnya mungkin berawal dari karakter Ogami Itto sendiri. Dikisahkan sebelum menjadi pembunuh bayaran, ia sebenarnya algojo Shogun, dengan pedang datonuki di tangannya. Tugas utamanya membunuh para daimyo yang sepuku, atas nama Shogun. Belakangan ia dicurangi oleh klan Yagyu yang membunuh keluarganya, sekaligus memfitnahnya hingga menjadi kriminal dan buronan. Selama pelarian dan perjalanan penuh dendam inilah, Ogami Itto memutuskan menempuh “jalan menuju neraka”, sebagai pembunuh bayaran.

Character that stands out!” begitu memang Kazuo Koike selalu memberikan resep mengenai keberhasilannya. Bagi saya, karakter yang menonjol memang menjadi pondasi bagi alur kisah yang juga kuat. Tak ada kisah yang hebat tanpa karakter yang menonjol di dalamnya!

Meskipun begitu, sekali lagi, ilustrasi dari Goseki Kojima melengkapi kesempurnaan komik ini. Tanpa tangan Kojima, saya rasanya tak percaya komik ini akan sehebat yang saya kenal sekarang (Koike pernah bekerjasama dengan ilustrator lain, terutama setelah Kojima meninggal, tapi tak pernah meraih pencapaian yang diraih duet ini dalam Lone Wolf and Cub serta berlanjut misalnya dalam Path of the Assassin dan Samurai Executioner). Ilustrasi Kojima tak hanya filmis, tapi juga ia bisa memberi ekspresi tak hanya kepada tokoh, tapi juga kepada benda-benda. Dalam ilustrasi Kojima, tak hanya tokoh yang bisa marah, misalnya, tapi juga hujan dan sungai. Goresannya tak hanya bersifat deskriftif, sebagaimana kebanyakan komik, namun juga memberi impresi.

Terakhir, bagi siapa pun yang ingin membuat cerita silat dan/atau komik, menurut saya Lone Wolf and Cub harus menjadi salah satu referensi. Atau bahkan, jangan membuat cerita silat dan/atau komik sebelum membaca buku 28 jilid ini. Jika saya membuat daftar 100 komik yang harus dibaca sebelum mati, hmmm, barangkali daftar saya dari nomor 1 sampai 28 adalah buku ini. Dan itu, sungguh, sama sekali tak berlebihan.

nb.
Sila baca juga tulisan saya tentang cerita silat yang lain:
Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo

6 comments on “Lone Wolf and Cub: “Character that Stands Out”

  1. roslan jomel says:

    Wah! Mas Eka..

    Laman blogmu tambah hebat! Pintar sekali kamu memilih Ilustrasi sebagai pendokong latar belakang laman blognya

    trims, ruslan,
    ya, ini desain paling baru, namanya Alice. sedikit penyegaran, mengikuti musim semi yang baru datang di belahan bumi utara (hehehe, apa hubungannya dengan kita di negeri tropis, ya?). Bagaimanapun, Alice’s Adventures in Wonderland merupakan salah satu favorit saya.
    (ekakurniawan)

  2. totot says:

    Eka, aku udah hampir setahun pindah ke Rumahweb jogja (www.rumahweb.com). Lebh murah dan lebih enak karena ada cPanel. Tapi Domain Manager tetap di tangan mereka. DI rumahweb aku punya 12 domain.

    Kalo mau yang dikasih Domain Manager di GKG (www.gkg.net). Harganya murah juga, tapi ya itu… mesti bayar pake kartu kredit. DI GKG aku punya satu domain, sayang mau dipindah ke Rumahweb.

    Ayo Ka, ajak semua seniman ngeblog. Biar blogsphere kita isinya gak terlalu banyak cengengesan doang. :-)

    Nanti kita bikin milis artistblog@yahoogroups.com buat sharing ilmu dan pengetahuan soal blog antarseniman yang ngeblog. Umumnya kan mereka gaptek, gak kayak Eka. Hehehe

    pakde totot:
    iya, aku lagi ngomporin teman2 pada nge-blog. lumayan kan, nambah2in konten indonesia di internet. lha, mereka kan sebenarnya udah terbiasa mikir dan nulis, sayang kalo tidak bisa diakses di internet. btw, itu milisnya udah jadi? boleh tuh gabung. biar ada forum buat para blogger grom ini, hehehe.

  3. richard oh says:

    Siapa 10 Intelektual Indonesia? Ingin tahu? Saya juga. Maka saya membuat angket untuk memperoleh 10 nama itu. Nah kalau berminat untuk memilih, silakan ke richardoh.net. Pengirim yang listnya paling mendekat hasil tabulasi akan diberi 10 buku keren, keren menurut saya lho.

    Hasil angket akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus, 2008

  4. Minta bukunya dong, soalnya saya orang baru di sini, minta petunjuknya ya

    iwansq:
    petunjuk? wah saya bukan pejabat yang suka ngasih petunjuk :)
    (ekakurniawan)

  5. Ndaru says:

    Sebelumnya sori ya mas Eka, saya numpang comment di sini. Soalnya post ini kan hampir berumur setahun :D

    Membaca Lone Wolf and Cub memang terasa sangat istimewa bagi saya, karena panel dan gaya sinematiknya mengingatkan saya pada komik-komik silat Indonesia tahun 60-an dan 70-an. Saya jadi tidak yakin apakah saya masih bisa menyebut komik ini sebagai manga. Saya sudah akrab dengan manga era 70-an sampai sekarang, dan karya Kazuo Koike ini benar-benar berbeda dengan semua manga yang pernah saya baca. Apalagi panel tamatnya benar-benar mengingatkan saya pada gaya tamatnya film-film silat tahun 70-an, hehehe. Heh, how nostalgic.

    Pokoknya saya setuju dengan mas Eka, membaca komik ini sama sekali tidak rugi. Mereka yang mengaku penggemar manga wajib membaca komik ini (jadi, ini komik apa manga sih?)

    1. ekakurniawan says:

      @Ndaru
      manga buat orang Jepang, kurang-lebih ya komik. Mungkin karena padangan kita atas manga sudah telanjur stereotif dengan bentuk manga yang lebih banyak beredar di Indonesia. Kunjunganku ke Jepang akhir tahun lalu memperlihatkan, tradisi (gaya) manga di Jepang jauh lebih kaya daripada apa yang dikenal di Indonesia. Maksudnya, tidak sekadar mata yang besar dan betis yang ramping, hehehe ….

Comments are closed.