Let The Right One In: Vampir Sebagai Bukan Liyan

Vampir, tak bisa disangkal merupakan penemuan kesusastraan yang aduhai. Saya penggemar cerita-cerita bagus tentang vampir (di novel maupun film), meskipun saya tak tahu sejak kapan makhluk ini muncul dalam kesusastraan. Tentu saja banyak novel dan film tentang vampir yang jelek. Novel terbaru tentang vampir yang baru saya selesaikan baca, berjudul “Let The Right One in”, karya John Ajvide Lindqvist, seorang penulis Swedia.

Ini boleh saya bilang sebagai kisah vampir modern. Untuk mengerti apa yang saya maksud sebagai “kisah vampir modern”, mungkin saya harus memberi bandingan dengan novel lain, katakanlah (pasti kenal) “Dracula” karya Bram Stoker, sebagai “kisah vampir klasik”. Kedua istilah itu bolehlah diganti-ganti sesukanya, karena saya menyebutnya secara asal saja, hanya untuk membedakan yang satu dengan yang lain.

Kita tahu dalam “kisah vampir klasik”, vampir adalah hantu. Momok yang menakutkan. Dosa yang perlu dihadapi oleh salib dan pendeta. Vampir merupakan makhluk yang “tak ada”, dan meskipun kemudian dia “ada”, ia mesti datang dari dunia lain. Dalam kasus Dracula: dia datang dari Transilvania yang misterius, dari masa lalu yang jauh. Dia merupakan “yang liyan”, “the other”, yang kemunculannya jelas mengganggu.

Karena karakter gangguan inilah, vampir berhasil menjadi alat untuk menakut-nakuti pembaca. Tentu saja di tangan penulis hebat, novel vampir tak melulu usaha brilian untuk menakut-nakuti pembaca, tapi tetap saja, ujung-ujungnya ia memberi efek rasa takut. “Dracula” merupakan karya yang hebat, kita bisa bilang itu novel tentang cinta sejati, tapi tetap saja ia memberi kita rasa takut. Rasa takut karena kehadiran “yang liyan” itu. Sesuatu yang tak ada, sesuatu yang mestinya di dunia lain, di waktu lain, tiba-tiba nyelonong masuk ke kehidupan kita.

Mari kita lihat Eli, si vampir kecil dalam novel “Let The Right One In”. Tentu saja Eli tetap tipikal vampir yang sudah dikenal orang. Bisa dibilang tak ada perombakan ulang karakter vampir, dan rasanya memang tak perlu-perlu amat. Eli juga datang dari masa lalu (kira-kira umurnya 200 tahun). Tapi di sinilah ia membedakan diri. Eli tidak hidup dalam “ketuaannya/kemasalaluannya”, dengan tidak menekankan diri bahwa ia datang dari masa lalu. Justru tekanannya ada pada kekinian: “Umurku 12 tahun”, sebab ia memang vampir yang terjebak di tubuh anak dua belas tahun.

Eli juga tidak datang dari “dunia yang lain”. Ya, memang ia hidup di dunia yang berbeda: ia hidup dengan minum darah. Tapi Eli hidup di lingkungan yang diasumsikan bahwa semua orang sudah tahu apa itu vampir. Ia minum darah, tak lebih aneh daripada seekor kuda makan rumput. Semua orang tahu itu, maka ia bukan “yang liyan”. Maka ketika si bocah Oskar, si tokoh utama yang berteman dengan Eli, melihat si vampir minum darah yang menetes dari tangannya, Oskar bertanya dengan dingin, “Kamu vampir?”

Percayalah, pertanyaan dingin “kamu vampir?” macam begitu tak akan muncul di literatur serupa novel “Dracula”. Sebaliknya, di kisah vampir klasik, karakter-karakter “manusia normal” mungkin akan membuka buku-buku tua, menemui dukun-dukun, lalu berbisik dengan nada hipotesis, “dia … vampir.” Di sinilah bedanya!

Vampir sebagai realitas yang tak lagi “liyan”, diperlihatkan juga oleh Virginia. Perempuan ini suatu malam digigit oleh Eli, dan darahnya mulai terinfeksi. Perubahan dirinya menjadi vampir berjalan dengan cepat. Ia mulai gampang terbakar begitu terkena sinar matahari. Ia tak lagi tertarik dengan makanan, dan mulai nafsu mencium darah. Virginia, perlahan-lahan menyadari perubahan di dirinya. Persis seperti seseorang menyadari ia terkena flu. Virginia seolah berkata pada dirinya sendiri: “Anak kecil itu menginfeksiku … aku kini vampir.”

Kesadaran bahwa dirinya vampir itu pula, yang kemudian membuat Virginia memutuskan untuk membakar dirinya dengan sinar matahari. Bunuh diri ala vampir, sebab ia tak mau hidup sebagai vampir.

Inti perbedaannya adalah: di literatur vampir klasik, vampir dianggap sebagai “liyan” maka pengetahuan mengenai hal itu harus dicari. Penulis mungkin sedikit banyak harus menjelaskan apa itu vampir, bagaimana sejarah seseorang menjadi vampir. Tak hanya membagi pengetahuan itu kepada pembaca, tapi juga kepada karakter-karakter utama di sekitar si vampir. Di literatur vampir modern, “pengetahuan” itu sudah mengendap menjadi “pengetahuan publik”. Orang dianggap sudah tahu apa itu vampir. Pembaca tahu. Tokoh-tokoh di sekitar vampir juga tahu. Ketika berhadapan dengan vampir, cukup bertanya “Kamu vampir?” layaknya bertanya “Kamu orang Amerika?”

Baiklah, itu semua mungkin bisa dianggap sesepele perkara teknis. Memang benar. Tapi menurut saya, pada dasarnya juga strategi yang sama bisa dipakai dalam berbagai literatur untuk mengangkat isu-isu “liyan”. Di masyarakat yang masih menganggap lesbian, orang kafir, difabel, atau apa pun sebagai “liyan”, strategi ini bisa dipakai. Mereka mungkin berbeda. Mereka mungkin bukan mayoritas. Tapi melalui kesusastraan, dengan “perkara teknis” ini, bisa menjadikan mereka bukan “liyan”. Sehingga, sekali waktu adalah hal umum orang bertanya tanpa justifikasi, “Kamu lesbian?” atau “Kamu tak percaya Tuhan?”

Lebih dari itu, saya sarankan buat kamu yang menyukai literatur vampir, boleh baca novel ini. Kalau kamu sekadar nyari novel yang akan membuatmu takut, novel ini akan memberikannya. Tapi tentu saja novel ini lebih dari itu. Terlepas dari apa yang sudah saya tulis di atas, hal yang pada dasarnya terlintas begitu saja di pikiran saya, kamu juga bisa membaca novel ini tak melulu sebagai novel vampir. Seperti novel vampir yang lain yang bagus, novel ini lebih dari sekadar ngomongin soal peminum darah.

Oh ya, dua hari lalu saya juga menonton filmnya (versi Swedia). Tapi mungkin karena saya sudah membaca novelnya lebih dulu, dan versi novelnya lebih detail, saya jadi penonton yang sok tau. Sepanjang nonton saya terus-menerus mengingat bab-bab di novelnya. Mungkin ada baiknya yang menonton filmnya, atau yang membaca bukunya, yang ingin melakukan keduanya: buat jarak waktu di antara membaca dan menonton. Soalnya versi filmnya memang tertib mengikuti alur novelnya. Sayang ini film bagus, kalau nontonnya jadi tidak konsentrasi karena teringat novelnya terus.

Pada waktu yang bersamaan, film edisi Holywood (judulnya jadi “Let Me In”) juga sudah beredar di bioskop. Saya belum menonton versi Holywood, tapi kepalang, barangkali saya akan menontonnya juga. Akhir-akhirnya ini, riwayat hidup film di bioskop paling lama dua minggu tayang. Jadi jika tak nonton di bioskop, barangkali harus melihatnya di dvd (yang saya malas melakukannya). Dan info terakhir, terjemahan Bahasa Indonesia novel ini juga akan segera terbit Januari ini oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jadi, selepas baca tulisan ini, sila cari bukunya atau nonton filmnya. Dan …

“Ijinkan aku masuk …”

One comment on “Let The Right One In: Vampir Sebagai Bukan Liyan

  1. wawan says:

    berarti kevampiran jadi semacam di film blade atau di serial true blood begitu ya? pingin baca juga. beberapa waktu lalu saya baca kisah vampir yang sangat meliyankan vampir, sampai-sampai orang-orang lain di dunia itu tidak tahu yang namanya vampir. judulnya fledgling, penulisnya octavia butler. dan yg lebih bikin si vampir ini liyan adalah vampir yang jadi fledgling, si anak bawang di kalangan vampir ini adalah KULIT HITAM. jadi ya. yang liyan di antara yang liyan. makasih postingannya

Comments are closed.