Lelaki Harimau (Review)

oleh Katrin Bandel, Kompas
Lelaki Harimau
Gramedia Pustaka Utama, 2004, 2014

Dengan novelnya yang pertama, Cantik Itu Luka (2002), Eka Kurniawan menimbulkan kontroversi yang cukup seru. Mungkin penerbitan ulang novel tersebut oleh Gramedia dapat dipahami sebagai tanda bahwa novel yang banyak dikritik itu akhirnya bisa diterima. Pada waktu yang sama, Gramedia juga menerbitkan novel Eka yang kedua, Lelaki Harimau (2004).

Lelaki Harimau cukup jauh berbeda dari Cantik Itu Luka. Kalau Cantik Itu Luka saya sebut novel realis-magis (lihat: “Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka”, mejabudaya September 2003), Lelaki Harimau tak dapat dikategorikan demikian. Meskipun dalam Lelaki Harimau ada unsur “magis”, yaitu adanya makhluk berupa harimau jadi-jadian dalam tubuh Margio, sang tokoh utama, novel ini menggunakan gaya realis, mungkin bahkan dapat disebut novel psikologis. Kekuatan novel ini terletak terutama pada kekayaan dan ketepatan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh utama yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis. Kalau novel pertamanya dianggap aneh dan “tak bermakna” oleh Maman S Mahayana, antara lain karena alur cerita dan kelakuan tokoh-tokohnya “tidak masuk akal”, dengan terbitnya Lelaki Harimau terbukti secara gamblang bahwa Eka bukannya tidak mampu mengarang dengan alur yang realis dan masuk akal secara psikologis. Hanya, dalam Cantik Itu Luka memang bukan gaya penulisan ini yang menjadi pilihannya.

Membaca Lelaki Harimau, saya teringat pada novel Belenggu karya Armijn Pane (1940). Meskipun setting kedua novel sangat berbeda, ada sebuah kesamaan, yaitu cara perselingkuhan dilukiskan. Perselingkuhan Sukartono dalam Belenggu maupun perselingkuhan Nuraeni dalam Lelaki Harimau diceritakan tanpa penilaian moral atas perbuatan tersebut, melainkan lebih berfokus kepada situasi dan keadaan batin para tokoh.

Pada zamannya, Belenggu dianggap skandal dan menimbulkan penolakan yang cukup keras dari berbagai pihak. Tentu saja pada zaman sekarang, bercerita tentang perselingkuhan tanpa menekankan nilai moral tidak lagi merupakan skandal, malah hal itu dapat dikatakan biasa-biasa saja dalam sebuah karya sastra. Bahkan, akhir-akhir ini-kira-kira sejak terbitnya Saman karya Ayu Utami pada tahun 1998-terdapat semacam kecenderungan untuk dengan eksesif mendobrak semua tabu dan nilai moral (terutama yang berhubungan dengan seksualitas) yang sampai sekarang tetap dianggap berlaku dalam masyarakat Indonesia. Hal itu biasanya dilakukan dengan nada “memberontak” dan seakan-akan para pengarangnya dengan sengaja mencari-cari tema dan cara penyampaian yang dapat mengejutkan atau “menantang” para pembacanya. Keinginan serupa untuk dengan sengaja menimbulkan skandal terasa antara lain pada novel Dinar Rahayu yang diberi judul provokatif Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (2002) dan pada novel Herlinatiens Garis Tepi Seorang Lesbian (2003) yang bahkan diberi sticker “Khusus Bacaan Dewasa”.

Dalam novel Lelaki Harimau pun seksualitas cukup berperan, tetapi jauh berbeda dari novel-novel yang saya sebut di atas. Hubungan seks yang diceritakan adalah seks yang penuh kekerasan antara kedua orang tua si tokoh utama, Komar dan Nuraeni, dan hubungan perselingkuhan Nuraeni dengan Anwar Sadat. Dengan realistis Eka menceritakan bagaimana Nuraeni, perempuan setengah tua yang terus-menerus menerima perlakuan kasar dari suaminya, untuk pertama kali merasakan kenikmatan seksual dalam perselingkuhan tersebut. Meskipun bagi masyarakat kampung tempat cerita berlangsung perselingkuhan semacam itu merupakan “dosa” atau “skandal”, Eka berhasil menceritakannya sedemikian rupa hingga pembaca dapat merasakannya sebagai sesuatu yang sudah wajar terjadi. Persetubuhan mereka dilukiskan dengan sangat rinci, tetapi sama sekali tidak menimbulkan kesan “mesum” atau “norak”.

Novel Lelaki Harimau menceritakan kisah tragis sebuah keluarga yang tidak bahagia: pasangan Komar dan Nuraeni tidak pernah akur, Komar mengasari istri dan anaknya, anak-anak membenci ayahnya. Nuraeni akhirnya berselingkuh dengan majikannya, Anwar Sadat. Margio, anak Komar dan Nuraeni, membunuh Anwar Sadat saat dia mengetahui bahwa laki-laki hidung belang tersebut tidak mencintai ibunya. Jelas terjadi banyak kejahatan dan kekejaman dalam novel ini. Tetapi, pembaca akan sulit menentukan siapa di antara para tokoh yang sesungguhnya bersalah: Komar yang berbuat kasar, Margio yang membunuh, atau Nuraeni dan Anwar Sadat yang berselingkuh.

Sementara, di sisi lain, Komar berusaha membahagiakan istrinya, tetapi Nuraeni sepertinya sudah memutuskan untuk menolak setiap usaha semacam itu. Sikap kasarnya makin menjadi-jadi karena keputusasaannya dalam usaha memenangkan hati istrinya tersebut. Sedangkan Nuraeni pun tak dapat sepenuhnya disalahkan, dia sangat menderita karena kekasaran Komar, wajarlah dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat diperlakukan dengan mesra oleh Anwar Sadat. Keadaan Margio pun dapat dipahami: bagaimana anak yang selalu membela ibunya itu tak akan mengamuk saat mendengar ibunya diremehkan laki- laki yang membuatnya demikian bahagia? Di samping itu, menurut pengakuan Margio bukan dia yang melakukan pembunuhan itu, tetapi harimau warisan dari kakeknya yang ada dalam dirinya.

Lebih jauh lagi, segala kehancuran perkawinan Komar dan Nuraeni itu ternyata berawal dari sebuah kesalahpahaman sepele pada saat mereka masih pacaran, yaitu Komar tidak menepati janjinya untuk mengirimi Nuraeni surat hingga Nuraeni merasa tidak diperhatikan dan tidak dicintainya. Padahal, Komar bukan melupakan janjinya, hanya dia tak tahu apa yang mesti ditulisnya!

Semua tokoh yang terlibat dalam cerita tragis tersebut dilukiskan penuh simpati, perbuatan dan perasaan mereka dapat dipahami. Berbeda dari banyak novel Indonesia yang lain, di sini tak ada tokoh yang jahat ataupun keadaan buruk tertentu yang dapat diidentifikasikan sebagai asal-usul segala bencana. Tampaknya semuanya terjadi begitu saja, disebabkan bukan oleh persoalan-persoalan besar, seperti kemiskinan, kekurangan cinta, dan lain sebagainya, tetapi malah oleh hal yang begitu sepele: seandainya Komar muda menulis surat-surat cinta penuh omong kosong seperti para pemuda lain, kisah Komar dan Nuraeni pasti akan menjadi sangat berbeda.

Meskipun dapat dikategorikan sebagai novel psikologis, toh kelakuan para tokoh Lelaki Harimau tidak dapat sepenuhnya dipahami atau dijelaskan secara ilmu psikologi. Terutama tokoh Margio yang tetap penuh misteri. Margio memang mempunyai alasan untuk membenci Anwar Sadat, tetapi hal itu tidak dapat dengan sepenuhnya menjelaskan mengapa dia sampai melakukan pembunuhan yang luar biasa kejam dan mengerikan, yaitu menggigit leher Anwar Sadat sampai putus. Juga, mengapa anak muda yang selalu berhasil menahan nafsu membunuh ayahnya sendiri yang sangat dibencinya tiba-tiba tidak dapat mengontrol diri lagi pada saat berhadapan dengan Anwar Sadat.

Di sini, mitos yang memberi judul pada novel ini mengambil peranan: Margio merasa dikuasai oleh harimau jadi-jadian dalam tubuhnya yang membuatnya mampu dan tega membunuh dengan cara yang luar biasa tersebut. Seperti yang dikatakan Eka sendiri pada acara peluncuran novelnya di Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 16 Juli 2004 lalu, hal itu dapat dipahami sebagai metafor ataupun sebagai kejadian yang mungkin saja terjadi secara nyata. Artinya, bahwa ada harimau dalam diri tokoh Lelaki Harimau dapat dibaca sebagai ungkapan metaforis betapa ada unsur buas dan tak terduga dalam diri setiap manusia, atau dapat juga dibaca sebagai kejadian supranatural. Dengan cara itu, meskipun novel ini menitikberatkan perkembangan psikologis para tokoh, psikologi sekaligus diragukan sebagai cara yang tepat dan memadai untuk memahami manusia. Dalam hal ini, tetap saja ada unsur-unsur yang tak terpahami, entah berasal dari kedalaman batin manusia yang tak terselami atau dari kekuatan-kekuatan supranatural yang keberadaannya tidak diakui oleh psikologi sebagai ilmu Barat.

Deskripsi perkembangan psikologis para tokoh Lelaki Harimau membuat kita menyadari betapa nilai-nilai moral yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata terlalu sederhana, tak memadai untuk menilai kehidupan manusia yang penuh liku-liku. Misalnya, bagaimana mungkin perselingkuhan Nuraeni akan kita nilai sebagai “dosa” atau kesalahan, padahal mungkin kemesraan dalam perselingkuhan itulah satu- satunya kebahagiaan yang dialami perempuan malang itu dalam hidupnya? Plot yang menunjukkan rumitnya hubungan manusia semacam inilah, menurut saya, merupakan pendobrakan nilai-nilai moral yang sesungguhnya. Karena dapat membuat pembaca mempertanyakan nilai-nilai yang ada dan membuatnya sadar betapa hidup ini tak sehitam-putih yang dibayangkan.

Tulisan ini pernah dimuat di Kompas, 31/10/2004.