Lelaki dan Rumah

Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua? Bagi kebanyakan orang mungkin iya. Lelaki semacam itu bisa dianggap kurang macho. Tidak maskulin. Bahkan beberapa tradisi (Minang, misalnya), seperti mewajibkan lelaki untuk keluar rumah bahkan di usia yang sangat muda. Lelaki harus pergi dari rumah, hingga kelak boleh kembali untuk menguasai rumah. Dari manakah sebenarnya stereotif semacam itu berawal?

Pikiran tentang rumah, tentang pergi dari rumah dan kembali untuk menguasai rumah, barangkali sudah ada dalam pikiran asali manusia. Kisah jatuhnya Adam dari surga bisa juga dibayangkan sebagai simbol pergi dari rumah. Di rumah bernama surga itu, Adam tinggal bersama keluarga besarnya: Sang Pencipta, Iblis, Malaikat, benda-benda yang telah diberi nama, dan kemudian Hawa. Di usia yang disimbolkan sebagai dewasa, Adam diusir dari rumah, tapi tentu dengan sebuah janji: jika sudah tiba waktunya, jika misinya sudah berhasil, ia boleh kembali ke rumah. Kembali ke surga. Kembali ke pelukan keluarga.

Tengok juga kisah Pandawa dalam Mahabharata. Mereka baru bisa dibilang layak berkuasa, layak menang, setelah memperoleh ujian: diusir dari rumah. Bahkan meskipun pada akhirnya mereka membangun rumah baru di dalam hutan, setelah terlunta-lunta, ujung-ujungnya mereka tetap menguasai rumah yang lama, negeri Astina.

Bahkan fenomena pergi dari rumah untuk menguasai kembali rumah, tidak melulu terdapat dalam kisah kolosal semacam itu. Di cerita rakyat semacam Sangkuriang kita bisa menemukan pola yang sama: Sangkuriang diusir dari rumah karena melanggar sejenis “kode etik” rumah (yakni membunuh ayahnya), pergi merantau untuk kembali ke rumah itu dengan hasrat menguasainya. Tak hanya menguasai rumah tersebut, tapi juga penghuninya (yakni ibunya sendiri).

Tunggu dulu. Bagaimana dengan para pengeran? Para putera mahkota? Mereka jelas tinggal di keraton bersama keluarga mereka, dan bahkan kemudian mewarisi “rumah” tersebut untuk terus ditinggali. Tetap saja pola itu terus berlaku, pada satu titik para pangeran dan putera mahkota ini perlu diusir dari istana. Kita bisa membayangkan itu juga berlaku bagi para “pangeran” di kerajaan bisnis. Seringkali kita mendengar mereka sekali waktu disuruh pergi (dititipkan di kerajaan sahabat, dibuang ke sungai seperti Musa), tapi tentu dengan harapan akan kembali untuk menguasai “rumah”.

Juga di kelompok berandalan. Masih ingat kisah The Godfather karya Mario Puzo, yang adaptasi filmnya oleh Francis Ford Coppola juga sama memukau? Don Vito Carleone pun bahkan merasa perlu mengusir Michael anak bungsunya ke Sisilia, untuk kelak kembali ke rumah dan menjadi kepala keluarga mereka. Seolah tanpa pergi ke Sisilia, Michael tak akan pernah menjadi apa-apa. Tanpa dibuang ke hutan, lima bersaudara Pandawa tak akan memenangkan perang Bharatayudha. Demikian pula, setelah kemenangan yang gilang-gemilang dan menjadikannya pahlawan di perang Troya, kisah terbesar Homer tentang Ulysses justru adalah mengenai kepulangan sang pahlawan ke rumah, ke Ithaca. Seolah-olah perjalanan terberat manusia pada akhirnya adalah perjalanan dari rantau menuju rumah. Sebab bukankah perjalanan umat manusia untuk kembali ke surga, juga merupakan perjalanan yang berat?

Dengan kata lain, rumah sejenis surga tempat lelaki dilahirkan, dan kelak ia berharap itu menjadi tempat ia bisa kembali. Tanpa keluar dari surga, manusia bukanlah manusia. Dan tanpa kemampuan untuk kembali ke surga, berkumpul dengan keluarga, manusia itu bisa dianggap tersesat. Ia akan terlunta-lunta di sebuah tempat bernama neraka.

***

Ada sebuah cerita pendek karya penulis Argentina, Julio Cortazar tentang lelaki yang tak pernah pergi dari rumah berjudul “House Taken Over”. Dikisahkan si lelaki (dan adik perempuannya) mewarisi sebuah rumah besar dari orang tua mereka. Begitu besarnya rumah tersebut, sehingga dari hari ke hari mereka hanya disibukkan oleh mengurus rumah tersebut. Kesibukan tersebut membuat mereka tak hanya menjadi tidak bergaul dengan dunia luar, tapi juga menjadikan mereka tak pernah menikah.

Meskipun demikian, si lelaki bersetia menjaga rumah dan adik perempuannya. Hingga suatu malam serangan tersebut berawal: perlahan-lahan ada sesuatu yang menginvasi rumah tersebut, yang hanya ditandai bunyi-bunyi ribut. Invasi itu semakin merajalela dari malam ke malam, sehingga untuk mereka hanya tersisa sebagian kecil dari rumah itu. Tapi tak apa, toh mereka memang tak memerlukan ruangan yang sangat besar. Si lelaki hanya butuh tempat untuk menaruh buku-buku, sementara adik perempuannya hanya butuh tempat untuk merajut. Hingga satu malam, sesuatu yang menginvasi itu berhasil mencapai ruangan terakhir yang mereka tempati. Kakak-beradik ini pun terlempar ke luar rumah, dan hidup menggelandang di jalanan.

Cerita pendek tersebut memang sangat alegoris, dengan beragam tafsir bisa diajukan kepadanya. Tapi kesimpulan ringan bolehlah diambil: untuk lelaki yang tak pernah keluar rumah, sesuatu akan memaksanya keluar rumah dan akan membuatnya terlempar ke jalanan.

Franz Kafka di “Metamorphosis” juga bisa dibilang menceritakan seorang lelaki yang tak meninggalkan rumah, alias tetap tinggal bersama kedua orang tuanya. Dengan kedua orang tua yang tak memiliki pekerjaan, serta seorang adik perempuan yang tumbuh remaja, Gregor Samsa tak punya pilihan lain kecuali tetap tinggal di rumah untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Gregor dikisahkan harus menghidupi keluarganya dengan cara menjadi penjual (pakaian) keliling. Setiap pagi ia berangkat untuk berjualan, dan menjelang malam ia baru pulang ke rumah, hanya menemukan dirinya lelah dan penat. Hingga satu hari ia terbangun dari tidurnya yang berhias mimpi buruk, dan menemukan dirinya telah berubah menjadi seekor kecoa besar. Gregor Samsa tak hanya susah payah untuk bangun, lebih dari itu, ia tak pernah kembali menjadi manusia, dan tak lagi mampu melakukan apa pun yang bisa dilakukan oleh manusia. Merasa aib memiliki seorang anak yang berubah menjadi kecoa, keluarganya (yang selama ini menggantungkan hidup kepadanya) memutuskan untuk mengurung Gregor di dalam kamar.

Kisah ini juga pada dasarnya alegoris, tapi bolehlah juga kita meraba-raba pesan kecilnya yang tersirat: dipaksa oleh keadaan untuk tetap tinggal bersama orang tua di satu rumah, Gregor Samsa harus melata dan membusuk selamanya di dalam rumah tersebut. Bahkan menjadi kecoa besar seolah tak cukup sebagai kutukannya, ia mati tertimbun buah-buahan yang membusuk, dan kadang-kadang dilemparkan begitu saja ke arahnya.

Jika di cerita pendek pertama kita melihat lelaki yang tak keluar rumah pada akhirnya akan dipaksa menggelandang di jalanan, di cerita pendek kedua, kita melihat lelaki semacam itu harus menerima nasibnya untuk mati menjadi bangkai binatang melata yang menjijikkan.

Gambaran-gambaran semacam inilah, dari kebudayaan kuno hingga kebudayaan modern, dari Barat hingga ke Timur, yang membentuk stereotif bahwa lelaki memang harus pergi dari rumah jika waktunya sudah tiba. Ia boleh kembali ke rumah, jika misi perantauannya telah berhasil. Seolah-olah, rumah bukanlah tempat lelaki seharusnya berada. Ia baru layak masuk ke rumah, setelah mengalami apa yang disebut “terusir”.

Bahkan penyanyi balada kita, Iwan Fals di lagu “Rindu Tebal”, setelah diusir ayahnya dari rumah karena memberi “coreng hitam di muka bapak”, baru kemudian ia merindukan rumah dan berhasrat memperoleh ampunan agar bisa kembali.

***

Ada sebutan yang agak mengejek untuk lelaki yang tak pernah pergi dari rumah beserta sifat-sifat turunannya: “Anak mami”.

Meskipun bernada negatif, julukan ini ada benarnya. Rumah sebagai surga, sebagai tempat manusia dilahirkan, bisa juga dianalogikan sebagai rahim. Dan anak yang tak pernah meninggalkan rumah, ibarat bayi yang terlena untuk tetap terus berada dalam buaian rahim ibunya. Anak mami.

Dan analogi rahim ini pula, yang membuat perempuan tak memiliki stereotif untuk meninggalkan rumah. Bahkan sebaliknya, seorang perempuan seolah-olah tempatnya memang di rumah. Sebagai pemilik, pengatur dan penjaga rahim. Perempuan membuka pintu rahim dan rumah ketika lelaki hendak masuk, dan mengeluarkan anak-anak mereka dari rahim dan rumah pula.

Rumah, sebagaimana rahim, merupakan tempat berlindung yang alami. Tempat seorang anak memperoleh jaminan pasokan makanan. Tapi bahkan janin bayi di dalam rahim pun, setelah berumur sembilan bulan, harus dikeluarkan dari tempat yang aman-nyaman tersebut, untuk menghadapi dunia yang kejam dan bisa membunuhnya. Sebab segala sesuatu di dalam rahim tak lagi memadai untuknya terus tumbuh dan berkembang. Jadi adakah alasan untuk seorang lelaki menjadi anak mami? Tinggal terus dalam kenyamanan rahim ibu yang bernama rumah keluarga?

Dalam realitas sehari-hari, tentu kita bisa dihadapkan pada anomali-anomali atau terpaksa melawan tuntutan-tuntutan semacam itu. Seorang anak lelaki tunggal dengan orang tua tinggal, barangkali lebih memilih melawan norma “lelaki-pergi-dari rumah” untuk membela norma “lelaki-yang-mengurus-orang-tua”. Kita tahu, norma-norma di masyakat betapa pun buruknya, serta stereotif-stereotif, juga memiliki jenjang dan strata. Ada aturan-aturan main yang boleh dilanggar demi aturan main yang lain.

Di kebudayaan yang lebih modern, dengan pilihan-pilihan yang lebih luas dan longgar, kita bahkan lebih sering melihat seorang lelaki yang memang memilih untuk tinggal di rumah bersama keluarga, tanpa keterpaksaan apa pun. Artinya, bisa jadi ia memiliki pekerjaan, memiliki kemampuan untuk tinggal di tempat lain, dan tak ada apa pun di rumah yang perlu diurusinya. Tapi barangkali ia bukan “anak mami”, yang hidup dalam kenyamanan rahim ibu.

Trend ini bisa dilihat secara positif sebagai benturan dari trend emansipasi. Di luar fakta kita semakin sering melihat lelaki tinggal di dalam rumah, kita juga semakin sering melihat perempuan pergi dari rumah. Tentu saja ini bukan semata-semata pertukaran peran, tapi juga bisa dilihat sebagai rubuhnya infrastruktur-infrastruktur yang membentuk stereotif awal dimana lelaki harus pergi dari rumah dan perempuan harus menetap.

Jika rumah, di sisi lain, kita anggap sebagai wilayah politik yang mungil, dengan penguasa dan segala perangkatnya, menyiapkan seorang pewaris pada akhirnya tak lagi melulu dengan melemparkannya ke jalanan. Tradisi modern bisa menawarkan hal sebaliknya: membawa segala sesuatu yang di luar ke dalam rumah, sehingga lelaki tak perlu pergi merantau. Dan kita sudah menyaksikannya hari ini: televisi, media massa, internet. Dunia bahkan ada di dalam kamar tidur.

Dengan kata lain, lima bersaudara Pandawa pada dasarnya bisa mempersiapkan dirinya untuk melawan Kurawa tanpa pergi kemana-mana. Sangkuriang bisa membunuh ayahnya dan kemudian menguasai rumah dan ibunya, tanpa perlu mengelilingi dunia.

Kita memiliki kisah pengembaraan yang bagus mengenai hal ini. Dalam kisah sufistik Musyawarah Burung-burung karya Fariddudin Attar, kita mengenal tiga puluh ekor burung yang berusaha mencari ketua mereka, bernama Simorgh. Setelah perjalanan panjang, melewati tujuh lembah, mereka akhirnya sampai di satu puncak dimana diyakini Simorgh berada. Di sanalah mereka menyadari fakta perjalanan tersebut hanya untuk menemukan bahwa Simorgh adalah ketiga belas burung tersebut.

Perjalanan, dengan kata lain, tak lebih untuk menemukan diri sendiri.

Dan kita juga bisa membandingkannya dengan alegori Paulo Coelho, The Alchemist. Santiago harus melakukan perjalanan dari Andalusia menuju Mesir, hanya untuk menemukan kenyataan harta karun yang dicarinya, terdapat di tempat awal perjalanannya. Kesimpulan sederhananya, apa pun yang dicari seseorang, pada dasarnya ada di dalam dirinya, di rumahnya. Maka, pertanyaan pragmatisnya, untuk apa pergi dari rumah hanya untuk mencari rumah yang sama?

***

Kita kutip sedikit Sigmund Freud dalam The Interpretation of Dreams: “Barangkali inilah nasib kita, untuk mengarahkan impuls seksual pertama kita kepada ibu dan kebencian serta keinginan membunuh kepada ayah.”

Jika kita singgungkan hal ini kepada bahasan di atas, bisa dikatakan kepergian seorang lelaki dari rumah hampir selalu karena ayah, dan kembali ke rumah karena kerinduan kepada “rahim”. Sangkuriang terusir dari rumah setelah membunuh Si Tumang, anjing yang tak lain ayahnya, dan ia kembali untuk ibunya. Jika rumah benar adanya merupakan simbol dari rahim ibu, maka kepada rumahlah kerinduan kita pertama-tama ditempatkan. Kita ingin berada di rumah, dan ketika pergi, kita ingin kembali ke rumah.

Masalahnya, seringkali rumah tersebut ada pemiliknya: ayah. Dan pemilik rumah diasumsikan sebagai pemilik tunggal. Ada sejenis kontrak politik, jika ingin menguasai rumah, maka harus menggeser pemilik sebelumnya. Di sinilah Oedipus Complex terjadi: untuk memiliki ibu, seseorang harus membunuh ayah.

Pengusiran dari rumah dengan janji kemungkinan kembali di satu masa, bisa dipandang sebagai kompromi untuk mengatasi impuls ini. Rumah sebagai sebuah sistem politik kecil, harus mempersiapkan suksesi penguasa rumah secara damai, tanpa melibatkan apa yang ditakutkan: membunuh ayah. Dalam skenario semacam ini, si anak diusir dari rumah pada dasarnya tak semata-mata untuk melakoni sejenis perjalanan, tapi lebih penting lagi memang untuk jauh dari rumah. Dari ayah dan ibu. Si anak hanya diizinkan pulang ketika waktu suksesi itu memang telah tiba waktunya.

Maka, soal pergi dan tidak pergi dari rumah pada akhirnya merupakan pilihan politik kecil juga. Di luar situasi-situasi di mana seorang lelaki “terpaksa” keluar dari rumah karena melanggar sejenis “kode etik” rumah (seperti Sangkuriang yang membunuh Si Tumang, atau Michael yang melanggar kesepakatan keluarga Carleone), pergi dari rumah pada dasarnya merupakan pilihan politis, demikian pula sebaliknya. Dengan asumsi semacam ini, pertanyaan kenapa seorang lelaki tidak pergi dari rumah, bukanlah perkara apakah itu aib atau tidak, tapi apa latar di belakang pilihan-pilihan tersebut?

Di sinilah kita bisa sedikit menyimpulkan: jika perjalanan jauh mengarungi dunia pada akhirnya hanya untuk menemukan kembali rumah, siapa tahu tetap tinggal di rumah bisa menemukan dunia? Di alam besar terdapat alam kecil, dan di alam kecil terdapat alam besar.

Diterbitkan di Majalah Bung! edisi Oktober-November 2011

3 thoughts on “Lelaki dan Rumah”

  1. ketika si ‘lelaki’ berhasil melengserkan si ‘ayah’, kelak ia juga akan menjadi seorang ayah…

    terima kasih artikelnya… like this!

Comments are closed.