“Kumpulan Budak Setan”

Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap — balas dendam, seks, pembunuhan — serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Februari 2010.

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku.
Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar:
“Ina Mia?”

(“Riwayat Kesendirian,” Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan – lebih mirip terigu menggumpal tersapu air – dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.
(“Goyang Penasaran,” Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi.
Darah di mana-mana.

(“Hidung Iblis,” Ugoran Prasad)

Dalam Kumpulan Budak Setan, sembari mengolah konvensi genre horor, kami juga memandang horor sebagai moda yang dipertukarkan di berbagai ranah, dari panggung politik hingga kehidupan sehari-hari. Horor tak melulu soal hantu, tetapi ruang liyan yang menciptakan kemungkinan runtuhnya “realitas” yang seharusnya, tatanan yang kita percaya. Horor beroperasi tak hanya dalam cerita setan, tapi juga dalam retorika politik (misalnya saja penggunaan moda horor dalam film sejarah Pengkhianatan G30S/PKI, atau, di tataran global, narasi seputar peristiwa 9/11) maupun hubungan personal dan sosial yang sepintas lalu tak berbahaya.

7 comments on ““Kumpulan Budak Setan”

  1. salam kenal mass….

  2. insanitis37 says:

    Salam…mas Eka, saya penggemar cerpen2 mas eka…petama saya berkenalan dgn cerpen Mas Eka di antologi cerpen Kompas tahun 2007. Gerimis yg sederhana. Itulah cerpen Mas Eka yg pertama sy baca. Saya pun jadi ketagihan deh cerpen2 karya Mas :-) Dari situ saya mulai berburu karya Mas Eka yg lainnya di dunia maya. Dan Alhamdulillah dapet juga walaupun mungkin tidak seluruhnya. Dan alamat blog Mas Eka pun salah satu hasilnya, hehe
    Saya juga ingin menjadi penulis cerpen Mas…semoga berkenan berbagi ilmu dgn saya! TRims. Salam kenal….
    Terus Berkarya Mas…banyak orang di luar sana yang senantiasa setia menunggu karya2 Mas Eka selanjutnya…
    NB: main2 jg ke blogku ya Mas :-)

  3. Fansi says:

    InsyaAllah aku beli buku ini! :) Tebelnya berapa halaman yah? Aku kangen tulisan2 mbak Intan Paramaditha. Artikel ini juga nemunya ga sengaja, gara2 iseng googling nama mbak Intan, hehe, ternyata kebetulan pas banget mo rilis buku baru.

  4. asep sofyan says:

    Jadi pengen tahu seperti apa cerita horor dalam bentuk cerpen.

  5. Ada adegan cambuk-cambukan gak yaaach……….kan kelihatan seksi kalau lihat orang dicambuk-cambuk……..

  6. Hi 3T alias Tuan Tanda Tanya.
    Sorry saya sebut Anda demikian, karena setelah bolak balik mempelajari Kumpulan Budak Setan, alur cerita-cerita pendek Anda menyimpan begitu banyak misteri yang kemudian (untuk pembaca awam) Anda tutup dengan sebuah tanda tanya besar. Jika Anda kembali menulis cerita misteri atau horror, mengapa tidak Anda coba untuk sedikit lebih terbuka lalu kemudian akhir cerita Anda bukan dengan tanda tanya besar melainkan dengan sebuah kejutan besar. Karena Anda punya bahan yang begitu lengkap dan sangat menarik, Eka sesungguhnya punya daya pikat yang kuat pada pembaca.
    Selamat berkarya n how about our baby ?! :)

    1. ekakurniawan says:

      @Abdullah Harahap
      Wah, terima kasih Bang mau mampir ke blog saya. pertanyaan-pertanyaan itu mungkin lahir dari pikiran yg belum tahu banyak, hehehe … kami masih belajar dan meraba-raba. Tampaknya harus lebih rajin menulis :(
      Oh ya, bayi kami insya Allah lahir Januari. Doakan, ya.
      Eh, sekarang punya blog sendiri? Sering-sering nulis di blog dong, Bang. Tips2 menulis atau apa gitu ya, hehehe :D

Comments are closed.