Kosmologi Borges

Jorge Luis Borges

Bagian 1

“Bertahun lampau aku mencoba membebaskan diri darinya, serta melampah dari mite perkumuhan dan pinggiran kota ke permainan waktu dan ketakterhinggaan, namun permainan tersebut kini milik Borges, dan aku mesti merenungkan hal lainnya. Demikianlah hidupku merupakan suatu diri dan bayangan, sejenis fuga, serta sesuatu yang tertinggalkan – dan segalanya berakhir lenyap dariku, dan segalanya jadi terlupakan, atau hengkang ke genggaman si orang lain. Aku tak tahu siapa di antara kami tengah menulis halaman ini.”


Pembukaan tersebut merupakan cuplikan, tepatnya pembacaan saya atas “Borges and I” dari kumpulan puisi-prosa The Maker, hasil pembacaan ke dalam bahasa Inggris oleh Andrew Hurley atas El hacedor dalam Jorge Luis Borges, Collected Fictions, dan untuk selanjutnya buku inilah yang saya rujuk. Prosa tersebut mengisahkan seorang Borges yang mengenali dirinya melalui apa yang dilakukannya: mengamati jam pasir, peta, jenis huruf abad kedelapan belas, etimologi, rasa kopi, serta prosa Robert Louis Stevenson; dan Borges lain yang dikenalnya melalui berita-berita yang datang bersama surat-surat, atau dilihatnya dari daftar guru besar, serta dalam beberapa kamus biografi.

Tema utama kisah tersebut adalah duplikasi atau penggandaan. Ini merupakan salah satu tema favorit Borges selain labirin, ketakterhinggaan, gaucho, dan duel pisau. Duplikasi ini pun merambah ke dalam tema-tema yang juga umum dalam karya Borges: mimpi, cermin, keterpecahan identitas, dan keserbamungkinan.

Cerpen “The Other” dalam The Book of Sand barangkali contoh yang lebih gamblang mengenai duplikasi Borges. Dalam cerita ini, kembali Borges berkisah tentang dirinya dan “Borges yang lain”. Izinkanlah saya meringkas dengan sejenis kesembronoan:

Borges pertama adalah seorang yang duduk di sebuah bangku, suatu pagi di bulan Februari 1969, di tepi Sungai Charles, Cambridge, sebelah utara Boston. Ia merasa penat setelah malam sebelumnya pergi mengajar, lantas tertidur. Sekonyong ia merasa seseorang duduk di ujung bangkunya, dan bersiul. Ia mengenali siulan tersebut, sebuah tembang populer Argentina, La tapera Elias Regules. Setelah percakapan singkat dan si orang bersiul mengaku tinggal di Jenewa sejak tahun 1914, Borges segera tahu orang itu tinggal di Malagnou 17, ditentang sebentang jalan dari Gereja Ortodoks Rusia, dan si orang bersiul tentulah juga bernama Jorge Luis Borges.

Demikianlah Borges Tua dan Borges Muda bertukar cakap, di sebuah bangku pada ruang dan waktu yang berbeda. Borges Tua mengenang masa-masa Jenewa-nya, menyebut benda-benda yang dimilikinya di rumah, termasuk tiga jilid terjemahan Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam). Mereka bertanya-tanya apakah ini sejenis mimpi paralel – keduanya tengah bermimpi? Borges Tua juga mengisahkan apa yang terjadi atas dirinya, sejenis ramalan tepat yang bakal dialami Borges Muda; bahwa ibu mereka baik-baik saja di Buenos Aires, dan ayah telah meninggal tiga puluh tahun lampau. Ia juga meyakinkan bahwa si Borges Muda bakal menulis buku-buku, beberapa berhasil dan membuatnya dikenal, serta menjadi seorang dosen sebagaimana ayah mereka, termasuk juga bakal kehilangan penglihatan. “Tapi jangan cemas. Kebutaan yang perlahan tidaklah tragis,” kata Borges Tua.

Kisah ini fantastis, metafisis, sekaligus jenaka. Saya membayangkan, di umur yang sama (Borges berumur 70 di tahun 1969), si Borges Muda akan duduk di bangku tepi Sungai Charles itu dan berjumpa kembali dengan Borges lain yang duduk di sebuah bangku beberapa langkah dari Rhône, Jenewa, dan cerita berputar tanpa akhir. Suatu labirin ketakterhinggaan.

Tema duplikasi ini dengan segera mengingatkan kita ke sebuah novel klasik bertajuk The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde karya Robert Louis Stevenson, yang telah kita kenali sebagai salah satu penulis favorit Borges. Dalam beberapa kasus, katakanlah beberapa versi film Hollywood serta program-program televisi, karya ini lebih sering menjadi sekadar kisah horor banal sebagaimana kerap pula dialami oleh novel Dracula (Bram Stoker) dan Frankenstein (Mary Shelley). Dan dalam beberapa kasus lain, katakanlah para analis perilaku, kita sering menyebut Jekyll dan Hyde sebagai kecenderungan jahat dan baik dalam diri seseorang.

Kenyataannya, jika kita kembali ke teks dasar kisah ini, kita akan menemukan kompleksitas kisah detektif yang meramu horor dan fiksi ilmiah dalam sebuah fabel duplikasi. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan, dalam The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde, duplikasi tak selalu pertentangan. Duplikasi ini sesungguhnya, sebagaimana bisa dicermati dalam dua bab terakhir novel tersebut, menyiratkan suatu diri dan bayangan yang saling merasuki. Katakanlah Dr Jekyll mesti sedikit “jahat” untuk mendorongnya menelan ramuan yang akan mengubah dirinya menjadi monster Hyde, dan demikian pula sebaliknya.

Sifat saling merasuki inilah yang memungkinkan seorang Borges menyempal dalam Borges yang lain, menyempal lagi dan lagi hingga tercipta Borges dalam jumlah yang nir-kehinggaan, antara ego dan alter ego, serta alter ego atas alter ego, dan seterusnya. Duplikasi, dalam Borges, dengan demikian juga menyiratkan ketakterhinggaan. Suatu pembelahan tak berujung, persis serupa paradoks Zeno mengenai jarak, 1 maupun kisah lomba lari antara Achilles melawan kura-kura, 2 atau parabel cermin sebagaimana sering dipergunakan Borges sendiri. Dalam setiap Borges, menyiratkan satu “kesamaan yang tak lagi serupa”.

1 Paradoks Zeno yang terkenal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak mungkin bergerak dari titik A ke titik B, sebab sebelum sampai di titik B, orang itu harus sampai dulu ke pertengahan A-B. Tapi orang itu juga tak mungkin sampai ke titik pertengahan A-B, sebab ia harus sampai dulu ke seperempat A-B, demikian seterusnya hingga ke pembagian yang tak berhingga.

2 Dalam paradoks ini, Achilles si juara lari tak mungkin mengejar kura-kura yang juga berlari di depannya. Sebab, setiap kali Achilles sampai ke tempat terakhir kura-kura tersebut, pada waktu yang sama kura-kura juga sudah bergerak ke depan, demikian seterusnya.

Bandingkanlah, misalnya, dengan duplikasi dalam Kisah Seribu Satu Malam, salah satu mahakarya yang paling sering disebut Borges. Kisah ini dalam bentuknya sendiri merupakan kisah berbingkai dengan beragam kisah dalam kisah. Perasukan kisah ke dalam kisah tentu membuka ruang bagi teks ini untuk dibaca sebagai labirin kisah tak berhingga, meski judulnya tetap menyebut dirinya sebagai kisah yang akan berakhir di malam keseribu satu (meskipun angka ini bisa juga dimaknai sebagai tak terhingga-banyak). Namun, sesungguhnya, kisah duplikasi yang menawan dalam novel (atau kumpulan kisah?) ini terletak justru dalam sosok sang pembawa cerita: Syahrazad.

Perempuan ini dalam dirinya sendiri mengandaikan suatu penggandaan. Paling tidak ia merupakan dua sosok yang segera bisa dikenali: pertama adalah Syahrazad yang memberikan dirinya kepada sang baginda untuk diambil sebagai istri; kedua adalah Syahrazad yang mengulur waktu pemenggalan dirinya dengan mendongeng selama seribu satu malam. Syahrazad pertama adalah salah satu sosok yang diceritakan. Syahrazad kedua adalah sosok yang menceritakan beragam kisah, termasuk kisah tentang Syahrazad yang berkisah. Ketika Syahrazad berkisah sampai ke bagian Syahrazad yang diceritakan, maka Syahrazad yang diceritakan akan bercerita sampai ke bagian Syahrazad mesti mengulur waktu dan berkisah … bayangkanlah di malam tertentu, kisah ini sesungguhnya (mesti) berputar tanpa ujung pangkal.

Kembali kepada kasus “The Other”, ada Borges yang memimpikan Borges yang lain di Jenewa, dan jangan dilupakan ada Borges ketiga di antara mereka: yakni Borges yang menulis “The Other” pada 1972 yang juga disebut di dalamnya. Apa yang bisa direnungkan dari permainan duplikasi dan rentetan permainan ketakterhinggaan yang edan ini? Paling tidak, terpengaruh oleh filsuf Inggris George Barkeley (1685-1753), Borges percaya gagasan mengenai realitas yang maujud hanya ada dalam persepsi. Dunia nyata, kurang lebih, hanya mungkin dalam suatu rangkaian kenyataan yang tak berhingga.

Tentu saja di antara sebagian besar prosanya, cerita berjudul “Tlon, Uqbar, Orbis Tertius” merupakan permainannya yang terbesar dalam permainan persepsi mengenai dunia sebagaimana yang dimaksud di atas. Dalam cerita ini Borges menciptakan dunia imajiner yang kukuh, sejenis bayang-bayang dari dunia sehari-hari yang kita jalani, dan bagaimana kedua dunia sekonyong saling merasuki. Penciptaan dunia imajiner itu sendiri tidak dilakukan melalui pembuktian-pembuktian fragmen empirik, atau dengan kata lain tidak menciptakan ruang dan waktu yang harfiah. Yang diceritakan adalah kisah sebuah ensiklopedia, dan ensiklopedia itulah yang menciptakan dunia imajiner tersebut, sebagaimana kita memahami dunia ini barangkali melalui sejenis ensiklopedia.

Atau seperti dalam “Shakespeare’s Memory” (dalam Shakespeare’s Memory), dunia menjadi dunia Shakespeare jika kamu memiliki ingatan Shakespeare. Demikianlah sebagaimana kita tahu, ingatan adalah sebuah persepsi manusia mengenai dunia ini, dan melalui sejenis ingatan pulalah dunia manusia menjadi nyata.

***

Jorge Luis Borges

Bagian 2

Gagasan filsofis Borges bahwa realitas yang maujud hanya ada dalam persepsi, secara langsung menyiratkan suatu kosmologi tertentu dalam cerita-cerita Borges jika bukan dalam pikirannya. Mari kita melihat bagaimana ruang dan waktu direka ulang oleh penulis yang memelihara ketakutan abadinya atas cermin ini.

Adalah kisah tentang buku dan labirin yang dijanjikan Ts’ui Pen (“The Garden of Forking Paths” dalam Fictions). Ketika Ts’ui Pen meninggal, yang ditemukan hanyalah setumpuk manuskrip novel yang semrawut dengan tokoh mati yang tiba-tiba bisa hidup kembali serta keanehan kronologis lainnya. Belakangan seorang barbarian Inggris bernama Albert memecahkan teka-teki buku dan labirin yang dijanjikan tersebut. Menurutnya, novel itulah buku sekaligus labirinnya. “Tak seperti Newton dan Schopenhauer, moyangmu (Ts’ui Pen) tak percaya akan suatu waktu yang seragam dan mutlak,” kata Albert, “Ia percaya kepada serangkaian waktu yang tak terhingga, suatu jejaring waktu berbeda-beda yang bersinggungan dan terus tumbuh serta berpilin.”

Demikianlah, jika dalam novel umumnya seorang tokoh cenderung memilih satu kemungkinan masa depan, dalam novel Ts’ui Pen, setiap tokoh memilih semua kemungkinan masa depan, sehingga tercipta beragam kisah yang terjadi, dan hasilnya adalah novel yang tampak semrawut dan tak pernah usai. Setapak itu sama sekali tak menyiratkan suatu tempat, tapi waktu.

Masih dalam kumpulan yang sama, bandingkan pula dengan cerita “The Secret Miracle”. Sebagaimana kutipan di awal kisah (dari Al-Quran 2:261),3 cerita ini pun merupakan parabel tentang waktu. Dikisahkan pada tanggal 29 Maret 1939, penulis Ceko bernama Jaromir Hladik menghadapi sederet regu tembak. Terganggu oleh kenyataan ia belum menyelesaikan naskah besarnya yang berjudul Para Musuh dan berharap merampungkannya, ia berdoa kepada Tuhan untuk mengaruniainya waktu setahun lagi. Demikianlah ketika eksekusi ditetapkan pada pukul 9:00 pagi, waktu bersemarai baginya sepanjang satu tahun. Sementara ia menyelesaikan kisah tersebut dalam pikirannya, mengoreksi dan menulis ulang, ia menyaksikan regu tembak, peluru, dan dunia di sekitarnya sekonyong berhenti. Setahun berlalu dan Para Musuh pun rampung, peluru menghentikan hayatnya pada pukul 9.02 pagi di hari yang sama.

3 Kutipan tersebut lengkapnya berbunyi: And God caused him to die for an hundred years, and then raised him to life. And God said, “How long hast thou waited?” He said, “I have waited a day or part of a day.” Dalam terjemahan Labirin Impian (LKIS, 1999), merujuk ke terjemahan HB Jassin, Bacaan Mulia (Djambatan, 1991), Hasif Amini mengoreksi kutipan ini menjadi Al-Quran II:259 demi pertimbangan kesahihan referensial (sic!). Bertanya-tanya apakah seorang Borges (atau editor maupun penerjemah Inggrisnya) melakukan kecerobohan semacam itu, saya mengeceknya ke The Koran (Everyman, 1994), ternyata Borges benar, itu dikutip dari ayat 261. Sepengetahuan saya, perbedaan urutan ayat dalam teks Al-Quran sangat biasa.

4 Newton percaya bahwa ruang dan waktu bersifat mutlak dan obyektif, sebelum kemudian dikoreksi oleh Einstein.

Lihatlah perbandingan eksekusi yang memakan waktu dua menit (barangkali untuk regu tembak bersiap, mengokang senjata, meneriakkan aba-aba dan untuk peluru melesat dari ujung senapan hingga menerpa tubuh Jaromir), dengan waktu setahun yang dimiliki sang penulis untuk menyelesaikan kisahnya. Ini menyiratkan suatu waktu paralel yang beriringan, kadang bersentuhan, lain kali tidak. Sebagaimana dalam parabel waktu di novel karya Ts’ui Pen yang tak satu kata pun menyebut “waktu”, Borges tak sekalipun menyebut perihal relativitas (terutama Einstein) dalam kisah-kisah ini (hanya “berbeda dengan Newton …”),4 meski kita dengan mudah bisa merujuk seluruh gagasan kosmologinya ke sana. Namun bukan maksud tulisan ini untuk mendedahkan hubungan tersebut, melainkan untuk melihat bagaimana gagasan kosmologi semacam ini menciptakan gagasan-gagasan liar kisah-kisah Borges.

Sebagaimana kita bisa mengenalinya dengan gampang, sebagian besar gagasan prosa Borges senantiasa berhubungan dengan eksistensi ruang dan waktu. Terutama di dalam cerita-cerita Borges, yang nyinyir dan cenderung sinis terhadap pendekatan psikologi dalam cerita sebagaimana yang dilakukan Dostoyevsky dan sederet nama pengusung “arus kesadaran”, plot merupakan tonggak terpenting dalam kisah-kisahnya, dan dengan itu berarti ia bicara tentang (ruang dan) waktu. Demikianlah dalam kasus Jaromir, waktu satu tahun yang dimilikinya, alih-alih dua menit yang dimiliki regu tembak, sama sekali tak menyiratkan perihal “waktu psikologis”, tapi “waktu nyata” yang sesungguh-sungguhnya.

Meski memercayai keberadaan waktu yang subyektif dan tidak mutlak, di mana sebagian besar ceritanya merujuk ke sana, tak urung Borges juga bermain-main untuk mempertanyakannya pula. Contoh terbaik paradoks mengenai ini misalnya bisa kita lihat dalam cerita “The Disk” (dari The Book of Sand). Cerita ini berkisah mengenai piringan Odin yang hanya memiliki satu sisi (bayangkan, ruang dua dimensi!) yang menandakan seorang pemiliknya sebagai raja. Ketika seorang penebang kayu membunuh pengembara yang memilikinya, piringan itu jatuh ke tanah dan selama bertahun-tahun setelah itu sang penebang kayu tak pernah menemukannya.

Tentu saja Borges sedang berolok-olong tentang ruang dua dimensi yang mustahil bagi kaum tiga dimensi seperti manusia. Tapi piringan itu nyata, dingin dan berkilau seperti emas, kata si penebang kayu. Piringan itu menjadi tak ada disebabkan ketidaktahuan si penebang, sebagaimana ia tak pernah tahu dunia lain disebabkan ia tak pernah meninggalkan hutan tempatnya lahir dan dibesarkan.

Di sinilah bagaimana Borges mempertemukan gagasan ruang-waktunya dalam bentuk-bentuk yang paling mungkin, melalui aneka permainan plot sehingga plot tak sekadar alur kisah, tapi gagasan itu sendiri.

Perhatikan prosa pendek “The Plot” dalam The Maker. Paragraf pertama berkisah tentang pembunuhan Caesar oleh Marcus Junius Brutus. Paragraf kedua bercerita tentang seorang gaucho di selatan Buenos Aires, dibunuh oleh orang kepercayaannya pula. Kedua pembunuhan berjarak rentang sembilan belas abad, kedua kurban tak pernah tahu bahwa mereka mati, sehingga adegan tersebut bisa dimainkan kembali. “Nasib berpihak kepada repetisi-repetisi, variasi-variasi, dan bentuk-bentuk simetris,” Borges menyimpulkan. Bahkan tanpa kesimpulan tersebut pun, kita bisa membaca gagasan tersebut dalam alur cerita prosa itu sendiri.

Di sini semakin jelas bahwa ruang dan waktu yang “berepetisi, bervariasi dan simetris” itu maujud dalam persepsi, serta mengabaikan gagasan tentang ruang dan waktu yang objektif. Dengan menderetkan dua peristiwa yang terentang jauh, baik ruang dan waktunya, bahkan motif-motifnya, konteks sejarahnya, serta tentu saja detail adegannya, Borges telah membuatnya menjadi sesuatu yang berhubungan dan bahkan tak terpisahkan. Penderetan dua adegan tersebut dalam satu alur cerita, menjadikan keduanya memiliki makna dalam ruang-waktu baru yang dihasilkan oleh persepsi.

Bukankah semua penulisan fiksi, juga apa yang kita sebut sebagai penulisan sejarah, bekerja dengan pola yang kurang-lebih sama–disadari maupun tidak? Katakanlah dalam penulisan sejarah, kita menemukan pecahan-pecahan peristiwa yang terpenggal-penggal, satu fragmen misalnya dicuplik dari catatan perjalanan seorang pedagang-pengembara China, satu fragmen lain ditemukan dari catatan pajak milik kantor gubernur jenderal, fragmen lain berasal dari potongan berita surat kabar, dan penggalan tersisa adalah reproduksi sekeping koin kuno. Seorang sejarawan merangkai semua fragmen tersebut, menjadi satu rangkaian kronologi ruang dan waktu yang solid. Borges ingin menyatakan, kurang-lebih, rangkaian kronik yang tersusun dari fragmen-fragmen itu bukanlah kenyataan obyektif, melainkan sesuatu yang maujud dari persepsi sang sejarawan.

Persepsi tentang ruang dan waktu inilah yang pada akhirnya membentuk persepsi mengenai kenyataan. Dalam permainan plotnya, Borges tak hanya menciptakan realitas baru dari fragmen-fragmen terserak, sebagaimana dilakukan dalam kumpulan prosa pertamanya, A Universal History of Iniquity yang membangun ulang fiksi orang lain ke dalam kenyataan fiksinya sendiri, namun terus meluruh ke berbagai percobaan dalam prosa-prosa berikutnya. Ia tak hanya menciptakan persepsi tentang realitas dari fragmen-fragmen yang meyakinkan, namun membangunnya melalui plot yang solid walau berbahan fragmen-fragmen khayali.

Untuk membuatnya menjadi lebih jelas, para sejarawan menciptakan kebenaran kronik peristiwa dengan ditopang oleh fragmen-fragmen yang diakui kebenarannya secara metodik. Fragmen-fragmen inilah yang bisa diverifikasi. Dalam dunia fiksi Borges kemudian, bukan fragmen-fragmen ini yang dipertaruhkan (sekali lagi, bahkan banyak di antaranya sungguh khayali), justru plot (atau metodenya) yang bisa diverifikasi, sehingga memberi satu kesimpulan peristiwa yang utuh.

Itu salah satu “sistem kebingungan” Borges. Nah …

Tulisan ini pernah dimuat di harian Media Indonesia, 28 Agustus 2005 dan 4 September 2005.


9 thoughts on “Kosmologi Borges”

  1. wow…
    essai ini bagus…
    BORGES nabi saya…
    dan pemilihannya cerdas,
    …borges and i…
    itu pendek dan terbaik menurut saya….
    saya dan teman saya pernah membuat eksperimen yg berkaitan dg wacana itu…
    salut untuk anda!

  2. buku Borges dalam bahasa Indonesia, sejauh yang saya ingat baru satu: “Labirin Impian” terjemahan Hasif Amini, penerbit LKiS. Itu bisa disebut kumpulan cerpen-cerpen Borges terbaik, meskipun untuk menikmati Borges, sebaiknya membaca kumpulan cerpen lengkapnya.

  3. aku dari yang awam. tapi aku pernah dipinjami Labirin Impian punya teman, buku bekas seharga Rp.10.000,- nggak jelas siapa yang tega mem-bekas-kan. tapi cuman baca bagian (lupa judulnya) yang melihat dunia sebagai perpustakaan lengkap dengan “labirin” dan “cermin”.
    tarik mas Eka!!!!….

  4. Content yang mencerahkan sekaligus memuaskan batin dan pikiran bagi para pembacanya. Terima kasih atas sajian lezatnya, bang Eka…

Comments are closed.