Kompas Suka Tidak Teliti


Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved.

Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.

Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul “Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress”.

Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:

“Di dunia maya tidak banyak penyedia blog gratisan. Kalau Anda ingin memiliki blog atau situs pribadi, Anda bisa mengambil dari Blogger, Multiply, LiveJournal, MoveableType (maksudnya mungkin MovableType), TypePad, dan salah satunya dari WordPress yang disediakan Matt.”

Bagaimana mungkin mengatakan “tidak banyak penyedia blog gratisan”, lha kalimat berikutnya malah menderet empat situs penyedia layanan gratis (dan yang enggak disebut bisa berjumlah puluhan, minus MovableType dan TypePad yang berbayar!).

Kedua, di alinea ketiga belas:

“Matt tidak menyangkal kalau ia memperoleh pendapatan dengan mendirikan perusahaan di balik WordPress, seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate, dan BuddyPress.”

Kalimat itu mengindikasikan bahwa di balik WordPress ada perusahaan(-perusahaan) seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate dan BuddyPress. Jelas sekali penulisnya (Pepih Nugraha) enggak melakukan ricek. Di deratan nama-nama itu hanya Automattic yang merupakan nama perusahaan. Selebihnya merupakan “produk” dari Automattic (lihat di sini daftar produk Automattic, yang mereka sebut sebagai “project”). Ini kan informasi yang gampang diricek dengan mengunjungi situs resmi perusahaan itu. Lagian, kan enggak masuk akal ada enam perusahaan di balik sebuah produk (WordPress). Yang lebih masuk akal (kalau mau nebak-nebak pun), kan ada “satu” perusahaan di balik enam produk.

Ketiga, dari alinea kedelapan belas:

“Matt mengenang kembali masa-masa di tahun 2002 saat untuk pertama kalinya menciptakan peranti lunak sederhana untuk nge-blog yang ia namakan b2.”

Kalau kita berkunjung ke situs Wikipedia, dan sebenarnya ini sudah pengetahuan umum di penggiat WordPress, jelas informasi di atas salah. Matt tidak menciptakan software blog b2. B2 dibuat oleh programer bernama Michel Valdrighi. Matt kemudian membuat fork (istilah untuk membuat cabang program baru dari sebuah program lama) dari b2 yang kemudian dia beri nama WordPress (lihat posting Matt sendiri mengenai awal ketika ia melakukan fork atas b2).

Duh, sebenarnya mungkin ini hal-hal sepele. Tapi karena saya baca Kompas tiap hari, dan sering menemukan hal-hal sepele begini tidak ditulis semestinya, lama-lama jadi pengin mengeluarkan uneg-uneg ini.

Saya enggak tahu, apakah ini masalah wartawan yang malas melakukan cek dan ricek, atau masalah keterampilan berbahasa (sebagaimana saya tunjukkan di kasus pertama dan kedua, jika susunan kalimatnya diubah, kalimat itu mungkin bisa jadi memberikan informasi benar).

Segitu dulu aja, lah. Saya tulis ini karena saya gemar membaca Kompas tiap bangun tidur. Buat wartawan Kompas, maaf ya ….

Tambahan: Di laman ini saja ada 40+ layanan blog gratis jika Anda tertarik; 40+ Free Blog Hosts.

Update: 5 Februari 2009

Perbincangan ini telah memperoleh banyak tanggapan di lingkaran Facebook saya, termasuk dari Pepih Nugraha, wartawan Kompas yang menulis artikel “Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress”. Jika ada yang tertarik mengikuti perbincangan tersebut, sila berkunjung (dan menjadi “teman” saya) di Facebook.

Sementara itu, Lily Yulianti Farid juga mengulasnya di blog Kompasiana dimana ia menjadi blogger tamu: “Komentator Facebook (1): Surat Pembaca yang Di”Note”-kan.”

16 comments on “Kompas Suka Tidak Teliti

  1. haris says:

    mungkin lbh karena penulisnya tidak sangat mengenal dunia wordpress, mas. hanya orang2 tertentu saja kan yg bs tau kejanggalan2 dlm persoalan wp. he2.

  2. johan konco says:

    ya, kompas memang sering tidak teliti dalam tulisan-tulisannya. saya sendiri memang sering juga mendapatkan ketidaktelitian semacam itu. hal yang sepele misalnya, satu kata yang dicetak menjadi kehilangan satu huruf. misalnya kata dengan, ditulis menjadi denga. mulanya saya menduga ini sebagai gaya humor kompas saja. tapi lama-kelamaan hal itu menjadi tidak lucu lagi. terutama jika hampir setiap hari kita temukan kata-kata yang satu hurufnya terbang entah kemana.

    memang tidak sampai parah, misalnya, kata benar menjadi bonar. tapi hal yang sepele ini seharusnya tidak boleh terulang lagi sebab kompas sudah terkenal akan kecerdasannya.

    nah, sekarang saya mulai bertanya, jika ini adalah keluhan, kenapa saya tidak melayangkan surat keluhan saja ke kompas ya?

    alasannya adalah karena saya tidak pandai menulis surat. sesederhana itu. selamat untuk kompas. semoga mulai sekarang mengubah gaya humornya.

  3. bener, boz! kenapa gak tulis surat keluhan ke mereka? kalo ternyata dicuekin, baru deh woro-woro…bener, jika mo nulis tentang WP yaa sebaiknya yg paham ttg WP. maka, penulisnya dikatakan kompeten di bidangnya. tul, gak?

    yah, tapi terserah sih. keren dunk pasti. mengingat ada pelanggan setia sepertimu?

  4. johan konco says:

    mas eka, aku boleh minta emailnya ga? ada sesuatu yang aku ingin mas eka baca.

  5. ekakurniawan says:

    johan:
    aku berkirim pesan ke email yang kamu masukkan, tapi mailer daemon (enggak sampai).

  6. Semoga kesalahan-kesalahan ini tidak terulang lagi di harian yang setiap hari saya baca juga. Apalagi tak jarang Kompas sering menjadi panduan orang tentang berbahasa sekaligus menulis yang baik. Ini berbahaya karena keteledoran ini bisa menular. Kebetulan saya juga lagi belajar mencintai WordPress. He, he, he…

  7. remi says:

    biasa, kalo terlalu banyak sediain halaman jadi kurang teliti editornya, kejar setoran supaya penuh halamannya… apalagi zaman resesi gini iklan agak berkurang, halaman makin kosong….

  8. johan konco says:

    nah sekarang sudah mas eka. ini dia. thanks.

  9. bang jul says:

    betul tuh, kadang editor juga bikin salah…

  10. Mungkin kualitas penulisan sulit dikontrol dalam tenggat waktu singkat. Kalau dalam hal ini enaknya gimana mas buat jadi penulis? tetep nulis walaupun sumber informasinya kurang memadai atau hajar bleh aja tetep ditulis?
    Atau mungkin sengaja dibuat ruang buat pertanyaan dan komentar, jadi keliatan begitu banyak orang yang menaruh atensi dengan tulisan. Hehehe…
    Salam kenal ya mas, mohon ijin ikut nimbrung.

  11. Andre Birowo says:

    Ketika pembaca dan jurnalisme warga semakin berkualitas maka media ‘mainstream’ harus menata dirinya agar tidak kalah dengan media-media baru.

  12. aldhi says:

    Yg sering aku lihat ya semacam tidak dispelling so ada saja salah cetak. Juga standar kualitas artikel sering ada yang mengambang. seperti dikomentari salah 1 pembaca:teguh @ Selasa, 26 Mei 2009 | 20:47 WIB
    pada artikel:Duh… Mahasiswa Belum Banyak Tahu Dampak Seks Pra Nikah:”Ini adalah berita tanpa data yang sangat tidak bermutu, dan aku heran kompas bisa-bisanya membuat berita begini. Penggunaan kata2 relatif (kebanyakan, tidak banyak, banyak, sedikit, seringkali dll.) adalah bukti tulisan ini bukan bersifat ilmiah tapi dongeng. Ngomong tanpa data sama dengan kancil nyolong timun”.

  13. aldhi says:

    Saya kok kesulitan “tulis komentar” di kompas ya mas Eka, tidak dimuat. Tolong kasih tip ya ke email saya. Trim’s sebelumnya.

    1. ekakurniawan says:

      @aldhi:
      maksudnya “tulis komentar” di website Kompas? setahuku, komentar mereka dimoderasi, jadi tidak otomatis masuk.

  14. heru says:

    iya nih, kompas akhir2 ini banyak salah..

  15. caprivhia says:

    Allo mas Eka, saya senang sekali baca tulisan nya mas Eka, tapi belum pernah beli novelnya :) soalnya baru nemu hari ini.

    Saya setuju sama tulisan yang ini, setiap penulis harus benar2 tau apa yang di tulis, jangan asbun. nah.. karena takut dikatakan asbun (asal bunyi) askhirnya cerita non fiksi saya enggak jadi juga saya kirim ke penerbit. merasa belum mampu mempertanggungjawabkan. cerita saya rasanya bagus mas, judulnya 30 Hari Mencari Restu http://belandatrip.wordpress.com/ atau http://belandatrip.blogspot.com/ (kisah perjalanan di Belanda. Namun sejak 2 bulan lalu saya masih sibuk cek ricek puluhan kali ke cerita saya. butuh seorang mentor sebenarnya…
    saya bisa minta bantuan mas eka nggak ya?

    thx mas

Comments are closed.