Khatulistiwa Literary Award 2008

Khatulistiwa Literature Award lagi! Kebanyakan minum lagi! Istriku kembali nyebur kolam di Apartemen Senayan. Zen Hae sempat ngilang dicari istrinya, ternyata buang air di toilet (ah, sebenarnya saya jagoin dia menang tahun ini!). Kumpul-kumpul dengan para penulis seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang beda, tahun ini agak molor. Biasanya November atau Desember: sekarang Januari! Tak apalah …
 
Dan pemenangnya: Acep Zamzam Noor (Menjadi Penyair Lagi…, Pustaka Azan) untuk kategori puisi. Saya pertama kali kenal karyanya waktu masih di Yogya lewat buku puisi pertamanya, Di Atas Umbria (diterbitkan IndonesiaTera). Terus waktu sering nongkrong di Aksara Indonesia, Acep juga nerbitin buku di sana. Judulnya Dongeng Dari Negeri Sembako. Ternyata dia nerbitin dua (atau tiga?) buku lagi, tapi saya tak begitu mengikuti, sampai bertemu dengan Menjadi Penyair Lagi… ini.

Oke, kalo bahasa anak-anak surfing, menurut saya Acep tuh “old school”, lah. Ia penyair yang “lulus ujian”. Memiliki metafor-metafor orisinil. Puisi-puisinya relatif kokoh sebagai puisi. Oh ya, jangan lupa, ia bisa mengolah keadaan sekeliling, alam kehidupan, menjadi sesuatu yang simbolis. Dengan kata lain, segala syarat jadi penyair baik bisa ia lewatkan. Tapi ya itu, “old school”. Kalau saya mau jujur, tak ada yang menggemparkan dalam puisi-puisinya. (Ah, mungkin ini salah saya juga yang merasa membutuhkan sesuatu yang menggemparkan).

Selain Acep, ada empat nominator untuk kategori puisi. Zen Hae dengan kumpulan pertamanya, Paus Merah Jambu (Akar Indonesia), tampak lebih berani untuk mencari-cari “jalan puisi” baru. Barangkali sudah sangat disadari oleh para pembaca puisi di Indonesia, bahwa dominasi puisi liris di sini sangatlah dominan. Lihat saja di koran-koran: penyair tua maupun penyair baru, ujung-ujungnya pasti ada lirisismenya. Nah, Zen Hae, apa boleh buat, mencoba menyesatkan diri ke jalan lain, tapi ya itu, buntut lirisisme masih ketara jugalah. Dia seperti anak yang mencoba kabur. Jika ia punya keberanian, untuk terus kabur, barangkali ia akan jadi penyair penting. Kalau tidak, ia akan balik kembali ke rumah dan hanya tenggelam di lautan lirisisme!

Joko Pinurbo (pemenang KLA tahun sebelumnya) kembali menjadi nominator untuk buku Kepada Cium (Gramedia Pustaka Utama). Saya ingin mengomentari Joko dan bukunya: sejujurnya, meskipun ia sangat kental lirisismenya (yang mulai agak saya sebalin), Joko berhasil mengolahnya dengan karakter puisinya yang naratif, jenaka, dan berhasil pula menampilkan ironi. Tapi khusus untuk Kepada Cium, saya merasa ia mulai terjebak dalam sejenis “cetakan” (apalah istilahnya, kira-kira serupa template, lah). Dan sebagaimana segala yang dicetak, apa boleh buat, ini tidak lebih bagus dari buku-buku sebelumnya. Satu hal lagi, karakter puisinya menjadi terlalu manis. Ramah dibaca, memang, tapi ironi menjadi agak berkurang. Baiklah, saya tak mungkin mengajari Joko Pinurbo berpuisi, sebab saya tak mengerti banyak hal tentang puisi, tapi saya sangat berharap ia akan datang kembali dengan puisi yang jauh lebih segar lagi, dan tentu lebih ironik. Misalnya menulis puisi epik? Kenapa? Karena saya percaya, ia bisa melakukannya!

Dua nominator lain: Soni Farid Maulana (Angsana, Ultimus) dan Fadjroel Rachman (Dongeng untuk Poppy, Bentang). Keduanya tak terlampau istimewa buat saya. Khusus buat Fadjroel, saya rasa jika ia lebih mengurangi pilihan kata atau frasa yang terlampau umum dan abstrak (seperti tuhan, bumi, roti kebahagiaan), mestinya ia bisa menjadi penyair yang lebih asyik lagi!

Sekarang kita beralih ke kategori prosa (novel dan kumpulan cerita pendek). Seno Gumira Ajidarma (pemenang KLA dua kali) kembali hadir dengan Linguae (Gramedia Pustaka Utama); Gus tf Sakai, Perantau (Gramedia Pustaka Utama); Andrea Hirata, Edensor (Bentang); Cok Sawitri, Janda dari Jirah (Gramedia Pustaka Utama) dan Dianing Widya Yudhistira, Sintren (Grasindo). Pemenangnya: Perantau karya Gus tf Sakai.
Saya tak ingin mengomentari kategori prosa. Komposisi bukunya, hmmm, agak di luar selera saya …

6 comments on “Khatulistiwa Literary Award 2008

  1. antikris says:

    Boleh komentar ya, Ka? Kulihat, apa yang kau bilang “cetakan” pada Jokpin berlaku juga pada beberapa nama dan judul yang kau sebutkan itu. Aku pribadi lebih suka menggunakan metafor yang lebih masinal untuk gejala itu, yakni “mekanis”. Kemudian, bagaimana cara berkelit dari dominasi lirisisme? Zen Hae pun liris abiz, dari puisi pertama sampai puisi terakhir di antologi yang judul bahasa Inggrisnya: Pinky Pope, hehe…. Beberapa pengamat mengatakan Afrizal adalah contoh sukses penyair yang bisa lepas dari lirisisme. Ngaco! Pengamat itu pasti tidak “ngeh” akan kode-kode puisi lirik! Terakhir, dominasi lain adalah dominasi penerbit mapan. Namun, untuk yang terakhir ini mau gimana lagi?

  2. raka says:

    Ada yang salah dengan lirisme?

    raka:
    nggak ada yang salah dengan lirisisme. problemnya, pertama: seperti nggak punya pilihan lain saja :)
    kedua: lirisisme merupakan anak kandung modernisme, sejak zaman descartes berarti. selama itu, kita tidak maju kemana-mana rasanya?
    (ekakurniawan)

  3. gigih says:

    ngak ada yang asalh tu dengan edensor dan lainnya

  4. e bagus ya boleh tau gak daftar pemenangnya sipa dan kategori apa ??

  5. I Made Suantha says:

    salam
    Saya ingin tanya alamat KLA dan mendaftarkan buku saya untuk dapat berpartisipasi, dengan Judul” PASTORAL KUPU-KUPU” Agustus-2008

  6. dzee says:

    ass… klo boleh tau untuk KLA 2011 nih pendaftarannya sampai bulan apa? saya akan coba mengirimkan buku saya sendiri?

Comments are closed.