Ketika Kecantikan Terluka

Oleh Bagus Purwoadi, Aksaraloka
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Bermula dari komentar di sampul belakang novel: “It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor…..”-Benedict R. O’G Anderson, New Left Review, saya mulai membaca novel Eka Kurniawan: Cantik itu Luka. Ya, Pramoedya, sepertinya, memang sering dijadikan sebagai patokan untuk menilai seberapa bagusnya sebuah karya sastra lokal—dan menurut saya itu pantas. Sekarang bagaimana dengan Cantik itu Luka-nya Eka Kurniawan?

Bagian pertama, saya dikejutkan oleh kisah seorang pelacur yang bangkit dari kubur! Wah! Apa-apaan ini! Mistisisme? Takhayul? Pada mulanya saya kira ini adalah novel sejarah. Bagaimanapun, Pram dan sejarah itu tidak bisa dipisahkan, sedang Pram dan takhayul itu, sebaliknya, tidak bisa disatukan, bagaikan minyak dan air! Saya kira penulis review di atas ngawur! Tapi tunggu! Eka Kurniawan menuturkan kebangkitan sang pelacur dari kematian seperti ia bercerita tentang kambing tetangga sebelah yang beranak cempe berkepala dua. Aneh, ajaib, tak wajar, tapi ada, dan tak perlu jadi takhayul, tak perlu dituturkan secara berlebihan, dan menjadi sassus yang menyesatkan, anggap saja itu sebagai sirkulasi menyimpang dari kehidupan, agar tak jenuh. Dan semakin lama, gaya tuturnya semakin membuat saya terpaku.

Di dalam novel ini ada seorang pelacur cantik jelita yang telah bercinta dengan seratus tujuh puluh dua lelaki di sepanjang hidupnya! Pelanggan tertuanya berumur sembilan puluh dua, dan yang termuda dua belas tahun—yang belakangan ini bercinta dua minggu setelah disunat. Lalu ada seorang gadis buruk rupa yang diberi nama: Cantik, kelahirannya serupa onggokan tai yang keluar melalui lubang yang berbeda letak, barang beberapa senti. Hidungnya seperti colokan listrik, dan kulitnya sehitam jelaga. Ketika dewasa, ia bersenggama dengan pria tampan yang jera pada kecantikan. Kemudian, ada preman yang mampu berkelahi tujuh hari tujuh malam, kebal senjata dan mati dengan cara moksa. Ia jatuh cinta pada seorang pelacur, tapi kemudian menikahi putri si pelacur yang masih bocah, setelah cintanya ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Ada pelanggan seks komersial lanjut usia yang membayar layanan seks dengan putrinya yang bisu, dan mati di atas ranjang setelah orgasme. Ada penggali kubur yang menikah dengan seorang gadis yang terobsesi pada arwah ayahnya. Ada hubungan incest, ada sadomasokis, ada pedhophilia, ada hantu-hantu komunis yang bergentayangan. Cantik itu Luka adalah perayaan atas ambruknya nilai-nilai keindahan. Lalu di mana Pramoedya-nya?

Saya tidak menemukan “Pramoedya” sebelum beberapa tokoh dalam novel ini tampil dengan maksimal. Tokoh-tokoh yang tampil maksimal! Inilah yang membuat Benedict R. O’G Anderson membandingkan Eka Kurniawan dengan Pramoedya. Seperti halnya teknik penokohan Pramoedya yang tidak hanya “menghidupkan” Minke—tokoh utamanya, dalam Tetralogi P. Buru, Cantik itu Luka memiliki teknik penokohan yang juga kuat. Eka Kurniawan begitu rajin membangun latar belakang, dan karakter tokoh-tokohnya. Setiap tokoh memiliki ceritanya masing-masing, dan dapat berdiri sendiri-sendiri.  Plot cerita maju-mundur , khas Tetralogi P.Buru, disampaikan dengan perpindahan alur yang halus.  Titik perpindahan alur cerita tidak selalu sama, kadang disisipkan ketika terjadi interaksi antar tokoh satu dengan yang lainnya, kadang ketika penulisnya menjelaskan perihal latar belakang (sejarah) tempat di mana kisah ini terjadi. Tokoh-tokohnya tuntas, demikian pula dengan latar belakang tempat, sebuah kota fiktif yang bernama Halimunda, beserta sifat-sifat masyarakatnya.

Cantik Itu Luka mengingatkan saya pada ironi yang selalu hadir mendampingi sang kecantikan itu sendiri. Ia—kecantikan, tidak hanya membawa kebahagiaan dan kebanggaan, ia pun juga (seringnya) membawa luka, dan duka. Kecantikan yang luar biasa itu selalu menghunuskan pisau, kata Acep Zamzam Noor. Dan pisau itu dipatahkan oleh Cantik itu Luka. Dalam novel ini, kecantikan, dan keindahan, dibombardir oleh kekejian, dan keburukan yang menjijikan. Kecantikan yang agung dan selalu dipuja-puja, disandingkan dengan keburukan, yang selalu dicacimaki. Ini seperti, membalas dendam pada sang kecantikan yang angkuh dan selalu menghunuskan pisau tersebut.

Nah, barangkali saja, sebagian dari Tuan dan Nyonya, secara tidak sadar ternyata mendendam pada kecantikan, Cantik Itu Luka akan mengiringi anda untuk tertawa keras-keras. Merayakan kekalahan dari si angkuh yang selalu menghunuskan pisau itu. Karena Cantik itu luka. Dan yang terluka, kini berhak untuk tertawa, karena kecantikan telah merasakan bagaimana rasanya terluka.