Beberapa Point Kenapa Saya Tak Sepakat dengan Vandalisme Terhadap Karya Sastra

“Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat.”
Masalahnya bukan “kebebasan berpendapat”, tapi “politically incorrectness”. Bahkan di Pippi Longstocking-nya Astrid Lindgren istilah “negro” dan “gipsy” dihapus. Baca:
http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b… Maaf, dalam Bahasa Jerman. Tapi ringkasannya “Tidak ada istilah raja orang negro lagi dalam buku Pippi Longstocking. Penerbit menghapus istilah-istilah rasis yang digunakan dalam buku cerita anak-anak itu.” Jaman berganti, pemikiran berubah (menjadi maju/luas). Kita tidak mau menggunakan istilah-istilah rasis, toh? Sama seperti istilah “pribumi” di Indonesia yang sekarang sudah dianggap “politically incorrect”. Kebebasan pendapat boleh saja, tapi jangan menyakiti hati orang lain.
(Kutipan dari komentar Sumire atas posting saya tentang penghilangan kata “Nigger” di satu edisi Huckleberry Finn).

Karena balasannya tidak ringkas, saya akan menanggapinya dalam satu posting saja. Ini beberapa point kenapa saya tak sepakat dengan vandalisme karya sastra.


Satu, masalah rasisme ada di pikiran kita, bukan di kata-kata itu. Jika kita ingin menghapus rasisme, perbaiki pikiran kita, jangan menjagal kata. Kata-kata, sebagaimana tanda-tanda, mungkin punya sejarah buruk. Tapi sekali lagi, pikiran kita yang membuatnya buruk, bukan? Contoh kasus adalah lambang swastika. Itu merupakan lambang suci. Hanya karena Nazi pernah memakainya sebagai lambang, maka pikiran kita menjadikan swastika sebagai hal buruk.

Dua: “Huck Finn” merupakan novel tentang perbudakan di Amerika. Jelas sekali itu tentang rasisme. Dan akan nonsens (persis seperti satu komentar di artikel BBC) kalau tidak ada “bahasa rasis”. Bagaimana kita tahu bahwa itu tentang rasisme jika dokumentasi sosial mengenai hal itu di novel tersebut malah dijagal? Ini ibarat kita bikin statemen bahwa: “Istilah Nigger merupakan istillah untuk menghina” lalu kita menghapus kata “Nigger” di kalimat tadi: kalimat tersebut jadi nonsens hanya karena kita menyalahkan sebuah kata, dan bukan menyalahkan pikiran kita.

Tiga. Ya betul, zaman berubah. Kita ingin politically correct. Kita tak ingin menghina orang lain. Tapi apa yang perlu diubah? Kata-kata dalam karya sastra? Itu seperti buruk muka cermin dibelah. Jika kita ingin politically correct, pikiran kitalah yang harus diubah. Kita bisa menghadapi istilah “Nigger” tanpa maksud melakukan penghinaan, seperti kita menggunakan istilah-istilah “China”, “Mosque”, tanpa pikiran buruk di balik istilah itu. Atau jangan-jangan kita harus menghapus kosakata “China” dan “Mosque” itu pula di seluruh karya sastra? Atau jangan-jangan banyak kata juga harus diganti karena mungkin suatu ketika kata-kata itu menjadi buruk? Ini absurd. Bisa-bisa separuh isi kamus hilang hanya karena kita punya pikiran buruk atas kata-kata tertentu.

Empat: penulis punya hak untuk mengganti satu kata dengan kata lain. Ganti kata “kontol” dengan “penis”; ganti kata “ngewe” dengan “bersetubuh”; sebagaimana orang Amerika mengganti “Nigger” menjadi “slave” atau “kulit hitam” atau “Afro-Amerika”. Kita tahu kata-kata itu toh mengacu pada pengertian yang tetap sama. Perbedaan hanya ada di pikiran kita: kata pertama barangkali tabu diucapkan, kata kedua terdengar lebih halus. Masalahnya, jika penggantian itu dilakukan oleh orang lain, itu adalah vandalisme. Di sinilah konteks kita harus menghormati kebebasan orang (penulis).

Lima, bahkan jika seorang penulis atau sebuah karya memang rasis, apakah kita berhak mengganti-ganti kata di karya mereka? Tak semua penulis di muka bumi memiliki kesadaran ideologis yang sama. Sejarah pergaulan mereka dengan kata/bahasa juga berbeda-beda. Hanya karena kamu anggap salah, tidak mesti kamu harus melakukan vandalisme. Membaca Huck Finn yang penuh dengan kata “Nigger” tak membuat kamu rasis. Atau kalau kamu menganggap tindakan membaca buku itu rasis, hal sederhana: jangan baca buku itu. Atau kalau mau lebih serius: bawa ke pengadilan. Jangan salahkan sebuah kata.

Apalah artinya sebuah nama? — William Shakespeare.

3 comments on “Beberapa Point Kenapa Saya Tak Sepakat dengan Vandalisme Terhadap Karya Sastra

  1. Sumire says:

    1) Kata “Nigger” adalah istilah rasis dan sangat merendahkan bagi orang yang berkulit gelap. Istilah ini digunakan dengan maksud menurunkan derajat sosial dan menyatakan kedudukan di dalam susunan hirarki. (lihat juga: http://en.wikipedia.org/wiki/Nigger)
    Saya rasa, penggantian kata “Nigger” di Huckleberry Finn dengan kata “slave” (begitu pula dengan penggantian kata “Niggerkönig” (raja Nigger) di Pippi Longstocking versi Bahasa Jerman dengan “Südseekönig” (raja laut selatan) lebih bertujuan untuk tidak menghina orang berkulit gelap di jaman sekarang. Mark Twain dan Astrid Lindgren menulis karya mereka pada jaman ketika kata “Nigger” masih belum memiliki konotasi menghina atau merendahkan.
    2) Tentang vandalisme terhadap karya sastra, saya rasa ada contoh yang jauh lebih extreme/heboh lagi daripada Huckleberry Finn. Misalnya karya Salman Rushdie “The Satanic Verses” atau karikatur Nabi Muhammad karya Jyllands-Posten.
    Pertanyaannya mungkin lebih berbentuk, “Apakah gunanya karya sastra (atau seni lainnya)?” Kebebasan mengungkapkan pendapat? Apakah boleh melewati batas hingga menghina suatu kelompok orang tertentu atau kepercayaan tertentu? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendalam dan perlu platform lebih luas daripada sekadar di blog kamu ini, misalnya pada sebuah seminar akhir pekan :) Tapi, terima kasih atas diskusi hangatnya.

  2. nyonyabuku says:

    ah, saya sepakat sekali mas. Saya juga merasa ada yang salah ketika kata itu diganti. Karya apik Huck Fin telah dikorbankan demi ‘politically correct’. Pikiran dangkal saya bertanya-tanya, tak bisakah buku diperlakukan sebagai buku, apa adanya. Dialog tentang isi buku itu lah yang akan menentukan seseorang menjadi rasis atau tidak. IMHO.

  3. wawan says:

    Saya pingin urun rembug juga. Memang novel Huck Finn ini sangat dilematis. Beberapa tahun lalu ada protes dari seorang wali murid (afro-amerika) kepada sekolah karena memasukkan novel ini dalam pelajaran bahasa inggris. Orang tua ini risih sendiri karena si “N” ini terus-terusan muncul, dan mau tidak mau harus diucapkan oleh guru dan para murid, padahal sebenarnya kata ini sangat tabu diucapkan selain oleh orang kulit hitam untuk menyebut sesamanya. Padahal eh padahal, kalau dibaca sebenarnya posisi novel ini adalah menyindir orang-orang yang memperlakukan budak asal afrika sebagai sub-manusia. Padahal di situ banyak renungan yang pasti akan menampar orang Amerika yang pada saat ditulis/diterbitkannya novel itu (pasca perang saudara 1870-1875) masih rasis meskipun perbudakan sudah secara resmi dilarang (setting novelnya sendiri tahun 1840-an, saat perbudakan masih lancar jaya). Masalahnya, protes yang muncul ternyata “hanya” dikarenakan kata yang “politically amiss” itu. Mark Twain tahu si “N” itu sudah “nggak pantes” pada saat dia menulisnya. Tapi, apa mungkin seorang Mark Twain yang banting tulang mencoba menggunakan bahasa yang paling natural untuk tokoh-tokohnya berdasarkan tempat asal, tingkat pendidikan, dll mengubah kata yang menjadi inti dari cerita itu dengan kata lain, “african slave” misalnya? Penggunaan si “N” itu menurut saya lebih dikaranakan Mark Twain ingin lebih dekat ke keaslian. Btw, Mark Twain kan salah ujung tombak dalam realisme sastra Amerika yang berformasi 3-3-1-3 (bersama Henry James and William Dean Howells), dan Twain adalah yang membawa realisme hingga ke bentuk-bentuknya, titik paling ekstrim dari realisme. Di awal novel Huck Finn itu dia bilang menggunakan “sekian belas dialek negro.” Dan kalau pada akhirnya publik, baik pembaca maupun penerbit, menghakimi pemakaian si “N” yang dianggap overdosis dalam novel ini, maka ada kemungkinan bahwa publik ini 1) melewatkan salah satu agenda Twain, atau 2) mau mengorbankan satu hal penting dalam Twainisme, atau 3) telah membuat keputusan yang sembrono hanya karena ingin bertindak bijak.

    Kepada publik yang terjebak dilema antara keutuhan karya sastra dan kebijakan bersosial, mungkin sikap Twain bisa ditebak: dia pasti sangat senang karena berhasil mengerjai mereka, membikin mereka salah tingkah. Saya yakin dia akan ngakak sambil guling-guling kalau tahu ada orang kebingungan seperti ini.

Comments are closed.