Keluarga Tot

Pernahkah kamu kedatangan seorang tamu dan tiba-tiba tamu itu membuatmu merasa tidak nyaman di rumahmu sendiri? Tamu itu mulai menguasai rumahmu, dan karena kamu menghormatinya, kamu tak bisa mengingatkannya, apalagi mengusirnya?

Seperti itulah kira-kira ini pertunjukan “Keluarga Tot” yang dipentaskan Teater Gandrik selama empat hari (mulai malam ini, 17 April). Diterjemahkan dan diadaptasi dari naskah karya István Örkény, berjudul asli Totek.

Ini sebuah naskah absurd Hungaria yang sangat terkenal, dibawakan dengan gaya realis. Mengambil setting di masa Perang Dunia II, Keluarga Tot kedatangan seorang tamu. Tamu ini merupakan komandan anak lelaki mereka yang tengah berperang, dipanggil sebagai “Mayor”. Sang Mayor tinggal bersama mereka selama dua minggu, dalam rangka cuti, untuk sejenak membebaskannya dari tekanan perang.

Meski pada awalnya sang tamu sangat diharapkan kedatangannya, lambat laun tamu itu mulai menciptakan neraka di keluarga kecil tersebut. Traumanya kepada perang, membuat buyar keharmonisan Keluarga Tot. Sang Mayor juga bukan jenis komandan yang bisa menempatkan diri. Di rumah asing tersebut, ia tetap memperlakukan dirinya sebagai komandan, menyuruh siapa pun bagaikan memerintah prajuritnya sendiri. Bahkan Pak Tot, yang tubuhnya lebih tinggi, diharuskan untuk sedikit membungkuk agar lebih rendah dari Mayor.

Cerita semacam ini bisa menjadi satir yang penuh gelak-tawa, dan soal ini, Teater Gandrik memang jagonya. Pertunjukan yang memakan waktu sekitar dua jam itu, penuh kekonyolan-getir yang tak henti-hentinya. Kita menertawakan komandan yang tak tahu diri, kita juga menertawakan rakyat jelata yang hanya berani mengomel di belakang, bahkan kita menertawakan pastur yang hanya bisa berkhotbah.

Meskipun begitu ada beberapa hal kecil yang agak mengganggu saya. Pertama, mungkin ini pengaruh terjemahan. Naskah realis tentu saja akan menjadi satir yang bagus jika diadaptasi total, dengan cara memindahkan setting dari Hongaria ke setting lokal (katakanlah Indonesia), sehingga absurditasnya bisa lebih tersampaikan kepada penonton. Tapi sekali lagi, naskah ini terjemahan. Barangkali menyadari problem itu, Gandrik mencoba menjadikannya terjemahan-adaptsi.

Setting, alur dan bahkan tokoh-tokohnya tak berubah, tapi di bagian-bagian tertentu penonton diberi referensi lokal. Hal ini di saat-saat tertentu bisa menjadi lucu luar biasa. Contohnya, ketika tahu anaknya akan bekerja di markas besar, Pak Tot nyeletuk, “Anak kita mau kerja di Kodim”. Tentu saja Kodim tidak ada di Hongaria. Itu istilah yang hanya ada di ketentaraan Indonesia (Komando Daerah Militer). Namun tidak semua hal bisa diperlakukan seperti ini, sehingga bagian-bagian lain tetap menjadi Hongaria, yang dibawakan dengan bahasa “terjemahan”.

Gangguan kecil kedua, adalah pemaksaan referensi ke konteks kekinian. Sekali dua kali itu lucu (misalnya ketika mengatakan daun pohon beringin tinggal 14 persen, itu merujuk ke peraihan suara Partai Golongan Karya, yang berlambang beringin, hanya meraih 14 persen pemilih belum lama ini), tapi terlalu sering menjadi, well, “garing”.

Beruntunglah, para pemain Gandrik terkenal dengan kemampuan improvisasinya, yang membuat kekakuan terjemahan bisa “diselesaikan” di banyak bagian dengan celutukan. Kadang-kadang mereka memakai dialek lokal Jawa. Inilah saya pikir cara mereka untuk berusaha melenturkan terjemahan tanpa harus mengadaptasinya secara total. Ada bagian yang masih canggung, tapi banyak juga bagian yang merka berhasil tampilkan.

Di luar itu semua, selebihnya saya tetap menyukai pentas ini. Senang rasanya bisa tertawa-tawa riang, yang pada dasarnya menertawakan kelemahan-kelemahan manusia sendiri. Lebih lanjut mengenai Teater Gandrik dan “Keluarga Tot”, silakan baca di blog Agus Noor. Selamat menontont bagi yang hendak menonton (ya, benar, tulisan ini nongol di blog ini menjelang pentas resminya).

One comment on “Keluarga Tot

  1. Rahmat S says:

    waduh keliwatan euy…..padahal udah dari dua minggu lalu ngerencanain mo nonton.

    Salam Kenal mas Eka

Comments are closed.