Katak dalam Matryoshka

“Sesungguhnya, setiap di antara kita para katak menciptakan tempurungnya sendiri.”

Bahkan seandainya kita para katak terbebas dari dunia tempurung, bukankah kita akan menemukan diri di tempurung yang lain, semisal batok kelapa lain, atau sesuatu yang lebih besar yang menjadi tempurung bagi katak dan batok kelapa?

Demikianlah saya bertanya-tanya apakah sejarah sastra nasional merupakan tempurung bagi para katak yang bersibuk menyebut diri pekerja sastra nasional? Apakah jika seseorang terbebas dari tempurung bernama puncak-puncak pencapaian Idrus, Pramoedya Ananta Toer, dan Iwan Simatupang serta mencoba ‘keluar batas’ lantas terbebas pula dari tempurung lain? Tempurung itu barangkali el-boom Amerika Latin: Octavio Paz, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Julio Cortazar? Tempurung itu barangkali suara baru Asia: Mo Yan, Haruki Murakami, Arundhati Roy? Atau sastra klasik Rusia: Gogol, Tolstoy, Dostoevsky? Bahkan tempurung itu bisa jadi sebuah wadah yang mengurung mereka semua dan bernama ‘sastra dunia’?

Bagi saya, dunia tempurung sesungguhnya serupa dengan mainan ‘kotak China’ atau matryoshka, sebuah kotak yang jika dibuka kita akan menemukan kotak lain yang lebih kecil, menemukan kotak lebih kecil lagi, dan demikian seterusnya. Mainan ini juga bisa dibaca sebaliknya: kotak kecil dibungkus kotak lebih besar, dibungkus kotak lebih besar lagi, dan seterusnya. Maka persoalan apakah seekor katak ada di dalam tempurung atau tidak tak lebih dari masalah apakah yang melihat itu berada di tempurung yang sama dengan si katak atau tidak?

Tempurung, kemudian bagi saya, berbeda dengan Nirwan Dewanto (semoga saya tak membuat tafsir-lajak), bukanlah persoalan besar. Bukankah sebagaimana pengandaian Hegel, dunia tempurung mengasumsikan juga dunia di luar tempurung? Dunia kesempit-sesakan mengasumsikan dunia luas-lapang? Pada Hegel, di dalam segala sesuatu terkandung negasinya sendiri, atau kontradiksi ada di dalam dirinya. Maka, sementara kita menciptakan dunia tempurung, sesungguhnya kita juga menciptakan dunia yang nir-tapal batas.

Sejujurnya, secara pribadi saya pun memiliki kesinisan tertentu atas puncak-puncak sejarah sastra nasional kita. Tapi saya tak bisa memungkiri, dalam tempurung itulah barangkali seseorang bisa menemukan harta karunnya. Sebagaimana para penulis mutakhir kita berbondong-bondong menengok kembali warisan lama: Serat Dewi Sri, Tambo, atau La Galigo. Atau suatu ketika kita berada dalam posisi sebagaimana pernah dialami Salman Rushdie: merasa malu menyadari dirinya mengenal mahakarya Rabindranath Tagore justru melalui para penulis Amerika Latin!

Maka, izinkanlah kali ini saya bersepakat dengan Dewanto mengenai perlunya suatu ‘pembacaan dekat’ dan sejarah yang lebih personal. Tapi sekali lagi, bagi saya ‘pembacaan dekat’ dan sejarah personal yang alternatif itu mengasumsikan dunia tempurung yang sempit-sesak, dan dari sana kita mencoba membuka dunia seluas-luasnya.

Sejarah personal saya, misalnya, adalah Kho Ping Hoo. Hanya melalui novel-novel Kho Ping Hoo dalam sastra nasional kita, saya bisa menemukan komposisi besar karakter-karakter. Dalam setiap novelnya, kita bisa menemukan belasan atau bahkan puluhan nama, yang ditempatkan sedemikian rupa menyerupai komposisi orkestra. Ada yang dibiarkan menonjol bagai melodi, ada yang muncul sekali-sekali serupa ketukan irama, ada yang membayang sepanjang kisah serupa iringan biola, bahkan ada yang muncul untuk menghilang bagai satu permainan solo. Adakah yang semacam itu dalam puncak-puncak sastra yang telanjur kita kenali? Barangkali kita bisa menemukannya dalam War and Peace, Les Miserables, atau Sam Kok, tapi tidak dalam sejarah sastra nasional kita, kecuali pada Kho Ping Hoo yang terabaikan para penulis sejarah sastra.

Bahkan ketika kita menemukan bahwa plot akhir Kho Ping Hoo selalu membosankan (‘Para pahlawan berakhir di ranjang pengantin mereka,’ sindir Pramoedya), bukankah kita sesungguhnya tengah menemukan alur kisah yang lain? Kita menemukan sesuatu yang tersurat, sekaligus yang tidak. Perlakuan yang sama bisa terjadi pada puncak sastra nasional kita, sebagaimana juga pada Jose Saramago atau Italo Calvino. Saya percaya, dalam sastra yang buruk (kembali pada Hegel), kita menemukan (atau menciptakan?) sastra yang baik.

Masalahnya kemudian, tentu saja seseorang harus menyadari dirinya dalam tempurung untuk menemukan dunia tanpa hingga itu. Dan sebaliknya, tanpa kesadaraan tengah menciptakan tempurung, bahkan meskipun dirinya berada di tengah arus global yang kosmopolit, barangkali ia malah jadi katak kerdil yang diimpit dunia sebiji kacang. Tentu tak akan sulit menemukan para penulis yang dikelilingi pencapaian-pencapaian sastra dunia, namun berakhir sekadar mediokritas penggembira. 

Di titik inilah saya melihat sastra dunia sebagai sebuah kotak matryoshka dengan sederet-setumpuk kotak lainnya. Serupa labirin perpustakaan dalam The Name of the Rose, di sana terdapat banyak ruang, dan di setiap ruang terdapat lemari-lemari, rak-rak, buku-buku, halaman-halaman… dan sementara itu di luar perpustakaan ada kuil, ada…. Dan, yang manakah sastra dunia? Perpustakaan tersebut? Kuil tersebut? Ataukah dapur tempat siapa pun yang lapar datang ke sana?

Apakah sastra dunia adalah semua serat yang telah ditulis dalam bahasa Inggris–sebagai lingua franca dunia? Ataukah itu berarti seratus karya yang paling perlu dibaca? Ataukah sederet nama yang pernah berdiri di podium Akademi Swedia? Atau juga sekadar karya yang telah melintasi batas pembaca nasionalnya sendiri?

Akhirnya, jika sejarah nasional bisa ditutup dan setiap penulis menciptakan sejarah personalnya sendiri, maka bukankah sastra dunia pun bisa dikubur awal-awal? Setiap deretan sejarah sastra dalam benak para penulis dengan sendirinya merupakan sastra dunia, sebab di dunia itulah penulis bersangkutan hidup dan dihidupi. Tapi rupanya yang dimaksudkan sastra dunia tak sesederhana itu. Bagaimana jika dipilih sesuatu yang lebih definitif: sastra dunia adalah setiap sastra yang telah membebaskan diri dari sekadar bacaan publik bahasa nasionalnya sendiri. Tentu saja dengan asumsi, dalam sastra dunia semacam itu, terdapat bungkus-bungkus kotak yang lain, lebih besar-lebih kecil. Maka itu berarti suatu migrasi-migrasi, kecil-besar, melintasi tempurung demi tempurung. Dan ini jelas merupakan persoalan distribusi, dan bukan sekadar hidup dalam tempurung.

Baiklah, cermatilah ilustrasi yang digambarkan novelis Inggris EM Forster (dalam Aspects of the Novel) mengenai sastra nasionalnya: para penulis Inggris cenderung tak terpengaruh oleh sastra kontinental (katakanlah, pusat yang mengabaikan), sembari mengakui tak ada pengarang novel Inggris yang lebih besar dari Tolstoy maupun Dostoevsky. Sekilas gambaran itu membenarkan kekerdilan katak dalam tempurung, sehingga novel-novel Inggris bisa dikatakan sebagai ‘sastra kelas dua’. Paling tidak bagi saya pribadi (bersepakat dengan Forster), sastra berbahasa Inggris terbaik justru lahir dari rahim penulis non-Inggris. Ulysses ditulis oleh seorang Irlandia; Hemingway dan Faulkner berasal dari Amerika; Salman Rushdie dan VS Naipaul merupakan imigran; meski Virginia Wolf bolehlah jadi perkecualian.

Tapi apakah kemudian sastra Inggris yang ‘tak lebih baik dari Tolstoy dan Dostoevsky’ itu tak memiliki pembacaan luas, atau dengan sendirinya tak nongkrong dalam deretan sastra dunia? Majalah Time menurunkan seratus novel Inggris terbaik abad dua puluh, sebagian besar tentu dari Inggris sendiri. Dan jika kita cermati buku-buku sastra klasik yang diterbitkan murah-meriah tersebut, bukankah sebagian besar adalah karya dari Inggris, atau paling tidak berbahasa Inggris? Gambaran tersebut mengindikasikan bahwa mereka yang sesungguhnya ‘tidak membaca dunia’ (dalam asumsi Forster), kenyataannya memenuhsesaki kotak matryoshka kita yang berlabel sastra dunia.

Bahwa pentingnya penguasaan distribusi, saya pikir tak perlu lagi diperdebatkan, sebagaimana untuk menggapai itu semua dibutuhkan jembatan yang kukuh, yakni para penerjemah. Cobalah bertanya, apakah kita memiliki para penafsir sekelas Gregory Rabassa bagi Gabriel Garcia Marquez? Jay Rubin bagi Haruki Murakami? Howard Goldblatt bagi Mo Yan? Dan seberapa besar kepedulian penerbit kita untuk membuka selaput tempurung diri sendiri, sebagaimana Kodansha dan Tutle Publishing bagi Jepang, atau Foreign Language Publishing House bagi negeri-negeri komunis?

Ah, paling banter para penulis kita hanya menunggu seorang asing dikutuk menyukai karyanya untuk kemudian menerjemahkan, dan sebuah lembaga donor berlebih harta mengeluarkan uang untuk menerbitkannya. Itu pun tanpa jaminan segera menjadi warga dunia. Ah, bukankah kita hanya menciptakan ‘fragmen dari sebuah novel’, atau ‘bagian cerita yang lebih luas’, atau ‘cerita yang belum sudah’, sesuatu yang menjadi penyakit para penulis kita belakangan hari ini? Ah, barangkali sebelum menjadi warga dunia kita telanjur jadi almarhum.. (Dan, ah, semoga tidak, tentu saja!).

Tulisan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia, 28 Februari 2003.