Gabriel Garcia Marquez: Kalimat Pertama Merupakan Laboratorium

Banyak orang tentu bertanya-tanya, seperti apa proses kreatif di balik penulisan novel-novel besar semacam “One Hundred Years of Solitude” dan “Love in the Time of Cholera”? Sepanjang yang saya tahu, Gabriel Garcia Marquez sang penulis belum pernah menerbitkan sejenis buku “proses kreatif penulisan”-nya. Pikiran-pikirannya tentang itu lebih banyak berserak di berbagai buku (misal, di memoarnya “Living to Tell the Tale”) atau wawancara-wawancaranya di media. Salah satu yang menarik, adalah wawancara dengan yuniornya, Plinio Apuleyo Mendoza, yang kemudian dibukukan dengan judul “The Fragrance of Guava”.

Saya ingin berbagi pandangan-pandangan Marquez tentang penulisan di buku itu. Tentu saja percakapan di buku ini meliputi berbagai aspek kehidupan Marquez. Ia bicara mengenai asal-usul dan keluarganya, yang tentu saja jauh lebih lengkap jika kita membaca memoarnya; bicara tentang pandangan-pandangan politiknya, tentang perempuan, tentang tahayul, dan tentang ketenaran. Tapi saya ingin mengambil satu aspek yang penting untuk kita: mengenai proses kreatif penulisannya.

Salah satu pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan barangkali juga membuat kita penasaran adalah: apakah ia sering tertekan melihat halaman kosong? Marquez bilang, seperti kebanyakan penulis, ia sering tertekan melihat halaman kosong. Tapi ia mulai berhenti mencemaskan hal itu ketika membaca beberapa nasihat dari Hemingway. Hemingway bilang, kamu seharusnya berhenti menulis ketika kamu tahu apa yang akan ditulis keesokan harinya.

Setiap penulis senantiasa memiliki hal-hal tertentu dimana ia memperoleh gagasan, atau hal dimana ia mengawali gagasan penulisannya. Dalam hal Marquez, ia mengaku titik pijaknya adalah citra visual. Gambar. Ia menulis cerpen (menurutnya yang terbaik) “Tuesday Siesta” karena melihat seorang perempuan dan gadis muda berpakaian hitam membawa payung berjalan melintasi kota yang sepi di bawah matahari terik. Di novel “Leaf Storm”, itu karena ia melihat seorang kakek membawa cucunya ke pemakaman. Di “Nobody Writes to the Colonel”, itu berawal dari melihat seorang lelaki menunggu makan siang di pasar, di Barranquilla.

Dan “One Hundred Years of Solitude”?

“Saya melihat seorang lelaki tua membawa seorang anak untuk melihat es di pertunjukan sirkus.”

Begitulah, bagaimana peristiwa-peristiwa sehari-hari di depan mata, menjadi citra visual yang selanjutnya menjadi pemicu cerpen-cerpen dan novel-novel Marquez.

Dalam kepenulisannya, Marquez mengaku sangat memperhatikan kalimat pertama. Ia bahkan mengaku, seringkali menulis kalimat pertama lebih lama daripada menulis keseluruhan novel. “Sebab,” katanya, “Kalimat pertama bisa menjadi laboratorium untuk mengetes gaya, struktur dan bahkan panjangnya novel.”

Dengan cara seperti itulah, ia salah satu penulis yang memiliki kalimat pembuka novel yang indah. Perhatikan kalimat pertama dari “One Hundred Years of Solitude”: “Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi sederet regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia teringat sore yang jauh itu ketika ayahnya membawa dia untuk melihat es.” Dari satu kalimat itu saja, struktur dan desain novel ini sudah terlihat. Itu novel yang berpusat (bisa dikatakan begitu) pada Kolonel Aureliano Buendia. Tapi ketika nongol kata “ayah”, itu juga menyiratkan ini kisah tentang keluarga. Tentang generasi sebelum dan setelahnya. Ketika disebut “sederet regu tembak”, kita sudah terbawa pada aroma perang. Ketika disebut “menemukan es”, kita diajak bicara tentang magisme, tentang penemuan-penemuan, tentang mimpi-mimpi. Kalimat pembuka yang dahsyat, bukan?

Novel itu ditulis selama sekitar dua tahun. Tapi ia konon memikirkannya sudah selama lima belas atau enam belas tahun, sebelum mulai duduk menghadapi mesin tik. Novelnya yang lain, “Chronicle of a Death Foretold”, menghabiskan waktu tiga belas tahun. Kenapa begitu lama? Novel ini tentang pembunuhan seorang pemuda yang sungguh kejadian di sekitar rumah keluarganya, tahun 1951. Awalnya ia ingin menuliskannya sebagai artikel koran, tapi genre tersebut belum berkembang di Kolombia saat itu. Apalagi ia bekerja di koran lokal yang tak bakalan tertarik urusan seperti itu. Ia mulai memikirkannya sebagai karya sastra beberapa waktu kemudian, tapi ragu membayangkan ibunya akan kesal membaca nama-nama tetangga dan keluarganya ditulis oleh anaknya. Baru beberapa tahun kemudian ia menemukan satu formula, dimana ia memperkenalkan seorang narator yang bebas bergerak ke sana-kemari (bagaikan melakukan reportase), narator yang pada dasarnya tak terlibat dalam cerita. Untuk pertama kali ia memakai narator orang pertama di novel. Saat itulah ia menemukan satu formula yang nyaris dilupakan para penulis: formula terbaik sastra selalu merupakan kejadian sesungguhnya. Dan ia menambahkan: ia tak pernah tertarik dengan gagasan yang tak bisa bertahan lama. Barangkali itulah rahasianya. Novel sebaik “One Hundred Years of Solitude” gagasannya bisa bertahan lima belas tahun sebelum dituliskan; “The Autumn of Patriach” selama tiga belas tahun, sebagaimana “Chronicle of a Death Foretold”.

Apakah ia memiliki buku catatan untuk mencatat gagasan?

“Tidak. Kecuali untuk menulis cepat. Dari pengalaman, jika membuat catatan, kita lebih sering memikirkan tentang catatan itu daripada memikirkan tentang buku yang harus ditulis.”

Sekali lagi, wawancara di buku ini meliputi banyak aspek kehidupan Marquez. Tapi saya hanya mengutip beberapa bagian mengenai proses penulisannya saja. Semoga ulasan ringkas ini berguna, dan selamat menulis.

Rujukan

Gabriel Garcia Marquez & Plino Apuleyo Mendoza, 1988, The Fragrance of Guava, Conversations with Gabriel Garcia Marquez by Plino Apuleyo Mendoza, Faber and Faber Limited, London.

2 comments on “Gabriel Garcia Marquez: Kalimat Pertama Merupakan Laboratorium

  1. donidedoro says:

    Terima kasih tulisannya Mas Eka. Semangat menulisku kembali.

  2. iin says:

    saya baru baca artikel ini…
    saya ingin menulis… tapi masih ragu untuk memulainya…
    kapan ada lagi kelas online menulis cerpen….
    terima kasih sebelumnya

Comments are closed.