Tirai Koyak Novel

“Novel” di hari-hari sekarang ini mungkin merupakan barang remeh-temeh. Orang-orang membacanya di perpustakaan maupun di bangku bis kota. Sebuah karya klasik yang berat seperti Ulysses karya James Joyce maupun buku cerita misteri yang dijual di pinggir jalan seharga Rp. 3000 karya Tara Zagita, siapa pun akan sama menyebutnya: novel.
  
Bahkan di antara para penulis sendiri, istilah itu tampaknya telah diterima sebagai sesuatu yang “seperti itulah”. Kebanyakan penulis barangkali lebih asyik bergulat dengan tema atau bentuk karyanya; sangat jarang penulis yang mempermasalahkan mengenai apa sebenarnya “genre” yang ditulisnya ini. Pembicaraan mengenai “novel” sebagai genre, memang kalah jauh secara kuantitas ketimbang pembicaraan mengenai “puisi”. Di antara yang jarang itu, Milan Kundera merupakan penulis yang berkali-kali bicara mengenai “novel”.

Dalam buku esai terdahulunya, The Art of Novel, ia telah memperbincangkan novel dalam tujuh esai yang termuat di sana. Kini ia datang kembali dengan The Curtain. Sejujurnya, tak banyak yang berubah dari apa yang dipikirkannya. Jika The Art of Novel merupakan kumpulan esai, malah satu di antaranya berupa wawancara; The Curtain merupakan usahanya untuk membuat buku tersebut lebih sistematis (meskipun tetap saja dibagi dalam tujuh bagian).

Hal pertama yang diperbincangkannya adalah “sejarah novel”. Menurut Kundera, sejarah kesenian (di mana di dalamnya juga turut serta “sejarah novel”), berbeda dengan pengertian “sejarah” dalam bidang lain. Katakanlah, jika kita membicarakan mengenai “sejarah Jerman” atau “sejarah ilmu pengetahuan”, di sana sejarah memiliki kandungan makna yang berarti “kemajuan”. Ada proses yang mengarah ke sesuatu yang lebih baru dalam tahapan waktu. Nah, ini tidak berlaku dalam kesenian!

Dengan kata lain, kita bisa mengolah kembali musik Barok, atau drama Shakespeare, tanpa harus dibilang sebagai sebuah “kemunduran”, bukan?

Secara umum menurut Kundera, sejarah kesusastraan berbeda dengan sejarah umumnya yang bersifat progress, tak selalu bersifat perbaikan demi perbaikan. Sejarah kesusastraan, tak hanya berisi para jenius, tapi juga dijejali dengan berbagai ketololan. Sejarah diinsyafi sebagai sebuah pengalaman subyektif, meskipun tetap mencari sandaran ke perihal yang obyektif. Sejarah yang seperti ini, membuat sejarah kesenian (kesusastraan, novel), menjadi sangat manusia.

Baiklah, tentu saja The Curtain tak hanya membicarakan hal itu. Yang lebih penting, tentu saja ia membicarakan mengenai “seni novel” dari salah seorang praktisinya yang paling giat dan terpandang. Kita bisa melihat apa yang dipikirkan Kundera mengenai novel, ia terapkan secara ketat dalam novel-novelnya.

Bagi Kundera, novel tak hanya dipandang melulu sebagai “cerita”. Lebih dari itu, baginya, bersama-sama dengan filsafat, novel merupakan gerak pemikiran. Salah satu komentarnya yang paling dikenal tentu saja ketika ia membandingkan bahwa zaman modern tak hanya dilahirkan oleh filsuf semacam Descartes, tapi juga oleh seorang novelis bernama Cervantes.

Kita lihat, pada awal kelahirannya, novel selalu memuja tragedi; memuja keagungan, asal-usul teatrikalnya, serta cinta-buta kepada kisah-kehidupan. Apa yang dilakukan Cervantes? Ia menciptakan tokoh Alonso Quijada yang menunggang keledai Rozinante untuk mencari pertempuran akbar. Ia mempersiapkan dirinya untuk mengorbankan kehidupan demi kehidupan yang terhormat, tapi apa yang terjadi … tragedi tidak menjadi miliknya. Dalam suasana yang kelam, dalam hidupnya segala sesuatu menjadi komedi!

Sejak itulah, novel tak hanya mengenai perkara cerita. Tirai telah dikoyakkan. Sebagaimana filsafat, ia juga merupakan tempat gagasan-gagasan … Dan seperti juga filsafat, novel akan menjadi sangat bermakna jika kita melihat setiap karya dalam tataran sejarahnya, dalam konteks kelahirannya (oh ya, tentu saja tak ada yang melarang untuk tetap memisahkan itu, hanya menganggapnya sekadar “cerita”). Bayangkanlah, ini menurut Kundera, jika kita mengeluarkannya dari sejarah novel, Ulysses barangkali hanya akan dipandang sebagai ekstravaganza tak bermutu dari seorang gila. Dan Don Quixote barangkali hanya akan dilihat sebagai cerita lucu-lucuan semata.

Sebagaimana filsafat, hanya karena di sana ada gagasan, sebuah novel akan memperoleh tempat dalam “sejarah novel”. Nah …

3 comments on “Tirai Koyak Novel

  1. roslan jomel says:

    Salam.

    Memikirkan nama Milan Kundera sahaja, pembaca umum sudah maklum, kesemua novel-novel tulisannya, tidak pernah berbicara seperti “panci angin”. Benar bicara saudara Eka, sejarah ketinggian tamadun sesuatu bangsa, bukan sahaja jatuh atas nama politikus, panglima perang atau cendikawan-cendiakawan lainnya. Salah seorangnya harus diperkirakan datang dari pemikiran penulis kesusasteraan (yang tentu bukan menulis karya “panci angin”).

Comments are closed.