Jose Saramago dan “Apa yang Terjadi, Jika …”

But loneliness is not living alone, loneliness is the inability to keep someone or something withing us company,” kata Jose Saramago di salah satu novelnya yang barangkali bisa dibilang terbaik, The Year of the Death of Ricardo Reis.

Ironinya, tema kesepian itu dikontraskan dengan kehadiran sosok lain dalam kehidupan Ricardo Reis: penyair terkenal Portugal bernama Fernando Pessoa. Dikisahkan, Ricardo Reis, seorang dokter sekaligus penyair, kembali ke negerinya setelah 16 tahun tinggal di Brazil. Tahunnya: 1936. Ia tiba di Lisbon, tinggal di hotel. Waktu kedatangannya boleh dikatakan berbarengan dengan kematian Fernando Pessoa. Di hotel itulah kemudian ia bertemu hantu penyair tersebut.

Fakta itu mungkin tidak menarik bagi kebanyakan orang yang tidak mengenal siapa Ricardo Reis dan siapa Fernando Pessoa. Fernando Pessoa merupakan tokoh nyata, penyair terkenal dari Portugal. Selain menerbitkan puisi atas namanya, Pessoa juga dikenal sering menerbitkan puisi dengan beberapa nama pena yang berbeda, dengan gaya puisi yang juga berbeda. Salah satu nama penanya yang cukup dikenal adalah: Ricardo Reis.

Di dunia nyata, Fernando Pessoa merupakan sosok penyair dan Ricardo Reis hanyalah nama samaran. Di novel ini, Ricardo Reis menjadi tokoh utama dan Fernando Pessoa hanyalah hantu. Bahkan gagasan ini saja membuat novel ini terasa istimewa.

Itulah Jose Saramago. Kita mengenalnya sebagai novelis dimana novel-novelnya selalu beraroma “apa yang terjadi, jika …” Apa yang terjadi jika nama samaran menjadi tokoh sebenarnya dan pemilik nama samaran justru menjadi hantu, seperti itulah barangkali ringkasan pendek novel The Year of the Death of Ricardo Reis. Tentu saja novel-novelnya jauh melampaui sekadar “apa yang terjadi, jika …”, tapi kita tak mungkin mengabaikan fakta itu sebagai strategi prosanya.

Perhatikan novelnya yang lain. Dalam Blindness, ia seolah bertanya, apa yang terjadi jika muncul wabah kebutaan yang menular ke setiap penduduk kota, bahkan negeri? Dalam The Stone Raft, ia bertanya apa yang terjadi, jika semenanjung Iberia tiba-tiba terpisah dari daratan Eropa dan terapung-apung di lautan? Apa yang terjadi, jika Yesus menulis sendiri Injilnya dalam The Gospel According to Jesus Christ? Apa yang terjadi, jika seseorang menonton video dan tiba-tiba melihat salah satu aktor persis sebagaimana dirinya, kecuali kumis, dalam The Double? Apa yang terjadi, jika malaikat maut ingin beristirahat dari mencabut nyawa manusia dalam Death Interupted?

Dengan gaya seperti itu, novel-novelnya tak hanya kental dengan gaya “realisme magis” yang terkenal itu, tapi sebenarnya lebih mendekati kafkaisme: dunia yang absurd ditampilkan dalam gaya realis yang ironik sekelas Gogol. Kita tahu Kafka memakai strategi yang kurang lebih sama: apa yang terjadi, jika orang tak bersalah tiba-tiba ditangkap dalam The Trial, dan apa yang terjadi, jika seorang pedagang keliling tiba-tiba bangun menjadi sejenis kecoa dalam Metamorphosis.

Strategi “apa yang terjadi, jika …” jelas tidak ditemukan Kafka, apalagi Saramago. Itu strategi kuno yang dipakai para pendongeng, para juru cerita, untuk memikat pembaca di awal, dan mempertahankan pembaca di sepanjang cerita.

2 comments on “Jose Saramago dan “Apa yang Terjadi, Jika …”

  1. Rangkuti says:

    Jose Saramago, belum baca blindness-nya, tapi dari kisah orang buta mendadak di buku prosa 1, saya suka sekali logika menulisnya. Rapat, walau sesekali ada scene “usus buntu,” tapi rasanya ia menambalnya mantap! Dan bagi saya lagi, istilah cerpen yang bolong detail itu, bisa saya kesampingkan saat bolak-balik membaca ceritanya yang satu itu.

    Mungkin saya jadi tertarik membeli buku diatas setelah mas eka ulas sedikit. Terimakasih-banyak la’u!

Comments are closed.