Jangan Ada Ganteng di Antara Kita

Membaca komik Eko Nugroho, pentolan kelompok komikus Daging Tumbuh, berjudul The Konyol (Orakel, 2005), mengingatkan saya kepada sebaris kalimat dalam sebuah grafis mereka: “Jangan Ada Ganteng di Antara Kita.” Kalimat itu aneh, tapi terasa lucunya. Atmosfir seperti itulah yang saya pikir menyelimuti seluruh komik strip dalam buku tersebut.

Sedikit mengingatkan saya juga kepada kartunis Malaysia, Lat, karakter-karakter Eko memperlihatkan gambar dalam satu garis yang nyaris tanpa putus, dengan kecenderungan memanjang-manjangkan hidung dan mulut. Gambaran seperti itu memberi karakter-karakternya sejenis roman kanak-kanak yang sedang mewek, tampang yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.

Sebagaimana kecenderungan komik strip, The Konyol memperlihatkan suatu perjumpaan antara kartun dan komik. Perjumpaan gambar-gambar lucu dalam panel-panel yang membentuk cerita. Hal sama yang juga bisa kita jumpai misalnya dalam komik strip Benny & Mice (setiap hari Minggu di harian Kompas) atau Sepakbola Ria (di tabloid Bola). Eko yang memang mengawali karirnya membuat kartun-kartun lucu untuk koran, mencoba mengambil elemen cerita yang paling dasar: drama tiga babak. Demikianlah bagaimana komik-komik stripnya, sebagian besar muncul dalam bentuk cerita tiga panel.

Perhatikan misalnya satu cerita berjudul “Boikot 1”. Panel pertama memperlihatkan sepasang suami-istri sedang asyik menonton televisi, sementara anak mereka (di luar panel) merengek kepada ayahnya meminta susu. Si ayah melemparkan tugas tersebut kepada si ibu. Panel kedua masih dengan gambar yang sama, tapi kali ini si anak merengek kepada ibunya, dan si ibu melemparkan tugas ke si ayah. Panel ketiga, si anak datang dan merengek kepada kedua orang tuanya, sambil menutup televisi dengan taplak meja.

Eko pun berada di luar kebiasaan komikus seangkatannya yang cenderung suka berkelam-kelam, terutama tradisi komikus yang akhir-akhir ini sering menamakan diri mereka sebagai komikus bawah tanah, sekadar untuk membedakan diri dari komik arus utama yang didominasi superhero gaya Amerika atau manga Jepang. Bandingkan misalnya dengan komik Bram Laksono, satu dari kaum keranjingan lainnya dalam Daging Tumbuh volume 12 (ini salah satu media komik bawah tanah, dicetak fotokopi, merupakan salah satu yang paling konstan penerbitannya). Bram, meski tampil dengan grafis karikatural, menceritakan kisah para anjing yang menjalani siklus kehidupan yang mengibakan: dilahirkan, dibesarkan, digebuk, dijual jadi tongseng anjing. Dengan mengambil latar sepenuhnya malam, komik tersebut menjadi semakin kelam, jikapun muncul kelucuan, itu kelucuan yang getir. Sebaliknya komik Eko cenderung ringan, keseharian, dengan guyonan yang bahkan cenderung slapstick.

Tentu saja slapstick dalam makna yang sesungguhnya: kelucuan yang cenderung mengeksploitasi kekonyolan secara fisik. Contoh terbaik dari gaya slapstick misalnya orang yang jatuh terpeleset menginjak kulit pisang. Atau lihat film-film Warkop zaman dulu, atau Srimulat. Demikian pula The Konyol, tampak demikian ganas mengolok-olok manusia secara fisik, meski tak seluruhnya demikian.

Lihat strip berjudul “Telor Mata”. Seorang lelaki tengah membuat telor mata sapi. Penuh gaya ia melempar-lemparkan telor di penggorengan. Karena terlampau tinggi, telor membentur lampu gantung yang kemudian jatuh menimpa kepalanya. Tanpa tendensi apa pun, hanya lucu-lucuan, konyol-konyolan. Atau lihat strip berjudul “Good Looking”. Dalam dua panel, panel pertama memperlihatkan seorang lelaki yang tampak hebat berenang di kolam. Panel kedua memperlihatkan ternyata lelaki itu ditopang seorang penyelam di bawah air.

Kesan kampungan dari bentuk slapstick memang tak terhindarkan. Tapi bentuk ini, selain sering menjadi komoditas hiburan bagi masyarakat umum, jika bukan jelata, di sisi lain memiliki kesan anti-intelek yang kuat. Ia justru menjadi ejekan terhadap kecenderungan untuk “ganteng”: humor yang harus dipikirkan terlebih dahulu, ironi yang sopan, kata-kata yang melampaui gambar. Bahkan dalam komik Eko, sikap anti-ganteng itu terlihat pula dalam grafisnya yang cenderung kasar dan kotor. Bayangkan pula ketika komik ini masih sering muncul dalam bentuk fotokopi. Maka semboyan “jangan ada ganteng di antara kita” tampaknya semakin berlaku.

Demikianlah komik Eko adalah peristiwa sehari-hari, atau dalam kata-katanya sendiri, komik “hampir seperti” diary. Tak ada jagoan yang tak mati-mati, tak ada kucing yang menyebalkan (Garfield), tak ada jelata yang sok bijak (Panji Koming, misalnya). Jika komik bawah tanah cenderung menjadi antitesa terhadap komik arus utama yang cenderung sekadar menghibur, sekadar ganteng, sekadar dramatis, dengan menawarkan cara pandang lain terhadap dunia dengan kisah-kisah yang lebih kelam, tidak ideal, maka The Konyol sekali pukul mencoba mengatasi keduanya. Atau ia berada di kubu keduanya tanpa harus kehilangan jejaknya sendiri.

Melalui peristiwa-peristiwa keseharian, yang bahkan cenderung biografis dimana Eko sering memunculkan karakter istri dan anaknya, ia menampilkan dunia yang lebih “real”, yang tidak ideal sebab di sana tak ada pahlawan yang memberantas ketidakadilan atau sosok superbijak yang penuh kritik dan tanpa cela. Tapi juga tak kemudian menjadi kelam, bahkan cenderung riang, dengan humor-humor yang sebab begitu sederhananya, sering di luar dugaan. Tengok misalnya cerita “Preman Kampung”. Di depan seorang lelaki dengan pipa cangklong, seorang preman mempertunjukkan kemahiran membentuk lingkaran-lingkaran asap rokok. Si lelaki membalasnya dengan, bukannya mengeluarkan lingkaran-lingkaran asap pula, tapi malahan kobra dari pipanya! Sesungguhnya tidak lucu dan cenderung mengada-ada, tapi itulah konyolnya. Eko tak hanya membuat komik, tapi juga sekaligus mengejek cara berpikir kita terhadap apa itu kelucuan.

Komik, sebagaimana lama telah menjadi perhatian orang, mengajari kita cara lain bercerita. Para novelis dan bahkan generasi baru pembuat film, berutang budi kepada komikus yang telah mengajari kita bahwa garis-garis sederhana telah cukup untuk memperlihatkan karakter tertentu, yang berbeda dengan karakter-karakter lain; bahwa suatu penjelasan/gambar latar yang terbatas mampu menjelaskan latar yang lebih luas; bahwa deskripsi juga memiliki narasinya sendiri. Kini melalui The Konyol, Eko juga menunjukkan kekuatan lain komik: bahwa hanya dalam tiga panel terbatas, kadang-kadang ditunjukan dalam dua panel, dan sesekali bahkan satu panel, komik mampu bercerita lebih banyak dari itu; dan bahwa sesuatu yang besar tak selalu datang dari gagasan yang muluk-muluk.