Impian Pangandaran

Sebagai seorang warga kota Pangandaran (sejak kuliah, saya telah bepergian dan tinggal di beberapa tempat, tapi tetap mempertahankan kartu penduduk saya di Pangandaran), kabar terbentuknya Kabupaten Pangandaran tentu disambut dengan sukacita. Tepatnya, 25 Oktober 2012, DPR mengesahkan Undang Undang Daerah Otonom Baru Kabupaten Pangandaran. Itu sekaligus menjadi hari lahir Kabupaten Pangandaran.

Tentu tak kurang yang pesimis dan bertanya, setelah berdiri Kabupaten Pangandaran, memangnya akan ada perubahan? Buat saya pribadi, sebagai warga kota yang biasa saja, satu hal sudah pasti: kesempatan ada di tangan masyarakat Pangandaran sendiri. Selama ini, di bawah pemerintahan Kabupaten Ciamis, ada sejenis perasaan tak berdaya. Yang paling terlihat, tengoklah infrastruktur jalan. Sebagai tujuan wisata, untuk mencapai Pangandaran, kita harus melewati jalan sempit yang tak pernah baik. Kita bisa mengerti, dengan wilayah yang sangat luas, tak mungkin Ciamis mengurusi Pangandaran dan sekitarnya saja. Kini, nasib berada di tangan pemerintahan sendiri. Baik atau buruk, penduduk Pangandaran dan sekitarnya bisa menentukan pembangunan daerahnya sendiri.

Saya tinggal di Pangandaran sejak 1984, ketika kelas 4 SD. Saya selalu dan akan selalu merasa sebagai warga kota itu, sejak saat tersebut. KTP, paspor, SIM saya semuanya beralamat di Pangandaran. Saya mencintai kota itu, dan tak pernah ingin melepaskan diri dari ikatan dengan kota tersebut. Ibu dan adik-adik saya masih tinggal di sana, sehingga sudah pasti di mana pun saya berada, saya akan selalu pulang ke sana. Diam-diam saya juga membuka toko suvenir kecil tak jauh dari pantai, dengan harapan itu memberi saya ikatan lebih terhadap kota ini. Di luar itu, tentu saya punya impian-impian tentang Pangandaran. Awalnya mungkin sekadar impian-impian kecil, lama-kelamaan mungkin menjadi impian-impian gila. Tapi apa masalahnya. Pertama, mimpi merupakan hal gratis di dunia. Kedua, mimpi seliar apa pun, seperti saya bilang di atas, nasib Pangandaran kini ditentukan oleh warga dan pemerintahnya sendiri.

Impian pertama saya, saya yakin ini juga harapan seluruh masyarakat Pangandaran, adalah infrastruktur jalan. Sebagai daerah tujuan wisata, jalan akses menuju Pangandaran bisa dikatakan sangat buruk. Pintu masuk Kabupaten Pangandaran dari arah utara akan dimulai dari Kota Padaherang. Ironisnya, selama ini kita melihat jalan dari Ciamis-Banjar-Banjarsari selalu merupakan jalan yang terawat dengan baik. begitu masuk ke Padaherang (dan seterusnya), jalanan menjadi buruk tak terawat. Ini semakin meyakinkan penduduk di sepanjang pantai, pemerintah Ciamis memang tak memedulikan wilayah Pangandaran. Mudah-mudahan hal ini menjadi prioritas pertama pembangunan pemerintahan baru.

Harus diingat, jalan akses ke Pangandaran yang cuma satu itu juga menjadi masalah. Di puncak-puncak keramaian (terutama Tahun Baru), sering mengakibatkan macet yang memanjang karena efek lubang botol. Jalan alternatif ke arah barat bisa diperbaiki dan diperkenalkan, sehingga pelancong tak melulu melalui pintu masuk lewat Padaherang, tapi juga bisa melalui Tasikmalaya selatan. Tentu saja jalur alternatif ketiga (dan keempat), sangat layak pula untuk dipikirkan dan dibuat.

Masalah transportasi ke dan dari Pangandaran merupakan masalah lain. Sebagai warga setempat, saya tahu pasti mahalnya angkutan umum di Pangandaran, terutama untuk jarak pendek. Pangandaran-Tasikmalaya yang hanya 100an km, tarifnya bisa setengah Pangandaran-Jakarta yang hampir 400 km. Saya tak tahu apakah ide membuka kembali jalur kereta api masuk akal atau tidak. PT KA harus menghitung kelayakannya tentu. Tapi dengan menggabungkan kereta api biasa dengan kereta api wisata, barangkali menjadi daya tarik wisata tersendiri. Transportasi umum yang baik ke daerah ini, tentu dengan sendirinya akan mengurangi kecenderungan pelancong membawa kendaraan sendiri, yang akibatnya sering menciptakan kemacetan luar-biasa di dalam kota.

Beberapa tahun lalu, Bandara Nusawiru dibuka. Ada kritik bahwa bandara ini terlalu jauh dari Pangandaran. Saya tak melihatnya seperti itu. Sebagian besar bandara selalu jauh dari pusat keramaian. Yang diperlukan tentu saja, transportasi dari dan ke bandara. Itu yang harus dipikirkan. Hal lain, tentu saja jadwal penerbangan yang lebih teratur. Sejauh ini, Susi Air merupakan satu-satunya pengguna bandara. Tentu karena maskapai ini didirikan di Pangandaran. Saya belum pernah memakai Susi Air. Tapi pembukaan rute Pangandaran-Jakarta, Pangandaran-Bandung, Pangandaran-Yogyakarta, Pangandaran-Bali, dengan jadwal yang teratur pasti menyenangkan.

Ada hal lain yang saya pikirkan? Tentu. Selama ini, tujuan para pelancong ke Pangandaran sebagian besar tentu ke pantai. Terutama ke Pantai Pangandaran, lebih spesifik lagi, ke Pantai Barat Pangandaran. Itu membuat pelancong terpusat di tempat tersebut. Di satu sisi, itu menciptakan kepadatan yang tinggi, membuat pelancong justru tak bisa menikmati wisata mereka dengan leluasa. Di sisi lain, secara ekonomi, perputaran bisnis juga berpusat di tempat tersebut. Tentu ada upaya memecah pemusatan semacam ini. Kita tahu, Pangandaran menawarkan banyak pantai. Ada Karang Nini, sebelum masuk ke Pangandaran. Selepas Pangandaran, juga ada Pantai Batu Hiu. Juga ada Green Canyon. Selepas itu, kita juga ditunggu oleh Pantai Batu Karas, yang pamornya mulai naik di antara para surfer.

Yang saya harapkan, tempat-tempat alternatif itu semakin dikembangkan, sehingga pelancong tak melulu pergi ke Pantai Barat Pangandaran. Bahkan jika memungkinkan, menjadi tujuan para pelancong yang utama. Di luar itu, tentu saya berharap Pangandaran tak hanya mengandalkan pariwisata laut (meskipun ini tetap penting). Saya bayangkan, jika Kabupaten Pangandaran meliputi sepuluh wilayah kecamatan, setiap wilayah memiliki tujuan wisata andalan masing-masing. Ke tiap-tiap wilayah, dibuka akses jalan dan pemasaran yang baik. Ini tak hanya memberikan lebih banyak alternatif untuk para pelancong, tapi juga menciptakan pemerataan ekonomi dan kesempatan berusaha. Juga menghindari migrasi penduduk yang tak sehat dari daerah pertanian ke wilayah pantai.

Masih banyak yang saya impikan dan harapkan mengenai Pangandaran yang baru ini. Kapan-kapan saya akan menuliskannya lagi. Sekarang biarlah kota kecil ini berbenah dulu. Saya sendiri akan kembali ke perkerjaan saya sebagai penulis, meski sesekali akan menengok toko suvenir kecil saya di salah satu sudut kota.