Huckleberry Finn Disensor

Karya klasik Mark Twain “Adventures of Huckleberry Finn” diterbitkan kembali dalam edisi disensor. Apa yang disensor? Tak lain adalah kata “Nigger” (diganti jadi “slave”). Memang di Amerika kata itu jadi sejenis tabu, menilik sejarah rasialis mereka. Tapi sensor dan vandalisme ini bagi saya sangat memalukan. Eh, pelajaran pentingnya: Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat. Buktinya? Ya ini! Huckleberry Finn aja kena sensor. Lebih lengkap soal ini, sila baca di sini.

3 comments on “Huckleberry Finn Disensor

  1. sumire says:

    Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat.
    Masalahnya bukan “kebebasan berpendapat”, tapi “politically incorrectness”. Bahkan di Pippi Longstocking-nya Astrid Lindgren istilah “negro” dan “gipsy” dihapus. Baca:
    http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b…. Maaf, dalam Bahasa Jerman. Tapi ringkasannya “Tidak ada istilah raja orang negro lagi dalam buku Pippi Longstocking. Penerbit menghapus istilah-istilah rasis yang digunakan dalam buku cerita anak-anak itu.” Jaman berganti, pemikiran berubah (menjadi maju/luas). Kita tidak mau menggunakan istilah-istilah rasis, toh? Sama seperti istilah “pribumi” di Indonesia yang sekarang sudah dianggap “politically incorrect”. Kebebasan pendapat boleh saja, tapi jangan menyakiti hati orang lain.

  2. Tias Tatanka says:

    menurutku, biarkanlah apa adanya, hanya di footnote diberi keterangan soal ini. Pembaca yang pinter akan nyari referensi lain untuk lebih tahu.

Comments are closed.