Hidup untuk Berkisah

Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:

“Aku ibumu.”


Itulah bagian pembuka buku teranyar Gabriel Garcia Marquez, terbit dalam edisi Inggris sebagai Living to Tell the Tale yang diterjemahkan oleh penerjemah utamanya Edith Grossman (selain Gregory Rabassa yang menerjemahkan Cien anos de soledad sebagai One Hundred Years of Solitude) dari edisi Spanyol Vivir para contarla, November 2003 sepanjang hampir 500 halaman. Sejak tahun 1999, Gabito, demikian ia biasa disapa, menderita kanker limpa dan menarik diri dari kehidupan publik selepas membeli sebuah perusahaan surat kabar di negaranya, Kolombia, serta aktif dalam menjembatani negosiasi di antara pemerintah dan kaum gerilyawan yang mencarut-marut negeri tersebut dalam perang saudara berkepanjangan. Bersama isterinya, ia menyepi di Mexico City, tempat ia banyak tinggal, dan memutuskan untuk menulis memoar dalam bentuk trilogi. Living to Tell the Tale merupakan yang pertama, dan barangkali merupakan yang paling dinanti dunia sastra, berbagi bersama buku anyar peraih Nobel lainnya yang terbit hampir bersamaan, semacam Love karya Toni Morrison.

Gabriel Jose Garcia Marquez lahir di kota kecil Aracataca, Kolombia, 6 Maret 1928, meski ayahnya cukup yakin sebenarnya tahun 1927. Orang tuanya masihlah miskin, hingga ia mesti dikirim ke rumah kakeknya untuk tinggal di sana, di masa-masa ketika boom pisang melanda kota tersebut (dan kelak akan banyak mewarnai novel-novelnya), berhias pemogokan yang berakhir dengan pembunuhan ratusan orang secara brutal. Orang-orang mati ini hidup sebagai hantu, dan Gabito kecil tumbuh bersama mereka. Ia meninggalkan rumah kakeknya pada umur delapan tahun, untuk tinggal kembali bersama orang tuanya.

Rumah itulah, yang membuat ibunya datang mencarinya pada suatu hari di kala ia berumur dua puluh tiga. Sang ibu datang untuk menjual rumah tersebut dan minta ditemani. Hidup mereka sedang susah, dan membutuhkan uang dengan segera, dan sebagaimana dikisahkannya, perjalanan kembali ke Aracataca tersebut merupakan titik balik yang sangat penting bagi penulis yang memperoleh Nobel untuk Kesuastraan tahun 1982, jika bukan momen penting bagi dunia sastra.

Ia terseret dalam nostalgia yang sulit menghadapi kota yang lama ditinggalkannya, dengan rumah-rumah murung serasa tak berpenghuni, kota sepenuhnya tampak mati selepas perkebunan pisang hengkang, kemiskinan yang menggelayut, udara panas yang menyiksa dan sekonyong ia terkungkung pada kenangan akan Yoknapatawpha County. Itu merupakan kota fiksional tempat banyak peristiwa dalam novel-novel William Faulkner, penulis besar Amerika, yang pengaruhnya berbekas dalam banyak karya Marquez. Mereka melintasi perkebunan pisang yang masih tersisa dengan gerbang masih tertuliskan namanya: Macondo. Dan sebuah legenda baru, serupa Yoknapatawpha bagi Faulkner, pun berawal. Marquez dan Macondo.

Karirnya sebagai penulis berawal dari sebuah buku yang diterjemahkan oleh raksasa sastra Amerika Latin lainnya, Jorge Luis Borges. Buku tersebut adalah Metamorfosa karya Franz Kafka. Dongeng tentang Gregor Samsa yang terbangun di suatu pagi dan menemukan dirinya telah berubah jadi seekor kecoa besar, sungguh mengguncangkannya, dan memberinya kesadaran ternyata sastra tak mesti harus berupa narasi lurus sebagai plot. Barangkali ia serupa anak-anak sekolah yang terteror melihat buku-buku sastra yang cenderung kaku dan bikin pening. Kafka telah membebaskannya dari pandangan buruk serupa itu. “Kurenung-renungkan aku tak tahu kalau orang boleh menulis serupa itu. Jika aku tahu, aku mestinya sudah mulai menulis sejak lama,” katanya. Ia melihat “suara” Kafka mirip dengan cara neneknya mendongeng. “Nenekku selalu mendongengkan hal-hal paling liar dengan nada yang sungguh alami.”

Ia mulai bosan masuk ruang kuliah. Kehidupan yang serba kekurangan mengharuskannya makan di kedai murah, rokok dengan tembakau jelek, dan berkumpul dengan teman paling umum: kaum sosialis, seniman lapar, dan wartawan. Kuliah hukumnya ditinggalkan pada semester enam dan menghabiskan waktu dengan bacaan sastra keemasan Spanyol. Ia mencari dan meminjam buku apa pun untuk mempelajari teknik menulis novel, dan dengan segera menerbitkan enam cerita pendek di suplemen surat kabar, yang memperoleh sambutan penuh antusias dari teman-teman dan sedikit kritikus. Ia menulis komentar-komentar harian untuk El Heraldo, dan membiayai hidupnya dengan honor tulisan tersebut. Beginilah yang dilihat ibunya ketika menjumpai anak tersebut: jambang tak tercukur, rambut gondrong, bercelana jeans, kemeja bunga-bunga, dan sepasang sandal peziarah. Ia bahkan tak punya uang untuk perjalanan ke Aracataca bersama ibunya, dan harus pinjam sana-sini.

Kunjungan itu mendorongnya untuk mulai merancang sebuah novel, yang diberinya judul La casa, atau “Rumah”, di mana ia berharap bisa mengisahkan kota murung tersebut, dengan hantu-hantu gerilyawan dari masa Perang Seribu Hari, veteran yang suntuk, perusahaan pisang, pendeta. Novel itu malahan selesai dan diberinya judul Leaf Storm dengan plot yang diadaptasi dari Antigone (sebagaimana pengakuannya, ia juga sangat terpengaruh Sophocles) dan mengeksplorasi perkebunan pisang di Aracataca serta mulai mempergunakan nama Macondo di sana (dalam bahasa Bantu berarti “pisang”). Malangnya, novel tersebut ditolak tahun 1952, dan saat ia sedang terlunta-lunta di Eropa, beberapa teman mengirimnya ke penerbit. Kali ini muncul dari mesin cetak.

Bagaimanapun, novel itu sangat tidak memuaskannya. “Tidak sebagaimana kubayangkan Macondo ditulis,”; begitu katanya. Selama di Eropa, ia belajar dari novel-novel Hemingway, dan mencoba pendekatan baru melalui No One Write to the Colonel, yang berkisah tentang seorang anak buah Kolonel Aureliano Buendia menunggu selama ratusan hari gajinya yang konon bakal dibayarkan pemerintah selepas gencatan senjata. Masih ada Macondo, dan tentu saja ia mulai mengeksplorasi karakter-karakter baru, disusul novel lain In Evil Hour. Usaha-usaha itu tampaknya masih juga belum menemukan bentuk yang diinginkannya. Bahkan tidak pula Big Mama’s Funeral, serta puluhan cerita pendek yang terus dihasilkannya.

Kelak para pembacanya tahu novel-novel dan cerita-cerita pendek tersebut, perlahan namun pasti, tengah menggiringnya ke novel paling akbar. Karya yang disebut-sebut Pablo Neruda sebagai “Don Quixote-nya Amerika Latin”. Itu adalah One Hundred Years of Solitude, yang ditulis berbulan-bulan nyaris menelantarkan isteri dan uang belanja mereka. Di novel itulah segalanya tumpah, dan kita serasa melihat suatu campur-aduk yang mencengangkan, seolah deretan tradisi sastra diramu di sana, dan kemudian menjadi miliknya.

Jika pepatah lama mengatakan bahwa seorang penulis besar sesungguhnya seorang pencuri kurang ajar, barangkali itu pun tepat bagi Marquez. Orang-orang jeli bisa melihat jejak-jejak Faulkner, Kafka, Hemingway, Joyce, dan tentu saja Cervantes, nabi bagi para penulis berbahasa Spanyol. Sosok Kolonel Aureliano Buendia yang suwung dengan ikan-ikan kecil terbuat dari emas dan peristiwa-peristiwa gila di sekitarnya dengan mudah mengingatkan kita pada Don Quixote dengan keledai dungu serta kincir angin musuhnya. Sikap dinginnya dalam mengisahkan hal-hal fantastik tentu saja datang dari Kafka, seolah semua peristiwa tersebut memang terjadi demikian adanya. Dan tentang Faulkner serta Hemingway, ia bahkan merasa perlu menulis esai pendek yang bisa jadi paling cemerlang mengenai seni keterampilan menulis berjudul “Gabriel Garcia Marquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”.

Bandingkanlah, sebagai misal, As I Lay Dying dari Faulkner yang berkisah tentang kematian Addie Bundren lewat penceritaan anak-anak dan suaminya (masing-masing mempergunakan “aku”; dalam bab-bab yang berbeda), dengan Leaf Storm yang mengisahkan kematian seorang dokter dari sudut pandang sebuah keluarga kakek-ibu-anak (masing-masing juga pakai “aku”; di setiap bagian berbeda). Tapi yang dicuri Marquez bukanlah dunia Faulkner, melainkan caranya bercerita dan memandang sekitar, untuk menceritakan dunia sendiri, apa yang kemudian dikenal sebagai dunia Marquez. Di masa-masa awal karirnya, sastrawan Sherwood Anderson menasihati Faulkner untuk kembali ke Mississipi dan menulis tentang orang-orang yang dikenalnya. Itulah yang dilakukan Faulkner, menulis tentang Selatan, dengan para veteran yang kalah dalam perang saudara, koboi-koboi, bangsawan-bangsawan yang kehilangan budak serta menatap kosong pada perkebunan-perkebunan kapas yang bangkrut, dan tentu saja kaum Negro. Itu pulalah yang dilakukan Marquez dengan dunianya sendiri: perang saudara yang nyaris tanpa akhir di Amerika Latin, para diktator yang membantai musuh-musuhnya, pengungsi, pemogokan buruh, hantu-hantu, para misionaris, dan kaum Indian, yang sebagian besar bermain di sebuah panggung bernama Macondo.

“Faulkner tampaknya tak punya sistem menulis yang organis, malahan serasa melangkah membabi-buta menyeruak alam biblikalnya, seperti kawanan kambing dilepaskan ke sebuah toko penuh kristal,” tukasnya dalam esai tersebut, hal yang menurutnya berseberangan dengan Hemingway. Dan beginilah hasilnya dalam Marquez: plot yang tumpang tindih serupa Faulkner, dikemas dalam bahasa jernih para jurnalis sebagaimana Hemingway. Plot ini bahkan menjadi tipikal dalam banyak novel Marquez, sebagaimana disebut Salman Rushdie dalam kumpulan esai Imaginary Homelands. Dalam One Hundred Years of Solitude, novel dibuka adegan Kolonel Aureliano Buendia menghadapi sederet regu tembak, kemudian mundur pada masa melihat sirkus kaum gipsi, mundur lagi ke penemuan desa Macondo, sebelum maju, kemudian mundur, dan terus berbelit serupa itu. Lihat pula dalam Chronicle of a Death Foretold, dengan pembukaan di hari ketika dua pemuda kembar membunuh pemuda Arab Santiago Nasar, dan plot berleret mundur sebelum maju dan mundur dan maju lagi.

Darimana pun ia memperoleh seni menulisnya, apa yang membuatnya besar, saya pikir, adalah karena Marquez mengisahkan dunianya sendiri, Amerika Latin yang dikemas dalam legenda sebuah desa bernama Macondo. Seperti Toni Morrison yang bersikukuh mengisahkan semesta orang-orang Negro dan Faulkner dengan dunia Selatannya. Inilah sesuatu yang sering luput dari kekaguman kita akan Marquez, yang barangkali lebih terpesona oleh “bahasa imajinatif”-nya (yang konon datang dari bahasa Spanyol yang kaya dibandingkan bahasa sendiri yang masihlah miskin dan sederhana), plus pesona realisme magisnya. Alih-alih membiarkan diri sendiri diterangkan oleh orang lain yang belum tentu tanpa pamrih (sebagaimana dicurigai Edward Said), mengapa kita tidak mencoba bicara tentang diri sendiri, melalui kata-kata sendiri, tanpa perlu meminjam tangan orang lain. Sebagaimana Marquez melakukannya untuk Amerika Latin, atau juga Milan Kundera berbuat untuk Ceko, dan belakangan penulis serupa Mo Yan melakukannya juga untuk Cina.

Dan kini, setelah bertahun-tahun menceritakan dunia baru, yang konon dengan salah kaprah disebut telah ditemukan oleh orang-orang Eropa padahal kaum Indian menempatinya selama berabad-abad, ijinkanlah penulis agung ini, Gabito, menulis dirinya sendiri. Tentang rasa laparnya, tentang perkenalannya dengan sastra, juga dengan gadis dua belas tahun yang kelak menjadi isteri setianya, Mercedes. Sungguh-sungguh tentang dirinya sendiri, meski tetap diceritakan sebagaimana ia menulis dalam banyak novel-novelnya, campur aduk antara kenyataan dan imajinasi (sebab baginya imajinasi juga membentuk kenyataan). Sebab ia lahir memang untuk berkisah.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia, 30 Januari 2003.