Hantu dan Strategi Literer untuk Sang Liyan

Dalam novel Woman in Black (karya Susan Hill), jelas sosok si perempuan berpakaian serba hitam merupakan sosok hantu yang menakutkan. Tak hanya sosok itu yang dihindari oleh penduduk desa, tapi bahkan rumah besar tempat sosok itu berkeliaran juga dijauhi.

Di novel genre horor lainnya, katakanlah yang lebih klasik dan populer, Dracula karya Bram Stoker, sosok si vampir kurang lebih sama: menakutkan dan dihindari. Tak hanya itu, cerita kedua novel juga mengasumsikan bahwa kedua hantu itu harus dikalahkan. Dibinasakan.

Monster di Frankestein lebih jauh lagi. Ia tak hanya menjadi sosok seram dan buruk rupa, tapi bahkan diburu. Setelah diciptakan, setelah keberadaannya tak lagi dianggap sesuai dengan dunia di sekitarnya, ia tak lagi dikehendaki oleh penciptanya.

Ada tiga kesamaan dalam ketiga sosok “hantu” tersebut. Baik si perempuan berbaju hitam (yang merupakan roh gentayangan), vampir, maupun si monster (sosok gabungan beberapa potongan mayat yang dihidupkan kembali), bisa dibaca secara metaforik sebagai “sang liyan”. Sesuatu yang dianggap berbeda dari manusia. Jika manusia dianggap kenormalan, sosok-sosok hantu ini dianggap sebagai “di luar normal”.

Hantu sebagai sang liyan dilihat sebagai ancaman, diposisikan sebagai si jahat, si buruk, dan pada akhirnya tak hanya harus dihindari, tapi juga jika mungkin dihilangkan. Di dunia yang “normal” dan dihuni manusia, tak ada tempat untuk hantu.

Metafora ini bisa dipakai untuk melihat problem dalam kehidupan nyata. Segala yang dianggap sebagai “sang liyan” diperlakukan persis seperti hantu di dalam novel-novel horor semacam itu. Dengan mudah kita bisa menemukan sekelompok orang diusir dari kampungnya karena agama yang berbeda. Atau masih satu agama, tapi pemahaman dan tafsir atas ajaran agama tersebut yang berbeda.

Diskusi dengan isu komunisme atau ideologi kiri dibubarkan (seperti terjadi pada Festival Belok Kiri belum lama ini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta), karena komunisme adalah hantu bagi ideologi lain. Ideologi komunis merupakan si jahat dan si buruk. Mengancam dan berbahaya.
Kecenderungan seksual LGBT dianggap di luar normal, sementara hetero dianggap normal. Yang di luar normal merupakan hantu: harus dilenyapkan dengan cara dibuat hetero.

Tentu masih banyak kasus lain, termasuk diskriminasi karena ras, suku, bahkan gender. Kisah hantu di novel-novel horor, yang menakutkan, mengancam dan harus dibasmi, merupakan metafor yang jitu mengenai dunia yang intoleran. Mengenai watak yang melihat dunia dengan cara dikotomis: sebagai kita dan di luar kita.

Dalam hal ini, ada satu perkembangan menarik yang muncul dalam kisah hantu-hantu ini dalam khasanan novel kontemporer, di mana kita barangkali bisa belajar banyak untuk menghadapi wabah intoleransi ini.

Di novel populer seperti Twilight karya Stephanie Meyer, vampir (dan manusia serigala) hadir dengan cara yang sangat berbeda dengan kisah vampir di Dracula atau dongeng-dongeng masa lalu perilah manusia serigala. Di novel ini, vampir hadir berdampingan, beririsan, dengan manusia. Mereka memiliki masalah sendiri di lingkungan mereka (demikian pula manusia).

Lebih jauh, konflik utama tak lagi tentang manusia menghadapi vampir yang jahat, tapi tentang manusia yang jatuh cinta kepada vampir (dan sebaliknya), dibumbui oleh kisah cemburu, persaingan, dan dendam. Tiba-tiba vampir tak lagi muncul sebagai “yang liyan”, melainkan sesederhana makhluk yang berbagi tempat di dunia yang sama, bahkan sekolah di tempat yang sama. Masalah si manusia dan vampir, menjadi tak jauh berbeda dengan masalah Romeo dan Juliet yang sekadar dibedakan oleh klan.

Tengok pula novel Let the Right One In karya John Ajvide Lindqvist. Di novel ini, seperti umumnya vampir, si bocah vampir tentu minum darah dan takut cahaya matahari. Tapi di luar itu, hadir secara alamiah sebagai tetangga (yang bertukar pesan morse melalui dinding dengan anak kecil di rumah sebelah), dan pada saat yang sama menjadi korban pedofil orang yang memeliharanya.

Hal yang sama juga terjadi di novel berikutnya dari penulis yang sama, Handling the Undead, tentang kota di mana mayat-mayat hidup kembali. Bukannya menciptakan teror khas film-film zombie, yang ada adalah drama: perempuan tua yang baru saja ditinggal mati suaminya menyambut si suami. Kakek yang kehilangan cucu bahkan nekat menggali kuburan si cucu.

Hantu yang pada awalnya direpresentasikan sebagai “yang liyan” yang mengancam dan harus dimusnahkan, perlahan memperoleh tempat sebagai sesama penghuni ruang, sesederhana oleh satu strategi literer yang menempatkan mereka (manusia dan hantu) tidak dalam konflik berhadapan, biner, antara kita dan bukan kita (siapa pun itu “kita” dan “bukan kita”). “Hantu”, dengan strategi literer ini, ada sebagai bagian dari kita, sekaligus hidup dengan konflik-konflik alamiah yang juga bisa terjadi pada manusia umumnya (jatuh cinta, cemburu, dendam).

Jika umat manusia melalui fantasi bisa menerima keberadaan hantu tanpa rasa takut, tanpa merasa sebagai sosok yang berbeda, saya yakin hal sama bisa terjadi di kehidupan nyata. Kita bisa belajar menerima dalam hidup segala yang berbeda: ras, agama, ideologi, orientasi seksual, sehingga tak ada lagi “sang liyan”. Sebab kita bisa melihat yang liyan dalam diri kita, dan melihat diri kita di diri yang liyan. Pada akhirnya kita hanya sesederhana berbagi ruang yang sama di dunia ini.

Perang melawan intoleransi jelas bukan pekerjaan gampang. Itu pekerjaan lama yang membutuhkan tak hanya keberanian, tapi juga ketabahan, dan sejenis strategi literer jelas dibutuhkan. Perkembangan kecenderungan novel horor beserta hantu-hantu mereka setidaknya bisa mengajari kita satu hal yang bisa dilakukan.

Esai ini diterbitkan di Jawa Pos, 13 Maret 2016.