Guns N’ Roses, Jakarta 2012

Dengan segala reputasinya, saya boleh merasa cemas niat untuk menonton konser Guns N’ Roses bisa tidak kesampaian. Terutama ketika hari Sabtu siang, 15 Desember 2012, yang merupakan jadwal konser mereka di Senayan, terdengar kabar bahwa konser ini ditunda. Dipindah keesokan harinya di Ancol, pada pukul 1 siang. Saya membayangkan Axl ngambek, dan konser akhirnya total batal.

Saya mengenal musik mereka di tahun 1990. Saya berumur 15 tahun, anak remaja di sebuah kota kecil. Mereka sudah merilis dua album, dan menjelang rilis album kembar. Rekaman pertama yang saya punya dan mengikutkan lagu mereka adalah soundtrack film “Days of Thunders”. Yang main Tom Cruise, dan di album itu ada lagu cover Bob Dylan, “Knockin’ on Heaven’s Door”. Untuk membeli album pertama mereka, “Appetite for Destruction”, saya tak hanya harus menabung, tapi juga harus bolos sekolah pergi ke Tasikmalaya (saya tinggal di Pangandaran).

Ketika tahun berikutnya mereka merilis album kembar “Use Your Illusions I & II”, saya sangat bersyukur bahwa album itu dijual terpisah. Uang jajan saya tak seberapa, jadi saya bisa membeli satu per satu. Seperti yang lain-lain, saya membeli “Use Your Illusion II” dulu, karena di album itu ada lagu-lagu “Civil War”, “You Could be Mine”, “Knockin’ on Heaven’s Door”, dan versi lirik alternatif “Don’t Cry”. Saya harus nunggu punya uang jajan di bulan berikutnya untuk mendengarkan “November Rain” di album “Use Your Illusions I”. Saya membeli album “GN’R Lies” justru setelah itu.

Jadi, boleh dibilang saya menunggu 22 tahun untuk bisa menonton konser mereka. Dan untuk siapa pun yang mengenal dan mengikuti Guns N’ Roses, bukan keajaiban jika mereka membatalkan konser secara mendadak. Untunglah, keesokan harinya di Ancol, konser mereka akhirnya berlangsung.

Baiklah. Memang tak ada Izzy Stradlin’, Slash, Duff McKagan dan Steve Adler (hey, siapa yang peduli dengan drummer ini?). Jika harus memilih, memang lebih asyik jika bisa menonton Guns N’ Roses formasi “Appetite for Destruction”. Atau paling tidak, formasi “Use Your Illusions” (tanpa Steve Adler, tapi ada Matt Sorum dan Dizzy Reed). Tapi saya tak mau larut dalam nostalgia yang tak perlu. Memikirkan Slash berada kembali di formasi akhir Guns N’ Roses, buat saya seperti putus sama pacar dan terus memikirkannya selama bertahun-tahun. Kata anak gaul, nggak move-on.

Buat saya, Guns N’ Roses tetaplah sebuah grup band: personil datang dan pergi. Jika ada yang harus bertahan, tentu pendirinya. Dan kalau membicarakan siapa pendirinya, ya cuma Axl Rose sama Izzy Stradlin’. Izzy sudah jelas malas bergabung lagi, berarti memang tinggal Axl. Terima saja fakta itu, dan nikmati musik dari formasi terakhir. Bagi saya, formasi akhir tidaklah buruk. Kata yang tepat untuk membandingkan formasi ini dan formasi lama: “berbeda”. Sebuah musik yang berbeda, barangkali memang butuh cara mendengar yang juga berbeda.

Kalaupun ada yang saya kangenin, saya tidak kangen Slash. Pertama, karena saya sudah nonton konser Slash. Kedua, di telinga saya, formasi lama lebih terasa warna Izzy daripada Slash, jadi saya lebih kangen dengan Izzy daripada Slash. Saya tak tergila-gila dengan lengkingan gitar milik Slash. Telinga saya lebih akrab dengan kocokan gitar yang dibawa Izzy. Dan ketika saya membandingkan album terakhir (dengan formasi baru ini) “Chinese Democracy”, yang saya anggap hilang adalah irama kocokan gitar Izzy ini. Tapi sekali lagi, mari move-on. Izzy atau Slash, mereka masa lalu di Guns N’ Roses. Kalau masih mau mengikuti musik mereka, toh keduanya juga tetap aktif bermusik di proyek-proyek pribadi mereka.

Saya tak akan menceritakan soal konser di Ancol itu. Sudah banyak ditulis orang dan rata-rata isinya sama. Termasuk soal Gubernur Jakarta Jokowi yang ikut menonton dan kejutan dari Bumblefoot yang membawakan solo gitar dengan lagu “Indonesia Raya”. Saya hanya akan mengingat konser siang itu sebagai konser yang menyisakan pegal-pegal di kaki (karena 3 jam berdiri dan lompat-lompat), sambil berharap, “I am not too old to rock and roll.”

Kini, bolehlah saya memimpikan hal lainnya: The Rolling Stones konser di Jakarta.