From New Left Review 50

It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.

(Benedict Anderson, Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant, New Left Review, March-April 2008)

Eka, a great admirer of Pramoedya, wrote a first-class academic thesis, since published, on the older writer’s complex relationship with ‘socialist realism’. The two novels are Cantik Itu Luka [‘Beautiful’, a Wound] (2002) and Lelaki Harimau [Man Tiger] (2004). The first is a huge, rather unwieldy, surreal recapitulation of the past century of Indonesian history set in a sort of isolated Macondo somewhere on the south coast of Java. The second is a brilliant, tight-knit and frightening village tragedy, also set somewhere on that barren littoral.

(Benedict Anderson, Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant, New Left Review, March-April 2008)

8 comments on “From New Left Review 50

  1. sarastia says:

    halo mas eka, met pagi….aduhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhh suksesssssssss sssss yaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaa…pengakuan yang tak terhingga dahhhhhh….ben anderson!!!!!saya kira ne hantaman paling ampuh buat mereka (orang2 indonesia, pelaku sastra terutama)yang membaca sastra melulu dari isi: SUGESTI terhadap perubahan, keberpihakan, lebih penting dari KESABARAN DAN KETELITIAN penulis dalam menghamparkan situasi yang MEMUNGKINKAN siapapun yang berakal sehat berdiri dengan gagah berani, MEMILIHh untuk ambil posisi dengan kepala penuh taktik dan strategi.he3.MAKSUD SAYA,selama ini yang dianggap tu Puthut GITU LOHHHHHHHHHHHHH.Saya mpe sebulan gak diajak ngomong temen2 gara2 bilang PRAM SALAH.(waktu tu, temen2 bilang kalau bagi pram, penulis muda tu ya puthut.huh.). benar, bahwa di seluruh cerpen puthut kentald engan aroma keberpihakan. tapi tu cuma SUGESTI BO!!!!!!tidak jelas kemana perubahannya, dsb, karena puthut melecehkan bahasa. bagi saya ini BERBAHAYA!walopun tetep suka dengan pilihan tematik puthut, tapi cenderung karena “diantara pilihan selainnya”.

  2. sarastia says:

    tetapi, secara lieter, saya tidak menganggap lah omongan ben anderson.he3. dia kan ilmuwan sosial. weeeekkkkkkzzzzz.ne pagi yang lumayan segar seperti pagi saat ripin jadi terbaik di kompas. tu bermakna sosial juga bagi saya.cuma itu. maksud saya, pengakuan kompas-yang,ah, sayangnya kok ya nirwan dewanto ya?.he3.coba kalau yang ngomong bukan dia, akan lebih ampuh dah-dan tu satu2nya cerpen ugo, adalah uppper cut bagi siapapun yang meragukan kepengarangan sebagai jalan literer sebagai SATU2nya kebjikan yang bisa diambil-meski di sana masing2 pribadi berhak memilih kecenderungannya. dan KIRI ISLAM tetap ok kan.Sexy.SELAMALAMANYA.he3.
    SELAMAT YAAAAAAAAAAAA….

  3. sarastia says:

    oh ya, saya gak pernah suka djenar. centil. tu emang setan lah bagi saya.he3.dan saya bertaruh untuk seluruh reputasi saya (hik3.reputasi apaan coba?.diantara temen2 maksudnya.) bahwa djenar akan terus menjadi setan!!!!!.dah tua, dah terlalu rumit untuk menyadari.he3.ayu juga tuh.tema seks akan terus abadi, tapi seksualitas ayu dan djenar, cuma menarik untuk dunia ketiga dan para feminis bodoh/telat.he3. liat cerpen dia di kompas 2 minggu yang lalu. norak kan?. otaknya emang seks tingkat hewan kok, atau feminis tingkat kecamatan.he3. mereka sexy, karena di sini ajalah.negeri 200 juta penduduk yang sering bolos belajar.TITIK.he3.enak ya kak jadi pembaca, gak perlu bertimbang dengan seluruh perkataan menyangkut efek2 ekonomi politik dan kerumitan2 lainnya. saya menikmatinya.sungguh2 tiada tara.

  4. sarastia says:

    tapi saya tetep suka banget ma saman-larung!!!!!!.edan tu bahasa indonesia ayu!!!!.geregetan terus sih.

  5. mufti says:

    kok cuma kutipannya tok, tanggapan yang namanya disebut-sebut itu (Eka kurniawan) mana? :D

    mufti:
    hmmm :)

  6. sarastia says:

    iya, bener, mana tanggapan kak eka?.eh, kak, dah ntn hostle 2?. tarantino tu emang sakit ya?.

    sarastia:
    aku udah liat filmnya. tarantino jadi produser di situ, bukan sutradara.
    (ekakurniawan)

  7. sarastia says:

    kak, dah 1 jam 55 menit saya ngapus email2 dari mailist apresiasi sastra belum juga habis. stres tauk. jadi bingung mau baca email temen2. hhhhhhhhh…..mailist tu sampah ya ternyata.jengkel dah.mending emang gaptek, dan cukup membaca buku. hhhhhhhhh..pusingggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg

  8. sarastia says:

    iya sih, tapi tetep aja dia bertanggung jawab atas kesakitan film itu kan?.he3. menurut kakak, anehnya di mana kak?. saya jd pingin ntn saw 1,2,3, lagi, ama misery (atau film adaptasi stphen king yg lain yg serem apa ya?.saya belum ntn. dan film horor lain apa ya kak yg paling seru?). oh ya, ntn hostle tu kan gak kayak ntn film2 tarantino lain kan?.(ya gak?).saya langsung membandingkannya dengan saw bukan dengan film2 tarantino atau yg sekedar dia jd produser, dan sampai hari ini (belum ntn saw lg), tu karna ketidakjelasan motif dari kekrasan yg ada di hostle tu yg bikin kekerasan 15 menit terakhir tu bikin bener2 bergidik. gak masuk akal kan penyedia jasa menyiapkan korban pembunuhan tu?.ceritanya juga lemah, kenapa korbannya mesti si itu?.gak ada ciri kriteria yg membuat kita percaya bahwa mesti itu kan? knapa korbanya gak sembarang orang aja coba?. tapi menurut saya, justru cuma itu kok-semua hal yg memproduksi kekerasan itu absurd kan-yg membuat ne film jd edan. dan pertanyaan saya sbg penonton:masak sih orang mau bayar, bahkan melelang, untuk membunuh, pake ke slovakia, pake harus kontrak yg rumit, dlll. dan tu yg paling ngeri, kanibalisme 15 detik tu. edan dah.menurut kakak gmn?. saya bener stres kok ntn film tu. rasanya ntn film dokumenter poso yg diputar di masjid tu. hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……ngeri kak.

    sasrastia:
    menurutku, kesamaan hostle dan film-film Tarantino adalah: mereka merayakan selera seni (yang selama ini dianggap) kelas B. Dan itulah memang ciri Tarantino.

Comments are closed.