Eclipse: Ternyata Vampir Suka Baris-berbaris

Ya, itulah yang saya peroleh setelah nonton tiga film Twilight Saga, terakhir nonton “Eclipse”. Seringkali itu vampir-vampir berdiri berjajar. Kadang berpasang-pasangan. Berpose. Seolah-olah setiap mereka nongol, ada fotografer yang hendak memotret.

Soal berpose, si manusia serigala Jacob juga suka berpose. Bedanya kalo vampir suka bergerombol berjajar, manusia serigala sukanya memamerkan dada yang berlekuk-lekuk. “Apakah kamu selalu tak sempat pakai baju?”

Kembali soal berpose, para vampir juga gemar dandan. Mereka berpakaian modis. Saya enggak tahu darimana atau sejak kapan vampir punya selera yang bagus mengenai fashion. Liat saja, mereka selalu memakai jas rapi. Bahkan meskipun mereka habis bertarung (dimana gerakan merka bahkan tak bisa ditangkap mata), pakaian mereka enggak pernah kusut. Juga tak pernah berlepot darah.

Mungkin asal mulanya dari Count Drakula? Yeah, karena dia seorang count, bangsawan, tentu saja sadar mode. Bajunya bagus dan tentu saja dandan. Pakai wig dan, hmm, memang pakai bedak. Gara-gara dia, semua vampir ikut-ikutan modis. Enggak peduli seperti apa mereka ketika masih bernapas: mau gembel, mau urakan, begitu jadi vampir, harus modis!

Oh ya, selain minum darah, vampir juga ternyata suka ngobrol. Siap-siap deh kalau ketemu Edward Cullen, diajak ngobrol lama (dan pelan). Mungkin karena pengalaman hidup mereka banyak, mereka punya banyak hal untuk diceritakan. Juga telah mengumpulkan banyak kosa kata (dan tak ada yang terlupakan!). Tapi yang jelas, mereka punya banyak waktu: jadi untuk apa berkata cepat-cepat?

Nonton film ini saya kok jadi rada-rada punya pertanyaan filosofis: apa itu jiwa? Ceritanya kan, vampir-vampir ini hidup abadi, tapi tak lagi punya jiwa. Tapi yang mengherankan, vampir-vampir ini tetap bisa berpikir, tetap punya standar moral (yeah, ada tanggungjawab, tak mau makan darah manusia, menghormati perjanjian, menegakkan kebenaran, penyesalan), bahkan bisa juga jatuh cinta. Kalau tidak datang dari jiwa, darimana hal-hal semacam itu datang, ya? Atau sebaliknya: kalo udah bisa menentukan standar moral sendiri, apakah jiwa masih penting ada atau tidak?

Nah kan, sok jadi filosofis. Udah ah.

4 comments on “Eclipse: Ternyata Vampir Suka Baris-berbaris

  1. Aulia says:

    Atas nama film dan skenario, mau vampir, serigala bahkan hantu sekali pun bisa terjadi berbagai macam tingkah :D

    Filosofi mereka bentuk agar penonton bisa berpikir ulang, logis atau tidaknya, menarik atau unik tidak film tsb :)

    Sekali film fiktif belaka, tetap fiktif belaka :lol:
    tambah filosofis deh ini hahah

  2. minomino says:

    nah,pendapat ttg film itu sendiri gmn? bagus,kurang,atau biasa-biasa?
    well,menurut saya sih seperti ada yang kurang di film itu, apanyaaaa gitu, bingung saya juga…tapi apa? sampai sekarang belum nemu.
    ah,ko saya malah ga jelas begini :p

  3. Affendy says:

    mas … blognya bagus … bagi2 dong bagaimana cara menghias blog hehehhehehhe salam kenal yach

    1. ekakurniawan says:

      @Affendi
      lha, ini gak ada hiasannya, hehehe. yg jelas, harus ngerti HTML dan CSS. sukur2 ngerti PHP dikit.

Comments are closed.