Dua Novel Pembunuh Bapak

oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro, Koran Tempo

Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015
Lelaki Harimau
Gramedia Pustaka Utama, 2004, 2014

Dua novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004) telah saya baca sambil mengingat Freud dengan cerita terkenalnya yang dinamai psikoanalisis. Untuk menjadi diri sejati, demikian kata Freud dalam cerita itu, seorang anak harus melepaskan diri dari ibunya, dari tubuh ibunya. Seorang anak laki-laki yang menjatuhkan objek cinta pertamanya pada ibunya harus melepaskan ibunya karena takut bersaing dengan bapaknya yang mengancam akan memenggal penisnya. Dalam cerita ini, jika kemudian si anak tumbuh normal, dia akan mencari dan mendapatkan perempuan pengganti ibunya.


Anak perempuan juga harus melepaskan diri dari ibunya, hanya saja cerita yang harus dijalaninya berbeda: ia menghormati aturan ibunya, dan mencinta ibunya, tapi kemudian melihat ibunya sebagai pesaing dalam cintanya terhadap bapaknya sambil tetap merasa takut akan ibunya. Dan ketika ia tumbuh “normal”, ia mencari laki-laki pengganti bapaknya sambil terus menoleh ke ibunya untuk memastikan keterpisahannya dengan ibunya sambil merindu hubungan asalinya dengan sang ibu. Dalam psikoanalisis, keterpisahan dengan ibu menjadi penanda bahwa ia telah menjadi subjek.

***

Dewi Ayu dalam Cantik itu Luka menempati semacam singgasana sendiri di negeri bernama Halimunda, bersama seorang preman yang menguasainya dan seorang Shodancho yang sempat menginginkannya. Kedua lelaki itu kemudian menjadi menantunya. Dewi Ayu memperoleh penghargaan sendiri, paling tidak dari narator yang tampaknya memihak kepadanya.

Dalam Feminist Critism in the Wilderness, Elaine Showalter menulis bahwa penulisan yang sungguh-sungguh berempati terhadap perempuan hanya dapat dilakukan perempuan karena adanya pengalaman spesifik perempuan yang tak dialami laki-laki. Dengan demikian, menurut Showalter, teks “perempuan” atau “tentang perempuan” juga hanya dapat dilakukan secara sungguh-sungguh oleh perempuan. Tetapi Cantik itu Luka menampakkan bahwa Eka mampu melahirkan teks perempuan tanpa membuat perempuan dalam dunianya tampil sebagai laki-laki dalam bngkus perempuan.

Beberapa feminis sendiri mempunyai kegamangan dalam menempatkan pelacur dan pelacuran. Beberapa bersikeras bahwa pelacuran harus dihapus karena itu merupakan bentuk opresi terhadap perempuan. Kelompok feminis lain melihat pelacuran sebagai fakta sosial yang tak terhindari selama perempuan tak mempunyai sesuatu di luar tubuhnya yang dapat digunakannya sebagai “nilai tukar” untuk kelangsungan hidupnya.

Feminisme Marxis, misalnya, menempatkan pelacur dan istri dalam posisi yang sama: sebagai pekerja seksual, yang menawarkan pelayanan seksual sebagai penukar untuk sebentuk imbalan atau kenyamanan ekonomi. Bedanya pelacur menjual pelayanannya secara eceran kepada setiap lelaki sementara istri menjualnya secara borongan kepada satu laki-laki. Pada posisi istri, perempuan mengharapkan imbalan lain berupa posisi sosial di masyarakat yang kekuasaannya ada di genggaman laki-laki. Untuk itu, istri dituntut memberikan pelayanan sosial dalam bentuk kerja domestik, yang tak dituntut dari para pelacur, yang memang tak mengharapkan imbalan posisi sosial.

Dengan demikian, seks hanyalah komoditas, Suatu alat tukar ekonomi belaka karena seperti dikatakan Dewi Ayu, “Pelacur itu penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan seks secara sukarela. Masalahnya aku tak suka bercinta tanpa dibayar” (128). Dengan ekonomi seks seperti ini, keluarga juga tak lain daripada lembaga ekonomi, yang didirikan atas transaksi seksual laki-laki dan perempuan, yang produk dari transaksi itu memastikan adanya mekanisme penyambung hak milik keluarga, yaitu keluarga laki-laki. Bagi feminisme Marxis, hubungan suami istri tidaklah berbeda dari hubungan tuan-budak, majikan-buruh.

Keluarga “normal” itu sendiri dilawan dalam Cantik itu Luka sejak awal. Inses yang dipandang rendah dalam kehidupan masyarakat justru ditampilkan sebagai cinta yang agung. Maka menikahlah Henri Stamler dan Aneu Stamler, dan dari keduanya lahirlah Dewi Ayu, perempuan tiga-perempat bule yang sangat cantik. Dewi Ayu kemudian menikahi Ma Gedik yang seharusnya menjadi suami dari neneknya sendiri.

Dan kesemrawutan ikatan seksual/keluarga itu semakin menjadi-jadi karena profesi Dewi Ayu. Ia berhubungan dengan Maman Gendeng yang sempat berperan sebagai “bapak” bagi keluarganya, yang hanya terdiri dari ibu dan tiga anak perempuan. “Bapak” ini kemudian dialihkan kepada putri bungsunya, yang kemudian harus mengubah pola relasinya dari anak-bapak, jadi istri-suami.

Tetapi karena perkawinan ini tidak melibatkan transaksi seksual, yaitu karena usia Maya Dewi yang masih dua belas tahun, Maman Gendeng kembali ke tubuh sang mertua dalam percintaan yang dahsyat. Kata Maman, “Ia begitu mungil untuk dicelakai, begitu tanpa dosa untuk disentuh. Aku ingin meniduri mertuaku sendiri.” Dan setelah itu Dewi Ayu menjawab, “Kau benar-benar menantu celaka,” keduanya pun bercinta sampai pagi.

Kesemrawutan lain adalah Shodancho yang juga sempat menikmati tubuh Dewi Ayu, akhirnya kawin dengan Alamanda, putri pertama Dewi Ayu, yang sesungguhnya mencinta Kamerad Kliwon, yang kemudian menikahi Adinda, adik Alamanda. Hubungan Shodancho dengan Alamanda jauh dari normal. Alamanda mengunci selangkangannya dengan kerangkeng besi yang hanya dapat dibuka dengan mantera dan kunci yang dijaganya baik-baik. Ketika lengah, Alamanda diperkosa suaminya sendiri. Kehamilan dari du kali perkosaan yang diterimanya menghilang ketika waktu melahirkan tiba. Kamerad Kliwon juga sempat bercinta dengan Alamanda sebelum keesokan harinya gantung diri karena malu. Inses lain adalah antara Krisan, anak Adinda, dengan Si Cantik, yang sesungguhnya adalah bibinya sendiri.

Dalam kompleks Oedipus di dunia ini, setiap perempuan akhirnya disatukan lagi setelah satu demi satu “bapak” dimatikan. Setelah penisnya dipenggal, sang Shodancho kehilangan kewarasannya, dan akhirnya ia mati di tangan ajak yang pernah jadi sahabatnya. Maman Gendeng “naik ke langit”, meninggalkan tubuhnya diwujudi Romeo. Krisan juga mati ketika melakukan inses dengan Si Cantik, bibinya. Pemakaman Krisan menandai kembali ikatan perempuan, kembali ke yang asali. Keempat perempuan itu “saling mencintai satu sama lain, dan berbahagia dengan cinta tersebut” (510). Cantik itu Luka mengembalikan perempuan ke masa sebelum masuknya hukum bapak, ketika cinta ibu dan anak perempuannya tak terhalang oleh seorang bapak, oleh hukum-hukumnya yang memisahkan antara perempuan yang elok-rupa dan yang buruk-rupa.

***

Dalam Lelaki Harimau, Margio bukan hanya jatuh cinta pada ibunya sendiri, namun juga menghargai kegilaan ibunya, dan mengerti kesakitan ibunya yang sering dipukuli bapaknya. Takut penisnya akan dipenggal, ia membiarkan kekerasan itu terjadi di depan matanya. Seperti Oedipus, ia juga berhasrat menghabisi bapaknya, tapi ia sadar bahwa bapaknya, Komar bin Syueb, adalah tiang keluarga yang “tak peduli betapa keripos dan limbungnya tiang itu, serta oleng dan sumber badai yang mestinya merobohkan dirinya sendiri” (56). Tiang itu tidak roboh dengan sendirinya. Patok-patok kekuasaan bapaknya terlalu kuat untuk roboh sendiri, bahkan ketika ia keropos.

Meski demikian, hasrat membunuh bapaknya terus terpelihara sejalan dengan kekerasan yang terus dilakukan si bapak terhadap ibunya. Hasrat itu ditekannya justru karena rasa cinta pada ibunya, “Rasa cinta yang tak kepalang pada ibu dan adiknyalah, barangkali, yang telah menahannya dari kemarahan memaharaja” (56). Dan lebih dari itu, di luar sadarnya, ia tetap memimpikan bahwa keluarga yang “normal” akan menjelma justru dengan kehadiran dengan ayah, ibu, dan anak-anak. Mematikan bapaknya berarti meniadakan potensi mewujudkan keluarga normal, yang senormalnya memang ada, paling tidak dalam cerita Freud itu. Hal itu menyakitkan karena ia harus merepresi tidak saja hasrat untuk memiliki ibunya, tapi juga hasrat membunuh bapaknya, sambil terus bermimpi bahwa jika ia berhasil meresepsi kedua hasrat, ia akan diganjar kebahagiaan sebuah keluarga normal, “dan sepanjang hidupnya, usaha yang lebih membuatnya menderita adalah upaya meredam kehendak itu, didorong harapan udik bahwa segalanya akan baik dengan sendirinya …” (56). Harapan udik ataukah arkaik?

Margio memang tak langsung membunuh Komar bin Syueb, tapi penolakannya atas permohonan maaf Komar atas kematian Marian, adik tiri Margio, telah menjadikan si bapak seonggok “rongsokan daging, yang tak akan memuaskan nafsu si hahak pemakan bangkai sekalipun “ (67). Margio menghilang dan kepergian ini membuat bapaknya mati pelan-pelan. Kematian ini baru disadari Margio kemudian. Untuk sementara Margio dapat memiliki ibunya. Ia tiang bagi ibu dan adik perempuannya, bahkan bagi Marian yang mati kala bayi.

Dengan matinya Komar, Margio disatukan lagi dengan ibu dan adik perempuannya. Tapi hasrat arkaik untuk memiliki keluarga “normal” atau mungkin hasrat untuk membahagiakan ibunya membuat ia merepresi hasrat sendiri untuk memiliki ibunya dan membawanya kepada hasrat untuk memberi pasangan lain bagi ibunya. Ia datang pada Anwar Sadat, laki-laki yang diketahuinya telah berhasil menimbulkan kebahagiaan luar biasa bagi ibunya. Ia menganggap laki-laki itu memang sungguh-sungguh mencintai ibunya. Ia pun bersusah payah meminta Anwar Sadat menikahi ibunya. Di luar dugaannya, Margio menerima jawaban yang luar biasa menyakitkan, yang merendahkan dirinya dan terlebih ibunya yang direduksi jadi “pelacur” gratisan. Hasrat untuk membunuh ayah yang dipendamnya sejak awal pun menerobos keluar tanpa dapat dikendalikan, seperti sebuah kelahiran.

Sejalan dengan kehamilan ibunya, Margio tahu ia juga telah hamil. Janinnya adalah seekor harimau putih “serupa angsa” yang dipanggilnya “kakek”. Seperti janin manusia, janin dalam tubuh Margio juga dapat merasakan kemarahan-kemarahan “sang ibu”. Hasrat membunuh Komar yang dulu muncul ditenangkannya dengan pergi dari sumber kemarahannya. Pada upacara pemakaman Komar, janin Margio menggeliat lagi, dan ia menenangkan janinnya, “berbisik lirih, lihat, lelaki itu telah mati, istirahatlah” (168 ). Dan janin besar yang bersemayam dalam tubuhnya pun kembali tenang hingga hingga kelahirannya yang tak dapat dibendung itu tiba: kontraksinya dipicu, baru belakangan pembaca tahu, oleh kata-kata kasar Anwar Sadat, “Tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak … Lahipula aku tak mencintai ibumu” (192).

Sekali lagi, sang Oedipus berhasil membunuh ayahnya dan menyatukan kembali ikatan arkaiknya dengan ibu dan saudara perempuannya. Ketiganya tidak lagi terpisahkan oleh laki-laki paternal. Ketiganya menjadi keluarga yang melawan bentuk keluarga “normal” sebagaimana digariskan dalam psikoanalisis Freud.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo, 29/8/2004. Versi lengkap makalah dalam bentuk pdf bisa diunduh di Scribd atau di situs Unpad.