Dua Novel Isaac Bashevis Singer

Isaacbashevis

Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.

Sekali waktu istri saya menonton film Yentl di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, “Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.” Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, Yentl merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.

Kesempatan itu datang bersamaan dengan sampainya pesanan dua novelnya, The Slave dan Shosha. Saya memesannya dari internet, dari toko buku bekas (selain jarang edisi baru, saya memang suka dengan buku bekas, tapi soal ini kapan-kapan saya cerita). Dalam dua minggu, saya membaca kedua novel itu hingga selesai, menyingkirkan dulu novel-novel lain yang belum saya baca. Benarlah memang, gayanya mendekati cara Hamsun menulis. Tapi seperti banyak ditulis kritikus, Hamsun sering bermain di wilayah ego karakter utamanya; sementara Singer bermain di wilayah ego karakter utamanya, yang berbenturan dengan tuntutan sosial agama/komunitas Yahudi.

Novel The Slave sangat menyiratkan hal itu. Dengan latar Polandia abad ketujuh belas, kisah berputar mengenai Jacob, seorang anak rabi yang saleh. Setelah kota tempatnya tinggal diserbu bangsa Cossack, dan banyak orang Yahudi dibunuh, diperkosa, Jacob dijual sebagai budak kepada seorang petani desa. Di sanalah ia bertemu dengan anak si petani, Wanda seorang janda, yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah padang rumput, di tengah ancaman kematian (orang-orang di desa itu menganggap Yahudi sebagai penyakit yang bisa membawa petaka), dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit, kisah cinta mereka terajut.

Jacob tak menyangkal memiliki hasrat berahi kepada Wanda, tapi ia tak berani berbuat lebih jauh, dan hanya memendam saja hasrat itu. Ia punya istri dan dua anak yang entah dimana (saat itu ia belum tahu mereka termasuk korban pembantaian Cossack). Tapi yang lebih penting lagi, ia tak berani memenuhi hasrat berahinya karena sadar, zinah merupakan dosa. Itu yang pertama. Yang kedua, bahkan jika ia berpikir tentang pernikahan, juga dosa jika ia menikahi perempuan kafir (Wanda seorang Kristen, tapi digambarkan bahwa penghuni desa itu meskipun secara legal beragama Kristen, tapi masih banyak yang percaya pada adat/agama/ritual penyembah berhala). Ketiga, bahkan jika Wanda bersedia masuk menjadi “anak Israel” (yakni menjadi Yahudi), juga terlarang jika ia menjadi Yahudi karena cinta, dan bukan karena percaya kepada Tuhan.

Di sinilah Jacob terlibat pertarungan antara hasrat daging-tubuhnya, dan ikatan moral-jiwanya. Dan di sini pulalah, perjalanan perdebatan antara hukum-hukum agama yang mengikat, dan tafsir yang mencoba membebaskan diri dari ikatan tersebut. (Saya jadi terpikirkan hal ini: ketika kita menghadapi hukum agama yang tidak sejalan dengan apa yang kita kehendaki/pikirkan, di titik itulah kita mulai mencoba memberi tafsir. Saya pikir hal ini tak hanya terjadi pada Jacob dan hukum-hukum agama Yahudi-nya, tapi barangkali terjadi atas semua umat agama dan hukum-hukum agama mereka. Siapa tahu?)

Jika Jacob merupakan gambaran sosok saleh yang harus melakukan perbuatan dosa dan bagaimana ia mencari pembenaran atas tindakannya (atau mencoba menghapus dosanya, atau mencoba mencari kompromi), hal sebaliknya terjadi pada Aaron dalam novel Shosha (dengan latar belakang tahun-tahun sebelum penyerbuan Hitler ke Polandia). Aaron, meskipun sama-sama anak rabi, sejak awal digambarkan sudah tidak saleh. Ia tak lagi melakukan ritual agama, ia juga kumpul kebo dengan pacarnya, meniduri dua perempuan temannya, dan meniduri pelayan di kamar pondokannya. Intinya, ia orang yang agak bejat dari sudut pandang moral agama. Tapi ketika ia bertemu dengan Shosha, gadis masa kecilnya, ia mencoba menjadi orang saleh.

Meskipun dilihat dari sudut pandang yang berbeda, di sini cinta menjadi peletup bagaimana orang berperilaku terhadap agama. Di kedua novel, agama kemudian, alih-alih merupakan hubungan antara manusia dan Tuhan, tak lebih menjadi sejenis syarat dan prasyarat dalam hubungan berkomunitas. Jacob dan Aaron, dengan karakter yang berbeda, beragama lebih karena tuntutan komunitas Yahudi di sekitarnya. Dalam kasus Jacob, bahkan meskipun ia terkurung di tengah padang rumput dan jauh dari orang-orang Yahudi, tekanan itu tetap terasa. Dalam kasus Aaron, bahkan meskipun ia sudah tidur dengan banyak perempuan, meskipun Shosha agak sakit (kekanak-kanakan dan rada terbelakang), ketika ia berbaring di ranjang bersama Shosha (sebelum mereka menikah), ia tetap tak mau menyentuhnya.

Tapi pada titik lain, kisah cinta Aaron kepada Shosha dan Jacob kepada Wanda, justru memperlihatkan sesuatu yang tampak ilahiah: tak terelakkan, sejenis takdir, di luar rasio, di luar ikatan-ikatan sosial. Perjalanan kisah cinta mereka tampak seperti perjalanan spiritual. Bahkan kemudian Wanda digambarkan sebagai orang suci (sejenis santa atau wali). Demikian pula gambaran Shosha sejak awal: tanpa dosa. Atau barangkali benarlah apa kata kebanyakan orang, bahwa pada dasarnya inti dari agama, inti dari ajaran Tuhan, adalah cinta? Dan cinta paling mudah digambarkan melalui hubungan antara lelaki dan perempuan, juga melibatkan nafsu daging-tubuh, selain dorongan jiwa yang tak terjelaskan.

Saya pikir, kedua novel merupakan pintu yang bagus untuk mengenal karya-karya Isaac Bashevis Singer. Saya berharap bisa membaca beberapa novelnya yang lain. Dan terakhir, saya pikir penulis-penulis yang tertarik menggarap aspek-aspek sosial agama dalam karya mereka, juga bisa belajar melalui Singer. Kenapa tidak?