“Dreamer” Knut Hamsun: Perempuan Tuh, Ya …

Dreamer barangkali bukan novel Knut Hamsun yang paling sering dibicarakan. Bahkan seringkali terlewat dalam pembahasan karya-karyanya. Tapi begitulah, Hamsun. Bahkan di novel yang awalnya tampak sederhana ini, di akhir cerita menjadi tidak begitu sederhana.

Saya cuma ingin berbagi akhir ceritanya, tapi gambaran mengenai awal cerita tentu harus diberikan: Tokoh utamanya Ove Rolandsen. Bayangkan saja dia sebagai anak muda bengal yang kerjanya merayu para gadis kesana-sini. Dia bekerja sebagai operator telegraf. Di luar pekerjaan dan hobinya merayu para gadis, ia sering mengurung diri di kamar untuk melakukan berbagai percobaan kimia.

Tempat kejadian perkara: di sebuah desa nelayan, bagian utara Norwegia. Jadi bisa dibayangkan semua orang di kota itu kenal baik satu sama lain.

Ove Rolandsen punya tunangan bernama Marie van Loos. Meskipun begitu, Ove terus-terusan merayu Olga, Elise (anak juragan ikan kaya bernama Mack), serta bahkan flirting dengan istri pendeta! Benar-benar anak bengal, deh.

Olga yang masih kecil berhasil untuk tidak meladeninya. Elise si anak orang kaya, dengan angkuh tak mau meladeninya, padahal Ove berjuang mati-matian untuk bisa memperoleh cintanya. Istri pendeta? Ya mana mungkin lah. Meskipun tak ada hasil, kelakuan Ove membikin tunangannya kesal. Marie akhirnya memutuskan hubungan mereka dan pulang ke kota asalnya.

Singkat cerita, Mack kecurian dan merasa kesal. Tak ada yang mengaku. Mack akhirnya bikin pengumuman, siapa yang bisa menemukan pencuri itu, akan diberi hadiah, termasuk pencurinya jika mengaku. Ove sedang membutuhkan uang, dia memutuskan mengaku sebagai pencuri.

Ove mempergunakan uang itu untuk mengembangkan penemuannya, dan berhasil memperoleh paten. Tapi pada saat yang sama, pencuri sesungguhnya ketemu. Mack marah padanya dan hendak menjebloskannya ke penjara, tapi diam-diam Elise melarangnya.

Kita singkat lagi ceritanya: Ove akhirnya menawarkan kerjasama pengembangan penemuannya dengan Mack, dengan syarat ia ikut memiliki pabrik Mack. Mereka pun jadi partner dan bersahabat. Lalu tiba hari ketika Elise akan bertunangan.

Di sinilah ujung ceritanya: Di tengah kesibukannya, Ove mengunjungi pesta tunangan Elise. Di saat yang sama, ia berkirim telegram kepada Marie agar mau kembali kepadanya. Dia bilang kepada Marie bahwa dirinya sudah berubah (memang benar, diringkas dengan kalimat pendek: “musim panas adalah musim untuk bermimpi, tapi sudah berakhir”). Elise mendengar soal itu.

Apa yang dilakukan Elise? Ia membatalkan pertunangannya dan mengirim telegram kepada Marie bahwa Ove bohong. Bahwa Ove sama sekali tak berubah. Dan di paragraf terakhir, Elise pergi pulang bersama Ove. What’s a woman!

6 comments on ““Dreamer” Knut Hamsun: Perempuan Tuh, Ya …

  1. Edy Taslim says:

    Ceritanya bagus ya bro…meskipun saya hanya baca ringkasan anda, tapi anda dengan luar biasa meringkas cerita tsb menjadi singkat dan padat hanya dengan beberapa alinea.

  2. roslan jomel says:

    Saya tidak tahu bagaimana untuk menggambarkan betapa gilanya novel Hunger… Tetapi, jujur sahaja, Saya berasa terhutang dengan ketelitian, keghairahan dan semangat luar biasa Knut Hamsun ketika menulis novel monumental itu.

    Novel yang mas Eka bicarakan di atas, Saya belum lagi membacanya… Dari ringkasan tulisan mas Eka di atas, pasti sahaja novel itu menarik. Tidak berkhutbah siapa betul siapa salah, sudah tentunya.

  3. Noura Qalbi says:

    Perempuan memang kadang-kadang begitu… hehehe…
    Apa yang tampak di luar kadang berbeda dengan apa yang di dalam.
    Kadang-kadang juga melakukan tindakan yang nekat berdasarkan emosi seperti yang dilakukan Elise…
    Gitu kali ya…?

  4. Noura Qalbi says:

    Berdasarkan emosi maksudnya: perempuan kalau sudah jatuh cinta, dia bisa melakukan apa saja demi yang dia cinta atau demi memilikinya. Ya..seperti Elissa itu…

  5. yoana says:

    Ringkasan cerita diatas menarik perhatian dan saya ingin sekali membaca penuh semua ceritanya.

  6. yoana says:

    Salam kenalya Mas Eka Kurniawan,tadinya saya blogwalking keblognya Raditya Dika “Ngocok-Ngocok Inbox” dan ternyata mata saya langsung tertuju kepada linknya blog Mas Eka yang berjudul “Bisakah hidup dengan menulis” terus saya klik dan masuk kesini.

    Saya merasa kekuatan untuk menulis saya lebih membara lagi setelah masuk keblog ini meski saya masih pemula dan masih belum mateng dalam menulis.
    Tetapi setelah saya baca isi tulisan dan comment-commentnya,semangat saya kini lebih bertambah lagi untuk menulis dan terus menulis.

    Terimakasih buat sebuah kata yang berbunyi “Bisakah hidup tanpa menulis ?” yang saya rasa menjadi sebuah semangat lagi buat diri saya.

    Sekali lagi terima kasih bayakya Mas Eka dan jika ada waktu luang silahkan mampir keblog saya http://yoana.blogdetik.com
    Saya tunggu kedatangannya dan juga comment Mas Eka disana,wassalam.

Comments are closed.