Diana Rahasia Hatiku

Pertama-tama, saya lebih merasa ini sebuah konser daripada drama musikal. Kedua, hmm … pertunjukan ini mengingatkan saya (juga kamu sekalian yang sudah menonton keduanya, saya yakin) dengan film “Across the Universe”. Apalagi fakta bahwa pertunjukan ini berdasarkan lagu-lagu Koes Plus, sementara film itu berpijak pada lagu-lagu The Beatles.

Ketiga, saya kok merasa pertunjukan ini seperti pertarungan antara sutradara (Garin Nugroho), penata musik (Yockie Suryoprayogo), dan kareografer (Eko Supriyanto). Dan siapa yang menang?

Pertunjukan ini dihelat dalam rangka ulang tahun Kompas yang ke-45. Sebagai gagasan, saya bahkan sudah mendengar ide drama musikal lagu-lagu Koes Plus ini sejak ulang tahun yang lalu. Naskah ditulis oleh Bre Redana dan Agus Noor. Perpaduan antara gaya dongeng Bre (ya, ada kisah tentang kelelawar yang kebetulan Koes Plus juga punya lagu tentang itu) dan kritik/lelucon sosial/politik ala Agus, kentara di pertunjukan ini.

Sayang sekali aktor-aktornya lebih siap menyanyi daripada berakting. Dialog-dialog penuh kritik politik dibawakan dengan datar (oh, jangan bandingkan dengan aktor-aktor Gandrik saat mereka membawakan naskah Agus), tak membuat penonton berpikir apalagi tertawa. Dalam hal ini, apresiasi saya mesti ditujukan kepada satu penampil: Sheila Marcia. Di tengah begitu banyak bintang, hanya dia tampaknya yang berkedip-kedip sendirian. Dia bernyanyi, dan membawakan peran dengan wajar.

Kembali kepada pertarungan sutradara, penata musik, dan kareografer: sejak awal saya sudah membayangkan pasti sulit menyatukan ketiga nama besar tersebut. Benar saja. Ketiganya tampil habis-habisan sampai saya bingung, bagian mana sebenarnya yang harus ditonjolkan?

Sebagai sutradara, Garin asyik dengan permainan visual di tiga layar besar di belakang panggung, serta properti-properti ukuran jumbo yang hilir mudik seolah takut tak terlihat. Berbagai citra ditumpang-tindihkan. Ada wajah John Lennon (ya, bisa dimaklumi), Kurt Cobain (apa hubungannya?), Michael Jackson (makin nggak ngerti). Ketiga layar terus-menerus menyala, dan pada saat yang bersamaan, musik juga hampir tak ada henti dan para penari bergerak memenuhi panggung.

Ini maksud saya mengenai “pertarungan” tersebut: saya membayangkan, mestinya dalam pertunjukan semacam itu ada saat-saat dimana background layar besar itu padam, penari diam, lalu membiarkan musik mengambil alih panggung. Pada saat-saat dramatik, mesti ada momen panggung gelap dan hanya terdengar musik, atau suara aktor.

Bisa juga, sesekali musik jeda. Hening. Biarkan gambar di layar bicara sendiri. Atau biarkan penari bergerak diiringi musik saja, tanpa keriuhan layar dan properti yang hilir-mudik.

Ah, itu tak terjadi. Gambar di layar, tarian dan musik ingin menonjol semua. Mereka berebutan mencuri perhatian. Mata dan telinga saya jadi sibuk sendiri. Sampai-sampai, duet Eet Syahrani (dengan raungan gitar elektrik) dan Tohpati (dengan gitar akustik) yang mestinya memikat, menjadi tak bisa menjadi fokus perhatian.

Oh ya, lagu-lagu Koes Plus diaransemen ulang yang saya kira cukup modern dan enak didengar telinga sekarang. Sebagai pertunjukan musik (bukan drama!), dalam aspek ini saya menikmatinya (mesti kadang-kadang dengan memejamkan mata). Tapi ini pun bukan tanpa gangguan. Saya tak tahu apakah ini masalah akustik panggung, posisi tempat duduk saya, atau memang kesengajaan (untuk mencipatakan kesan lama?), saya merasa mendengarkan pertunjukan “mono”. Nggak stereo. Aransemen musiknya keren, tapi datang ke telinga, sebagaimana aspek pertunjukan yang lain, seolah-olah dalam volume sama-rata.

Bagaimanapun, selamat ulang tahun, Kompas. Kita mesti lebih sering melakukan “percobaan” semacam ini. Pertunjukan serupa “Diana” masih barang langka di Jakarta. Bahkan ketika teman les Bahasa Belanda tahu saya nonton acara ini, komentarnya mencengangkan, “Hah? Koes Plus? Itu lagu oma-opa kita kali. Lo pantesan keliatan jadul!” Hmmm …

* Catatan Pertunjukan: “Diana Rahasia Hatiku”, 6 Juli 2010, JCC Senayan Jakarta.

One comment on “Diana Rahasia Hatiku

  1. haris says:

    saya tidak menonton pertunjukan ini. tapi leila s chudori , dalam reviewnya di majalah tempo, menganggap pertujukan ini jelek, ternyata mas eka jga beranggapan sama :D

Comments are closed.