Denting Gelas Copycat, Membaca Lelaki Harimau

oleh Nuruddin Asyhadie, Media Indonesia
Lelaki Harimau
Gramedia Pustaka Utama, 2004, 2014

Kehidupan sastra adalah kehidupan tiruan, denting gelas para copycat. Sejarah sastra sendiri tersaji sebagai sejarah mutasi tak bertepi. Adakah kisah lain di luar Ramayana dan Mahabaratha? Karya seagung Illiad Homerus pun lahir dan menyusu pada dua maha epos tersebut; Alenka adalah purwarupa Troya, demikian pula relasi Shinta dengan Helena, Atalas (Syiwa) dengan Atlas, pertarungan Indra vs Writa dengan pergulatan Zeus vs Typhon atau Herkules vs Kakkus. Siapa pula yang bisa menjamin bahwa Mahabaratha dan Ramayana bukan sebuah salinan dari kisah-kisah lain yang muncul sebelum 600 tahun SM?


Lalu apakah dengan begitu tak ada lagi yang bisa dipertaruhkan? Ya, jika pertaruhan di sana dimaknai secara leavisistik, pendefinisian dan penangkaran keunggulan-keunggulan, keutamaan-keutamaan estetis, dalam sebuah proyek kebudayaan dengan “K” kapital. Tidak, jika pertaruhan tersebut adalah pencarian perbedaan-perbedaan yang melampaui oposisi-oposisi baik/buruk, benar/salah, alfa/omega. Pencarian seperti itu semata-mata menyangkut keunikan dan perbedaan operasi tekstual. Memandang tulisan sebagai permainan perbedaan dan penundaan (differance) atau pencarian kemungkinan-kemungkinan, ketidakpastian-ketidakpastian, yang muncul dari ledakan teks yang mencari tanda dan strukturnya sendiri. Itulah satu-satunya peluang yang kita miliki di tengah keremangan nekrokultura, ketika semua hal termasuk sastra, membiru di anjung museum-museum, dalam pendingin almari es-almari es dan menguapkan hawa daba formalin.

Memasuki lanskap Lelaki Harimau, novela Eka Kurniawan yang terbit tahun ini, kita seakan berada di tengah simpang siur dan tumpang tindihnya bahasa-bahasa Byron, Kafka, Virginia Woolf, Edgar Alan Poe, Faulkner, Marquez, hingga Morrison, tanpa suatu keinginan untuk mensintesiskannya, mengejek, bahkan menjadikannya sebagai tekstur, hanya seperti membuat sesuatu dari materi apapun yang yang ada, bricolage, interstyle. Novela ini adalah seni pastiche, meminjam idiom Jameson, penggunaan topeng bahasa, pengungkapan dalam bahasa mati.

Apakah bahasa mati itu? Bahasa yang mati bukan hanya bahasa yang tak lagi digunakan, baik secara oral maupun tulisan, tetapi adalah bahasa yang keras hati yang sibuk mengagumi paralysisnya sendiri, kelumpuhannya sendiri. Sebagai bahasa statis, ia disensor dan menyensor. Zalim, kejam, bengis dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Tak memiliki hasrat atau tujuan-tujuan selain memelihara gerak bebas dalam narsisisme narkotiknya, eksklusivitas dan dominansinya.

Lihatlah narative hook yang dipergunakan dalam pembukaan novela ini: Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya…. (hal. 1).

Selanjutnya, kita disodori sejarah kolam tersebut panjang lebar, biografi kedatangan Kyai Jahro di tempat itu, serta inisiasi tokoh Mayor Sadra, sementara pembunuhan itu menguap entah ke mana, hingga kedatangan Ma Soma, yang memberitahukan bahwa Margio telah membunuh Anwar Sadat, bukan untuk memberi penekanan pada arti penting peristiwa itu, namun agar Kyai Jahro bergegas memimpin salat jenazah (hal.3), yang juga bisa dibaca sebagai pelucutan peristiwa pembunuhan itu. Secara inkonsisten bukan Kyai Jahro yang akhirnya memimpin “upacara” ini, tetapi Mayor Sadrah.

“Demi Tuhan,” kata Mayor Sadrah…..”Tadi siang aku melihatnya menenteng samurai bangka berkarat sisa perang. Anak celaka, kuharap ia tak mengambilnya selepas kurampas benda celaka itu.” (hal. 3)

Pengalpaan yang mengambil bentuk digresi yang dipamerkan pada narrative hook di atas adalah sebentuk sensor terhadap hasrat-hasrat zoon logon ekhon, pengalihan balita dari benda-benda yang menggelitik hatinya. Taktik itu muncul berulang sepanjang kisahan ini, yang pada porsinya yang lebih besar adalah penyimpangan cerita novela ini dari tema lelaki harimau, harimau, atau keharimauan, yang tak tandas dieksplorasi baik sebagai sesuatu yang analog maupun metaforik. Sebagai penggerak roda cerita, harimau atau keharimauan itu tampak tak bergigi, ia tak memiliki kekuatan yang mencekam seluruh teks novela ini, kecuali Bab Dua, itupun timbul tenggelam seperti kemarahan Margio pada Komar bin Syueb, dipotong oleh kisah-kisah lainnya, dan akhirnya dikebiri bulat-bulat oleh minggatnya Margio dari rumah, dari kampung.

Jikapun di penghujung novela, harimau itu muncul kembali, keluar dari tubuh Margio, menerjang dan menggigit urat leher Anwar Sadat. Sebuah afirmasi terhadap pengakuan Margio bahwa bukan dia yang membunuh “babi penjamah lahan orang” yang telah meniduri Nuraeni, ibunya, tetapi harimau dalam tubuhnya. Afirmasi yang ditujukan untuk memberi garis penghubung dalam keterceraiberaian kisahan ini, namun semua itu palsu. Garis tersebut adalah memori lisut akan stabilitas, unitas, harmoni, yang coba ditanamkan ke dalam rajutan ini. Apakah harimau itu bergerak dengan sendirinya? muncul ke permukaan atas kehendaknya sendiri?

Tergagap Anwar Sadat menggeleng, dan dengan kata terpatah ia bergumam. “Tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak.” Tatapan itu jelas mencela gagasan konyol Margio, Dan kalimat selanjutnya memberi penjelasan yang melimpah, “Lagi pula aku tak mencintai ibumu.”

Itulah kala harimau di dalam tubuhnya keluar. Putih serupa angsa. (hal. 192)

Kalimat ini begitu jelas. harimau atau pembunuhan itu digerakan oleh gumaman Anwar Sadat. Oleh kata-kata Don Yuan lokal tersebut: “Lagi pula aku tak mencintai ibumu.” Kata itulah yang menciptakan kejahatan Margio atau si harimau, yang menghukum kemaniakan Anwar Sadat. Kata yang terpatah, yang meremang sebab tak lebih dari gumam, yang kehilangan suaranya, nuansanya. Bahasa mati. Bahasa yang sama dengan yang digunakan dalam penulisan novela ini.

Bukan sang harimau yang berperan sebagai arsip tuan K. dalam The Castle Kafka yang merepresentasikan dunia ide Platonis, di mana K. atau manusia atau apapun di dunia adalah bayang-bayang darinya. Sama dengan Margio, harimau itu adalah bayang-bayang, anak wayang yang digerakan oleh sesuatu di luar dirinya. Bukankah itu makna dari kulitnya yang putih serupa angsa?

Betapapun, bahasa yang mati bukannya tanpa efek apapun. Ia secara aktif merintangi dan menghalangi intelek, mematikan kesadaran dan menekan potensi-potensi manusia. Tak dapat dipertanyakan, tak dapat membentuk atau sabar menghadapi ide-ide baru, tak mampu membentuk pikiran-pikiran anyar, menyuarakan perbedaan, mengisi kesunyian-kesunyian tak terkira.

Itulah sebabnya tokoh-tokoh dalam Lelaki Harimau bukan tokoh-tokoh bulat (round characters), tetapi murni pipih (flat characters), Mereka tak memiliki kesadarannya sendiri, pikiran dan gagasannya sendiri. Jangankan demikian, sebuah pribadi, “manusia dalam manusia” yang final pun tak Novela ini ditulis bukan hanya dalam sudut pandang orang ketiga, tetapi dalam suatu aesthetic distance, yang tak menyisahkan sesudutpun ruang bagi einfühlung, empati. Tak ada eksositisme. Semuanya disampaikan sebagai that has been dan tak membuka kemungkinan bagi sudden awakening, sebab memang tak ada apapun di sana, tak ada monolog, apalagi dialog.

Teks Lelaki Harimau telah melukai kita. Tidak dengan totalitarianisme atau theologi kekuasaan pengarang, tetapi dengan rasa sunyi. Hampa abadi. Bahasa mati itu tak dijalan dalam gaya menyerang yang meneror kita di bawah pemeriksaan Stalinis untuk mengidentifikasi sebuah dakwaan absurd, melihat kejahatan kita sendiri, dan selanjutnya membuat pengakuan publik bahwa kita adalah makhluk yang cengeng, narsisisus, nostalgis. Sebaliknya ia dipraktekan dalam pertahanan grendel Italia dan menyerang balik dengan menunjuk justru kitalah yang berbuat demikian. Kitalah yang bersikap Stalinis dengan bersama-sama Mayor Sadra berusaha mencari motif rahasia, dibalik kegamblangan itu, realitas yang terlalu real, denotasi, analogon. Meremasnya dengan cara apapun agar menjadi bermakna, mengasyikan, losta masta!

Posisi itu, sertamerta mengingatkan saya pada dongeng Toni Morrison dalam nobel lecture-nya pada tahun 1993. Beberapa anak muda bertandang ke gubuk seorang nenek buta bijaksana. Anak-anak itu beritikad untuk menyangkal keterusmataannya, membuka kedok sang nabi. Rencana mereka sederhana belaka: bersama-sama mereka ngluruk ke rumah perempuan itu dan mengajukan sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh seorang buta: “Nini, adakah burung yang kami bawa hidup atau mati?” Nenek itu tak menjawab. Mereka mengulang pertanyaan itu. Mulut tua itu tetap tak bergeming. Ia adalah nenek buta dan tak dapat melihat tetamunya, apalagi yang ada di tangan mereka. Satu-satunya yang ia pahami lewat pertanyaan itu adalah motif mereka. Lama diam itu menggantung. Hingga akhirnya nenek buta itu bersuara, “Maaf, Nini tidak tahu apakah burung itu hidup atau mati, Nini hanya tahu bahwa ia ada di tangan kalian. Di tangan kalian.” Sang nenek lantas menegur dan menasehati gerombolan itu bahwa mereka tak hanya bertanggung jawab atas penghinaan yang telah mereka lakukan, tetapi juga nasib hewan mungil yang mereka pergunakan dalam mencapai maksud mereka

Dengan memandang burung itu sebagai bahasa dan sang nenek adalah pengarang, Toni Morrison mengajak kita melihat bahwa bahasa, meski di satu sisi bisa dipandang sebagai sistem, di sisi lain lagi bisa pula dicerna sebagai organisme tertentu yang tak dapat dikendalikan, namun mula pertama ia adalah instrumen, agen, atau tindakan dengan berbagai konsekuensinya. Maka kemudian hidup-mati bahasa bergantung pada yang berkuasa, sebagaimana burung di tangan anak-anak itu.

Persoalannya, mengapa sang nenek musti risau akan nasib sang burung? jika bahasa mati, lalu kenapa? Pernahkah ia benar-benar hidup, pernahkah kita benar-benar hidup? Tidakkah kita sedang menipu diri kita sendiri? Memanipulasi diri kita sendiri?

Barangkali itulah yang digugatkan novela ini, seraya mencemooh kamanungsan kita: “Sisiphus, sampean memang goblok!”

Tulisan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia, 29/8/2004 , dengan judul Bahasa Mati “Lelaki Harimau”.