Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu

“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.

Tapi paling tidak ia tak akan seperti sang ayah dalam novel tersebut yang, “Kasihan [..] waktu dia sehat, selalu kita cari-cari dia untuk melengkapi perjudian. Waktu dia sakit, tak seorang pun di antara kita datang menengok.” Tidak. Kerabat dan sahabatnya berjubel. Dan ketika tubuhnya kembali ke rumahkata (demikian Joko Pinurbo memberi nama dalam puisi yang ditulisnya sesaat setelah Pramoedya tutup usia), di tanah permakaman Karet, seluruh daya hidup yang ditinggal dalam anak-anak rohaninya akan tetap abadi. Apa yang tertulis, tetap tertulis, demikian bunyi satu ayat Alkitab. Kita tahu itu selalu benar, sebagaimana telah terjadi atas kebanyakan karyanya. Karya-karya itu, kita tahu, sekali waktu pernah dilahirkan, kemudian dibunuh dengan berbagai dalih, namun kita juga tahu, mereka senantiasa terus hidup.

Hidupnya memang bukan pasarmalam. Majalah Balairung Universitas Gadjah Mada barangkali lebih tepat membayangkan hidupnya: “Jika kuas lembut sejarah boleh mengoleskan merah, biru, putih, kuning, maka perjalanan hidup Pramoedya Ananta Toer adalah pekat sempurnanya jelaga.” Kelam. Namun itulah. Seperti kelamnya jelaga lahir dari api yang menari, kelam hidupnya juga lahir dari daya hidupnya yang berkobar.

Kabar itu akhirnya diterima: Pramoedya Ananta Toer meninggal pukul 9 pagi, Minggu, 30 April 2006. Suara Nyai Ontosoroh tiba-tiba terasa seperti terngiang di penghujung novel Bumi Manusia, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Dalam hidupnya, semua orang akan mengenang, Pramoedya tak hanya melawan segala prinsip yang merendahkan kemanusiaan, namun juga berjibaku. Dengan ucapan-ucapan, dengan sikap, dan terutama dengan kata-katanya. Kita menemukan sikap jijiknya terhadap kerakusan kolonialisme dalam Tetralogi Buru, rasa sebalnya terhadap sikap patriarkal yang merendahkan perempuan dalam Gadis Pantai atau Midah Si Manis Bergigi Emas, juga kemuakan terhadap kebebalan manusia dalam Perburuan maupun kumpulan cerita pendek Revolusi. Semua itu mengkristal menjadi sejenis sikap politik.

Entah dari mana ia memperoleh sikap serupa itu, yang bagi sebagian orang barangkali bisa ditafsirkan sebagai kekeraskepalaannya. Mungkin itu telah ada sejak kelahirannya, di Blora pada 6 Februari 1925. Dirinya. Sesuatu yang akan diingat orang ketika mendengar namanya. Barangkali pengaruh masa kecilnya, di mana ia lahir dari keluarga bertradisi nasionalis dan aktivis politik. Tradisi itu tetap dipertahankannya, paling tidak untuk dirinya sendiri. Dalam hidupnya, sastra dan politik selalu merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Meskipun untuk itu, tiga tahun dalam penjara Belanda, satu tahun dalam penjara Orde Lama dan empat belas tahun tahanan Orde Baru, mesti dicicipinya. Daya tahan hidupnya pula yang membuatnya bertahan. Meski kadang masih sering terlihat rasa marah terhadap ketidakadilan yang berlaku terhadap dirinya, namun kerap kali ia menyikapinya dengan rasa geli terhadap peristiwa yang baginya, hanya memperlihatkan kebodohan manusia belaka.

Ketika ditahan di penjara Belanda di masa revolusi, Pramoedya pernah mencoba untuk menyerah dengan melakukan patiraga. Katanya, “Kawula datang kepada sang Gusti; inilah diriku, kukembalikan semuanya kepadaMu; ambillah semua, bunuhlah kawula ini sekarang juga kalau memang sudah tidak berguna bagi kehidupan.” Ia malah menghasilkan novel Perburuan dan Keluarga Gerilya.

Tapi hari Minggu ini, ketika Jakarta diliputi mendung menjelang hujan deras, Sang Gusti memanggil Pram, demikian ia diakrabi, untuk pulang. Tentu bukan karena ia tak lagi berguna bagi kehidupan. Segala sesuatu mestinya senantiasa berguna. Yang hidup maupun yang mati. Mengiringi kepergiannya, barangkali kita bisa mengutip satu pesan pembuka di novel Bumi Manusia:

“Jalan setapak ini memang sudah sering ditempuh, hanya yang sekarang perjalanan pematokan.” Dan kita, tentu tak akan lupa untuk meletakkan patok tersebut. Selamat jalan, Maestro.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Koran Tempo, 1 Mei 2006.