Dari Mana Datangnya Cerita?

Adalah seorang putri bernama Syahrazad yang menyerahkan dirinya untuk dinikahi sang raja lalim bernama Syahrial. Sang putri melakukan itu untuk menghindari kurban lebih banyak, sebab sang raja selalu membunuh pengantinnya selepas melewati malam pertama. Tapi dengan cara apa Syahrazad sendiri menyelamatkan nyawanya? Jawabannya: dengan bercerita. Setiap malam, Syahrazad menceritakan sederet kisah yang akan digantung ketika fajar menjelang. Sang raja akhirnya tak pernah memenggal kepada sang putri, sebab ia selalu ingin mendengar lanjutan kisah yang diceritakan Syahrazad, begitu pula besok paginya, dan besoknya, dan besoknya. Sekarang kita menyebut dongeng tersebut sebagai Kisah Seribu Satu Malam.

Sesungguhnya kita adalah pewaris Syahrazad. Tugas utama kita sebagai penulis cerita, sebagaimana Syahrazad, adalah memastikan bahwa pembaca kita akan terus mengikuti dongeng dari awal hingga akhir, atau kepala kita dipenggal sebagai taruhannya.

Selama bertahun-tahun saya mencoba menulis dan menjadi Syahrazad. Seperti sebagian besar yang lain, saya mencoba puisi, karena saya pikir lebih pendek dan lebih gampang. Belakangan saya tahu puisi tidaklah gampang, dan saya segera meninggalkannya. Lagipula saya ingin menulis cerita. Saya melirik cerita pendek, sebelum punya keberanian untuk membayangkan menulis sebuah novel.

Dan menulis cerita ternyata juga bukan perkara gampang. Saya tak tahu apa yang akan diceritakan. Saya membaca majalah dan mencoba mencari tahu apa yang mereka ceritakan. Setelah membaca lebih banyak cerita, saya mulai bisa membayangkan apa yang bisa saya ceritakan. Saya mulai menuliskannya. Tapi setelah selesai ditulis, saya baru menyadari, tulisan saya tak lebih dari ulangan dari satu atau dua cerita yang pernah saya baca. Memang tidak menjillak, tapi karena segalanya diambil dari tulisan orang lain, cerita itu segera jadi terasa basi.

Maka saya mulai berpikir tentang sesuatu yang, katakanlah, orisinil. Istilah ini sendiri sebenarnya membingungkan. Mungkin lebih baik kita sebut pura-pura orisinil. Saya mulai meninggalkan cerita-cerita di majalah, sebab saya tak ingin nanti kembali terpengaruh. Saya mencoba menjalankan nasihat-nasihat lama yang mengatakan, sumber cerita sejati adalah kehidupan ini sendiri. Saya mulai menjadi pengamat amatir. Saya memperhatikan ibu memasak di dapur, ayam jago berkokok di pagi hari, orang-orang pergi ke pasar, nenek mengantarkan rantang untuk kakek di sawah. Segala yang bisa saya lihat dan dengar saya perhatikan betul.

Tiba-tiba saya menyadari ada begitu banyak hal yang mungkin belum diceritakan orang. Begitu melimpah. Harap diingat waktu itu saya masih membaca majalah remaja, dengan cerita-cerita tentang anak sekolah jatuh cinta, bolos sekolah, berkelahi di toilet, atau bu guru yang judes. Kenapa harus menceritakan hal begitu terus-menerus? Lihat, kita bisa menceritakan ayah yang doyan pakai sarung, paman yang pergi menengok air di pagi buta, dukun beranak yang siap sedia setiap waktu, atau tukang reparasi arloji di ujung pasar.

Saya mulai memilih objek yang saya pikir paling unik, dan saya merasa itu orisinil. Saya merasa bahagia karena menemukan satu objek cerita yang belum pernah saya lihat ditulis orang lain. Segera saya ambil kertas dan mesin tik, dan mulai menulis. Begitu semangat, hingga segalanya berakhir menjelang akhir halaman pertama. Saya bingung, apalagi yang harus saya tulis? Saya mencoba berpikir lebih keras, tapi tak ada ide baru untuk melanjutkan cerita tersebut. Setelah lelah berpikir, kemudian saya mulai meragukan kehebatan objek cerita saya. Lama-kelamaan mulai tampak terlihat jelek. Saya menggulungnya dan segera membuangnya ke tempat sampah. Saya beralih ke objek lain, yang saya pikir lebih unik dan orisinil, tapi selalu menemui jalan buntu di paragraf menjelang akhir halaman pertama. Saya selalu tak tahu setelah menceritakan beberapa bagian, apalagi yang mesti saya ceritakan. Dalam kasus Syahrazad, seharusnya saya sudah dipenggal.

Setelah beberapa kali menyerah, saya kembali ke cerita-cerita yang ditulis orang lain. Saya kembali membaca mereka, kali ini bukan untuk tahu apa yang mereka ceritakan, tapi bagaimananya mereka menceritakannya. Satu cerita saya bandingkan dengan cerita lainnya. Saya mulai meraba-raba dan mulai merasa menemukan resepnya. Hmm, sesungguhnya semua cerita ternyata memiliki sturktur seperti sandiwara tiga babak di sekolah. Pertama, mesti ada masalah. Kedua, dari masalah kemudian datang konflik. Ketiga, setelah konflik mestinya ada penyelesaian. Belakangan saya baru tahu itu rumus yang sudah klasik, sudah dipikirkan sejak zaman Aristoteles!

Setelah merasa tahu, kini saya mengamati sekeliling saya dengan cara yang berbeda. Saya tak lagi mencoba melihat keunikan dan keorisinilan segala sesuatu. Saya mulai mencoba melihatnya sebagai suatu masalah. Ayam jago berkokok di pagi hari, apa masalahnya? Senja berwarna jingga, apa masalahnya? Saya kembali ke mesin tik setelah memperoleh beberapa masalah, yang saya pikir sangat menarik untuk diceritakan. Kali ini saya tak lagi memperoleh writer’s block, atau kemacetan, sebab setelah membeberkan segala masalah, saya tahu harus segera masuk ke konflik. Semua masalah pasti menimbulkan konflik! Dan kalau konfliknya sudah terpikirkan, tinggal mencari penyelesaiannya. Ah, kali ini menulis cerita tampak menjadi lebih gampang. Saya bisa menulis beberapa cerita, dari awal sampai akhir.

Tapi oh, ketika saya membacanya lagi, kembali saya menemukan fakta menyedihkan ini: cerita saya memang jalan, tapi tetap tak menarik. Ceritanya mungkin mudah ditebak. Atau kadang-kadang melelahkan, membosankan, menyebalkan. Tepatnya, sebagai penulisnya sendiri, cerita-cerita saya tak ada menariknya. Padahal saya sudah menulis berdasarkan resep yang benar, kan? Putus asa saya kembali ke cerita-cerita yang sudah ditulis orang lain, yang menurut saya berhasil dan asyik sebagai cerita. Saya mencoba mencari tahu, apa yang membuat mereka menarik. Objek cerita mereka kadang sederhana, masalahnya juga seringkali biasa saja, tapi kenapa ceritanya bisa menarik dibaca. Pasti ada resep-resep lain, pikir saya.

Begitulah, di luar semua itu, saya menemukan hal-hal lainnya. Saya menemukan di beberapa cerita, bahasanya memang begitu bagus. Kalimat-kalimat mereka demikian jernih. Peristiwa-peristiwa yang ditulis sangat terpilih. Karakter-karakter tokohnya mengagetkan. Semua itu membuat saya longsor dan menyadari, betapa masih panjang jalan yang harus saya tempuh untuk menaklukan seni menulis.

Saya juga kembali mengamati sekitar. Melihat bagaimana ayah makan, sebab cara makan ayah berbeda dengan ibu. Cara bicara penjual di pasar berbeda dengan cara bicara pak polisi. Saya belajar nama-nama binatang, nama-nama bunga. Saya belajar sejarah, filsafat, psikologi, antropologi, fisika, kimia. Tentu saja saya juga kembali ke karya-karya yang telah memperkenalkan saya dengan seni menulis ini. Saya belajar bagaimana Franz Kafka membuat kalimat pertama dalam novel-novelnya. Saya belajar bagaimana Gabriel Garcia Marquez membangun struktur novelnya, sebagaimana mencari tahu bagaimana Ernest Hemingway menyusun kalimat-kalimatnya.

Kini saya beranggapan, menulis cerita, dan kemudian menemukan dari mana cerita berawal, adalah suatu benturan tak ada henti dari apa yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, dan apa-apa yang telah diajarkan oleh para penulis terdahulu dalam karya-karya mereka. Dengan kata lain, bagi para pewaris Syahrazad, mengetahui sebanyak-banyaknya hal dalam kehidupan ini sama penting dengan terus membaca karya-karya terbaik yang telah dituliskan untuk kita.

Artikel ini saya tulis untuk Jakarta School, sebuah sekolah penulisan kreatif yang digagas dan dikelola oleh penulis A.S. Laksana dan Yayan Sofyan.

One comment on “Dari Mana Datangnya Cerita?

  1. swastika says:

    mas eka, saya sedang menempuh belukar yang mungkin, sulit, sekaligus rumit, karena saya saat ini sedang mencoba menulis sebuah novel, dengan banyak tanpa, seperti tanpa dukungan finansial memadai, yang membuat saya seolah sama seperti Melquiades, terbebani oleh persoalan remeh temeh kehidupan, sedang di sisi lain saya harus memaksakan batas pengetahuan dan imajinasi, seperti jose arcadio buendia, yang bercerita pada anak-anaknya, karena begitu miskinnya koleksi literatur yang saya miliki… tapi, ah, sudahlah, saya anggap semua itu sebagai tantangan untuk kehidupan saya yang lebih baik. Dan untuk memantapkan saya menempuh belukar ini, saya menarik diri dari pekerjaan saya. tanpa pesangon sedikitpun, karena saya merasa bahwa bila saya terus bekerja, maka salah satu mimpi saya untuk menjadi penulis hanyalah imaji belaka… pilihan ini adalah pilihan hidup, yang harus saya tempuh. Doakan saya, ya mas…..

Comments are closed.