Dari Komentar di Posting “Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi”

Mas, kayanya ga usahlah bicarain seputar permasalahan agama (jilbab bukan tradisi, tapi emag kewajiban). kalo belom ada ilmunya, jadi keliatan begonya mas.
jangan sok demokrasi-demokrasian, plural-pluralan, HAM-HAMan, itu semua juga masih kontradiksi mas.
dalam Islam jilbab itu wajib, ya udah jangan diganggu keyakinan orang itu. katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang.
itu aja sih yang ingin saya omongin. udahlah, mas eka nulis yang mas eka ngerti aja. saya suka kok tlisan2 mas eka.

Dari Komentar tukangtidur di posting Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi
(Saya pindah ke dapan barangkali ada yang tertarik menanggapinya)

30 comments on “Dari Komentar di Posting “Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi”

  1. imam says:

    hihihi, awalnya speechless baca komentar tukang tidur. bawaannya pengen tidur, pengen nyenyak.

    ini orang baca posting sebelum komentar, atau, seperti lirik homicide, “tebas dahulu lehernya baru beri kesempatan untuk bertanya”?

    kalau begitu, agar bisa dibilang bego oleh tukang tidur, saya katakan: saya sepakat dengan pamuk, saya sepakat dengan eka. di mata seorang tukang tidur, saya satu level dengan pamuk dan eka. tak apa, walau mata dari seorang tukang tidur.

  2. imam says:

    bicara soal tebas leher, saya sempatkam mampir ke blog tukang tidur. eh beneran ada di comment salah satu postingnya.

    “whahaha! sungguh kritikan yang pedas untuk negeri ini!
    sepakat!
    lebih baik keluar dari Islam, dari pada ga mau menerima syariat Islam sama sekali. Menjadi murtad adalah jalan yang terbaik. tapi kayanya pada takut kepalanya buntung kali ye… atau mereka masih mengharap surga? wah… wah… no comment deh=)” (tukang tidur)

    wkwkwk, jadi ngeriiii….

  3. ekakurniawan says:

    hi, imam,
    aku mampir blogmu dan menemukan kutipan terkenal Voltaire yang kayaknya relevan untuk teman kita di atas:

    “Aku tidak sependapat denganmu, tapi aku bela mati-matian hakmu untuk bebas berbicara mengeluarkan pendapat.”

  4. richard oh says:

    Wah, manusia sudah bisa mengirim explorer ke Mars, masak urusan jilbab aja gak boleh dibahas. Percuma donk begitu banyak darah yang tumpah untuk Reformasi? Atau sekarang malah jalannya mundur balik ke zaman yang lebih parah, abad pertengahan? Di salah satu website komunitas muslim, dipaparkan satu article Alain Badiou yang menurut saya ditulis dengan logika pemikiran yang patut dipuji. Dia menolak peraturan pemerintah Perancis yang melarang semua murid sekolah negeri memakai dandanan ataupun simbol-simbol agama ke sekolah. Walaupun alasan pemerintah itu supaya sekolah menjadi tempat belajar yang bebas dari konflik-konflik perbedaan agama, Badiou tetap menolak kebijakan itu. Alasannya, kalau di negara yang tidak melarang perempuan berpakaian minim, kenapa ia melarang perempuan yang memakai jilbab. Bukankah, keindahan wanita bisa dilihat dari sisi yan berbeda? Yang ingin menyembunyi dirinya di balik busana, dan yang ingin memamerkan dirinya. Penolakan Badiou, walaupun berbeda dengan pemikiran Orhan Pamuk, saya kira rujukkannya hampir sama: yaitu, urusan berbusana seseorang seharusnya itu urusan pribadi. Tidak perlu ada campur tangan pemerintah, dan perlu ditambah juga tidak perlu campur tangan kelompok agama. Yang perlu kita juga belajar dari dua pemikir ini adalah mereka membela hak kebebasan setiap individu utk beragama, berpakain, dan mengemukakan pendapat, bukan karena mereka membela satu agama tertentu.

  5. refanidea says:

    Menulis perspekstif kita thd hal2 yang prinsipil seperti agama misalnya, memang siap2 ‘dicubit’ ama orang yg merasa lebih ‘mengerti’.

    Aku sempet di ‘gerudug’ juga waktu nulis di blog tentang Ahmadiyah.

    Soal jilbab, pernah baca tulisannya Nong Darol Mahmada..? Silahkan baca di portalnya JIL dengan kata kunci “Nong Darol”. Tapi kayaknya portal JIL lagi diperbaiki.

    Salam..

  6. tukang tidur says:

    pertama-tama, setelah saya baca ulang komentar saya ini, ternyata memang terlalu kasar untuk mengomentari blog orang. (saya minta-maaf).

    tapi izinkanlah saya untuk memberikan semacam alasan mengapa tiba-tiba saya menulis tidak sopan bgitu.

    pertama, akhir-akhir ini saya merasa ada ketidak-fairan media massa terhadap islam. Pasca Insiden Monas adalah bukti, betapa ternyata media tidak bisa menolak untuk berpihak. Media sekaliber Metro TV dan Tempo ternyata tidak ada bedanya lagi dengan berita Patroli, Buser, atau pun cek n ricek. ada kemarahan ketika saya menonton berita-berita yang hanya sekadar rumors itu. Dan ketika saya membaca tulisan mas Eka yang sependapat dengan Pamuk, bahwa ilbab itu hanyalah tradisi, tiba-tiba saja kejengkelan saya muncul lagi. Saya sering menengok situs mas Eka, dan saya banyak mendapatkan pelajaran dari tulisan-tulisan mas Eka. Tapi, entah mengapa, setelah saya membaca tentang ‘jilbab’ ini, saya tiba-tiba saja merasa jengkel.

    sebelumnya, hari minggu yang lalu, di komunitas saya ada acara bedah puisi, dan pembicaranya adalah seorang penyair yang sudah memiliki nama. (saya tak usah menyebut namanya). Ada kalimat menarik dari dia, yang akhirnya saya kutip di sini: “Tidak usah plural-pluran, tidak usah demokratis-demokratisan, tidak usahlah kita mencari muka terhadap orang-orang barat sana.”
    Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Akhir-akhir ini saya memang sering menyaksikan betapa banyak sekali orang Islam yang sudah mulai malu terhadap agamanya sendiri.

    HAM adalah sebuah ironi.
    mungkin mas eka bisa baca tulisan (marah-marah) saya di: http://tukangtidur.multiply.com/journal/item/82/perbincangan_tentang_HAM

    untuk mas Imam, saya juga suka dengan homicide. masih ingat dengan lirik, “lawan api dengan api”? dan saya juga suka dengan lirik-lirik thufail al ghifari.

    untuk mas richard oh, saya juga sepakat dengan pendapat mas. Sebenarnya itulah maksud mengapa saya menulis komentar seperti itu diblog mas Eka.

    salam,
    tukangtidur

  7. ekakurniawan says:

    untuk tukangtidur:
    Ini kutipan lengkap dimana saya sepakat dg Pamuk:

    “Saya sepakat dengan Pamuk, kita mestinya tidak mengurusi jilbab. Kita tidak bisa melarang, sekaligus tak bisa memaksakannya. Yang terbaik, kita mesti menghormati seseorang yang mau mempergunakannya, dan menghormati pula yang tidak mau mempergunakannya.”

    Pointnya, tak ada hujatan saya (dan saya pikir juga Pamuk) terhadap jilbab. yang saya hujat adalah orang yang memaksakan orang lain untuk memakai atau tidak memakai. Saya pernah berdebat seru juga dengan Richard Oh mengenai kasus di Prancis, dimana posisi saya sama seperti Badiou dalam komentar Richard: negara pun sebaiknya tak mengurusi bagaimana orang mau berpakaian. jika simbol2 agama berpotensi memicu bentrokan, kewajiban negara mengajari rakyatnya untuk menghargai perbedaan, bukan malah menghilangkan perbedaan tersebut.

    Kasus di Prancis dan Turki sebenarnya agak mirip: pemerintah melarang memakai jilbab di sekolah. Bedanya, Prancis bukan negeri muslim dan kuatir simbol2 agama akan memecah-belah warganya (tak hanya jilbab, mereka juga melarang kalung salib di sekolah, misalnya). Di Turki, mayoritas masyarakatnya muslim, tapi pemerintahnya sangat ingin sekuler (warisan Kemal Ataturk). Belum lama, parlemen akhirnya memutuskan “mencabut larangan penggunaan jilbab” di universitas (tak mengherankan, karena partai2 berbasis Islam memenangkan banyak kursi di parlemen). Artinya: Anda sekarang boleh mempergunakan jilbab.

    Banyak kaum sekuler Turki yang meradang dengan pencabutan ini. Kalau baca posting saya dengan benar, justru Pamuk berada di pihak yang mendukung pencabutan larangan ini.

    Baru-baru ini, novelis Turki peraih Nobel Kesusastraan 2006 Orhan Pamuk memberi dukungan penggunaan jilbab di universitas.

    Kenapa? Karena bagi dia, bukan urusan pemerintah mengatur perempuan mau pakai jilbab atau tidak. Atau dalam istilah dia:

    “Jilbab merupakan isu yang kompleks; mengaturnya dari atas merupakan kesalahan.”

    Pamuk memang berpendapat, jilbab adalah tradisi. Tapi ia juga mengakui, itu isu yang kompleks. Intinya tetap saja, siapa yang pakai jilbab dan siapa yang tidak mau pakai, pemerintah (dan kita) harus menghormati pilihan manapun.

    Berikutnya, saya ingin mengomentari komentar kedua, terutama kutipan ini:

    pertama, akhir-akhir ini saya merasa ada ketidak-fairan media massa terhadap islam.

    Dalam kasus monas, media mungkin tidak fair terhadap FPI (dan simpatisannya), tapi saya tak bersepakat itu diartikan (sebagaimana kata-katamu) sebagai tidak fair terhadap Islam. Bagi saya kutipan semacam itu merupakan pengerdilan terselubung terhadap Islam dengan menciutkannya sebagai kasus sekelompok orang Islam. Sebagai seorang muslim saya merasa tidak nyaman agama saya diperlakukan seperti itu.

    Dan ini kutipan dari komentar pertamamu, yang menambah prasangka saya:

    katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang.

    Apa yang dimaksud “agama orang”? Tak hanya saya berhak bicara apa saja, tapi saya juga seorang muslim yang tentu saja berhak bicara tentang agama saya sendiri. Dan sejauh yang saya tahu, Orhan Pamuk juga seorang muslim. Inilah yang akhir-akhir ini membuat saya sebal: tiba-tiba ada sekelompok orang yang merasa memiliki “otoritas” untuk menentukan Islam dan bukan-Islam, benar dan tidak benar, siapa yang boleh bicara tentang Islam dan siapa yang tidak boleh.

    Oh ya, saya tidak punya masalah dengan komentar kasar atau sejenisnya. Dan komentator lain juga saya rasa tak ada yang mempermasalahkan soal itu pula. Itu oke-oke saja …

  8. ekakurniawan says:

    tukang tidur:
    setelah saya berkunjung ke blogmu dan membaca postingan yang kamu rujuk di http://tukangtidur.multiply.com/journal/item/82/perbincangan_tentang_HAM saya tertarik menanggapi. Ini kutipan dari blogmu:

    “Contoh gampangnya begini: ketika ada seorang muslimah memamerkan liukan pantatnya di depan umum, sebagian besar masyarakat kita yang beragama Islam merasa terganggu akan aksi ‘pantat’nya itu dan marah karena menganggap si muslimah itu enggak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah, tapi para pahlawan HAM ini bukannya mendukung masyarakat Islam, eh, malah mendukung si muslimah ‘pantat’ itu. Alasannya, itu adalah HAK si muslimah untuk bergoyang seperti itu. Mencret! Lagi-lagi hak yang menjadi tolak ukur akan kebenaran seseorang. Bagaimana dengan hak kita yang beragama Islam? Bukankah si muslimah ‘pantat’ itu udah melanggar hak kita sebagai umat Islam, karena telah mengobral pantatnya di depan umum?”

    Pertanyaan saya: apakah si muslimah ‘pantat’ ini bukan bagian dari “kolektif” juga, yakni segerombolan muslimah2 ‘pantat’? ingat, yang bisa disebut kolektif tak hanya “kamu dan teman-temanmu”.

    ilustrasi lain: jika saya terganggu dengan pakaian seorang muslimah yang tertutup rapat, atau seorang muslim yang memakai sorban, pantaskah saya menyalahkan muslimah yang tertutup rapat dan muslim yang memakai sorban? saya juga sering terganggu dengan orang berpakaian polkadot, tapi saya tak mungkin menyalahkan mereka yang memakainya, kan, kecuali di rumah saya dan saya bikin peraturan itu. (ilustrasi ini hanya membalik “ketergangguan”mu melihat muslimah “pantat”, kan?)

    hak satu orang dengan hak lain orang memang berpotensi bertabrakan. itulah kenapa kita memerlukan hukum yang mengatur dan menjamin hak-hak setiap individu (atau kolektif) ini dipenuhi. aturan ini bisa dikatakan sebagai “penjatahan”. ada ruang2 dimana diberikan ekslusif untuk kelompok kepentingan tertentu, tapi juga ada wilayah publik dimana semua orang boleh di sana. misalnya, ada aturan di tempat mana boleh minum minuman keras (bagi yang mau minum), dan dimana tidak boleh minum (bagi yang tidak mau minum), dan ada wilayah dimana boleh minum dan boleh tidak minum. Sama seperti rokok: dimana untuk yang boleh merokok dan dimana yang dilarang merokok. Sama seperti film: mana yang boleh dilihat 17tahun ke atas, dan mana yang boleh untuk semua umur. Negara, dalam hal ini harus berdiri di atas semua golongan dan kepentingan. Beri tempat untuk masing-masing kepentingan, sekaligus sediakan pula ruang publik dimana semuanya bisa berbaur (jika tidak suka berbaur, toh masih ada ruang yang ditujukan khusus untuk kelompok, tertentu, kan?)

  9. tukang tidur says:

    Terimakasih untuk mas Eka atas tanggapannya.

    Untuk sekadar memberitahu, tulisan saya yang berbunyi: “Katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang”, adalah untuk mereka yang akhir-akhir ini gemar ber’demokratis-demokratis’an, ber’HAM-HAM’an, tapi dalam implementasinya malah amatsangattidakdemokratissekali. Jadi saya tidak bermaksud menunjuk mas Eka. (dalam hal ini, komentar saya itu memang agak teledor. Mengingat saat menulis komentar itu saya dalam keadaan ‘ngamuk’).

    Di dalam Islam, Jilbab adalah sebuah kewajiban untuk seorang perempuan Muslim. Setahu saya, apabila Daulah Khilafah Islamiyah (yang dahulu berhasil di jatuhkan oleh si pengkhianat Mustafa Kemal Attaturk) kembali berdiri (Amin!), perempuan-perempuan non muslim juga wajib mengenakan jilbab jika sedang keluar rumah.

    Dan saya sangat tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa jilbab adalah tradisi arab. Islam memang turun di Arab, tapi Islam bukanlah tradisi Arab. Islam adalah Dien. Sebab, banyak sekali tradisi-tradisi Arab yang dihilangkan setelah kedatangan Islam. (mungkin kalo pembahasan ini mau diteruskan akan menghasilkan diskusi yang amatsangatpanjangsekali. Lagi pula kita jangan cuma membaca dari satu referensi aja, kan? Kalau selama ini referensi kita dari JIL, sekali-kali bolehlah kita baca dari buku-buku atau situs-situs yang sering dicap sebagai si ‘fundamentalis’, begitu pula sebaliknya)

    Yang saya tidak setuju dari Orhan Pamuk adalah ketika ia mengatakan bahwa Jilbab adalah tradisi. Kalau pun ia menolak pelarangan Jilbab di universitas, saya tetap menolak alasannya. Sebab dengan alasan seperti itu, mas Eka jadi bisa saja membalik kasusnya: bahwa diwajibkannya jilbab di sekolah-sekolah daerah pun adalah sebuah kesalahan.

    Mas Eka menulis begini: “Untuk perkara Inilah yang akhir-akhir ini membuat saya sebal: tiba-tiba ada sekelompok orang yang merasa memiliki “otoritas” untuk menentukan Islam dan bukan-Islam, benar dan tidak benar, siapa yang boleh bicara tentang Islam dan siapa yang tidak boleh.”
    Menurut saya, siapa saja memang boleh bicara tentang apa saja (sekali pun tentang Islam), asal mereka menguasai apa yang dibicarakannya itu. Meskipun Ali ra. pernah berkata, “jangan lihat siapa yang berkata, tapi lihatlah apa yang dikatakannya.”, tapi menurut saya seseorang haruslah mengetahui betul tentang apa yang sedang dibicarakannya. Sebab, kalau kita belajar dari perkataan seseorang yang bukan ahlinya, itu sama saja kita sedang dituntun oleh orang buta yang mengaku bisa membaca peta.

    Ada yang menarik dari tulisan di Zine yang saya lupa nama zinenya apa: Jika kamu ingin mengetahui tentang Anarkisme, tanyakanlah kepada seorang anarkis.

    Dalam hal ini, saya sepakat dengan perkataan Habib Rizieq pentolan FPI kepada salah seorang praktisi hukum, “Antum memang lebih mengerti tentang hukum, tapi kalo soal Islam, antum lebih baik minggir!”

    Senada dengan chairil, “Yang bukan penyair, dilarang ambil bagian!”

    Salam.
    Tukang tidur

    (untuk tanggapan mas eka yang kedua menyusul)

  10. memet says:

    “Saya setuju ama eka .

    ‘ilustrasi lain: jika saya terganggu dengan pakaian seorang muslimah yang tertutup rapat, atau seorang muslim yang memakai sorban, pantaskah saya menyalahkan muslimah yang tertutup rapat dan muslim yang memakai sorban? saya juga sering terganggu dengan orang berpakaian polkadot, tapi saya tak mungkin menyalahkan mereka yang memakainya, kan, kecuali di rumah saya dan saya bikin peraturan itu. (ilustrasi ini hanya membalik “ketergangguan”mu melihat muslimah “pantat”, kan?)’

    Saya sebagai perempuan muslim, juga kadang2 gak merasa nyaman lihat perempuan lain yang pake jilbab (terlalu) besar, bercadar. Seperti halnya tidak nyamannya saya melihat perempuan dengan pakaian terlalu minim.tapi toh saya tidak bisa melarang mereka untuk memakai jilbab besar atau pakaian minim.”

  11. sarastia says:

    saya setuju ama Chiristiano ronaldo.dah ganteng jago bikin gol. soal besar di negara kita adalah : TIDAK PERNAH OLAH RAGA!!!!!!!!!!

  12. sarastia says:

    maksud saya adalah : terkadang banyak orang (mungkin juga termasuk saya) tidak bisa membedakan mana yang taktis mana yang strategis. tidak pernah BERPIKIR!!!!!. semuanya jadi SPORT OTAK dari orang yang bangunnya selalu kesiangan, baik bangun fisik maupun secara mental.
    kalau mau ngomongin JILBAB, ya liat dulu UUD ngomong apa???.dari situ baru bisa dilihat apa maunya UNDANGUNDANG DASAR KITA????!!!! IKUTIN TU TULISAN !!!!.
    ini baik yang islam maupun yang pro kebebsan emang SAMASAMA GAK BERES!!! yang satu FUNDAMELISME AGAMA YANG SATU FUNDAMELISME KEBEBASAN PLURALISME!!!!.

  13. sarastia says:

    APAKAH SAYA NGOMONG TANPA BUKTI?????. DATANG AJA PENGAJIAN DI MASJID BESAR KOTAMU, LALU MASJID DI DAERAH LEBIH KECIL LAGI LALU DI KAMPUNG, dengarkan dan cermati. lalu PERGILLAH KE DISKUSI PARA SASTRAWAN BESAR TUH!!!DATANG KE PAMERAN SENI RUPA!!!!dengarkan, liat dan cermati!!!!
    KITA INI EMANG BANGSA DUNGU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  14. sarastia says:

    JANGAN PERNAH SALAH DI AWAL!!!! tu dah jawabnya!!!!!!!!!!
    SEKARANG BACA MAJALAH TEMPO KEMAREN, mengenai legalisasi GAY!!!!cari kliping 4 tahun lalu kejadian di prancis, di belanda: salah satu partai menuntut usia kejahatan pedopili diturunkan jadi 9 tahun!!!!!baca NORWEGIAN WOOD!!! akhirnya perdebatan PILIHAN PALING BEBAS pun, berujung pada MANA BATASNYA???.ingat toru watanabe toh tidak mau menyetubuhi midori, sebab perasaanya belum jelas, apakah mencintai midori atau naoko; lebihd ari itu sebab TORU hidup dengan JUJUR, dengan TEKS yang hidup dalam hatinya; meskipun terhadap HASRAT DAN CINTA SEJATI toru masih kompromis, yaitu membiarkan Midori melakukannya dengan tangannya, dan melarangnya telanjang,melarangnya menyorongkan payudaranya, MENYADARI ADA YANG LEMAH DARI DIRI MANUSIA BERHADAPAN DENGAN HASARAT YANG LEBIH BESAR!!!

  15. sarastia says:

    MENYORONGAKN PLURALISME DAN DEMOKRASI KEPADA LINGKAR SENIMAN, tu MEMAMAH BIAK SAMPAH!!!!TETAPI MENYORONGKAN AGAMA, tu membuat RADIKAL!!!!! agama, membaca alquran, sholat, ke gereja, dan seterusnya itu, bagi manusia yang lemah, SANGAT PENTING. sebab, ada DISIPLIN. sebab industri pornografi BUKAN PERKARA ENTENG BAGI KEBERLANJUTAN SPESIES KITA!!!!!!!!!!!!
    industri pornografi industri senjata: LIAT ANGKANYA YANG SEMAKIN HARI MAKIN MENGERIKAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  16. sarastia says:

    lah tentang UUD KOK gak dicantumkan???.TU MALAH YANG PALING PENTING!!bahwa ngomongin negara PERTAMA YANG HARUS DILIHAT ADLAH UUD!!!tu dah liat Gus Dur!!!

  17. sarastia says:

    KITA HARUS HIDUP DENGAN TULISAN!!!!SELURUH URUSAN BERES!!!!

  18. sarastia says:

    KALAU GAK SETUJU DENGAN UUD, ya GAK PAPA. seperti SAYA YANG BERCITACITA MENDIRIKAN NEGRA ISLAM KIRI PROTESTAN.he3. tapi, untuk semua urusan hari ini SEMUA HARUS MANUT UUD!!!!MANUT UNDANGUNDANG!!!!. kalau KITA DAH GAK NGORMATIN UNDANGUNDANGDASAR, GAK NGORMATIN TULISAN, BERSIAPSIAPLAH UNTUK PERANG PUPUTAN!!!!!anrchy hanya mungkin untuk komunitas kecil.KOMUNISME SEMPURNA hanya mungkin di untuk 10 keluarga (baca penelitian eksperimentasi sapa tu lupa).lebihd ari itu CHAOS!!!!!

  19. sarastia says:

    maka seeruan paling penting untuk bangsa kita adalah : MENSANA IN CORPORISANO!!!!!!!!!!!!!!!pahlawanpaling penting adalah CHRIS JOHN!!!!!!!!!! rajin olah raga, hidup dalam kompetisi p[aling keras, disiplin, rendah hati, hidup pribadi dan keluarganya manut UNDANGUNDANG (dia gak pernah kriminal) dan MANUT INJIL (dia suami setia, papa yang baik untuk anak-anaknya, gak mabuk, gak keluar malam. liat rekaman KICK ANDY!!!!)

  20. sarastia says:

    Kak, tentang chistiano ronaldo di cantumkan ya. juga tentang apa tu setlahnya, UNDANGUNDANG DASAR tu. tu yang paling penting!!ne dihapus aja.

  21. SARASTIA says:

    maksud saya, kalau gak setuju UUD ya berusaha ngrubah dulu, gitu. sebelum UUD dirubah ya musti nurut UUD!salam.sory, ne hari2 buruk saya.mangkel ma semua orang kak.

  22. refanidea says:

    Pada komentar 19 June 2008 – 11:52 pm, saya temukan kosakata baru, “Fundamelisme”.

    Ada yang bisa bantu saya menjelaskan “Fundamelisme” itu apa..?

    Apa kamus saya kurang lengkap? Atau google sedang dungu karena nggak bisa menemukan kata “fundamelisme”….?

    Mungkin ada baiknya kalau menulis komentar tidak dengan kepala panas setelah usai olah raga. Biar kepala dingin dulu, baru ngetik.

    Sebentar2.. ini topiknya Jilbab, atau olah raga?

  23. sarastia says:

    halo abang bodoh…kayak gitu aja disoalin sih..hahaha..dendam ya…dah belajar belum…huuuuuu….ya deh saya bodoh, ya deh abang pinter…horeeeeee…..

  24. sarastia says:

    abang refanidea, perseteruan kita diakhiri aja ya..kan abang dah ngebales.ok????…SAYA BERSALAH, saya minta maaf ya…setelah ini kita berteman yaaa….diskusi yang sehat, kasihan yang punya blog kan…duhhhhh…saya emang BEBAL.bikin apapun jadi berantakan.

  25. sarastia says:

    soal jilbab ya bang:karna saya berjilbab, besar lagi, saya yakin JILBAB TU WAJIB.pendapat tentang jilbab itu tradisi tu pendapat yang berasal dari wacana sosilogis yang membaca agama islam. ne dah lama sejak rasul wafat, kan emang dah berseteru tu antar tafsir.dan sejak awal, islam emang agama yang dekat dengan politik. sangat dekat, maka harus sangat hatihati membaca tiap tafsir, untuk mengambil jarak yang masuk akal dari PRETENSI POLITIK KEKANAKKANAKAN!!!!.
    nah, soal tafsir itu, saya bersikap sangat rileks, tetapi bukan melecehkan.rileks artinya, saya tidak kaku memegang tafsir tertentu agar dipilih semua orang, tidak, ne urusan pribadi saya, orang lain terserah.LAKUMDINNUKUM WALIYYADIN. tapi juga tidak melecehkan, misalnya membuat tafsir sendiri, saya gak seperti itu,saya merasa belum mampu, dan saya berusaha mencari tafsirtafsir dari para ahli tentunya(seperti juga bidangbidang lain yang memiliki ahlinya)sebanyak yang bisa saya jangkau, membuat berbagai tafsir itu bertikai, dan memilihnya sesuai dengan kemantaban hati saya.misalnya tafsir orhan pamuk, ya ne juga bukan tafsir baru, ditelaah aja, dibandingkan dengan tafsir yang sama, ditentangkan dengan tafsir yang beda.masingmasing punya hak hidup. pendapat orhan pamuk didengarkan karena dia memiliki kesempatan untuk lebih didengarkan, kesempatan untuk kita uji, karena beberapa reputasi yang dia bangun kan.gitu aja.

  26. sarastia says:

    kenapa diatas saya bilang INGAT UUD. ya pembicaraan apapun berkaitan dengan kehidupan BERBANGSA, ya harus dimulai dari UUD. bukan selainnya.tentang kehidupan publik, ya harus dimulai dari aturan2 publik yang ada dulu. baru berseteru, menguji aturan publik yang sudah ada tersebut; adakah masih mencukupi atau sudah harus ditinggalkan.dan seterusnya…

  27. sarastia says:

    sebab kita dah terlanjur hidup di negeri in, dan saya percaya apa yang sudah dibuat dan dipikirkan para pendiri REPUBLIK tercinta ini, dah paling baik. saya gak percaya lagi negara berdasarkan SATU AGAMA ATAU SATU RAS ATAU SATU SUKU.lah, jamannya aja dah internet kok. dulu kita bisa buat tembok berlin, tembok cina, sekarang, mau buat tembok mpe langit ketujuh???????….bandung bandawasa juga gak bisa buat kaleeeeee…….

  28. sarastia says:

    soal ahmadiah, ne emang soal rumit sekali. bagi tafsir ahlussunahwaljamaah (penamaan ini juga rumit, karena semua mengaku ahlussunah waljamah, tapi kira2 tafsir yang RATARATA mengambil dari arab saudi.nah, ini kan bisa dibaca PRETENSIPRETENSI politiknya, jadi sangat panjang dah), DASAR AGAMA adalah AQIDAH!!!!!.nah di dalam AQIDAH, ini ada beberapa yang dianggap MENYIMPANG.lah, karna dasar/fondasi agama adlah AQIDAH, maka penyimpangan atas AQIDAH, adalah MUSUH PALING BESAR. agama lain tu harus dilindungi, tapi penyelewengan AQIDAH tdk bisa ditolerir.DI DALAMNYA, termasuk Syirik, Bid,ah, dan khurafat itu.NE PERKARA PALING GAWAT bagi TAFSIR ISLAM INI. nah, ahmadiah tu menyimpang, maka ne soal BESAR!!!!!.di sisi lain, UUD mengatakan tentang kebebasan beragama, dan juga kemungkinan2 untuk MENGELIMINASI TAFSIR cuma pada PIHAK TERTENTU untuk semua bidang kehidupan, tu juga bahaya. maka emang ini soal kompleks sekali. dimensinya banyak.ini sekarang jadi RUWET, karena POLITIK itu kan.gak jelas lagi semuanya. maka bagi saya, yang paling jelaslah yang mesti dipertahankan, yaitu DIMENSI HUKUM!!!!!.seperti KEKERASAN, ne gak usah pakai diskusi, JELAS MELAWAN HUKUM.harus ditangkap dan diadili!!!!!!!!!.TEGAKKAN HUKUM!!!!sebab, kehidupan berbangsa yang cuma ditopang oleh MEDIA, tu BAHAYA juga. INSTITUSI HUKUM, yang merupakan pengejewantahan kepercayaan kita pada RUANG BERSAMA YANG ADIL, haruslah yang PALING UTAMA!!!!!!!

  29. sarastia says:

    ne adalah ujian kehidupan berbangsa kita. paham FPI berhak hidup(seperti juga paham kebesan sex misalnya), tapi KEKERASANNYA HARUS DITINDAK!!!!!!MAU JADI APA BANGSA IINI KALAU ORANG SEENAKNYA MAIN PUKUL????.mau urusan membela agama, mau apapun, HARUS DITANGKAP!!!!!!!.iya sekrang FPI yang melakukan, besok sapa lagi, besok sapa lagi, hancur dah BANGSA INI kalau dikit2 maen pukul.jamannya aja keyboard. tu HABIEB RIZIEQ SURUH NONTON FILMFILM ALIEN!!!!liat tu, makhluk masa depan bahkan gak butuh badan besar kok, cuma butuh 2 JARI, untuk main pencet TOOLS2 TEKNOLOGI!!!!.kalau mau nyiapin perang ma amerika, ya belajar teknologi kan.sebab meski amerika kedodoran di afgan dan di irak, tetep aja teknologi, tu PALING PENTING. dan semoga OBAMA MENANG, dan membawa sedikit inspirasi bagi KEHIDUPAN SEMESTA MANUSIA YANG JAUH LEBIH BAIK.amieeennnn…tu bang, saya dah ngomong jilbab panjang lebar tuh…

Comments are closed.