Darah Juang

Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan …

Di negeri permai ini,
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti

Ketika masuk Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, senior kami (berbeda dari kampus-kampus atau bahkan fakultas lain yang saya dengar) tidak memberi plonco fisik di saat Ospek. Malahan mereka mengajari kami keberanian mengemukakan pendapat, dan di lain hari, mengajarkan kami lagu-lagu yang kelak sering kami nyanyikan di jalan-jalan menjelang Soeharto jatuh.

Lagu di atas merupakan salah satu lagu yang saya hapal sejak pertama masuk kuliah. Hanya catatan lirik lagu, tanpa partitur, tapi saya yakin setiap orang yang mengenal lagu itu bisa menyanyikannya dengan tepat. Melodinya sederhana, dan menyiratkan sebuah hymne yang sebenarnya. Baru belakangan saya tahu lagu itu diciptakan agak keroyokan, di antaranya oleh seorang aktifis bernama Andi Munajat.

Tiga hari yang lalu ia baru saja meninggal dunia karena kecelakaan. Sejujurnya saya tak mengenalnya dengan baik. Meskipun kami satu fakultas, ia jauh di atas saya, dan ketika saya masuk tahun 1993, ia sudah hampir tak pernah ada di kampus.

Satu-satunya ingatan samar saya hanyalah mengenai seorang lelaki asing yang tiba-tiba masuk ke kantor Pijar. Itu nama majalah mahasiswa Fakultas Filsafat, tempat saya beraktifitas semasa kuliah. Tiba-tiba ada lelaki asing masuk dan tidur di ruangan Pijar. Ia tak bicara, tidak memperkenalkan diri, dan langsung tidur di pojok.

Kebingungan, saya bertanya kepada salah satu senior saya, “Siapa tuh orang?” Jawabannya sederhana, “Ia yang bikin majalah ini.” Belakangan saya tahu namanya Andi Munajat. Namanya selalu saya ingat, sebenarnya karena hal kebetulan lainnya: ia orang Pangandaran, meskipun kami tak pernah bertemu di sana, dan saya bahkan tak tahu rumahnya di mana. Saya mengingat namanya karena senang mempunyai tetangga misterius sepertinya.

Sekarang ia sudah pergi. Meskipun saya tak pernah lagi mengunjungi kampus, saya yakin lagu yang ikut digubahnya masih dinyanyikan mahasiswa-mahasiswa, tak hanya di Yogyakarta, tapi juga di kota-kota lain. Bahkan mungkin oleh kelompok-kelompok mahasiswa yang berbeda ideologi dengannya.

Tuhan selalu memanggil yang terbaik selagi masih muda, itulah yang terjadi. Tapi sebagaimana tersirat di lirik lagunya, darah juang itu harus direlakan. Selamat jalan, Andi, tetangga yang tak sempat saya kenal …

14 comments on “Darah Juang

  1. ruth monica says:

    sudah bagus sekali,saya terkesan membacanya!!!!!!

  2. bodrox says:

    saya tahu lagu ini :)

  3. Selamat jalan mas Andi… sampai kapanpun perjuangan tetap harus ada. Karena Penindas pun selalu berganti ganti dinegeri ini…

  4. leon says:

    klu benar dia dari Filsafat UGM aktifis kampus, dari pangandaran, berati dia Andi Munajat kawanku di SMA 5 Yogyakarta.
    Aku pernah jadi ketua kelasnya, atau setidaknya komandan barisnya. Beliu rambut lurus, kulit hitam, baik hati, suka gaul, dan dari sma sudah idealis. Kalau debat PMP selalu aktif, sambil ngomongnya ga jelas. aku sering ngeledeknya kalau bicara “oplok-oplok” namun dia tersenyum dan baikan kepadaku. sampai akhirnya kami beda jurusan, dan beda Fakultas.

    Selamat jalan Andi Munajat, karya dan namamu selalu dikenang kawanmu. aku yakin kini engkau diterima disisi yang baik Yang Maha Kuasa.

    Leon

  5. darmanto says:

    Turut berdukacita juga, yang mati muda dicintai para dewa.

    Hanya saja saya sedikit ingin bertanya tentang Lagu Darah Juang yang legendaris itu, apakah almarhum dkk., yang menciptakannya secara keroyokan, atau bagaimana? Soalnya saya juga pernah mendengar nama seorang Jonsony Tobing sebagai penciptanya. Sebagai mahasiswa yang masih bau kencur, saya juga tertarik dengan sejarah lagu yang menggetarkan ini… terimakasih atas kisahnya.

    1. ekakurniawan says:

      @darmanto:
      Jon Tobing salah satu yang membuat lagu itu. Ada yang bilang Jon dan Andi yg membuat lagu itu, lalu ditambal-sulam oleh nama-nama lain. Sampai sekarang siapa pencipta asli lagu itu memang masih misterius. Tapi konvensi di kalangan aktifis, lagu itu dibuat melibatkan kontribusi beberapa nama, meskipun nama Jon dan Andi yang paling sering muncul.

  6. nt says:

    makasih semuanya atas parhatiannya pada kakak saya …NT adik kandung Ang Emu sebutan Andi Munajat di keluarga besar..

  7. M.firadaus db jambek says:

    kita jangan sampai di tindas,terdiam.tertunduk degan satu kata lawan

  8. Feri says:

    Jadilah aktivis kampus…yang juga memperhatikan nasib rakyat. Bangkitlah Mahasiswa demi keadilan hancurkan penindasan ..!!

  9. terus terang, aq tak pernah tw sblumnya tentang dirinya… aq dr awal kuliah hingga tahun ketiga ini pun selalu bertanya-tanya, siapa sebenarnya pencipta lagu Darah Juang yang begitu legendaris itu… baru tadi pagi aku temukan jawabannya, pada saat Seminar Gerakan Mahasiswa 1990-an sekaligus Launcing Buku “Menyulut Lahan Kering Perlawanan: A Tribute to Andi Munajat”… ternyata, ia adalah mahasiswa UGM…
    selamat jalan wahai aktivis sejati sepanjang masa… walau aq tak mengenalmu, tetapi aku benar-benar merasakan ‘api’ perjuangan yang kau nyalakan itu…

  10. faisal says:

    apakah masi ada orang2 yang memperjuangkan hak2 rakyat tertindas di negeri ini???????
    semoga saja roh dari lagu tidak hilang seirirng dengan berjalannya waktu di mana penindasan dan keadilan mulai terlihat samar-samar………………patria o muerte……….

  11. Avel says:

    Sampai saat ini, lagu itu pun terus dinyanyikan dan menjadi batu asahan jiwa para pemuda dalam ‘berbicara’

  12. m. akid says:

    tahun 2009 ada peluncuran buku tribute to andi munajat,kebetulan saya jadi panitianya bersama temen KTR(komunitas tiga ruang) UKM fil.ugm..masih ada sisa buku di sekre KTR (kalo ada yang mau). saya masuk Fil.UGM 2009 walau secara langsung tak pernah bertemu dengan andimunajat tapi semangat beliau masih sangat terasa di fakultas sampai saat ini.

    slamat jalan mas andi, darah juang mu akan kami teruskan sampai anak cucu

  13. rd says:

    nt,,salam kenal dr banjarsari.ciamis

Comments are closed.