Cinta (Tak) Ada Mati

Oleh Handewi Soegiharto, Tulisan Sederhana

Kembali saya mengulas soal judul di atas. Semata-mata karena saya sangat mengagumi pilihan kata dari teman saya, Eka Kurniawan yang suka menyulap kata-kata Indonesia sehari-hari menjadi bahasa yang maha dahsyat. Judul bukunya adalah Cinta Tak Ada Mati, berkisah tentang seorang lelaki yang sedemikian mencintai seorang perempuan, namun tak sampai akibat pernikahan sang perempuan dengan lelaki lain. Bahkan sampai akhir hayat si perempuan, si lelaki rela mencium bibir suami perempuan tersebut hanya untuk mencari sisa-sisa bibir perempuan yang ia cintai di bibir si suami.

Mski saya sempat memprotes logika yang dipakai oleh Eka saat bertemu di sebuah kedai buku di bilangan Pondok Indah kira-kira setahun yang lalu, dalam hati saya sangat mengagumi pilihan bahasanya yang sekali lagi, maha dahsyat. Menurut saya, tidak ada seorang pun yang dapat merasakan Cinta Tak Ada Mati. Menurut saya seharusnya dipakai symbol kurung untuk kata “Tak”, menjadi Cinta (Tak) Ada Mati. Jadi hanya sebentar saja orang bisa merasakan cinta yang tiada mati, namun seringkali cinta tersebut mati juga bahkan saat cinta itu masih berada di samping kita. Eka hanya tertawa mendengar komentar saya. 

Sudah lama saya tidak bertemu Eka. Apalagi setelah beredarnya film Koper-nya Richard Oh, di mana saya dan dia berkolaborasi selama hampir 3 bulan untuk membenahi kalimat-kalimat Richard Oh, sang Filmmaker Wannabe. Eka bak hilang ditelan bumi atau lebih tepatnya saya yang hilang ditelan bumi karena kesibukan pekerjaan dan perjalanan selama setahun terakhir. Namun, kedahsyatan judulnya masih tetap terngiang di telinga saya. Bukan karena pada akhirnya saya pernah merasakan Cinta Tak Ada Mati, tetapi lebih karena keinginan saya untuk tetap mengartikan dan memainkan judul tersebut.

Cinta Tak Ada Mati, bisa dibuat menjadi Cinta Tak Ada, (maka) Mati. Atau Cinta, (kalau) Tak Ada (maka) Mati yang berarti tidak ada cinta berarti mati. Kalau saya bicara dengan beberapa teman yang pesimis karena selalu gagal dalam percintaan, maka mereka akan balik bertanya, Cinta itu Apa Sih? Jadi saya merasa tidak perlu mendiskusikan hal itu dengan para apatists. Karena untuk mengolah dan memberi makna pada kalimat di atas akan tidak ada juntrungannya.

Lain lagi dengan pasangan yang sudah bertahun-tahun bersama dan cenderung terlihat biasa-biasa saja. Mereka selalu mengkonfirmasikan dan berusaha meyakinkan saya bahwa keadaan “biasa-biasa” tersebut adalah cinta. Seorang teman yang sudah menikah sepuluh tahun mengatakan bahwa dia dan suaminya sudah saling cinta sehingga tidak harus mengekpresikannya seperti pertama kali berpacaran. Cinta tidak harus diekspresikan lewat sentuhan atau panggilan-panggilan manis kepada satu sama lain Setahun setelah dia bercerita seperti itu, mereka bercerai karena dua-duanya selingkuh. Alasannya sama dengan arti cinta bagi mereka, “biasa-biasa” saja karena sudah cinta, tapi selingkuh karena hubungan mereka sudah “biasa-biasa” saja juga sehingga mencari yang luar biasa di luar rumah. Maunya apa, sih?

Ada lagi beberapa teman yang selalu merasa jatuh cinta padahal baru bertemu satu menit. Seorang teman perempuan yang berprofesi sebagai pengacara mengatakan bahwa pengacara adalah orang yang pintar membalik-balikkan kata, tetapi saat jatuh cinta, dia bisa membuktikannya hanya dalam satu detik. Beberapa minggu setelah itu, ia patah hati. Ternyata bukan cinta, katanya.

Buat saya sendiri justru cerita tentang Cinta itu sendiri yang tak ada mati. Entah mengapa orang masih tetap suka membaca, menonton ataupun mendengar cerita cinta. Semua gosip baik di kantor ataupun di rumah, arisan, perkumpulan apapun pasti akan lebih seru kalau ada isyu drama percintaan. Paling tidak, mereka pikir kisahnya adalah percintaan, seringkali hanya karena dunia perisengan.

Jadi, sebenarnya, cerita cinta itu sendiri yang tiada mati.