Che dan Amerika

Istri saya sedang membaca buku tentang Che, tiba-tiba ia bertanya, “Amerika ini tukang invasi negara lain, ya?” Saya jawab, memang begitu. Itu negara yang enggak bisa hidup tanpa menginvasi negara lain. Lalu saya berkata berandai-andai, “Kalau Amerika menginvasi Indonesia, gimana? Aku sih kayaknya mau gerilya.” Istri saya menatap dengan cemas dan bilang, jangan mengatakan hal buruk. Tapi siapa tahu, kan? “Trus aku gimana?” tanyanya. “Kamu tinggal saja di kampung nenek di Tasik. Aku yakin tentara Amerika enggak tahu tempat itu,” kata saya. “Trus kamu?” Saya menjawab, “Gerilya di Bekasi.” Hehehe … perbincangan aneh antar suami-isteri, ya? Tapi soal Amerika suka menginvasi negara lain … kayaknya ini bukan suatu yang aneh. Seluruh dunia tahu itu: Kuba, Vietnam, Afghanistan, Irak, dan entah mana lagi.

5 comments on “Che dan Amerika

  1. roslanjomel says:

    He he he! Lucu kamu sih.

    Saya baru saja menonton dvd Land Of Plenty, arahan sutradara Wim Wenders. Apa filem ini bukan satira, mas Eka?

    roslan:
    aku belum nonton film itu. tentang apakah?
    (ekakurniawan)

  2. qizink says:

    indonesia termasuk yang diinvasi juga kan?

  3. Litchap says:

    Nonton Ka, film doku judulnya Where in the World is Osama Bin Ladin? Lucu dan sangat relevan bagi Amerika mau pun negara-negara Islam. Dalam doku ini, si pembuat film doku penasaran kenapa negara adikuasa seperti Amerika tidak mampu menemunkan dan menangkap seorang Osama Bin Ladin, maka ia pun berangkat dan melakukan investigasi di Saudi Arabia, asal Osama Bin Ladin, Marocco, Palestina, Israel, Afghanistan, dan Pakistan. Di tiap negara yang dikunjungi, kebanyakan orang yang diwawancara balas bertanya sang jurnalis: Osama Bin Ladin khan cuma hanya satu manusia, kenapa ditakuti? Kenyataannya sekarang dengan ada atau tidak adanya Osama, ideologi dari fundamentalis seperti Al-Qaeda sudah merambah ke seluruh dunia. Film doku ini menunjukkan bahwa strategi Amerika dengan Perang Melawan Teroris sama sekali tidak efektif: dana bermilyar-milyar yang dikucurkan dan persekutuan mereka dengan beberapa negara malah memperkuat tradisi hegemoni negara-negara tersebut dalam menindas bangsa mereka. Kesimpulan pada akhirnya adalah setiap keluarga ingin anak-anaknya bisa bersekolah dan tumbuh menjadi manusia pintar dan berguna. Keinginan untuk hidup sejahtera itu pada dasarnya universal. Jadi bukan manusia Amerika yang berengsek, tetapi pemerintahan Amerika, terutama para konservatif Republican, yang selalu melakukan agresi.

  4. dedy says:

    Saya teringat kata-kata Sub-Commandante Marcos: perang itu seperti hujan dalam hutan. Kita tahu kapan datangnya, tapi kita tak pernah tahu kapan berakhirnya.
    Umur pernikahan mas Eka sudah berapa lama, ya? Kalau sudah cukup lama, romantis sekali percakapan itu.
    Salam dari Makassar!

    dedy:
    pernikahan kami menjelang tiga tahun :)
    salam juga dari Jakarta.
    (eka kurniawan)

  5. binhad says:

    Hikmahnya adalah, menjadi suami jangan kayak amerika. Sayangilah istri, jangan diinvasi he-he.

Comments are closed.