Catatan Lebaran

Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal.

Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal.

Lebaran ini sepertinya saya tidak pulang, dan sebagai gantinya berkali-kali harus menelepon ibu saya, menanyakan kabar mereka di rumah. Pertama, tentu karena saya malas menghadapi kemacetan di jalan. Meskipun jalur mudik ke selatan tidak semacet jalur ke timur, tetap saja pulang menjelang Lebaran bukan satu perjalanan yang mengasyikan. Lebaran-lebaran tahun sebelumnya, saya lebih suka pulang dua atau tiga hari selepas Lebaran, ketika orang-orang justru kembali ke Jakarta.

Kedua, jika tidak ada halangan, saya akan ke Jepang akhir November untuk bicara tentang novel saya yang bakal terbit, “Malam Seribu Bulan”, atas undangan Tokyo University of Foreign Studies. Masih dua bulan, tapi saya harus mengurus visa di tengah kantor-kantor (termasuk kedutaan) yang terkena dampak tanggal-tanggal merah. Juga kesibukan mengurus tahap akhir novel saya, sebab novel itulah yang akan saya bicarakan di Jepang. Saya memutuskan untuk mendesain dan menata-letak sendiri buku ini, seperti yang saya lakukan di buku-buku pertama saya. Kalaupun saya mudik, tampaknya itu setelah urusan-urusan ini selesai saja.

Ketiga, kalau mudik, terlalu banyak yang harus dikunjungi dalam waktu yang singkat. Orang tua saya sekarang tinggal di Tasikmalaya, sementara adik-adik saya tinggal di Pangandaran. Jarak keduanya sekitar dua jam perjalanan dengan mobil pribadi, melalui jalur shortcut.

Sebelumnya, seluruh keluarga saya tinggal di Pangandaran. Di sana saya menghabiskan masa sekolah menengah saya. Rumah di Tasikmalaya merupakan rumah kakek-nenek saya, tempat saya dilahirkan sekaligus sekolah dasar. Tiga tahun lalu nenek saya meninggal, dan setahun lalu kakek saya juga meninggal. Rumah itu akhirnya kosong. Ibu dan ayah saya akhirnya memutuskan untuk menempatinya, sementara adik-adik saya tentu lebih suka tetap di rumah Pangandaran. Begitulah awal kerepotan: kalau pulang akhirnya mengunjungi Pangandaran, juga Tasikmalaya.

Setelah ayah saya kena serangan stroke dan kesehatannya memburuk, ia tidak lagi bisa bekerja. Ibu saya merawatnya, dan karena itu juga tidak bekerja. Daripada menjalani hidup yang agak membosankan karena tak banyak aktifitas, ibu dan ayah saya kemudian memilih pindah ke rumah di Tasikmalaya itu. Itu kampung halaman mereka, dengan teman-teman masa kecil mereka dan kerabat akan menjadi tetangga mereka. Saya dan adik-adik akhirnya merelakan keputusan mereka untuk tinggal berdua saja di rumah itu, terutama jika itu membuat mereka bisa lebih nyaman dan senang.

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi mereka di rumah itu. Rumah tersebut terletak di desa, satu jam perjalanan dari kota Tasikmalaya. Rumahnya sudah berbeda dengan rumah waktu saya dilahirkan. Ketika saya kecil, rumah kakek-nenek itu masih berupa rumah panggung khas rumah Sunda. Lantainya terbuat dari lampit (sejenis tikar) terbuat dari kulit pohon kiray. (Ah, saya bahkan belum tahu apa nama Indonesia dari pohon kiray ini. Pohon ini keluarga pohon palma, mirip aren atau pohon sagu, tumbuh di tanah rawa yang banyak airnya, pohonnya pendek nyaris tak memiliki batang, tapi dengan daun-daun dan pangkal daun panjang-tinggi menjulang). Atapnya terbuat dari daun kiray yang dianyam, dengan ijuk di bubungannya. Dindingnya anyaman bambu. Udara di dalam rumah selalu terasa dingin. Rumah panggung itu sudah hilang sekarang, diganti dengan rumah bergaya modern: tembok yang tertanam ke tanah, dengan kamar mandi di dalam, dan atap genting. Ah, sementara orang-orang desa menghamburkan uang untuk membangun rumah-rumah tembok ini, orang-orang kota membeli dengan harga murah rumah panggung mereka!

Di rumah tembok itulah sekarang ibu dan ayah saya tinggal. Mungkin di tempat yang sama pula dulu ibu saya dilahirkan (saya belum pernah menanyakannya). Kenyataannya, meskipun tempat itu hanyalah desa dengan segala keterbatasannya sebagaimana kebanyakan desa-desa di Indonesia, ayah dan ibu saya tampaknya senang berada di sana. Ibu saya bahkan pergi ke sawah dan mengurus sawah peninggalan kakek dan nenek saya. Saya tak pernah melihat ibu saya bertani. Ayah saya bukan keluarga petani dan sejak mereka menikah, mereka bekerja di bidang yang tak ada sangkut-pautnya dengan bertani. Tapi paman-paman saya bilang, ketika masih gadis, seperti gadis desa kebanyakan, ibu saya juga pergi ke sawah membantu nenek saya. Maka dengan modal ingatan masa gadisnya, ibu saya kembali mengurus sawah-sawah milik nenek. Ia bahkan sudah mengirimkan berasnya ke adik-adik saya di Pangandaran. Ia juga menawari saya untuk membawa beras, tapi saya tidak mengambilnya. Selain berat, saya cuma tinggal berdua, dan lebih sering makan di luar.

Di Pangandaran mereka meninggalkan dua rumah. Satu rumah dibangun ayah saya di halaman masjid Al-Furqon (artinya, “Pembeda”, nama lain dari Al-Quran). Ayah suka sekali dengan rumah itu, sebab dekat dengan masjid. Ketika belum terkena stroke, ia boleh dikatakan imam masjid itu, meskipun ia tak suka dengan panggilan “kyai”. Ia memimpin salat berjamaah di situ, bergantian dengan beberapa yang lain. Juga memberi khotbah di Jumat siang. Ia juga mengajari anak-anak tetangga mengaji. Saya sendiri bisa dibilang tidak belajar mengaji ke ayah saya, sebab pelajaran mengaji saya bisa dikatakan “tamat” oleh nenek saya. Latar belakang tradisi agama kakek dan nenek saya adalah tradisi santri-santri NU (ada banyak pesantren kecil dan besar NU di Tasikmalaya), dan dengan tradisi seperti itulah saya diajar ketika kecil. Di sisi lain, ayah saya mengurus masjid Muhammadiyah, dan pikirannya yang lebih modern tampaknya lebih cocok dengan itu. Begitulah, jika salat tarawih, nenek dan kakek saya salat dua puluh satu rakaat, sementara ayah saya sebelas saja. Saya? Sering lewat …

Rumah dekat masjid itu akhirnya ditempati adik saya yang sudah menikah. Rumah satu lagi ditempati dua adik saya yang lain. Saya punya lima orang adik. Dua yang lain tinggal di Yogyakarta. Jika pulang ke Pangandaran, rumah itu jadi terasa sepi. Kamar-kamar banyak yang kosong. Apalagi adik saya yang paling kecil, sudah remaja, lebih suka tidur di luar rumah, terutama di rumah teman-temannya (seperti saya juga begitu ketika seumur dengannya). Jika siang, ia bermain sepakbola. Kalaupun ada di rumah, ia asyik sendiri bermain PlayStation. Adik saya yang perempuan, yang tinggal bersamanya, pergi mengajar di sekolah menengah atas. Satu-satunya yang memenuhi keinginan kakek saya agar salah satu cucunya ada yang menjadi guru. Saya punya kamar di loteng, tempat saya menyimpan buku-buku zaman kuliah. Untunglah seorang sepupu saya sekarang tinggal di kamar itu, menjadikan rumah tersebut tak terlalu sepi.

Ce la vie, begitu kata orang Prancis. Adik saya yang tinggal di Yogya sempat menangis, kenapa kami harus tinggal terpencar-pencar begitu. Tapi peristiwa keluarga ini membuat kami bisa lebih bersikap toleran, dan melupakan ego sendiri. Jika di keluarga lain yang sering terjadi adalah anak-anak yang harus meninggalkan rumah untuk mimpi-mimpi mereka dan orang tua harus merelakannya; di keluarga saya yang terjadi adalah, kedua ayah dan ibu kami meninggalkan rumah untuk memilih cara hidup mereka sendiri. Mereka lebih menyukai kehidupan desa dimana ikan masih dipelihara di kolam dan pisang dimakan dari pohonnya. Saya dan adik-adik harus merelakannya.

Lebaran ini adik-adik saya pergi ke Tasikmalaya, menengok ayah dan ibu. Mungkin saat-saat lebaran seperti inilah, sebagaimana kebanyakan keluarga, mereka berkumpul. Sayang, sepertinya tahun ini saya tak akan ada di sana.

6 comments on “Catatan Lebaran

  1. BINHAD says:

    Selamat lebaran, maaf-lahir batin. Aku tak bisa mudik nih. Malam lebaran aku ngendon aja di kamarku di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul sambil dengerin lagu-lagu kak Rhoma he2. Sekarang musim gugur, cuacanya agak buruk, apalagi musim salju nanti. Kayaknya Jepang juga begitu. Kalau jadi ke Jepang prepare yang oke ya. Enakan bawa istri juga kali he2.

  2. bung Adi says:

    sama Bung Eka, lebaran kali ini saya tak mudik. maklum anaku belum cukup umur untuk dibawa-bawa. saya lebih suka mudik di hari biasa, saat orang-orang pada ngantor. kalo mudik saya akan bertemu bapak saya yang sekarang buta huruf akibat serangan stroke enam tahun lalu.
    Happy Lebaran, maaf lahir batin. Sukses bung!

  3. esputra says:

    mas eka, maaf untuk percakapanpercakapan buruk yang pernah terjadi. selamat lebaran…

  4. asepso says:

    Saat lebaran selalu ada tiga macam orang: orang yang mudik ke kampung, orang yang tidak mudik ke kampung, dan orang yang tidak punya kampung.

    Mas Eka tergolong yang kedua, dan golongan inilah yang paling patut dikasihani, hehehe..

    Maaf ya. Lebaran toh?

  5. Remi says:

    BOS KAPAN JADINYA MUDIK, ANAKKU SI MELLI KANGEN AMA PE DE DAN BUDE NYA, DIA KALO MAEN TLP-TLP NAN DAN ditanya sedang nelpon siapa pasti jawabannya “sedang nelpon pa’de”

Comments are closed.