Catatan dari “SMTown World Tour 3 in Jakarta”

Sone merupakan sebutan untuk penggemar grup musik cewek SNSD, di luar Korea mereka lebih dikenal sebagai Girls’ Generation. Saya sebenarnya tak tahu apakah layak disebut seorang Sone atau tidak. Saya tak memasang poster mereka, tak punya t-shirt bergambar mereka. Saya hanya mendengar lagu-lagu mereka (dan berkesempatan melihat pertunjukan mereka kemarin di “SMTown World Tour 3 in Jakarta”, di Gelora Bung Karno), dan menonton video-video mereka di Youtube. Barangkali bisa ditambahkan: saya bisa membedakan wajah kesembilan anggota kelompok ini dan menyebut nama mereka satu per satu (hahaha, ini penting, karena banyak orang susah membedakan wajah penyanyi Korea satu sama lain. Bahkan satu komentar di Youtube bilang, “Kalian orang Asia sama saja tampangnya!”)

Seorang teman (mungkin berseloroh), pernah bertanya, “Kamu penulis sastra serius, kenapa tidak mendengar musik yang serius?” Sejujurnya saya tak tahu apa itu sastra (dan musik) “serius”. Dalam hal membaca dan menulis sastra, saya mengikuti apa yang pernah dikatakan Borges: “Saya pembaca hedonis.” Maksudnya, saya membaca (dan menulis) apa-apa yang membuat saya senang. Tak kurang tak lebih. Pernyataan itu saya pikir bisa dipergunakan juga untuk musik: “Saya pendengar musik hedonis.” Soal serius atau tidak, saya bisa memperlakukan tetes sisa hujan di ujung daun dengan sangat serius, dan sebaliknya, melihat perang dunia dengan cara tidak serius.

Saya mengenal musik pop Korea awalnya tak sengaja. Di satu tempat syuting televisi, seseorang memutar satu lagu berkali-kali di telepon genggamnya. Lagunya enak didengar, sehingga saya mulai terbiasa mendengarnya. Awalnya saya pikir itu lagu pop Amerika biasa, hingga saya penasaran dan bertanya, “Lagu siapa itu?” Dan teman saya menjawab: “Wonder Girls.” Saya baru mendengar nama itu. Lagu yang saya dengar adalah “Nobody” versi Bahasa Inggris. Karena penasaran, saya mencari lagu-lagu mereka lainnya di Youtube dan mendengarkannya. Dari sana, berantai saya mendengar lagu-lagu lain dari kelompok-kelompok lain: SNSD, f(x), 2NE1, Super Junior, etc, etc.

Saya pernah membaca, seorang Sagitarius akan sangat terbantu mengatur moodnya melalui musik. Bahkan bisa dibilang “music-addict”. Dalam hal itu, saya pikir benar, terutama untuk saya (saya seorang Sagitarius). Saya suka (pada tingkat tertentu merasa wajib) mendengarkan musik sambil menulis (atau membaca). Beberapa teman sempat tanya, apakah musik (dan kebisingan) tidak mengganggu saya menulis? Buat saya tidak. Saya bahkan senang jika bisa memutar musik dengan kencang. Saya lebih terganggu oleh orang yang bertanya (atau melirik saya dengan penasaran) sementara saya sedang menulis.

Seingat saya, Gabriel Garcia Marquez juga tidak terganggu dengan musik. Sepanjang ia menulis novel “Seratus Tahun Kesunyian”, ia mendengarkan lagu-lagu The Beatles dan lagu-lagu pop Karibia. Jika ada yang bertanya musik apa yang saya dengan akhir-akhir ini untuk menemani saya menulis, jawabannya sudah pasti: musik pop Korea, termasuk SNSD. Tentu saya masih mendengar musik lain, pop lokal, pop British, pop Amerika. Tapi bersamaan dengan wabah K-Pop di seluruh dunia, saya mendengarkan K-Pop di hari-hari ini lebih banyak dari lainnya. Demi kesenangan telinga saya.

Saya sendiri tak tahu apa yang membuat K-Pop menjadi wabah di dunia (dan SNSD bisa juga disebut sebagai salah satu pop-band terbesar di dunia sekarang ini?). Sejujurnya, musik yang mereka tawarkan tak jauh berbeda dengan apa yang kita dengar dari pop di belahan dunia lain. Bahkan lirik mereka (dalam Bahasa Korea), sama sekali tak saya pahami (saya yakin kebanyakan orang juga tak mengerti). Tapi bagi saya urusannya mungkin sederhana: K-Pop merupakan wilayah pertemuan pop Barat dan pop Timur. Dunia musik pop kita sudah sangat lama terbiasa oleh pop Barat. K-Pop tak menawarkan musik yang baru, tapi mereka hadir dengan secercah wajah (atau rasa) “Asia”. Jika saya bayangkan, barangkali seperti membaca novel-novel Haruki Murakami. Barat rasa Timur.

Atau Timur rasa Barat. Terserah kita menyebutnya. K-Pop bisa dilihat juga seperti anime dan manga Jepang yang mewabah di mana-mana. Bahkan saya melihat di konser SMTown semalam, mereka mempergunakan karakter-karakter lucu untuk icon mereka, yang mengingatkan saya pada lukisan-lukisan Takashi Murakami (eh, mungkin dia yang membuat?). Dan seperti yang terus dikampanyekan SMTown (ini merupakan “music nation” di mana SNSD, f(x), Super Junior bergabung), “musik merupakan bahasa universal.” Dengan bahasa itu, kita bisa menyatakan cinta kepada sesama, antara Mars dan Venus yang bahkan tak saling mengenal.

Di luar itu, saya memang senang segala yang berbau Asia. AKhir-akhir ini saya membaca sastra Asia lebih banyak daripada sastra Eropa/Amerika: Haruki Murakami, Yasunari Kawabata, Mo Yan, Su Tong, Hitomi Kanehara, etc, etc. Saya juga penggemar animasi Hayao Miyazaki, film-film Kim Ki Duk, terkagum-kagum dengan lukisan Yue Minjun, etc, etc. Tapi jika dipikir-pikir, bukan cuma saya yang menyukai itu semua. Seperti K-Pop dan anime Jepang, bukankah film dan lukisan China juga sedang mewabah di dunia. Barangkali dunia memang sedang (kembali) memandang dengan penuh ketekunan ke Timur?

Itu bisa dipikirkan. Hari ini, yang terpenting saya kira, menikmati musik yang asyik. Membaca novel yang asyik. Melihat reproduksi lukisan yang asyik. Menonton film yang asyik. Dan kalau mau bijak: mudah-mudahan kita juga bisa memberikan sesuatu yang asyik kepada orang lain.

NB: Saya malah tak membicarakan konser “SMTown World Tour 3 in Jakarta”. Tapi tak apa. Saya sudah cukup senang melihat Taeyeon dan Yoona, hehehe. Dan pulang ke rumah melihat Barcelona menang 2-0 melawan Granada. They made my day, yay!!

2 comments on “Catatan dari “SMTown World Tour 3 in Jakarta”

  1. vcla says:

    Hahaha… kocak juga nih! Pantesan proyek buku yg satu itu bau2 Korea ya?!!! :))

  2. Syam says:

    wah gw suka tulisan lo bro..
    gw jg suka SNSD (khususnya Hyoyeon :D) tp sma kaya lo ga punya poster atau pun tshirt mreka..
    sayang ga bs nonton kemarin pas SM Town karena ada keperluan :(

Comments are closed.