Cantik itu Luka: Sebuah Catatan Perjalanan #1

oleh Nenie Muhidin, On/Off
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Jumat, 10 Januari 2003, lepas Isya.

Pertama kali dia menyapaku dengan “Harusnya bisa”. Datar dia mengucap itu padaku sambil sedikit tersenyum. Tidak ngakak dengan gigi-gigi putih yang bersih. Itu dia ucapkan karena sebelumnya aku sempat ngomong “Mudah-mudahan kawan-kawan di Bandung bisa bekerja sama”. Ini soal rencana awak ON/OFF launching ke Bandung. Ini soal tawaran dariku untuk mungkin bisa bekerja sama dengan beberapa komunitas sastra di Bandung yang kebetulan aku kenal. Waktu itu aku ngobrol soal toko buku kecil, Tarlen dan Klab Baca.

Nama-nama yang aku maksud inilah kawan-kawan Bandung itu. Aku tak kenal siapa dia. Setelah sekitar semenit pertama aku bertemu Puthut, Faiz, Mumu yang sebelumnya sudah kukenal duluan dan aku belum mengenal yang lain yang kebetulan berada di ruangan itu,termasuk dia. Kedatanganku di ruang kerja mereka itu soal distribusi ON/OFF di Bandung. Puthut memperkenalkanku dengannya, “Nih kenalin, teman-teman”. Begitu kalau ku tak salah ingat. “Nenie”, aku menjabatkan tanganku ke dia. Masih datar warna mukanya. “Eka”. Beracamata, kurus, sedikit lebih pendek dari aku. Pakai sweater. Aneh pikirku, kota panas macam Jogja masih ada yang suka pakai sweater. Familiar, kesan yang aku rasa mengawali pertemuan pertamaku dengan dia. Selebihnya, orang ini sering sakit-sakitan vonisku dalam hati di kesehariannya. Kupikir aku telah melihat dia sebelumnya waktu acara launching ON/OFF di UNY. Ternyata aku salah. Ada peserta diskusi yang kukira dia yang waktu itu bertanya ke Nirwan Ahmad Arsuka dan Saut Situmorang yang didaulat jadi pembicara plus Buldanul Khuri perihal media sastra alternatif. Ternyata memang aku salah. Kukira dia. Belakangan aku tahu ternyata orang itu Nuruddin Asyhadie.

Setelahnya, aku menjabatkan tanganku ke wajah yang lain di depanku. Gondrong ikal, murah senyum. “Anas”, begitu ia bilang ke aku. Anasrullah, aku pernah baca namanya di useletter yang mereka garap itu. Yang satunya tidur. Waktu aku tanya siapa yang tidur itu Puthut bilang namanya dmw. “Ooo,lay-outer kalian ya”. Masih di ruang sempit memanjang itu, aku dan beberapa yang lain kembali ke topik pembicaraan yang remeh-temeh.

Kutahu dan bisa kupastikan dia memang Eka, Eka Kurniawan, aku pernah baca posting komentarnya di milis bumimanusia. Juga aku tahu soal buku-buku yang ia tulis, soal Pram. Salah satunya pernah kubaca meski hanya kata pengantarnya di cover belakang. Paling anyar, aku tahu meski belum sempat kubaca. Ini soal novel yang baru saja dia buat; Cantik Itu Luka (CIL).

Sehari sebelumnya buku itu sudah berkenalan denganku dengan CIL di RS Panti
Rapih. Kawanku yang sedang sakit dikunjungi oleh seseeorang yang kebetulan bawa buku itu kesana. Aku mengenalnya dengan nama Aji. Tapi ternyata di Jogja ia dipanggil dengan ‘Bo’ol’, entah apa maksudnya.

Sok akrab. Itu yang pertama kulakukan setelah berkenalan dengan Eka.
“Apa kabar, Ka”.
“Baik”.
“Gimana bumimanusia-nya”.

“Hehehe…”, cuma tertawa kecil dan masih saja terus duduk di atas meja. Setelah beberapa saat kemudian, isyaratnya ke Anas ingin pergi dari ruangan itu. Padahal aku masih ingin mengenal siapa dia, lebih penting dari itu aku berencana minta jatah buku yang pasti dikasih penerbit ke dia sebagai penulisnya. Siapa tahu masih ada jatah lebih yang biasanya disimpan buat orang-orang terdekat, terkasih. Aku sempat ngomong basa-basi lagi ke dia “CIL, harganya berapa tuh?”. Bukan dia yang jawab. Kalau gak salah Mumu atau Faiz yang menjawab. Aku lupa berapa harganya. Tapi terus masih dengan sedikit kritis, karena kalau tak salah dengar, dibanding Supernova-nya Dee, CIL sedikit lebih mahal. Kubilang “Wah, lebih mahal dari Supernova dong”, ada yang menimpaliku selanjutnya, “Supernova-kan lebih tipis”.

“Hehehe…”.

Kuurungkan niatku meminta CIL padanya. Biarlah nanti kalau aku ada lebih-lebih pasti kubeli. Dia pergi. Bersama Anas, temannya yang murah senyum dan gondrong ikal itu. Faiz juga pergi, tertinggal di ruangan itu; aku, Mumu, Puthut dan dmw yang sedang tidur. Tak lama, Puthut pulang. Sebelumnya ia ngomong, “Sampai ketemu besok. Biasanya besok semua pada ngumpul”. Aku ikut pulang setelah sekitar sejam yang lalu Puthut pergi. Mumu, nama penanya em. Ali, novelis yang juga baru saja menyelesaikan karyanya Peta Yang Retak, berbincang banyak hal denganku soal sastra. Ia ngobrol soal fisika terapan denganku. Ada rencana soal dunia yang ia obrolkan itu dengan karya yang rencananya bakal ia garap. Lalu aku juga meninggalkannya (juga dmw yang tidur) sedang mengedit tulisan entah punya siapa. Ia bilang ia nginap di situ. Seperti rumah buatnya ruangan itu. Ia juga bilang kalau ke Jogja, aku bisa pakai komputer di situ buat menulis. Sebelum aku pulang, ia mengatakan untuk tak menebus harga kopi yang aku pesan di kedai. Biarlah katanya, ia yang membayarkan. Baik orang ini, pikirku. Juga tenang. Sangat.

Sabtu, 11 Januari 2003, siang bolong

Ketemu muka baru. Perempuan yang ada di ruangan itu sedang khusyuk membuka-buka buku. Kembali, aku kenal buku itu. Perempuan itu membuka-buka lembar awal CIL. Perempuan itu belum melihatku yang berdiri di luar.

“Selamat siang”. Aku langsung mengulurkan tangan, isyaratku untuk segera berkenalan. Kubilang namaku dan ia membalas. “Susi”. Aku tanya orang-orang semalam dan ia bilang sebentar lagi juga pasti pada kesini. Ia mempersilahkanku masuk. Langsung akrab. Seperti yang sudah lama berkenalan. Supel. Tema-tema pembicaraan kami melompat-lompat. Tapi ada yang dominan; soal CIL yang ada di depan kami berdua dan tentu saja soal dia yang semalam, pengarangnya. Aku langsung minta maaf duluan karena mengusik kekhusyukannya dengan CIL yang lagi ia baca siang itu. Ia hanya tertawa saja.

Muncul satu-satu. Ramai. Apalagi di kedai Insist sebelah ruangan itu ada diskusi, kalau tak salah soal peluncuran buku sekaligus pemutaran film Zapatista. Ada kawan yang ingin jadi anggotanya, minta diantar kesana, tidak hanya sekedar mendengar cerita-ceritanya. Panas siang itu. Semua awak berpindah dan nongkrong ke beranda sebelah dalam yang lebih adem. Masing-masing dengan pesanan minuman dingin segar yang di pesan ke ibu yang mengurus kedai. Aku dengan segelas kopi hitam dan sebungkus Djarum coklat. Itu karena tak ada Gudang Garam Filter yang dijual di kedai. Semua adalah orang-orang yang semalam, minus Mumu dan dmw tapi plus Susi dan belakangan datang nama baru; Astrid, begitu ia memperkenalkan diri padaku. Tema seriusnya soal acara mereka yang direncanakan medio Februari. Nama-nama macam Pram, Gus Dur, Sri Sultan disebut-sebut. Aku tak tertarik untuk menyimak. Semalam Puthut sempat singgung soal rencana acara mereka itu.

Bukan sweater, sekarang dia pakai kaos. Berwarna hitam. Bayangkan kalau bersentuhan dengan matahari. Tetap aneh buatku. Duduk selonjor, kakinya dibentang di ujung meja bambu.Pembicaraan dengan mereka agak aneh. Malah tak tahu kenapa harus sampai ke Nafa Urbach.

Rabu, 15 Januari 2003, warung internet di Bandung

Ringkih (dia tak seperti Kamerad Kliwon, Shodancho atau Maman Gendeng, tokoh-tokohnya di CIL, kupikir). Memang benar, sebuah subyek e-mail ditulis dengan temanya dia dan karyanya yang baru oleh ‘anak panda’. Ringkih. Itu salah satu yang ditulis di isi subyek milis itu soal dia, proses kreatifnya. Subyek milis di reply. Dia bilang dia belum mati. Itu karena komentar tentang proses kreatifnya dari ‘anak panda’ yang kucurigai sebagai Puthut. Eka bilang, tulisan ‘anak panda’ seperti obituary.

Kembali ke siang bolong itu. Aku berencana pulang ke Bandung keesokannya. Seperti tidak ada alasan buatku untuk berlama-lama di kota yang selalu bikin biji-biji peluhku mengalir deras dari bokong. Aku pamit pada mereka semua dan Faiz punya titipan buatku untuk kawannya yang kebetulan juga kukenal dan juga kawanku, Wini di Bandung. Titipan ada di kos Faiz. Aku harus kesana dulu sebelum balik ke Kaliurang tempatku menginap selama di Jogja. Sesampai di kos Faiz, ternyata tak hanya di RS Panti Rapih atau di genggaman Susi, CIL juga kulihat tergeletak di atas karpet kamar kos Faiz. Titipan Faiz kuselip ke tas bersama sekantong kresek besar berisi puluhan eksemplar ON/OFF edisi anyar yang rencananya aku bawa dan disebarluaskan di Bandung. Setelah semua beres, aku pamit pada Faiz untuk balik ke Kaliurang sekaligus Bandung keesokannya. Faiz menahanku sebentar dan mengambil CIL yang tergeletak di atas karpet dan tiba-tiba ia mengucapkan sesuatu padaku.

“Bawa aja kalau kau mau baca. Aku kasih. Aku punya dua. Tapi yang ini sedikit rusak kemasannya di pertengahan buku”.

“Tapi semua lembar halamannya masih utuh kan?”

“Masih. Belum ada yang lepas kok,” kata Faiz. Aku pergi dan meninggalkan Faiz sendiri di kamar kosnya itu. Selain cinta, buku pemberian adalah yang selalu memberikan energi bagi hidup yang segala sesuatunya dibeli. Adalah orang-orang yang memberi ini merupakan keanehan sekaligus surprise buatku. Lagi-lagi, aku hanya terlatih untuk mengucapkan kelaziman. “Terima kasih”.

“Sabtu malam kusendiri. Tiada teman kunanti…” Aku menyanyikan lagu ini untuk mempersiapkan semua hal termasuk diri ini untuk memasuki dunia CIL. Kopi hitam Kapal Api spesial Lampung yang tidak terlalu manis kuseduh, rokok Gudang Garam Filter kupersiapkan. Tak ada bunyi-bunyian. Kaliurang damai beserta dengan kawanku yang tempat kosnya kuinap sudah tertidur dengan pulas. Aku membuka pintu masuk CIL. Ada banyak anggapan sekaligus kecurigaan yang kadang kuanggap naif kalau bukan tak cerdas waktu sebuah resepsi yang telah dan sering kulewatkan untuk memasuki, membuka pintunya dan menjamah cerita juga tokoh-tokoh sebuah karangan dengan “Ooo, ini kayak ini nih…, ooo, ini anu banget nih…” sering aku sok tahu dengan klaim-klaim itu. Aku jadi ingat Susi yang tadi siang ngobrol denganku. Ia bilang menarik tidaknya sebuah karya tulis buatnya adalah ketika sebuah karya mampu menahannya untuk bertahan dan tak bergeming dari sana, dari sebuah cerita. Anggapan atau kecurigaan yang kumaksud adalah ketika aku tak selalu harus seperti yang dimaksud olehnya; cerita mampu mengusik pembaca untuk selalu bertahan dan menyelesaikan bacaan dari sebuah cerita. Tentu aku sepakat dengan Susi. Tapi tidak terlalu. Ini yang tak ada hubungannya dengan isi sebuah karya atau tepatnya yang beredar dan bermain-main di luar sebuah karya. Buktinya adalah ketika aku akhirnya bertahan pada Larung-nya Ayu Utami. Diawal-awal Larung, aku hampir menutupnya dan segera menyimpannya saja dalam lemari buku. Buatku, di awal-awal cerita, Larung sungguh terasa garing dan membosankan. Tapi ternyata tidak. Aku melanjutkannya. Ada sesuatu yang hegemonik yang kuanggap dan kucurigai di fase bertahan itu. Tapi tak tahu apa yang hegemonik itu. Karena Ayu-kah? Karena opini publik-kah? Atau karena legitimasi media yang berisi cuap-cuap dari yang katanya punya otoritas-otoritas sastra itu.

“Ah, aku tak tahu”. Dan setelah melewati bagian awal dan memasuki wilayah ujung pengembaraan Ayu dan tokoh-tokohnya, buatku Larung bagus. Sama seperti Dee. Atau karena Dee seorang penyanyi dengan suaranya yang merdu? “Ah, lagi-lagi aku tak tahu”.

Begitupun dengan CIL, yang malam ini aku sudah ada di gerbangnya, di sebuah ruang yang sebentar lagi aku masuk kedalamnya. Mudah-mudahan aku bisa pulang dengan selamat dari sana, dari CIL seperti aku selamat dari dekapan Ayu dan kutahu kalau kecurigaanku memang tak beralasan. Tentang CIL aku jadi ingat Mumu. Kita mendekat-dekatkannya malam itu dengan karya Marquez, seratus tahun kesunyian. Itu karena kupikir ada bagan dari pohon hierarki keturunan tokoh-tokoh yang dibuat oleh kedua penulis. Dia dan tentu saja Marquez. Aku juga belum pernah baca karya Marquez (lagi-lagi, aku hanya membaca pengantar novelnya, seratus tahun kesunyian) atau karya-karya lain yang dianggap masterpiece sastra dunia. Paling hanya pernah mendengar cerita-cerita soal mereka itu dari obrolan-obrolan singkat, sentilan gagah nama-nama mereka atau ketika aku berada di sebuah acara diskusi formal. Untuk itu aku tak terlalu bisa memberikan komentar waktu Mumu dan aku membicarakannya.

Sudah jam 3 pagi. 100 halaman CIL pertama kulewati. Ada 516 halaman yang tersedia. Soal ini aku ingat tetralogi Pram. Tebal juga bukan? Ada energi yang harus kusediakan. Kalau setiap kali CIL kubuka dan aku bisa menyicilnya per 100 halaman, empat atau lima hari ke depan aku pasti bisa menyelesaikannya. Kuambil pembatas buku dari sebuah potongan karton hijau kecil dan setelah itu menutupnya. Kubilang padanya besok aku kembali mengetuk pintunya itu untuk mencicipi 100 halaman baru dari 100 pertama halamanmu yang baru saja aku lewati.

Hegemoni teks CIL yang sering datang di 100 halaman pertama dan menyapaku dan kayaknya hingga akhir perjalananku dalam CIL adalah kelamin dan tai (Halaman 2; Sebab lubang keluar bayi dan tai hanya terpisah dua sentimeter saja). Ini membuatku selalu berjaga-jaga untuk selalu memberikan catatan di buku harianku hanya untuk dua tema itu; kelamin dan tai. Membuatku tak terlalu pusing dengan tema-tema historis yang kuat melatarbelakangi alur CIL; masa kolonialisme dan pendudukan fasisme Jepang.

Dewi Ayu-pun langsung terasa begitu menari-nari di pelupuk mata dan celanaku. Seperti Larung, CIL adalah Annie Arrow yang cerdas yang dulu sering aku baca sembunyi-sembunyi sepulang sekolah. Tapi kukira, jelas CIL bukan Larung juga bukan pula Annie Arrow. Masing-masing punya tiap-tiap.

Malam itu pikirku untuk 100 pertama halaman CIL aku ingin jadi Ma Gedik saja tapi dalam konstruksi cerita yang tentu saja tidak seperti yang diceritakan dia; laki-laki paling tolol sejagat raya.

Minggu, 12 Januari 2003, stasiun kereta api Lempuyangan jam 21.30

Kereta api ekonomi Kahuripan belum juga datang. Sudah lebih dari waktu yang seharusnya kereta itu sudah tiba dari Kediri dan berangkat menuju Bandung. Berencana untuk membuka CIL dari tasku dan menemui Dewi Ayu di sana sambil menunggu kereta datang. Tapi lantas kupikir jangan-jangan aku tak akan bisa bercengkerama serius dengan Dewi Ayu atau Rosinah, pembantu itu, di 100 kedua halaman CIL. Dewi Ayu kukira sinis (Halaman 9; Sebab setan tak kurang iseng daripada dewa dan Tuhan,…, rahimku jadi tempat setan membuang anak-anak mereka dan aku melahirkan anak-anak setan).

Ia bisa saja memojokan aku seperti tentara-tentara Jepang yang kupikir sado-masokis karena perilaku hiperseks dan menidurinya. Aku harus benar-benar bisa senyaman mungkin bertemu lagi dengannya. Kereta datang dan aku berebut cari tempat duduk yang nyaman. Jauh dari kenyataan. Aku duduk di lorong gerbong yang lampu-lampunya padam. Bersesakan. Orang-orang dalam gerbong seperti sayur kangkung rebus yang kering kuahnya karena terlalu lama dipanggang api kompor minyak. Maaf, cuma itu yang sempat kuucap pada kesempatan 100 kedua halaman CIL yang rencananya kubaca dalam perjalanan. Biarlah, aku akan mengetuk pintu dan menemui kalian yang disekap di Bloedenkamp sesampainya aku di Bandung. Tak mungkin di sini yang untuk merokok dan meluruskan kaki saja aku harus permisi. Kereta api bergerak dari stasiun satu ke stasiun yang lain. CIL masih saja diam di tas, tak aku ambil.

+ Baca lanjutannya: “Cantik itu Luka: Sebuah Catatan Perjalanan #2